cerpen


Gambar

Kumpulan Cerpen Imaji Air, terbit di Taiwan.

ISBN : 978-957-41-9479-7
Epilog : Ashif Aminulloh (FLP Taiwan)
Peracang Sampul : Nurani Alam
Sampul dari lukisan : Fandhy Rais
Editor : Yeni Fransisca
Tata Letak : Onet Adithia Rizlan

Cerita di buku ini, adalah kisah-kisah yang akrab di sekitarku. Bahkan, mungkin pula adalah kisahmu.

Sudah lebih sepuluh tahun, aku hidup di negeri orang. Bertemu langsung dengan Buruh Migran Indonesia (BMI) dan akrab dengan pengantin asing dari berbagai negara, bersahabat dengan mereka. Setiap nasib mereka, serupa cermin yang menampilkan kegetiran yang erat memeluk mereka dengan keringat perjuangan, air mata kerinduan, tatapan banyak makna di setiap mata orang yang mereka temui, serta kerelaan mereka untuk melepas mimpi-mimpi yang seharusnya bersayap di usia muda.

Kisah mereka, bergandeng iri dan juga cemooh di mata banyak orang. Aku, di dalam pengamatan sunyi, merenungi dan memilih pena yang paling tak menyakiti mereka untuk menuliskan kembali ke permukaan.

Imaji Air, di dalamnya segala bayangan dan gerakan mereka aku rangkai menjadi cerita. Aku berharap segala kegetiran, cemooh, pengalaman buruk, perlakuan kasar yang mungkin saja mereka hadapi bisa mengalir seperti air.
Imaji Air, membawa kita untuk melihat, suka dan duka yang hidup di jantung takdir para warga negara Indonesia yang berada di luar negeri.

Yang berminat bisa dipesan melalui inbok Facebook saya. Terimakasih 🙂

Aku punya teman karib, namanya Rara dan Ririn. Mereka saudara kembar meski bukan lahir dari ibu yang sama. Haha… alias lahir di tanggal, bulan dan tahun yang sama. Dan kami punya satu penyakit yang sekaligus kelebihan yang sama. Pede yang setinggi 101.

Suatu hari kita bertiga janjian ketemuan. Maklum meski sudah lama di Taiwan kami tidak memiliki SIM (surat izin melancong).

Dah entah karena kemasukan jin apa, boss kami memberi kami izin libur minggu ke 4 bulan September

Pengen rasanya manjat 101 dan berteriak,”Aku liburrrrrr…xie xie ni laupan, wo a ni.” karena mau ke Taipei jauh aku teriaknya di dalam kamar.
Tak kusadari telinga laupan mendengarnya. (Tentu saja dengar wong aku teriak-teriak)

***

Aneh sepanjang hari muka laupan senyum-senyum. “Ah!Mungkin laupan lagi dapat nomer.” pikirku.

Pagi-pagi aku dan bangun. Dandan secantik mungkin. Dengan pede aku melangkah setelah yakin Rara dan Ririn juga sudah siap-siap ke luar dan kami janjian ketemu di Douliu. Tempat yang sama sekali belum pernah kami kunjungi. Di toko Indo di Douliu kami janjian ketemu sekalian memperkenalkan pacar kami masing-masing.

Sejak sampai kami bertiga sibuk memencet huruf-huruf di hp. Berpesan supaya pacar kami masing-masing berdandan setampan mungkin karena akan dikenali ke teman satu gank, yang ternyata kalau ketemu bisa bikin Taiwan bergetar. Saking hebohnya.

Seperti biasa, lewat percakapan ditelepon apalagi sekarang bertemu dengan bangga kami menceritakan tentang pacar kami.

Yang ditunggu-tunggu pun masuk. Kami bertiga serentak bangun.

“Kenalkan ini pacar saya!”

Kami saling berpandangan. “Ohhhh tidakkkkk…Justttooooooo kau permainkan kami!” teriak kami serentak.

Jussto yang selalu tampil pede hari ini tak bisa berkutik. Mukanya yang mirip Ary Wibowo, tiba-tiba berubah warna merah padam. Melihat gayanya, segala ketampanannya kabur, yang tersisa hanya wajah konyol.

“Oh…tidakkkkkk! ” rasa percaya diri yang selama ini diperlihara dengan yakin atas cinta ini mati mendadak.

Kami pulang dengan wajah yang mirip bunga sudah seminggu tidak disiram air.

***

Sampai ke rumah aku lihat laupan senyum menyambut ke datanganku. “Laupan kok senyum-senyum?” tanyaku penasaran.

“Xie xie ni ai wo…”

Ahhhh…aku yang tadi mau menangis jadi tertawa. Melihat laupan yang biasa pendiam ditambah pemalu jadi pede abis.

