KEMISKINAN MERETAS JIWA KITA

Di sebuah sudut ruang yang hening . AKu pejamkan mata. Aku menjadi enggan melihat malam yang sebentar lagi datang. Yang melambangkan perpisahan… Ya perpisahan. Untuk kesekian kali, aku sedang menyiapkan sebuah perpisahan di tengah riuh nyanyian jangkrik dan kepik.

“Ah!Kebersamaan terlalu mahal dan enggan kugenggam! ” ceracaunya memecah malam.

Hanya tinggal sebentar, ketika jarum jam mengantar terang, maka jurang akan memisahkan kami, kebersamaan pecah dengan perempuan yang kupanggil anak.

Deru burung besi, akan mengantarnya ke dunia mimpi. Membelah lautan. Menerjang tantangan. Untuk menyemai biji-biji harapan, berharap kelak menuai buah kesuksesan.

Perjalanan waktu begitu lambat, kian menenggelamkan bayangannya dan keinginanku hanya untuk sekedar membelainya dan membisikkan,” Anakku, Pedih. Kerinduan merajam jantung malam-malamku. ”

Dalam sepi. Kupantulkan bayangan yang diam-diam aku rekam di ingatan. Dan memohon kepada takdir, “Tak akan ada lagi perpisahan. Tak akan ada lagi. Ini, untuk pertama dan yang terakhir. Enggan. Oh! Sungguh enggan aku melepas tatapan matanya yang senyum, yang sesekali membentuk pelangi di bibir tipisnya yang menjadi kekuatanku menaklukan keadaan.”

“Apakah yang sedang kau pikirkan, wahai anakku ? Kemiskinan telah meretas jiwa kita?”

“Ibu, aku ingin jadi tki.” kalimat yang meloncat dari bibirmu adalah halilintar yang mengejutkanku.

“Tak adakah, pilihan lain anakku?”

Gelengan kepalamu, meruntuhkan tembok berlin di hatiku.

Seharusnya aku bangga padamu. Kau perempuan pekerja keras. Terlebih keyakinanmu, untuk mengubah nasib.

“Nasib kita harus berubah, bu! Dan aku yang akan mengubahnya.”

“Kejar! Kejarlah Nak, mimpimu. Hingga sendu dilekuk tawamu, kelak tak lagi menghambat binar bahagia yang keluar memancar dari jiwa.”

“Maafkan, aku ibumu. Yang sibuk mencari jalan berlari dari kenyataan. Larut dalam kesedihan. Menangisi takdir.

Pengecut yang hingga detik ini tak sanggup menerima kenyataan bahwa jalan yang kau pilih lebih baik dari berpangku tangan.”

Seperti katamu, “Kemiskinan tak untuk diratap. Kebahagian harus diperjuangkan.”

Kini, Aku kalah. Kau pun kalah. Badai nasib, tak sanggup kau terjang hanya dengan modal keyakinan, kemauan dan juga keuletan.

Perang keegoisan dengan desing peluru kebiadaban menghancurkan semua mimpimu. Mengoyak harapanmu. Mengubur namamu. Ketika peti mati, tertutup merah putih kujemput di bandara…semakin nyata dunia lebih kejam dan keras dari neraka. Sedangkan petinggi negara, entah terpilih untuk apa?

Kolaborasi Erny Susantiy-Kwek Li Na

Jakarta-Taiwan

2 Maret 2011