MEI HUA DI GUNUNG SESAL III

Oleh KWEK LI NA

Sejak Pak Roni sekeluarga berlibur, aku selalu berkutat dengan piano ini. Membuatku semakin jauh tengelam dalam alur kenangan keluarga.

Satu persatu wajah mereka muncul,sempat membuat tersenyum sendiri jika mengingat tingkah-tingkah lucu Ling Ling.

Namun sampai kekejadian pagi itu, tiba-tiba mendatangkan pilu yang dasyat akibat tikaman rasa bersalah yang tak berujung.

Senja ini aku merasakan hal yang sangat luar biasa. Jari-jari tangan ini terus menari di atas tuts-tuts piano. Menenggelamkanku. Tanpa kusadari, di pintu masuk Pak Roni ditemani Merry isterinya serta Lita buah hati sudah lama memperhatikan aku memainkan beberapa lagu sendu. Mereka berdiri tanpa mengeluarkan suara sedikit pun ataukah aku yang larut dalam kenangan sehingga sama sekali tak menyadari kehadiran mereka.


Mereka pun hanyut dalam dentingan nada sendu yang memenuhi ruangan. Seakan paham dengan pilu merambat jiwaku. Keluarga itu larut dengan tembang sendu yang mengantar sinar lembayung di ujung senja.

“Abang menangis?” suara Lita yang lembut tiba-tiba berada di sampingku, membuyarkan semua lamunanku.

Aku pun tersentak kaget bercampur malu setelah mengetahui kedatangan majikanku dan keluarganya. Cepat-cepat kuseka air mataku. Rasa ini mesti kusembunyikan di ruang yang tak seorang pun mengetahuinya. Ruang rahasia tempat aku memainkan kenangan-kenangan yang tak pernah hilang.

“Aku senang mendengarkannya. Lagu itu begitu kuat. Lanjutkan saja permainanmu. Dan kalo ada waktu bimbing Lita latihan pianonya ya!” ujar Bu Merry ramah.

“ Maaf Pak. Saya minta maaf tidak mengetahui kedatangan bapak. ” Ujarku kikuk.

“Ngak apa-apa kok. Kami sangat menikmati permainan pionamu. ” jelasnya bijaksana.

Aku hanya bisa diam dan salah tingkah. Waktu berjalan konstan. Sejak peristiwa itu aku mulai mengajari Lita bermain Piano.

***

Sebagai anak semata mayang, orang tuanya selalu berusaha menuruti keinginan Lita sehingga ia sudah terbiasa bahwa apa yang ia inginkan selalu terkabul. Sehingga ia bukan saja manja namun sedikit egois jika sudah menginginkan sesuatu.

Lita berusaha mencuri kesempatan dari waktu latihan kami. Ternyata diam-diam Lita menaruh hati padaku. Namun, hatiku yang dirundung duka nestapa sulit menerima kenyataan termasuk menerima cinta seorang gadis. Apalagi aku menyadari antara kami bagai langit dan bumi tak mungkin kulahirkan rasa itu. Dan aku terus berusaha menjaga jarak dan menolak gejolak hatinya dengan halus, agar tidak membuatnya tersinggung dan berkecil hati.

Di suatu malam, saat Pak Roni dan Bu Merry menghadiri acara keluarga tinggalah aku dan Lita di rumah. Sontak saya kaget karena Lita tiba-tiba sudah berada dalam kamarku.

Terus terang saat itu aku ketakutan, jangan sampai kehadiran Lita di kamarku akan berakibat buruk di mata keluarganya, jika saat itu mereka datang tiba-tiba. Kuletakkan buku tebal yang sedari tadi kubaca lalu aku mengajaknya keluar kamar menuju ke ruangan dimana Piano terpajang. Inilah satu-satu alasan yang kuharap tak membuatnya tersingung.

“Mas, bisa pegang tanganku tunjukan tuts yang harus kepencet?” pinta Lita manja.

