Oleh Kwek Li Na { FIKSI }

Di ujung tahun…

Ingin rasanya menahan, lembar-lembar kalender sehingga tahun ini bisa ditunda untuk beberapa saat. Terlalu banyak kenangan kita yang tak ingin kubiarkan berlalu begitu saja…tak berharap lajunya waktu memudarkan semua cerita.

Perih rasanya, ingin melepas segala . Entah dari mana, aku mesti memulainya. Dan sejak kapan kita memulai segala kisah. Yang kutahu kita sudah begitu dekat, merasa sama-sama membutuhkan. Ada yang hilang jika tak saling bersapa.

Tanpa kita tahu apa alasan jelasnya….apakah karena kita sama-sama sebatang kara di negeri orang ini…sehingga butuh seseorang untuk bisa berbagi cerita di saat bahagia dan luka.

Pertama kali aku mengijakkan kaki ke sebuah negara yang sama sekali tak pernah aku mimpikan sebelumnya.

Keterbatasan Bahasa Mandarin membuat aku kebingungan saat berada dalam pesawat dan mesti berhadapan dengan bagian imigrasi di bandara internasional Taiwan.

Engkau tanpa aku pinta, dengan cekatan membantuku. Akhirnya kita saling bertukar nomer ponsel berharap kelak masih bisa saling kontak.

Karena kesibukkan yang mesti aku jalani, sungguh aku lupa tentang engkau. 3 tahun waktu berlalu.

###

Senang rasanya hari ini aku bisa pulang untuk mengurus segala surat-menyuratku untuk memperpanjang masa waktuku di sini. Dan sebentar lagi aku bisa melepas rindu dengan keluargaku.

Saat aku antri menukar dollar, tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang.

Hampir tak percaya bisa bertemu denganmu lagi.

Kupandang engkau dengan seksama. Untuk meyakinkan diriku.

Banyak perubahan darimu. Kau tampak lebih tampan dan dewasa.

” Chennn…” ujarku setengah berteriak.

Tak sadar kita saling berpelukan, saking senangnya. Sehingga tak kita peduli lagi dengan pandangan aneh orang-orang yang duduk di sekitar kita berdiri.

Banyak kisah yang kita ceritakan. 5 jam kita bersama, dalam burung besi yang membawa kita ke tanah air ….seakan-akan tak cukup. Terlalu cepat rasanya waktu berjalan sehingga banyak cerita yang belum tuntas.

Kita pun berpisah lagi. ..untuk kedua kali di Bandara Soekarno Harta. Kamu menuju kotamu begitupun aku . Namun kita berjanji tak akan kehilangan kontak lagi dan akan pulang bersama ke Taiwan pada hari yang sama.

###

Meskipun kita berbeda kota kerja di Taiwan…kita selalu kontak dan sekali-kali bertemu pada hari libur. Tak pernah ada pernyataan apa-apa dari kita. Kita menjalaninya apa adanya. Banyak kebahagian yang kita rajut.

Sungguh, selama hidupku, tahun inilah hal yang sangat membahagiakan. Aku jadi lebih semangat menjalani hari-hari.

Perhatianmu selalu menyirami jiwaku. Menyuburkan rasa di hatiku.

“Apakah aku telah jatuh cinta padamu ?” tanyaku dalam hati.

Aku tak peduli apa hubungan kita, yang jelas aku menikmati. Perhatianmu, memabukkanku. Membuatku seakan-akan tak berpijak di tanah. Aku menerima mentah-mentah apa saja kalimat yang keluar dari mulut. Hanya keindahan yang kurasa. Engkau terlalu baik dan perhatian di mataku.

“Tak mungkin tak menaruh rasa. ” bisik hati kecilku. Aku meyakinkan diri dan terlelap dalam bahagia.

Aku mulai terbiasa menunggu sapamu setiap hari, lalu ke jam, hingga detik. Berjalan beberapa bulan.
Namun kini, sapamu tak seperti dulu lagi. Dari detik berkurang ke jam, hingga ke hari. Bahkan bisa berhari-hari kau tak menyapaku.

malam diam
angin menepi

sunyi menghampiri
tentangmu tersembunyi
di balik keadaan

suaraku pun
semakin sumbang
dan hadirkan bimbang

di pucuk malam
aku sering menagis
menunggu kau datang

###

Aku kemudian menjadi was-was dengan sikapmu akhir-akhir ini. Tak jarang rasa cemburu muncul. Aku mengakui, memang tak seharusnya…karena kita hanya sahabat.

” Chen, tahukah kamu, aku telah menganggapmu lebih…lebih dari sekedar sahabat.” ujarku lirih saat kita bertemu. Kuenyahkan rasa maluku, hanya biar kamu tahu, aku mencintaimu.

Kau tetap diam….menatap gelapnya malam. Tanpa pernah aku tahu, ada apa sebenarnya di benakmu.

Terasa tawar percakapan kita. Kau berubah total. Tak seperti kamu yang kukenal selama ini.

Malam itu perjumpaan terakhir kita yang berakhir dengan pertengkaran.

“Kau terlalu egois!” ujarmu lalu berlalu.

Sejak saat itu tak pernah kutahu lagi kabarmu.

Engkau menghilang bagai ditelan bumi. No ponselmu tak lagi bisa kuhubungi. Engkau benar-benar menarik diri dan sengaja menjauh dariku. Aku kehilangan jejakmu.

###

Malam ini…malam pergantian tahun…seharusnya kita menyaksikan pesta kembang api, di Mall 101 yang megah itu seperti janji kita sebelumnya.

Namun malam ini, bersama gerimis dan dingin yang menusuk…bukan kembang api yang kulihat.

Sementara acara-acara televisi semua memperliatkan aksi-aksi dan acara pelepasan akhir tahun, tak membuat aku tertarik.

Aku lebih memilih duduk di sini, sendiri. Di beranda ini…dulu kita pernah bersama menyaksikan bulan. Seakan-akan masih terlihat jelas segala kenangan itu.

Malam ini begitu sunyi dan sepi seakan-akan hampir mengerat nadi kehidupanku. Aku dalam gamang, ditemani kursi kosong.

Perlahan kristal bening turun di pinggiran mataku.

###

Hatiku benar-benar seperti daun akasia yang luruh…lalu berputar-putar bingung.

Ternyata aku duduk di sini sampai menjelang pagi…entah apakah sedari tadi , aku ada tertidur atau tidak. Sungguh aku lupa…setelah beberapa gelas wine menemaniku.

Kuusap sisa air mata yang tersisa….aku bersumpah di dalam hati….tak akan tenggelam dalam ratap ini.

Aku mesti bangkit dan membuktikan padamu….kau tak memilihku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu.

Akan kusongsong tahun baru ini, dengan semangat baru.

Malam ini kularungkan segala sesal, luka dan perih di dada.

Setelah aku terbangun esok pagi…tentangmu, telah aku tinggalkan di balik bantalku.

Engkau hanya kenangan yang tak akan pernah aku temui lagi, di masa akan datang.

Taiwan, 28 Desember 2009