“Hahaha…laupan…laupan. Kamu salah sangka! “

“Ah?!”

Laupan langsung ngacir ke luar rumah.

“Ah…laupan nasib kita kok sama. Apa karena nasi yang kita makan selalu dari panci yang sama? Entahlah…”

Efek pede bikin hati rasanya pedas…sakit campur sedih dan malu.

Baozhong, 2012

KEMISKINAN MERETAS JIWA KITA

Di sebuah sudut ruang yang hening . AKu pejamkan mata. Aku menjadi enggan melihat malam yang sebentar lagi datang. Yang melambangkan perpisahan… Ya perpisahan. Untuk kesekian kali, aku sedang menyiapkan sebuah perpisahan di tengah riuh nyanyian jangkrik dan kepik.

“Ah!Kebersamaan terlalu mahal dan enggan kugenggam! ” ceracaunya memecah malam.

Hanya tinggal sebentar, ketika jarum jam mengantar terang, maka jurang akan memisahkan kami, kebersamaan pecah dengan perempuan yang kupanggil anak.

Deru burung besi, akan mengantarnya ke dunia mimpi. Membelah lautan. Menerjang tantangan. Untuk menyemai biji-biji harapan, berharap kelak menuai buah kesuksesan.

(lebih…)


Semilir angin musim gugur, membelai lembut kulitku. Wajah ayumu, itu kian mengusik lamunanku, menari-nari di ruang pikiran. Menghias mimpi malamku. Mengikuti kemana kaki kuayunkan. Bahkan menyerupai bayang yang mengikuti ragaku.

“Oh!”

Kucoba pejamkan mata. Ternyata sama saja. Kugeleng-gelengkan kepala, berusaha mengeluar sedikit isi batok kepalaku yang semua berisi tentangmu. Tak juga ada gunanya.

“Apakah aku telah jatuh cinta?”

“Ah…tidak mungkin!”

“Hanya dari selembar foto, tidak mungkin aku jatuh cinta. Tidak mungkin.” aku masih berusaha menyangkal perasaanku sendiri.

(lebih…)

Engkau selalu membuatku kesal. Selalu dan selalu engkau sebut nama laki-laki yang ada di sekolah kita ini untuk menggodaku. Kupasang muka cemberut. Saat engkau mulai menyebut nama Indra, entah kalimat apa lagi yang akan engkau lontarkan. Indra, anak baru, kakak kelas kita, pindahan dari kota Chiayi yang akhir-akhir ini, lagi gencar-gencar mengejarku.

“Entahlah, aku tidak pernah paham apa maksud dari semua itu. Padahal engkau sendiri tahu hanya engkau laki-laki yang kucinta.” ungkapku berharap engkau mengerti.

“Bercanda aza marah, non.” ucapmu dengan mimik tak berdosa.

“Mungkin, bagimu bercanda. Namun kadang aku tak habis pikir, aku berusaha menjaga, supaya tak membuatmu cemburu, dengan menghindar dari siapa saja yang akhirnya aku tahu menaruh hati padaku. Aku tahu cemburu itu sakit. Maka dengan caraku, menunjukkan begitu dalam cinta di hatiku untukmu dan tak membuka sedikit pun peluang bagi orang lain untuk masuk ke ruang hatiku. Namun kamu malah, memanas-manasiku…..” aku menghela nafas dan menghentikan ucapanku sejenak.

(lebih…)


Oleh Kwek Li Na { FIKSI }

Di ujung tahun…

Ingin rasanya menahan, lembar-lembar kalender sehingga tahun ini bisa ditunda untuk beberapa saat. Terlalu banyak kenangan kita yang tak ingin kubiarkan berlalu begitu saja…tak berharap lajunya waktu memudarkan semua cerita.

Perih rasanya, ingin melepas segala . Entah dari mana, aku mesti memulainya. Dan sejak kapan kita memulai segala kisah. Yang kutahu kita sudah begitu dekat, merasa sama-sama membutuhkan. Ada yang hilang jika tak saling bersapa.

Tanpa kita tahu apa alasan jelasnya….apakah karena kita sama-sama sebatang kara di negeri orang ini…sehingga butuh seseorang untuk bisa berbagi cerita di saat bahagia dan luka.

(lebih…)


Oleh kwek Li Na

Cintaku
Terselip di kantong bajumu
Tat kala mata kita, tak segaja beradu
Saat api cinta membakar jiwa
Tradisi, membelenggunya

Di antara gulungan ombak
Rinduku terhempas dan retak
Saat tubuh dan janinku, kau nilai seperak

(lebih…)

Laman Berikutnya »