Aku merasa risih dengan perbuatan Lita akhir-akhir ini yang semakin berani. Kadang-kadang malah tubuhnya sengaja di tempelkan ke badanku. Atau tanpa rasa malu di tatapnya mataku lekat-lekat. Dan aku kadang salah tingkah….serba salah dengan segala sikapnya hingga membuatku hanya diam terpaku tanpa bisa berbuat sesuatu.

Lita semakin agresif saja untuk menawan hatiku. Malam ini, untuk kesekian kali, ia memintaku mengajarinya lagu Me Hua dan untuk kesekian kali ia larut dalam dentingan nada-nada yang kumainkan.

“Bang adakah kenangan yang sulit kamu lupakan sehingga abang begitu dingin,” ucapnya sambil memejam mata menahan kesal.

Semakin aku diam, rasa penasarannya semakin tebal dan ia pun terus berusaha memaksaku untuk menjelaskannya.

Namun hatiku keluh untuk memenuhi permintaanya. Kisah sedih itu tak pernah ingin kubuka. Akan selalu kubalut rapat. Siapapun mereka tak berhak mengetahuinya.

Biarlah hati ini berkali-kali luka dan tak pernah mengering, jangan sampai terkuah kendati kepada mereka yang baik sekalipun padaku. Bahwa pengembaraanku selama ini, untuk menebus kesalahan besar yang pernah kulakukan.

Aku butuh derita silih berganti untuk menebus kesalahanku bukan rasa iba dan kepedulian dari orang lain. Kematian tragis Ling Ling belum sebanding dengan kesulitan hidup yang kujelang selama ini.

Aku tidak menaifkan kebaikan keluarga Pak Roni. Mereka memang tidak menganggap aku sebagai tukang kebun atau pembatu dalam rumahnya. Namun aku menyadari siapa aku. Dan dalam hati, telah kuhibahkan diri untuk menjadi apapun bagi orang lain. Namun tekat hati kadang membrontak, kebaikan keluarga Roni bukan kehidupan yang harus kunikmati.

Dengan berat hati. Larut malam kukemas barangku yang tak seberapa banyak.

“Aku harus pergi!”

Aku tetap memutuskan untuk tetap mengunci rapat-rapat rahasia itu dan menghindar tingkah laku Lita yang semakin hari semakin tampak menggodaku. Kebaikkan Pak Roni dan Ibu Merry yang membuat tidak tega menatap muka mereka untuk pamit.

Kuputuskan menulis sebuah surat dan aku meletakkannya di atas meja ruang tamu. Isi surat itu mengungkapkan rasa terimakasihku buat kebaik-baikan mereka namun tak kujelaskan kenapa aku harus melangkah pergi.

Tekatku hanya satu. Melanjutkan pengembaraanku. Dimana tak satu pun manusia mengenaliku. Semoga dengan derita aku mampu memperoleh rasa penebus untuk sebuah kesalahan fatal itu.

“Selamat tinggal. Maafkan kepergian ini.” ujarku dalam hati, kubalikkan tubuh memandang rumah mewah Pak Roni itu sekali lagi kemudian kuayunkan langkahku dengan pasti.

***

Aku mesti berhadapan lagi dengan ganasnya dunia. Kuseka keringat dengan punggung tangan sambil berteduh di bawah bayangan gedung.

“Aku tak boleh menyerah!” ujarku menyemangati diri, sambil melanjuti langkahku yang tak ada kepastian ini.

Kepedihan dan kebahagian hanya sebuah kisah perjalanan yang tak pernah usai untuk sebuah perenungan. Dan aku mesti terus melangkah mencari samudera yang bisa kujadikan titian yang menghantarkan pada keriduan yang tak bertepi ini untuk mencarimu yang jauh di ujung bukit yang berbatas langit.

Aku akan terus mengejar sebuah bayangan yang aku sendiri tahu kalau bayangan itu tidak akan pernah bisa aku raba lagi.

Malam ini bulan purnama memerah tersembul diufuk timur…entah purnama keberapa ini,” desahku lirih.

