PEREMPUAN BERAROMA SENJA

Saat mentari hampir terbenam, ia selalu datang ke pantai itu bercumbu dengan kenangan. Ia, perempuan beraroma senja dengan wangi laut. Perempuan dengan rambut terurai panjang diterpa angin musim. Bibir merah merekah selalu tersenyum sendu. Mata sayunya tajam menembus kejauhan. Tubuh langsing berkulit halus berbalutkan gaun pantai berwarna merah, semerah semburat mentari jingga. “Apakah kau menanti seseorang?“ Pernah aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Aku menanti ombak kembali padaku.“jawabnya waktu itu.

Bagaimana mungkin kau menanti ombak? “Bukankah ada ombak dihadapanmu?“

“Ombakku pecah, sebelum mencium bibir pantai. Menggilas karang menjadi pecahan. Melumat mimpiku yang belum selesai berperan. Menyisakan ending yang belum terjawab. Menyapu senjaku dengan guratan tanya. Ombakku!

Dengan caranya membelah lautan. Membentang jarak antara ragaku dan raganya. Entahlah…masihkah sanggup kujamah dengan segenggam cinta?”

Angin menderu kencang membuat rambut panjang perempuan itu menari bagaikan api. Petir menggelegar nun jauh di tengah laut. Begitu banyak ombak menghempas pantai. Seperti apakah cinta yang hilang dari gengamannya?

“Seperti orang tersesat. tak tahu kemana arah terpusat.”lirih suaranya menembus senja . Diiringi ombak yang menggelepar ganas menghantam pinggir pantai. Perempuan itu semakin ringkih memandang laut lepas.

“Oh, Luka!”

Namun getar rindu membuat rasa perihnya lumpuh. Gelombang-gelombang yang seakan-akan mengejeknya, tak lagi ia pedulikan. Ia kokohkan penantian yang tak lagi mengenal kematian seperti lautan tak bertepi, cintanya abadi mengelegar di hati, mewarnai bumi.

Ah! ketika peradaban terlalu angkuh untuk ia sembah. Cinta pun mengalir darah asin di hatinya yang luka. Hingga senja dengan airmatanya bercerita. Duka cinta anak manusia, meruntuhkan keangkuhan cakrawala.

Kaloborasi Erny Susanty- Kwek Li Na

Jakarta-Taiwan, 28 februari 2011

durasi kurang lebih 15 menit