Semilir angin musim gugur, membelai lembut kulitku. Wajah ayumu, itu kian mengusik lamunanku, menari-nari di ruang pikiran. Menghias mimpi malamku. Mengikuti kemana kaki kuayunkan. Bahkan menyerupai bayang yang mengikuti ragaku.

“Oh!”

Kucoba pejamkan mata. Ternyata sama saja. Kugeleng-gelengkan kepala, berusaha mengeluar sedikit isi batok kepalaku yang semua berisi tentangmu. Tak juga ada gunanya.

“Apakah aku telah jatuh cinta?”

“Ah…tidak mungkin!”

“Hanya dari selembar foto, tidak mungkin aku jatuh cinta. Tidak mungkin.” aku masih berusaha menyangkal perasaanku sendiri.

***

Aku mengenal Airlia dari sebuah jejaring sosial yang paling digemari segala usia, Facebook. Gadis setinggi 165 cm dengan berat badan 54 kg adalah sebuah postur yang ideal di mataku. Be…rambut lurus, berkulit putih halus. Bermata bulat bening yang mengantar berjuta rindu, berbibir tipis laksana pelangi yang menambah keindahan wajah ayunya. Dengan alis melengkung laksana busur. Pandangannya tajam menembus hatiku. Makluk yang mendekati sempurna yang pernah kulihat di permukaan bumi ini…oh, benar-benar membuatku hampir gila terus dan terus mengingatnya.

Tiga bulan aku mengincarnya, lalu mendekatinya hingga kami akrab. Satu persatu saingan aku kalahkan. Meski tak mudah, namun aku tak pernah menyerah, meski tampangku pas-pasan, tak membuatku berhenti di tengah jalan.

Di awal September, kami resmi pacaran. Rasanya masih tak percaya, kini Airlia adalah kekasihku. Hidupku kini jauh lebih bersamangat dan bahagia dari sebelumnya. Ruang hatiku yang dulu gersang bahkan kosong dan pernah bolong oleh berbagai penghianatan, kini terisi penuh oleh kehadiran cinta dan rindu. Jarak tak lagi menjadi alasan kami untuk saling kontak.

Detik-detik kami terlewat begitu manis. Banyak cerita yang terukir. Sering aku senyum-senyum sendiri setiap kali ada suara sms, telpon atau saat membuka inbok dan chatting di ym. Teknologi membuat manusia mudah dan jarak kini hanya ada di atas peta.

Suatu malam, saat bulan di langit benar-benar terang dan bintang bertaburan di awang. sebuah sms masuk.

“Sayang, chatting ya, aku pingin curhat.”

Tanpa pikir panjang, kunyalahkan online lewat handpone kesayanganku.

“Mau cerita apa say? Cerita aja!” aku masih tetap di beranda menikmati keindahan malam yang sempurna dengan belaian angin musim gugur yang menyejukkan rasa.

“Kamu lewat laptop aza. Aku ingin menunjukkan sesuatu.”

“O…tunggu ya. Aku nyalahkan laptop sebentar.” aku melangkah masuk ke kamarku untuk menghidupkan laptop.

“Oke. udah siap nih.” kuketik dan kukirim.

“Say, sebelumnya aku mau kamu janji tidak marah?” seuntai kalimatmu yang muncul di layar laptop membuatku mengerjitkan alis.

“Apa sih say? Bikin penasaran aza.” balasku.

“Janji dulu! Ngak akan marah. Atau aku ngak jadi cerita.” ujarmu membuatku serba salah.

” Udah jangan cerita.” balasku.

“Ngak penasaran?” tanyamu.

saling diam.

Deg-deg penasaran. “Apakah Airlia ada pacar baru? Atau dia sebenarnya ngak mencintaiku?Atau…” kian menumbuhkan jamur pertanyaan di kepalaku.

“Oke. Aku janji ngak marah. Ceritalah!”

“Foto yang ada di pict profku, bukan aku. Itu foto model yang kuambil di internet. Maafkan aku ya say. Sebenarnya tak ada niat untuk membohongimu atau siapapun. Kukira dunia maya tak perlu seratus persen jujur. Ternyata aku salah. Dan rasa bersalah kian menghantuiku saat kita resmi pacaran. Dan sejak lama aku ingin menceritakan semua ini. Selalu aku urungkan. Aku tak berani, aku belum siap andai engkau tiba-tiba memilih meninggalkanku.” kalimat yang kubaca barusan bagai sebuah halilintar yang mengantar suara mengelegar yang tiba-tiba membuat sekujur tubuhku lemas.

Kugosok mataku berulang-ulang. Kubaca dan kubaca sekali lagi.

“Kamu bercanda?” tanyaku tak yakin.

“Tidak. Itu kenyataan.”

“ini foto asliku.”

Sebuah foto terkirim. kuterima. Tiba-tiba air mataku menetes. Bukan karena apa. Karena aku telah terlanjur mencintai foto yang ada di pict prof itu.

Kini aku yang bingung dengan perasaanku. Bagaimana semestinya bertindak? Karena aku juga tidak mau kehilanganmu. Karena engkau telah menghias hari-hariku. Namun cintaku sudah utuh untuk perempuan di pict prof itu.

Kita saling diam. ..sibuk dengan perasaan kita sendiri hingga bulan menuruni bukit malam. Aku off meski kulihat ymmu masih menyala.

Aku mesti menata hati. Menyakini kenyataan ini. Tak bisa kujelaskan rasa yang berkecamuk di dadaku. Sedih. Bingung. kesal. Tak percaya. Merasa dibohongi. Rasaku seperti bihun, bumbu beserta bahan-bahan lain dalam pengorengan yang ditambah air mata.

Dan kuyakin engkau di balik laptopku pun diam, dihempas rasa bersalah dan juga takut kehilangan.

Malam kian kelam…kesedihan seakaan-akan bagai angin topan yang dengan ganas mengugurkan daun-daun kebahagian yang baru tumbuh di pohon jiwa, hingga tinggal ranting-ranting kering yang hampir mati yang berusaha untuk bertahan di sebuah kehidupan.

Aku duduk bersandar di kepala ranjang dengan tatapan kosong. Bingung menetukan pilihan. Melanjutkan atau menghentikan? Sebuah cinta yang telah dinoda kebohongan sanggupkah kujalani dengan keiklasan.

Rasaku laksana di sebuah perahu yang terombang-ombing oleh ombak keraguan yang bingung menentukan arah tujuan. Andai bisa ingin sepenuhnya menyerahkan sepotong hati yang terluka untuk diterbangkan angin kemana saja. Lalu kupeluk malam erat-erat. Hingga ragaku tertidur.

Bao Jhong, 1 Oktober 2010