puisi


:RS

Aku membaca sembab di matamu
duka dan kecewa mengalir menjadi sungai bisu
di perjalan takdirmu yang kelabu
perjuangan hidup itu berat
mengikat-ngikat ketegaranmu dengan kuat
mengoyak-ngoyak semangatmu dengan hebat

Perempuan berkulit keikhlasan
masalah seperti matahari
meski panas tapi tak mungkin meng-abu-kan ragamu
karena kau adalah kekuatan
yang serupa batu
tak akan hancur oleh segala persoalan

Aku mengikat kenangan kita
dalam rantai doa
semoga setiap butir air matamu
kelak menjadi mutiara kemudahan
yang membuat jalan-jalan kehidupanmu menjadi rata
sehingga kakimu dengan mudah menjalaninya
dan kebaikan senantiasa dilepas Tuhan bersama tarikan nafasmu

Baozhong, 2012


satu hati direndam rindu

nyanyian anak-anak kampung semarak berbagi cahaya purnama

memanggul kenangan di bahu

dari seberang lautan menebalkan warna masa lalu yang tersisa

perayaan musim gugur hampir datang

kaki masih saja jauh dari rumah

bermabok kenangan membawa angan pulang

tatkala terjaga segala hanya rajutan mimpi dan mata membasah

daun jatuh satu-satu

menghias permukaan waktu yang melaju

jika raga bisa berkekuatan seribu

tak kubiarkan akar rindu mengikat takdirku?

Taiwan, 19 Agustus 2011

KAU DAN HUJAN

/1/ HUJAN RINDU

sisa hujan semalam

mengenangi jalan

namun kerinduanku padamu tak pernah tenggelam

ia abadi sepanjang kenangan

/2/ BAHASA HATI

selalu kuingat hadirmu

saat hujan menguyuri tubuhku

dengan bahasa hati

kau hangatkan kembali jiwaku yang kuyup

/3/ SAKSI SEBUAH PERTEMUAN

aku senang hujan

mengingatkan sebuah pertemuan

saat air mata berguguran

awal kita bejumpa direkat takdir kehidupan

/4/ KAU DAN HUJAN

kau laksana hujan

menyembunyikan airmataku

supaya tak terlihat orang

di dadamu

haru ku tumpah ruah

/5/ RAHASIA

rahasiamu

senilai hidupku

janjiku padamu

saat untuk kesekian kali

kau menemani

aku menerobos hujan kenyataan

Taiwan, 6 April 2011

(lebih…)

TIRAI GERIMIS

/1/ JODOH LAKSANA SEHELAI KERTAS

Kita punya cinta

dengan rindu selebat daun mulberi

namun takdirnya di garis tangan tipis

kehidupan pun tak sanggup menyatukan dua hati

/2/ MEMETIK KENANGAN

berpayung langit

melewati tirai gerimis

pada tubuh bumi

kita petik ranum buah kenangan

(lebih…)

KEKASIHKU

telah kuteguk keringat asin

dari persetubuhan langit dan musim

hanya dengan tetes kasih sayangmu

dahaga hatiku lepas

Taiwan, 11 Maret 2011

(lebih…)

*IMLEK

gema petasan

semakin menabuh riuh rindu

di dada anak-anak perantau

yang hati dan raganya serasa terbelah

mengingat rumah

untuk kesekian kali

hanya bisa dengam mata terpejam

mengingat kembali

suasana hangat masa kecil

dengan rasa tanpa beban menikmati imlek

berdoa; berharap bahagia di jiwa ini senantiasa melek

**UCAPAN DAN DOA

meski kita berbeda agama

tak pernah bersua

ucapan dan doa tetap merah menyala

kini doa yang terkirim untukku

kubagi rata untuk semua

semoga di tahun kelinci

kesuksesan kian tinggi

kebahagian menghiasi

terlebih persahabatan dan persaudaraan

kian erat terpatri

di hati

***AROMA HIO

aroma hio mewangi semesta

meliuk-liuk ke udara

memenuhi kampungku

bersyukur kepada dewa

untuk tahun yang lalu

dan meminta perlindungan di tahun baru

Baojhong, 3 februari 2011

(lebih…)


KEHADIRAN

cuaca tak menentu
namun kehadiranmu
senantiasa menguatkanku

tak peduli siang, tak peduli malam
ada banyak kisah, dengan hati dan rasa yang kita rangkai dan rekam
semoga selamanya tak lagi kukenal cerita sedih yang hitam

