Aku punya teman karib, namanya Rara dan Ririn. Mereka saudara kembar meski bukan lahir dari ibu yang sama. Haha… alias lahir di tanggal, bulan dan tahun yang sama. Dan kami punya satu penyakit yang sekaligus kelebihan yang sama. Pede yang setinggi 101.

Suatu hari kita bertiga janjian ketemuan. Maklum meski sudah lama di Taiwan kami tidak memiliki SIM (surat izin melancong).

Dah entah karena kemasukan jin apa, boss kami memberi kami izin libur minggu ke 4 bulan September

Pengen rasanya manjat 101 dan berteriak,”Aku liburrrrrr…xie xie ni laupan, wo a ni.” karena mau ke Taipei jauh aku teriaknya di dalam kamar.
Tak kusadari telinga laupan mendengarnya. (Tentu saja dengar wong aku teriak-teriak)

***

Aneh sepanjang hari muka laupan senyum-senyum. “Ah!Mungkin laupan lagi dapat nomer.” pikirku.

Pagi-pagi aku dan bangun. Dandan secantik mungkin. Dengan pede aku melangkah setelah yakin Rara dan Ririn juga sudah siap-siap ke luar dan kami janjian ketemu di Douliu. Tempat yang sama sekali belum pernah kami kunjungi. Di toko Indo di Douliu kami janjian ketemu sekalian memperkenalkan pacar kami masing-masing.

Sejak sampai kami bertiga sibuk memencet huruf-huruf di hp. Berpesan supaya pacar kami masing-masing berdandan setampan mungkin karena akan dikenali ke teman satu gank, yang ternyata kalau ketemu bisa bikin Taiwan bergetar. Saking hebohnya.

Seperti biasa, lewat percakapan ditelepon apalagi sekarang bertemu dengan bangga kami menceritakan tentang pacar kami.

Yang ditunggu-tunggu pun masuk. Kami bertiga serentak bangun.

“Kenalkan ini pacar saya!”

Kami saling berpandangan. “Ohhhh tidakkkkk…Justttooooooo kau permainkan kami!” teriak kami serentak.

Jussto yang selalu tampil pede hari ini tak bisa berkutik. Mukanya yang mirip Ary Wibowo, tiba-tiba berubah warna merah padam. Melihat gayanya, segala ketampanannya kabur, yang tersisa hanya wajah konyol.

“Oh…tidakkkkkk! ” rasa percaya diri yang selama ini diperlihara dengan yakin atas cinta ini mati mendadak.

Kami pulang dengan wajah yang mirip bunga sudah seminggu tidak disiram air.

***

Sampai ke rumah aku lihat laupan senyum menyambut ke datanganku. “Laupan kok senyum-senyum?” tanyaku penasaran.

“Xie xie ni ai wo…”

Ahhhh…aku yang tadi mau menangis jadi tertawa. Melihat laupan yang biasa pendiam ditambah pemalu jadi pede abis.

“Hahaha…laupan…laupan. Kamu salah sangka! “

“Ah?!”

Laupan langsung ngacir ke luar rumah.

“Ah…laupan nasib kita kok sama. Apa karena nasi yang kita makan selalu dari panci yang sama? Entahlah…”

Efek pede bikin hati rasanya pedas…sakit campur sedih dan malu.

Baozhong, 2012