Nun jauh di sana kupandang alun-alun kota. Sebuah karya yang indah. Aku tidak pernah mempersoalkan siapa yang telah menciptakan fenomena indah di waktu siang dan malam hari. Keindahan yang begitu pun tak mampu mengusik kehampaan yang kurasa.

Andai bisa, aku hanya ingin melangkah jauh …jauh sekali untuk melarikan duka hati ini. Dimana tak seorang pun mengenal dan mengetahui siapa aku.

****

Melamar kerja kesana kemari. Akhirnya aku diterima sebagai pemain piona pada sebuah Pub yang baru diresmikan beberapa bulan yang lalu. Aku mengantikan pemain piona cantik yang minta berhenti tiba-tiba karena trauma pernah diganggu berandal di sekitar daerah itu.

Daerah itu memang terkenal dengan berandalan yang selalu menganggu orang yang lewat untuk diminta uang rokok atau malah mereka duduk minum-minuman keras hingga sering mabuk-mabukan dan menganggu orang-orang yang lewat.

Semua kisah orang tentang daerah itu kutepis, kerena kesulitan hidup semakin mendera. Angka-angka biaya kuliah semakin bertambah. Penghasilanku sebagai pemain musik di sebuah pub tidak mampu mencukupi keperluan kuliah dan hidupku.

Makan seadanya untuk sekedar menyambung nyawa. Dan aku pernah hampir sebulan tidur bersama pemulung karena tidak sanggup lagi menyewa kost, di sebuah gubuk di tepi kota metropolitan.

***

Pada suatu malam saat aku pulang dari pub, suasana jalan sudah sepi. Kendaraan pun hanya sekali kali lewat.

Di kejauhan, samar kudengar teriakan minta tolong dari seorang wanita. Semakin kumelangkah semakin dekat suara itu. Kuhampiri asal suara, kuhentinkan langkah, lalu kuperhatikan dengan seksama. Aku sangat terkejut melihat seorang perempuan muda sedang dikerubuti tiga brandalan. Bajunya sudah acak-acakan bahkan sebagian terkoyak.

Aku sebenarnya tidak ingin mencampuri persoalan ini. Tetapi sorot mata perempuan itu sepertinya memelas berharap aku menolongnya. Ia ketakutan namun tak punya daya melepaskan diri dari tiga berandal yang ingin merengut harga dirinya.

Aku pun berusaha tenang dan mencoba menegur mereka. Tetapi mereka malah tertawa terbahak-bahak tanpa kutahu apa artinya.

” Belum kenal ya siapa kami. Kalau mau aman pergi sana!” tantang brandalan berambut gondrong dengan tato penuh di tubuh itu.

Mereka meneruskan aksi mereka mempreteli pakaian perempuan muda berkulit putih yang cantik itu tanpa sedikit pun mengubris kata-kataku.

“Lepaskan perempuan itu!” bentakku.

Merasa terganggu, dua berandal menuju kearahku dengan memasang muka tak senang. Tetapi aku tidak peduli. Aku sama sekali tak merasa takut dengan mereka.

“Lepaskan dia!” nada suaraku semakin tinggi.

Tanpa kusangka sebuah tendangan menyentuh pinggangku. Mendapat serangan tiba-tiba aku tidak lagi mau menghabiskan waktu. Hanya dengan beberapa gerakan, ketiga berandal kelas teri itu terpental dan terjajar di atas jalannya yang sepi itu. Lalu lari terbiri-birit.

Sebetulnya aku tidak ingin terlibat pada sebuah perkelahian, karena ilmu bela diri leluhurku mengajarkan tentang kebijakan.

“Ilmu yang kau miliki boleh kau gunakan, jika situasi sangat terpaksa” suara suhuku selalu tergiang.

Namun, bagiku wanita adalah sebuah sosok agung yang mesti di jaga bukan untuk dipajang atau disakiti. Apalagi dalam keadaan begini, tak mungkin aku menutup mata.

