Engkau selalu membuatku kesal. Selalu dan selalu engkau sebut nama laki-laki yang ada di sekolah kita ini untuk menggodaku. Kupasang muka cemberut. Saat engkau mulai menyebut nama Indra, entah kalimat apa lagi yang akan engkau lontarkan. Indra, anak baru, kakak kelas kita, pindahan dari kota Chiayi yang akhir-akhir ini, lagi gencar-gencar mengejarku.

“Entahlah, aku tidak pernah paham apa maksud dari semua itu. Padahal engkau sendiri tahu hanya engkau laki-laki yang kucinta.” ungkapku berharap engkau mengerti.

“Bercanda aza marah, non.” ucapmu dengan mimik tak berdosa.

“Mungkin, bagimu bercanda. Namun kadang aku tak habis pikir, aku berusaha menjaga, supaya tak membuatmu cemburu, dengan menghindar dari siapa saja yang akhirnya aku tahu menaruh hati padaku. Aku tahu cemburu itu sakit. Maka dengan caraku, menunjukkan begitu dalam cinta di hatiku untukmu dan tak membuka sedikit pun peluang bagi orang lain untuk masuk ke ruang hatiku. Namun kamu malah, memanas-manasiku…..” aku menghela nafas dan menghentikan ucapanku sejenak.

” Padahal sudah berkali-kali aku katakan padamu, aku tidak suka sama Indra, Hendra atau siapa saja. Kalau aku mau, sore ini aku sudah tidak bersamamu…berpanas-panas duduk di cafe murahan ini dan bersesak-sesak dalam bus kota…”

“Udah…udah, manis. Ngocehnya kayak kereta api. Hauska? Nih minum lemon tea kesukaanmu.” ujarmu seraya menyodorkan sebotol lemon tea yang sejak tadi di kubiarkan saja berada di atas meja.”

“Kalau marah berarti suka, tuh…”

Ucapan berhenti, saat engkau melihat aku berdiri dan beranjak dari tempatku duduk dan terus berjalan dan menghentikan bus yang lewat.Tak kuhiraukan lagi panggilanmu yang setengah berteriak memangil namaku berulang-ulang.

Rencana nonton kita sore ini berantakkan karena ulahmu dan aku memutuskan untuk pulang dengan membawa kekesalan di dada.

***

Sesampai di kamar kostku, kumatikan ponsel. Kunyalahkan vcd pemberianmu . Mulailah suara Anang dengan lagu “Separuh Jiwa ku pergi” bergema memenuhi ruang kamarku yang hanya berukuran 3 x 4 meter . Hingga akhirnya kutertidur sampai sore.

Saat aku terbangun, kubuka ponselku, banyak smsmu masuk. Aku baca, namun malas sekali aku menjawabnya.

Sering oleh hal-hal sepele aku marah dengan ulahmu. Entahlah apa aku yang mudah emosi ataukah keisenganmu yang tak engkau sadari bikin aku sewot.

Namun kamu selalu punya cara, melumerkan emosiku. Dan membuat kita semakin hangat lagi.

***

Setahun sudah hubungan kita ini. Banyak kebahagian yang tercipta namun banyak juga air mata yang terkuras.

Aku pernah cemburu setengah mati dengan Sherly. Dengan keakraban kalian. Adik kelas kita, yang berwajah campuran Belanda Indonesia. Gadis yang sangat cantik menurutku, bahkan mendekati sempurna. Selalu punya alasan mendekatimu, minta diajarin matematika, fisika bahkan membuat puisi. Dan kamu merasa kasihan karena keterbatasannya dalam Bahasa Indonesianya yang membuatmu tak sampai hati menolak permintaannya.

Sherly baru setahun berada di Indonesia, ikut papanya yang kembali di tugaskan ke Indonesia, yang sebelumnya bekerja di Belanda. Kamu yang merasa kalian tak ada apa-apa merasa enjoy menjalani persahabatan itu. Sekali-kali kamu mencoba mengajakku untuk mengenal Sherly lebih dekat. Pujianmu yang mengatakan Sherly sangat baik dan murah hati semakin membuat tebal kecemburuanku.

Keadaan ini, menjadi debat yang akhirnya membuat kita ribut dan sempat hampir membuat hubungan kita putus. kita berada dalam pikiran masing-masing dalam diam dan seminggu sama sekali tak kontak.

Aku yang tiba-tiba sakit dan seminggu tidak ke sekolahan membuatmu kelabakan. Dan waktu membuktikan aku tak bisa melupakanmu. Aku menyayangimu setulus-tulusnya dan kamu berjanji tak akan melakukan hal itu lagi.

Sejak saat itu kamu mulai menghindar dari Sherly. Kamu lebih perhatian dari sebelumnya. Dan cinta kita semakin dalam.

” Maafkan aku, karena rasa cemburu ini, membuat duniamu menyempit. Aku tak melarangmu bersahabat dengan Sherly. Dengan siapapun. Tidak. Namun jangan terlalu dekat, hihihihi…” ungkapku menyesal.

“Ada kamu aku sudah senang. Ada kamu menemaniku sudah cukup.” kalimat yang terlontar begitu saja dari mulutmu membuatku semakin bersalah namun bahagia. Kupeluk engkau erat-erat.

“Aku sayang kamu, cinta.” bisikku manja.

***

Sudah beberapa hari tak kulihat engkau di sekolahan. Cemas mulai menghantuiku. Namun untuk menghubungi, aku terlalu angkuh.

“Wah, Erik pindah sekolah.” kabar dari Elly membuatku tercengang.

Kucoba menghubungi nomer ponselmu. Sudah tak bisa dihubungi. Sungguh tak pernah kubayangkan, engkau benar-benar memilih menjauhi dariku.

Aku mengira, kamu seperti sebelumnya, merayuku…minta maaf dan hubungan kita kembali hangat.

“kalian bertengkar?” tanya Elly.

Aku hanya sanggup menganguk kepala, tak sanggup menjawab pertanyaan Elly, sobat karibku. Air mata turun dari ke dua kelopak mataku seperti hujan deras tak sanggup kubendung.

Aku terduduk lunglai bersandar di dinding sekolah. Masih tak percaya dengan semua ini.

***

Hanya pada kejora (bintang timur), kucurahkan kerinduanku. Dan aku pastikan di subuh ini, engkau pun menatap bintang yang sama. Aku yakin, sama sepertiku, tak mudah bagimu menghapus bayanganku.

Kadang pada pantulan cahaya bintang, kunikmati bayanganmu, yang kuciptakan dari ilusiku.

Dengan begini, aku berusaha mengobati segala penyesalan dan kerinduanku, padamu. Laki-laki yang selamanya akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku.

Taiwan, Juli 2010