Pict dari koment di tagged

* Sepenggal Warna Lain, Diktat Kehidupanku*

Oleh KWEK LI NA

Senja menyambut musim gugur, udara terasa sejuk. Jauh berbeda dari beberapa hari yang lalu dengan suhu 39 derajat, yang seakan-akan mampu membuat otak mendidih.

Aku duduk di serambi, ditemanin laptop kesayanganku. Sambil menikmati rintik ritmis hujan seraya minum teh ginseng untuk menghangat tubuh. Kupandang sebatang pohon buah kelengkeng yang terletak pas di depan aku duduk saat ini.

Beberapa hari yang lalu, daun-daunnya tampak hijau. Dan menari-nari bahagia ditiup angin musim gugur yang anggun. Namun hari ini, daun-daun berubah kering dan agak kecoklat-coklatan. Angin topan yang beberapa hari ini datang dengan garangnya, tanpa pandang bulu menyakiti tiap helai daunnya.

“Ah…kehidupan. Tanpa pernah bisa kita duga. Kadang terlalu cepat perubahannya.”

Kudengar suara cuit…. cuit… cuit. Lalu kuletakan cangkir teh yang dari tadi aku genggam. Kulihat seekor anak burung di atas dahan. Bulunya basah kuyup.

Ingin sekali aku menolongnya. Atau melempar mantel untuk menghangat tubuhnya yang gemetaran karena dingin atau barangkali karena takut. Namun bagaimana caranya ?

Aku tak mungkin naik ke pohon itu.

Kadang apa yang hati kita niat, belum tentu bisa kita lakukan. Atau saat kita ingin melakukan bantuan, belum tentu yang bersangkutan, mau menerimanya.

Kuharap hujan reda. Dan keesokan hari matahari bersinar. Sehingga bisa mengeringkan bulu-bulumu yang basah kuyub.

Burung itu mengingatkan aku pada seorang sahabat. Seorang sahabat yang tak sengaja aku temukan pada salah satu sudut ruang kehidupan.

” Aku tak pernah menyangka kita bisa ketemu.” katanya suatu hari.

***

Di tanah rantau, kadang sepi menyelimutiku, sunyi kadang berpeluk erat. Mendengar kecerian sapanya, cerita atau teka-tekinya sering membuatku tertawa sendiri sehingga membuat kami cepat akrab.

Pelan-pelan ia mengisi salah satu daftar dan duduk dengan manis dalam ruang persahabatan yang aku punya.

Bagai matahari setia akan janji menyapa manusia, ia pun demikian selalu menyapaku. Kami memulai hari dengan sekuntum senyum dan seuntai doa. Saling memberi semangat hingga jadi pemenang dalam menahlukan rutinitas. Kami bagai jam weker, yang saling mengingatkan saat waktu makan tiba.

Suatu hari ia menyapaku dengan sebuah kalimat cantik bernada getir, ” Jiwaku terapung dalam perjalanan waktu, kakiku goyah menjejak rumah hatimu. Masihkah ada bahagia yang tersisa di muka bumi ini ?”

Ia mulai menyukai menulis. Sehingga kami berlomba untuk merangkai kata sebagai bentuk untuk saling memberi semangat.

Persahabatan yang indah kenapa berumur pendek. Ia memilih pergi ke sebuah tempat terpencil.

Meskipun aku sedih, namun aku harap dalam kesendirianmu sekali-kali mengingat kebersamaan ini.

“Sembuhkan luka hatimu. Semoga kebahagian segera mendekatimu.” harapku.

Aku akan selalu menulis sampai kau kembali. Karena kau berjanji padaku, saat parut luka di masalalu sudah kering kamu akan datang lagi menyapaku.

Aku akan menunggumu….karena seperti katamu, ” Asa adalah harapan. Aku dan mentari masih terbit esok pagi. Aku dan harapan pasti akan kembali.”

Aku akan selalu menanti esok hari, berharap sinar mentari menghadirkan lagi candamu, untukku hingga bisa aku bagikan buat dunia.

Namamu telah terpahat di dinding hatiku. KITA ADALAH SAHABAT.

Kau dan kenangan ini akan seperti bunga matahari yang berwarna cerah, yang akan selalu ada dalam hangatnya kedua tanganku.

Sahabat, jadilah burung seperti yang kau inginkan. Kepaklah sayapmu! TERBANG…TERBANGLAH tinggi…tinggi hingga kau gapai langit biru. Disetiap kepakan sayapmu…ada doaku bersamamu. Terimaksih karena kau pernah mewarnai diktat kehidupanku dengan warnamu. Semoga saat kau kembali, kau seperti tunas baru di musim semi yg penuh semangat. Aku akan selalu menunggu kehadiranmu dengan segala perubahan yang lebih baik!. ^_^

*kudedikasikan untuk seorang sahabat baikku “H” . *

Taiwan, 11 Agustus 2009