Suara isak tanggis wanita menyadarkanku. Ia berjongkok dengan bahu turun naik dan berusaha menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian dalam.

Melihat pemandangan ini, sungguh aku jadi panik. Dan cepat-cepat kubuka jaketku dan kulemparkan kepadanya. Lalu kupungut pakaiannya yang terlempar jauh oleh berandal-berandal itu. Namun bajunya pun sudah compang camping, untung saja celana jeansnya masih utuh namun sedikit basah terkena air sisa hujan semalam.

Terima kasih bang!” ujarnya dengar bibir yang masih gemetar ketakutan.

Setelah seluruh tubuhnya tertutup rapi . Aku berusaha memapahnya ke mobinya. Tampak sekali ia seperti orang kebingungan. Melihat keadaan begini, aku pun tak sampai hati untuk mengantarkannya sampai kerumah. Ia tak menjawab hanya mengangukan kepala.

Lalu kutanyakan alamatnya. Ia pun membuka tas tangannya seraya mengaduk-aduk isinya yang sudah berantakan lalu menyodorkanku selembar kartu nama.

FANY KUSUMA. Nama dengan cetakan tebal tertera disitu.

Dari balik kaca sekali-kali kulihat ia. Ia cantik meskipun berbalut muka yang masih pucat dan rambut yang acak-acakan.

Kuusahan mencari alamat yang tertera di kartu nama itu. Tak ingin aku banyak tanya karena kulihat muka Fany yang masih pucat berbalut takut. Wakil Direktur sebuah perusahaan yang samar-samar dalam ingatanku pernah kubaca di sebuah surat kabar.

Meskipun aku tak tahu pasti alamat itu, namun kuhidupkan juga mesin mobil dan pelan-pelan kami pun mulai meluncur. Dari balik kaca sekali-kali kulirik ia. Dalam mobil gelap namun sekali-kali lampu jalan memberi sedikit cahaya sehinggabisa kulihat wajahnya. Ia cantik. Meskipun berbalut muka yang masih pucat dan rambut yang acak-acakan.

Kuusahan mencari alamat yang tertera di kartu nama itu. Tak ingin aku banyak tanya karena kulihat ia hanyut dalam diam .

Mobil yang kukendarai kini kami memasuki salah satu kawasan elit di kota ini.

Melihat mobil Fany yang datang, satpan segera membuka pintu gerbang. Sempat kulihat tatapan bingung dari satpam itu. Namun ia tak berani bertanya. Ditelannya kebigungan itu.

Seorang pembatu membukakan pintu dan melongo bingun melihat keadaan Fany.

Sesampai di ruang tamu, kuanggukan kepala, kepada sepasang suami istri yang lagi menyaksikan berita malam dari TV 32 inchi yang terpajang di ruang tamu megah itu. Hawa dingin AC pelan-pelan membuat aku merasa kedinginan.

Melihat keadaan Fany, mereka kaget dan seretak berdiri seraya menatapku penuh curiga.

Aku merasa risih dengan pandangan tanda tanya mereka. “Apakah tampangku seperti seorang penjahat?” ujarku dalam hati bingung.

” Pa, Ma, …ii… ia …ia… yang menyelamatkanku.” jelas Fany masih dalam keadaan gugup .

Setelah munum air putih dan agak tenang, Fany segera menjelaskan kejadian yang menimpanya.

Kedua orang tua itu buru-buru minta maaf dan berterimakasih padaku.

Aku pun minta izin untuk pamit namun kedua orang tuanya menahanku untuk tetap tinggal menikmati buah yang baru di sajikan pembantunya.

Cukup lama aku berbincang dengan Fany sekeluarga. Setelah mereka tahu aku sedang mencari pekerjaan, mereka menawarkan supaya menjadi pengawal pribadi serta menjadi sopir Fany.

“Terimakasih!…terimakasih!” ucapku terharu.

