OLEH KWEK LI NA

Perjalan begitu panjang kulalui…serasa mimpi kini aku berada di pulau Kalimantan dan menuju ke arah barat.

Didasari oleh rasa penasaran dan keingintahuanku terhadap keadaan pulau Borneo, mulailah aku menyusuri jalan, selangkah demi selangkah kaki ini membawa diriku hingga bisa melihat sungai terpajang seperti yang kupelajari dalam ilmu bumi Indonesia.

Pontianak adalah kota yang aku pilih dan mulailah aku mencari beberapa refrensi dari media masa.

Kota yang terkenal dengan Jembantan Tol yang menghubungkan antar daratan yang dipisah oleh sungai terpanjang di Indonesia, Sungai Kapuas.

Di pesisirnya memiliki pantai-pantai yang indah dengan daya tarik yang tak kalah dengan keindahan di pulau-pulau lainnya.

Kota Singkawang dengan sebutan Hongkong-nya Indonesia, atau kota seribu kuil ini, memiliki daya tarik luar biasa buatku. Suatu hari aku juga mesti menginjakkan kakiku ke sana.

Pontianak adalah Kota eksotis. Aku ingin membedah kota itu dalam pengebaraanku.

***

Kusiapkan semua barang-barangku, sambil menahan pedih yang pelah-pelan menyelinap. Lalu kuhembuskan nafas kuat-kuat berharap beban berat yang mengganjal terbuang habis, namun usaha itu sia-sia. Deruh dan gemuruh hati tetap mengobok-obokku..tak menentu. Kadang membuat hati gundah dan sesak.

Sejujurnya aku enggan berpisah dengan Fany. Gadis yang selama setahun ini, mengisi hari-hariku. Kedamaian yang aku nikmati dalam keluarganya menjadi sebuah ukiran indah dalam perjalanan waktuku. Keluarga yang penuh cinta…. mengenang mereka aku bagaikan memungggungi diriku dan melihat bayangan keluargaku.

Ah…semua rasa berkecamuk dalam pikiranku.

Akhirnya kuputuskan untuk memeluk guling dan berharap semoga semua resah itu bisa kutinggalkan dalam mimpi malamku sambil berharap munculnya mentari di keesokan hari yang cahayanya mampu menghapus kabut di pikiranku.

***

Aku kembali mengalami kegusaran, lalu mengusap-ngusap mata. Sudah dua malam mimpi yang berulang ini kualami. Seakan-akan memberitahuku bahwa ada yang sesuatu yang terjadi di rumah.

Kepiluan yang terasa merongrong batinku entah karena apa. Kesedihan membuih entah darimana datangnya.

Rasa ngatuk yang masih mendera, sehingga kuacuhkan perasaan itu dan semua galau dalam hati kubawa ke dalam tidur lagi. Namun Mimpi yang sama muncul lagi…tampak olehku banyak sekali orang yang datang ke rumah kami.

Dikeheningan pagi aku resah bagaikan tidur di atas duri-duri tajam. Kulirik jam weker biru tua di atas meja tulisku, Sudah pukul 7.30 pagi.

Penghujung derita menyambut pagi membuat aku teringat rumah.

“Ada apa di sana ?”

Untuk menjawah kegusaranku, akhirnya kutekan juga nomer telepon yang menyambungkan dengan orang rumah.

Aku tersentak…saat Joan dengan suara sendunya memberitahuku, kalau papa telah menyusul mama.

Langkah yang kuayun, kutarik kembali…aku harus kembali ke rumah. Kubayangkan rumah kami yang kutinggal beberapa tahun ini akan bertambah sepi dan hening dengan kepergian Papa.

Tanpa pikir panjang, kusiapkan ranselku dan aku pulang untuk membakar dupa dan hio satu-satunya hal masih bisa kulasanakan dan harus kulakukan sebagai anak.

***

Aku memandang lurus menembus celah pagar dari luar gerbang.

Delapan tahun lamanya rumah ini kutinggalkan. Tetapi semua masih terasa sama. Dari luar tampak angkuh karena pintu gerbang yang tinggi selalu tertutup rapat. Seakan penghuni di dalamnya membatas dengan kehidupan di luar.

Padahal waktu papa masih ada, papa sangat akrab dan dikenal dengan baik oleh tetangga. Di daerah ini hampir semua rumah begini apalagi di hari kerja. Keakraban seolah-olah hanya tampak pada saat hari-hari libur saja.

Sekarang rumah ini tampak sepi dan diam. Penghuninya hanya tiga orang, yaitu Joan yang mengurus perusahaan dan belum juga menikah. Bik Iyam yang mengurus rumah dan suaminya sebagai satpam.