Baojhong, 26 01 2011

PINTU AKHIR

aku masih berdiri di sini
mencari
dan menyusun bekal untuk nanti
samar kutahu
jauh di ujung sana, ada Kau menungguku

mengayuh waktu
memahat jejak diri
disetiap langkahku
hingga kelak sampai masuk ke pintu akhir
:berharap dekapMulah yang kutuju

Baojhong, 21 Januari 2011

(lebih…)

malam yang kelam bertanya kepada cakrawala, kepada gelap, kepada dunia

dan siang yang terang diamdiam mencari jawaban

di kesibukan, di keramaian bahkan di sudutsudut kebisingan

siapa si mata teduh yang mampu membuat rasaku bahagia tak berkesudahan?

hingga mengantar puisipuisiku mengalir ke muara jiwajiwa di sebuah kehidupan

(lebih…)


Tuhan, jika hidup ini adalah pilihan
kenapa banyak arah jalan, mengantar jiwajiwa pada kepedihan?
Air mata TKI membatu. Doadoa apakah telah membeku
tatkala bertemu majikan dan agen berhati hantu?

Kenyataan berperang dengan tangis ibu, pekikan adik
kian bikin jiwa tak bergelitik
Mematikan harapan ataukah terus melangkah menggapai mimpi
berjalan di atas kenyataan berduri?

Di persimpangan simalakama
rasa TKI, berdiri di bawah dua tiang gantungan
dan dihadapakan pada dua hal yang samasama menyakitkan
Mati sendiri ataukah mati kelaparan semua (serumah)?

Taiwan, 6 Sepetember 2010


cinta penyair,
apakah semudah dia memasang aksara
lalu meniupkan ruh cinta di atasnya?

cinta penyair,
apakah seindah puisi-puisi yang terlahir
ataukah serupa sunyi menemani nadi mengarungi takdir?

Cinta penyair ,
beralas rindu yang menelanjangi rasa
tatkala angan dan nyata, tak seindah kata yang terlahir dari mata pena

penyair juga manusia biasa
di hatinya bisa bermekaran cinta laksana bunga aksara
atau tercipta sajak luka dari ratapan jiwanya

Taiwan, 17 Agustus 2010


Aku bukan Eng Tay,
yang demi cinta kepada Sam Pek rela meninggalkan keluarga
menerjang dogma
dan memilih mati bersama

Aku juga bukan Bai Su Zhen
dari siluman dengan kekuatan sihir memilih menjadi manusia biasa
untuk mencari seorang Xu Xian, lelaki dipandangan pertama membuatnya jatuh cinta
tatkala menyelamatkannya di Danau Barat di kehidupan sebelumnya

Kekasihku, aku tak sanggup seperti perempuan-perempuan dalam legenda itu
Aku mencintaimu dengan caraku
Melukis wajah, hati dan perhatianmu
Dengan tinta cintaku di atas sajak-sajak rindu

Taiwan, 15 Agustus 2010

Bunga Rindu di Sandaran Bintang
(Kumpulan Puisi Kwek Li Na)
118 hal + x
Cetakan Pertama, Agustus 2010
Penerbit Kosa Kata Kita

Kata pengatar dari Editor (Kurniawan Junaedhi) :

Dalam blognya, ia menulis: “Saya bermarga Kwok (baca dalam bahasa Mandarin) atau Kwek (baca dalam bahasa Hokkien). Bernama Li Na. Dalam bahasa mandarin penulisannya 郭 莉 娜 . Yang berarti, sekuntum melati yang putih, indah, harum mewangi.” Kenapa bukan Mawar? Mengutip pepatah, ia mencoba menghibur diri bahwa, wanita tak perlu secantik mawar, cukuplah secantik melati yang tak berduri.

Dia lahir di Semitau, Kalimantan Barat, dengan nama panggilan, A Ling, nama kecil, sekaligus nama yang dikenal keluarga dan teman-teman dekatnya.

Dimanakah Semitau? Kalau kita menyimak literatur, maka daerah itu merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Bahasa aslinya, adalah bahasa Dayak. Orangtuanya sendiri berbahasa Khek dan di rumah ia lebih banyak berbahasa Dayak Kapuas Hulu. Dengan demikian, ketika ia menulis puisi dalam bahasa Indonesia, bisa dipastikan ia menulis puisi tidak menggunakan bahasa ibunya.
(lebih…)

Laman Berikutnya »