Pagi ini, gerimis masih menghias kota di mana aku tinggal. Baozhong adalah sebuah kota kecil di Yunlin. Daerah pertanian yang subur sepanjang tahun. Bukan saja kacang tanah, kol, tomat, bawang merah, bawang putih, daun bawang, jagung, dan banyak lagi sayur-sayur yang dinikmati orang-orang di Taichung dan Taipei berasal dari kota ini.

 

Namaku, Kasnati. Sejak dua tahun lalu datang ke kota ini menjadi seorang BMI. Ini adalah kedatanganku yang ketiga kali di Taiwan. Mungkin juga kedatanganku yang terakhir setelah masa kontrak ini selesai rasanya sudah tidak sanggup lagi hidup sebagai perawat sekaligus pembantu yang mesti 24 jam siap siaga. Apalagi jika bertemu dengan majikan yang sakit-sakitan.

 

Alasanku ke sini mungkin tak jauh berbeda dari teman-teman. Berharap gaji yang lebih baik agar kelak hidupku bisa lebih mudah. Aku anak yatim piatu setelah kedua orang tuaku, membuangku. Kemiskinan telah membuat mereka terpaksa memberiku kepada seorang kenalan yang mereka kira baik. Ternyata…dia membesarkanku agar kelak aku bisa menjadi BMI. Yang setiap bulan bisa memberi sekian uang untuknya.

 

“Benar-benar tragis!” Saat untuk pertama kali aku mendengar cerita kakak-kakak angkatku.

 

Awalnya aku mengira, Bu Astini adalah perempuan berhati mulia. Bayangkan ia mengadopsi kami yang keseluruhannya 9 orang. Ternyata di balik niat tulusnya tersimpan maksud yang benar-benar berbeda dengan kenyataan. Meskipun di keseharian ia sangat baik kepada kami, tapi setelah aku mengetahui niatnya sedikit banyak rasa simpatiku mulai luntur. Meski aku sendiri pun tak bisa menyalahkannya.

Dulu, Bu Astini ada agency yang kaya raya. Namun di puncak kejayaannya ia justru ditinggal suaminya menikah dengan perempuan lain yang jauh lebih cantik dan muda darinya. Dendam dan amarah tak pernah sirna di hatinya sekali pun akhirnya suami meninggal karena penyakit jantung. Bahkan di hari suaminya dimakamkan ia tak berniat sedikit untuk melayatnya.

 

Api kebencian itu terus berkobar di hatinya.

 

“Kalian harus jadi orang sukses! Harus. Kalian mesti punya uang agar tak disepelekan laki-laki. ” Hampir setiap saat mendengar kalimat itu, aku rasanya sampai eneg sendiri.

 

Dalam hatiku,” Bekerja setengah mati pun akhirnya uang-uang kami pun mengalir ke rekeningmu. Jadi sebenarnya kami bekerja adalah untuk menggemukkan angka-angka di buku tabunganmu. Bukan untuk kami.”

 

Namun rasa balas budilah yang membuat aku, dan semua kakak-kakak angkatku diam dan mengikuti semua kemauannya. Meski kami sebenarnya benar-benar ingin protes dengan kenyataan ini. Tapi mulut rasanya tak bisa berkata apa-apa jika sudah berhadapan dengan Ibu. Panggilan kami kepada Bu Astini. Orang tua asuh kami.

 

Minggu kemarin, Bu Astini memaksaku untuk pulang sejenak. Tak kusangka delapan orang kakak-kakaku juga sudah sampai di rumah.

 

“Ibu sakit.” Ujar mereka serentak melihat kedatanganku.

 

Aku sempat kaget. Bagaimana pun sejak umur dua tahun, Bu Astinilah yang mengasuhku. Ia menjagaku seperti ibu kandungku sendiri. Meski kadang, ketegasannya membuatku geram sendiri.

 

Kami dipanggil satu-satu ke kamarnya. Sampailah giliranku.

 

“Kasnati…Ibu rasa umur ibu tidak lama lagi. Maafkan ibu merahasiakan sakit ini dari kalian semua. Terlebih maafkan ibu yang tampak keras di hadapan kalian. Saatnya ibu menyerahkan semua hasil kerja kerasmu. Rumah ini pun sudah Ibu alih nama menjadi namamu. Selain itu, apartemen ini, seraya ia menyerahkan sebuah sertifikat rumah, juga milikmu. Ini buku tabunganmu. Semua uangmu, ibu tabung. Tak sepeser pun pernah ibu pakai. Ibu tak ingin kerja kerasmu kamu sia-siakan maka setiap bulan dengan ketat ibu mengharuskanmu mengirimnya ke Indonesia…”

Ia berhenti sejenak. Lelah nampak di wajahnya.

 

“Di dalam hatiku, sakit apakah kamu, Ibu?” Belum sempat kutanya, ia sudah bicara lagi.

 

“Maafkan Ibu yang tak bisa mewariskan apa-apa buatmu dan kakak-kakakmu. Teruslah saling menjaga. Kalian semua adalah anak-anak ibu.”

 

Aku hanya terdiam, menyesali sikapku yang membencinya selama ini.

 

“Tuhan, sembuhkan Ibu! Izinkan aku untuk berbakti dan mencintainya.”

 

Namun takdir Tuhan berkata lain. Ibu meninggal dalam pelukanku. Di ruang penyesalanku.

 

Tangisku pecah, menatap wajah ibu yang sudah pucat, dingin, dan kaku.

 

Baozhong, 2013