Saat aku pencet bel berkali-kali, kulihat seorang perempuan tua, setengah berlari keluar dari balik rumah untuk membuka pintu gerbang. Dengan berjalan tergesa-gesa ia mengomel, karena heran kenapa suaminya tak membuka pintu gerbang.

“Cari siapa tuan?” Ujar Bik Iyam menyapaku dengan penuh hormat.

Debu jalanan dan garangnya sinar matahari membuat aku banyak berubah sehingga Bi Iyam, sama sekali tak mengenaliku lagi, padahal ia telah mengabadikan separuh hidupnya pada keluargaku.

“Aku pulang bibi.” teriakku

Wanita itu terperanggah tak percaya. Ditatapnya aku lekat-lekat untuk memastikan.

Lalu kami larut dalam dekapan penuh air mata. ..tanpa banyak bicara.

***

Tiga pigura membingkai 3 foto di atas altar yang selalu di balut aroma dupa yang memenuhi sudut ruangan.

Kunyalakan hio, untuk memberitahukan kedatangganku. Aku berlutut di hadapan leluhur sebagai ungkapan bersalah pada mereka karena aku tak berbakti. Lalu berdoa kepada Tian (Tuhan) semoga leluhurku di sana memetik bahagia yang sejati dan memberkati kami yang masih hidup.

Tiga foto orang yang sangat kucinta berjejer di sana seraya tersenyum, seakan menyambut kedatanganku.

Aku sadar perjalananku yang cukup panjang didera derita masih belum cukup menghapus dukaku ketika aku menatap foto Mey Ling . Aku menatap foto itu dengan dada hingarbingar tak menentu berujung rasa bersalah.

Puing-puing penyesalan…lebur menjadi satu yang menghancur batinku berderai semakin tak mampu kurekat lagi.

“Maafkan aku Ling-Ling!” ucapku dengan lidah yang kelu. Tanpa sadar air mataku menetes menatap fotonya yang berpigura indah.

”Maafkan ko, Aku belum dapat menuntaskan kesalahanku padamu sayang. Kakiku masih ingin melangkah jauh….melangkah dan terus melangkah berharap di sisi dunia lain bisa kutemukan seseorang yang dapat kupinjam raganya untuk menyimpan jiwamu padanya.” batinku terus berkata

Sebuah desiran bayu membawa seuntai kalimat halusinasi…”Koko, aku disini bahagia. Jangan pernah kau sesali semua itu. Itu adalah takdirku. Tak ada hubungannya dengamu. Tahukah kamu? Aku sedih melihat kamu dalam pengembaraan yang tak berunjung.”

Aku tersentak kaget. Kutatap sekelilingku. kuusap-usap lagi mataku. Namun tak satu pun manusia yang berada diruang ini.

“Apakah itu benar-benar suara Ling-Ling?” tanyaku bingung…sambil menepuk-nepuk pipi, kalau aku benar dalam keadaan sadar.

***

Biar semua orang menertawaiku. Berapa perih penderitaanku. Masih belum mampu membuatku memahami misteri-misteri kehidupan ini.

Apapun julukan mereka padaku. Si Beku. Bermuka Dingin ataupun apa saja. Biarlah mereka bicara. Aku tak perlu pura-pura tersenyum untuk membuat mereka bahagia.

“Senyumku hanya untukmu, adikku sayang.”

“Selamat tidur dalam pangkuan dewi khayangan. Kini kau adalah patung pualam yang hanya bisa kupandang. kau akan selalu menjadi kenangan yang hidup dihatiku.”

***

29 tahun rahasia ini kututup dan tenggelam bersama waktu berlalu. Meskipun gelombang mampu menghapus torehan di pasir, namun samudera sekalipun belum sanggup menghapus guratan luka ini.

Hidup terasa kosong, dalam hormony kehampaan. Semangat dan harapan telah pupus ditelan waktu…terkadang aku menatap keramaian ibarat sebuah mainan yang menjenuhkan. Kendati berbagai ulah manusia yang membuat dunia ini tampak ramai aku tak ingin ikut bergambung dengan mereka.

Entah sudah beberapa senja kulalui sampai akhirnya aku membiarkan pintu hati ini terbuka perlahan. Kubiarkan tangan lentik itu menarik grendel pada bingkai hatiku yang berkarat….meskipun aku menangis sedih tetapi bercampur bahagia.