***

Sudah sebulan aku bekerja di rumah Pak Herian. Aku merasa bahagia dalam lingkungan keluarga penuh cinta ini. Pada sosok Pak Herian kutemukan sosok papa yang kurindu. Sifatnya sama persis dengan papa. Mereka sama-sama sangat menyayangi keluarga, bijaksana dan memiliki wawasan yang luas.

Pak Herian memiliki sepasang buah hati. Fany dan Ferry. Fany membatu papanya di perusahaan pusat sedangkan Ferry sudah menikah dan memengang anak perusahan yang berada di kota Batam.

Fany adalah anak kesayangan Pak Herian. Selain ia pandai mengambil hati dan sangat berbakti pada orang tua, ia juga mampu meningkatkan efisiensi dan efektifitas operasi yang membawa suatu manfaat yang gemilang pada perusahan mereka. Keramahannya dan kebaikan hatinya membuat ia disenangi siapapun yang mengenalnya.

Setelah bekerja beberapa bulan di keluarga ini , aku meminta izin pada keluarga Fany untuk melanjutkan kuliahku di malam hari yang tinggal satu semester. Dan mereka pun menyetujuinya. Namun apabila Fany tiba-tiba mesti melakukan pertemuan yang bentrok dengan jam kuliahku, aku akan mengantarnya. Karena menurutku itu merupakan tugas utamaku.

***

Pertolonganku yang tak seberapa selalu membuat Fany merasa berhutang budi padaku. Walaupun sudah kujelaskan berkali-kali bahwa yang kulakukan juga akan dilakukan orang lain jika melihat situasi yang sama di depan matanya.

Fany selalu berbuat baik kepadaku. Hubungan kami dari supir dan majikan kini menjadi dua sahabat.

Kecantikan dan kedewasaan yang Fany miliki mampu menciptakan getar aneh dalam hatiku. Kebersamaan ini juga yang kemudian melahirkan rasa cinta dalam hati kami. Namun aku berusaha untuk menepis rasa ini. Aku tak ingin mengambil kesempatan ini. Cukup sudah kebaikan yang mereka berikan.

Perjalan waktu terus bergayut hingga kuliahku dapat selesai setelah hampir setahun aku bekerja di keluarga ini. Akupun wisudha didampingi Pak Herian sekeluarga. Sungguh suatu moment yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Setelah kuliahku selesai…lama aku berpikir panjang, saat pak Herian dan Fany menawarkan salah satu jabatan di perusahaannya untukku, namun aku kembali menolak kebaikan yang kurasa tak pantas, lalu kemudian aku memutuskan untuk pamit dari keluarga Fany.

Kepergianku, meninggalkan luka yang dalam di hati Fany. Ia memohon supaya aku tetap tinggal dan menjadi kekasihnya. Isak tangisnya hampir membuatku menghentikan langkahku. Ingin rasanya kubalikan tubuhku lalu kupeluk ia erat-erat. Sungguh… pada perpisahan ini, aku pun merasakan perih yang sama.

Kepergianku hanya untuk menghindar dan tak ingin tenggelam dalam kesenangan yang akan mereka tawarkan. Aku memutuskan untuk tetap melanjutkan lagi pengembaraanku ke sebuah kota kecil. Di mana aku bisa mengamalkan ilmu yang telah kuperoleh untuk orang banyak disana.

Bersambung

Dilukis oleh NUNG BONHAM

dapat juga dibaca di : FACEBOOK

ps : Maaf saya tak melayani komentar yang menanyakan siapakah LST. Membuka puing masalalu ini sama dengan membedah kenangan luka itu lagi. Aku tak berharap ada yang berdarah. Sehingga cerita ini bisa saya teruskan.

Cerita ini saya tulis berharap bisa diambil hikmah buat kita semua. Sebagai seorang penulis pemula, tulisanku masih jauh dibilang baik. Semoga semua sahabat bisa memaklumi, kekurangan yang ada dan posisiku sebagai perantara antara pemilik kisah dan pembaca.

Terimakasih buat semua sahabat yang masih setia membaca tulisan ini.

Taiwan, awal Juli 09