OLEH KWEK LINA

Layar angan, hadirkan bayanganmu

Kau datang, dengan aroma bunga

Kemudian berlalu, menjauh, tak sanggup kugapai lagi

Rindu dan resah, semakin tumpah

Hujan darah, pun turun perlahan dari bola mataku.

Hitam dan putih kulit kita

Pemisah takdir cinta

Adat istiadat bagai rantai

Memasungku. Pada inginku!

Agamaku dan agamamu

Bukankah dari Tuhan yang satu ?

Mengapa rambunya “DILARANG!” huruf merah tebal.

Letupan senapan mereka, merobek rasa. Sakit. Cintaku pun terpejam.

Mereka membunuh cinta kami dengan kejam.

Cinta ini mati tanpa perlawanan,

Akankah menjadi abu yang bertebaran, lalu melakukan pembalasan ?

Setan-setan pun, pulang ke awan membawa kemenangan

Bersorak gembira. Melihat tabiat manusia

Aku tersungkur bingung , “Salahkah kami?”

Taiwan, 16 08 09