Ah kenapa kau bisa hadir tanpa kuduga. Sosok itu dari hari kehari semakin menampakkan dan sanggup menduplikasikan sosok Mey Ling. Kehadirannya tanpa kuharapkan mampu membangkitkan semangat hidup. Kekuatan itu bisa tumbuh, ia sanggup membangun puing-puing yang telah pora poranda dalam kerajaan hatiku. Aku tak ingin bangun dari tidurku, jika ini hanya sebuah mimpi.

Perkenalan kami yang tak sengaja, saat kami sama-sama duduk di atas perahu dalam penyeberangan sungai Kapuas. ia rupanya pulang berlibur ke kampung halamannya, setelah dipersunting pria yang duduk di sampingnya yang seakan mengerti dan bijak membiarkan kami terlibat dalam perbincangan yang tampak akrab bagai telah kenal bertahun-tahun. Hingga akhirnya ia memberi no ponsel dan emailnya, saat perahu kami sampai di tepian, pertanda kami akan berpisah.

Pertemuan itu membawa kesan dihatiku..dan berharap kapan lagi akan bertemu dengan gadis yang selalu ceria dan tersenyum polos tersebut. Sampai pada hari itu aku menerima emailnya. Singkat tetapi membawa segar dihati..

”Apa kabar semoga sehat selalu?”

Aku terpaku menatap layar Laptopku. Namun komunikasi melalui kontak elektonik itu putus… dari waktu ke waktu aku ingin komunikasi itu berlanjut tapi kapan ?

Sehingga pertemuan terjalin kembali di sebuah media dunia maya. Pertemuan yang tak sengaja ini aku rasa bukanlah suatu kebetulan belaka. Apakah takdir yang mempertemukan kami lagi?

Aku takut pertemuan ini akan sirna lagi, maka aku hanya mengikuti semua kegiatannya di dunia maya memalui sebuah blog yang selalu kukunjungi. Aku jadi pemburu menelisik lebih dekat apakah dia yang pernah berbincang denganku dalam penyeberang di sungai kapuas dulu? Dia Kah ? Oh Tuhan benarkah dia ?

Mungkin bagi orang lain ia hanya seorang perempuan biasa yang berkulit putih dengan wajah oval. Dan matanya masih nampak sekali garis keturunannya. Namun aura pribumi juga melekat di sana.

Dari waktu ke waktu kupandang beberapa fotonya. Semakin terasa matanya mampu menembus mataku yang paling dalam. Ia mampu menjerat langkah dan pikiranku. Kedekatan kami makin terjadi saat aku larut dan diam-diam menikmati semua tulisannya. Cerita mulai mengalir di antara kami.

Semakin lama semakin kutemukan banyak kemiripan mereka. Baik nama kecilnya. Lesung pipit. Di setiap fotonya, kubayangkan Mey Ling, pipinya berlubang terlihat setiap kali ia tersenyum lepas saat kugoda.

Sorot matanya yang mampu menarikku ke dasar ngarai masa lalu. Bahkan kadang aku malah merasakan cabikan kasihnya sebagai saudaranya. Sikap keras kepalanya yang membuatku tak mampu mengelak hampir setiap ia berargumentasi dalam perbincangan.

Persahabatan yang merambat hangat antara kami, menguak sedikit tentang pribadinya. Terutama sifat cengngengnya dan gampang menangis seperti Ling Ling.

Apakah ini hanya ilusiku ?

Tetapi sesungguhnya kuakui batinku selalu berkata… Ling Ling ada dalam dirinya dengan segala kemiripan mereka.

Entahlah…apakah aku sendiri yang membangun Ling Ling dalam dirinya ataukah ia memang reikernasinya Ling Ling aku tak pernah mempersoalkannya lagi.

***

Suatu hari ia mengeluh, karena akhir-akhir ia sering tiba-tiba merasa sakit di bagian tertentu tubuhnya.

Dengan sedikit memaksa aku memintanya untuk melakukan pemeriksaan.

Aku terhentak, saat ia memberitahuku hasil pemeriksaan dokter tentang penyakit yang sering menyiksanya. Hatiku juga merasa sakit.

Aku berdoa dan memohon kepada Tuhan untuk kesembuhannya.

“Tuhan, jangan secepat ini kau ambil Ling-Lingku lagi. Berikan kami sedikit kesempatan untuk merajut kasih yang sempat terputus di masalalu.” Gumanku dalam hati.

Sejak hari ini, tanpa malu aku memintanya untuk mengabariku keadaanya setiap hari.

Aku tidak lagi mempersoalkan kamu Mey Ling atau bukan. Kamu telah kuanggap saudaraku walaupun bukan keluar dari rahim yang sama. Aku telah berjanji akan menyayangimu dan menjagamu sampai maut memisahkan kita. Tak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu.

