Karya Seni



KEHADIRAN

cuaca tak menentu
namun kehadiranmu
senantiasa menguatkanku

tak peduli siang, tak peduli malam
ada banyak kisah, dengan hati dan rasa yang kita rangkai dan rekam
semoga selamanya tak lagi kukenal cerita sedih yang hitam

Baojhong, 26 01 2011

PINTU AKHIR

aku masih berdiri di sini
mencari
dan menyusun bekal untuk nanti
samar kutahu
jauh di ujung sana, ada Kau menungguku

mengayuh waktu
memahat jejak diri
disetiap langkahku
hingga kelak sampai masuk ke pintu akhir
:berharap dekapMulah yang kutuju

Baojhong, 21 Januari 2011

(lebih…)

Bunga Rindu di Sandaran Bintang
(Kumpulan Puisi Kwek Li Na)
118 hal + x
Cetakan Pertama, Agustus 2010
Penerbit Kosa Kata Kita

Kata pengatar dari Editor (Kurniawan Junaedhi) :

Dalam blognya, ia menulis: “Saya bermarga Kwok (baca dalam bahasa Mandarin) atau Kwek (baca dalam bahasa Hokkien). Bernama Li Na. Dalam bahasa mandarin penulisannya 郭 莉 娜 . Yang berarti, sekuntum melati yang putih, indah, harum mewangi.” Kenapa bukan Mawar? Mengutip pepatah, ia mencoba menghibur diri bahwa, wanita tak perlu secantik mawar, cukuplah secantik melati yang tak berduri.

Dia lahir di Semitau, Kalimantan Barat, dengan nama panggilan, A Ling, nama kecil, sekaligus nama yang dikenal keluarga dan teman-teman dekatnya.

Dimanakah Semitau? Kalau kita menyimak literatur, maka daerah itu merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Bahasa aslinya, adalah bahasa Dayak. Orangtuanya sendiri berbahasa Khek dan di rumah ia lebih banyak berbahasa Dayak Kapuas Hulu. Dengan demikian, ketika ia menulis puisi dalam bahasa Indonesia, bisa dipastikan ia menulis puisi tidak menggunakan bahasa ibunya.
(lebih…)


Oleh Kwek Li Na

Suara jangkrik membelah keheningan malam
Seakan ingin menghiburnya yang didera rindu
Angin berlalu bisu
Dia duduk bermenung
Menatap langit nan jauh, kini berubah mendung

Mencintaimu sampai di ujung harap
Bagai menanti bintang jatuh
Rela memenjara hatinya, dibebas jiwamu berkelana
Tak luruh, tak mengeluh. Teguh
Hingga rasanya tua dan lusuh

(lebih…)


Oleh Kwek Li Na

Menyendiri…
Anganku melayang ke awan
Kupungut aksara
Muntahan, sumpah serapah manusia ke langit

Aksara patah-patah
Retak dan rapuh
Berselimut airmata dan darah
Berserakan, penuhi muka langit yang sendu lara

(lebih…)


pic dari koment di tagged


Oleh Kwek Li Na

Kenapa hujan tiba-tiba turun ke bumi
Menyuburkan tunas rasa di hati ?
Kenapa ada pertemuan
Jika akhirnya aku menuai kesedihan

Kenapa kau tiba-tiba hadir
Dengan sekuntum senyum
Beserta sekuncup semangat
Disaat kurasakan gersangnya kehidupan

(lebih…)


Oleh Kwek Li Na

Usia kian larut
Hati kalut
Dosa membalut
Tubuh terasa berlumut

Dikeheningan malam
Doa kujadikan titian
Tuk’ mendekatkan diri padaNya
Mohon ampun, segala khilaf dan dosa yang melilit raga

(lebih…)

OLEH KWEK LINA

Layar angan, hadirkan bayanganmu

Kau datang, dengan aroma bunga

Kemudian berlalu, menjauh, tak sanggup kugapai lagi

Rindu dan resah, semakin tumpah

Hujan darah, pun turun perlahan dari bola mataku.

(lebih…)

Laman Berikutnya »