Aku akan selalu setia menemanimu, di dalam memaknai ruang dan waktu…dalam alun simphony kehidupan yang kita dendangkan dengan sisa umur yang kita miliki.

***

Sungai itu masih seperti dulu, raksasa dengan panjang 1400 yang membelah sebuah kota tetap ramai degan aktifitas masyarakatnya.

Dari jauh setiap hari pria setengah baya itu selalu di atas sampannya. Seharian ia di sana…untuk menanti sosok yang ia rindu. Berharap bayu mendatangkan mereka lagi seperti dulu, sehingga bisa sama-sama menikmati tenangnya sungai kapuas menjelang senja.

Wajah keras …garis tua mulai nampak…namun memancarkan sinar bijak…

Nun jauh di sana ia memandang alun-alun kota. Sebuah karya yang indah, ia tidak pernah mempersoalkan siapa yang telah menciptakan fenomena indah di waktu siang dan malam hari.

Jauh ia melangkah melarikan duka hatinya…dan tak seorang pun mengetahui siapa dia.

Namun dari lirik syair penyanyi kenamaan dapat kusimak sebuah derita yang maha berat. Ia mengejar sebuah bayangan yang tidak akan pernah ia dapatkan.

Ia biarkan sampannya berlabu di tepian sungai itu.

Bulan purnama memerah tersembul di ufuk timur…”entah purnama keberapa ini” desahnya lirih.

Gitar tua yang selama ini tergelatak di atas sampannya dipetik, mengiringi sebuah lagu penyanyi terkenal Bimbo,“Tajam tak bertepi” pelan mengalun dari bibir yang tengadah ke atas langit, seakan meneriakkan sebuah ungkapan rindu yang sarat dalam dadanya.

Ia ingin menulis kembali perjalanan hidupnya yang penuh sesal. Syair itu mengalun lembut terbawa angin malam…sebagai ungkapan semua rasa.

Tak tertulis dengan kata

Perasaan ini………..

Maka kuungkapkan lewat syair ini

Ingin kutanyakan, Namun telah kuduga

Jawaban yang kan kuterima

Rasa penasaran dalam hatiku…..

Selangkah demi selangkah

Kau turutkan kata hati

Sampaikan jauh ke ujung bukit yang berbatas langit

Jiwa telah luluh, badan telah luka

bahkan hati tlah berkeping, tetap tak kutemukan jawaban…

Beberapa bulan terkhir ini pria itu berada di kota ini… entah dari mana dan tak seorang pun tahu siapa dia. Tak satu pun warga kota ini mempersoalkannya dengan situasi kesibukan yang semakin kompleks.

Malam makin larut …Sayup-sayup mengalun lagu Mei hoa….dari sampan bercat kelabu yang di tumpangi pria itu…menjadi lazim dan hiburan bagi masyarakat yang sama sekali tak mengenal siapa pria itu…..

******

Matahari sudah condong ke barat…dari perahu berbeda tanpa disadari sepasang mata perempuan muda membaca tulisan yang sudah dekil berisi sebuah email yang selama ini dia hafal mati.

Kuamati secara diam-diam perempuan dan seorang lelaki menuntun 2 anak mereka menuruni sampan yang mereka tumpangi…menyusul sampan pria separuh baya yang menambatkan sampannya di tepian sungai kapuas.

Aku dapat merasakan getaran kerinduan yang amat sangat dari nyonya muda itu, kurasa ia ingin lari dan memeluk pria separuh baya itu. Ia ingin menumpahkan rindu yang sarat dalam hatinya, kepada pria sederhana yang telah di anggap sebagai kokonya.

Tanpa kusadari mataku basah seketika memandang semua itu. Dan berdoa dalam hati “Tuhan…jika rindu ini adalah anugerah biarkan perasaan itu akan menjadi bingkai sebuah harapan hati mereka.”

—————————-TAMAT————————–

Dilukis oleh NUNG BONHAM

dapat juga dibaca di : FACEBOOK

ps : Maaf saya tak melayani komentar yang menanyakan siapakah LST. Membuka puing masalalu ini sama dengan membedah kenangan luka itu lagi. Aku tak berharap ada yang berdarah.

Cerita ini saya tulis berharap bisa diambil hikmah buat kita semua. Sebagai seorang penulis pemula, tulisanku masih jauh dibilang baik. Semoga semua sahabat bisa memaklumi, kekurangan yang ada dan posisiku sebagai perantara antara pemilik kisah dan pembaca.

Terimakasih buat semua sahabat yang masih setia membaca tulisan ini…sampai tamat.

Taiwan, awal Juli 09