MEI HUA DI GUNUNG SESAL BAGIAN II

Oleh KWEK LI NA

Sejak kejadian itu duka tersirat jelas di balik wajah tua papa dan mama.

Rumah kami yang selalu cerah berubah sepi seperti kuburan meskipun di huni manusia yang masih bernyawa. Komunikasi hanya seadanya saja, yang lebih banyak terdengar adalah tarikan nafas berat.

Papa akhirnya memutuskan untuk lepas dari masalah perusahaan dan menyerahkan sepenuhnya perusahaan untuk di kendalikan Joan kakakku yang menyelesaikan kuliahnya di ITB.

Karena kesedihan hati, tiga tahu kemudian Mama pergi menyusul Mey Ling. Bertambah lagi duka kami. Rasa sepi semakin mewarnai rumah ini.

Kini dua wanita yang sangat kami cinta tidur dengan tenang di atas kompleks pekuburan keluarga yang terletak di atas bukit.

Dua pusara, tepat berada di pintu gerbang makam. Papa membangun makam Mama dan Mey Ling dengan sangat megah untuk menyatakan cintanya pada dua wanita yang sangat ia sayangi. Sepasang naga dan burung Ponix menghiasi beranda makam mereka.

Setiap hari papa duduk berjam-jam menemani Mama dan Mey Ling, sambil berbincang sendiri sambil menyalakan hio dan dupa berharap sekali-kali mereka datang menyapanya.

Papa yang dulunya seorang yang tangguh dan gagah, berubah total. Ia terpuruk dalam derita duka yang menimpa keluarga.

***

Setelah tanah kuburan merah mama mulai kering, seiring aku tamat SMA. Hari ini, aku pamit pada mereka. Aku menatap pasrah dua pusara bisu, tak rela akan perpisahan ini.

Kuseka air mata yang mengucur dari tadi. Kukuatkan tekatku untuk melangkah.

Aku memutuskan mempercepat meninggalkan rumah untuk tidak hanyut dalam penyesalan ini dan melanjutkan kuliah di Bandung.

Perjalanan panjang akan kulalui, langkah membuat jarak semakin jauh dari rumah, tekatku sudah pasti untuk mengembara dan menjauhkan kesenangan hidup untuk sebuah penebusan sesal. Aku ingin melalui karma derita.

Mimpi buruk datang hampir setiap malam.

Selama dua tahun aku kuliah di Bandung bergelut gelisah yang selalu hadir mendera penyesalanku.

***

Aku menatap nanar saat makelar membayar mobil. Harta satu-satunya yang kubawa dari rumah. Yang selalu setia mengantarkanku kemana aku ingin melangkah. Mobil itulah juga yang menghidupiku selama ini. Kujadikan mobil itu taksi yang mengatarkan orang diwaktu luang atau pun saat liburan semester.

Status hidupku berubah total setelah komunikasi dengan papa sengaja kuputuskan . “Aku harus hidup dengan tanganku sendiri. ” sumpahku.

Apapun yang terjadi, kata yang telah terucap tak mungkin aku tarik lagi. Aku benar-benar merasakan bahwa hidup di luar tanpa bantuan keluarga tak semudah yang kubayangkan. Apalagi mesti sambil kuliah.

Apapun lalap kehidupan yang tersodor di depanku, semuanya mesti kutelan. Sepahit apapun rasanya.

Sepinya malam adalah damaiku. Akan kupandang langit yang membentang, berharap salah satu bintang yang berkelip di sana adalah adikku Mey Ling yang datang menghiburku.

***

Tekanan hidup membuatku harus bertarung mati-matian. Kebutuhan hidup terus melonjak. Tak mungkin aku mengandalkan sisa uang yang aku punya. Apalagi Uang hasil penjualan mobil sudah menipis. Untuk saat ini aku pun kesulitan membayar uang kuliah dan untuk makanpun aku sudah sering puasa.

Suatu hari aku membaca koran yang tertinggal oleh pemiliknya di sebuah bangku di dekat terminal. Iseng-iseng kubuka dan kubaca tentang lowongan kerja.

“Tukang Kebun!”

Senyum lepas dari bibirku. Inilah serpuhan cahaya yang menghampiriku. Bergegas aku berangkat menuju alamat yang tertera di koran harian ibukota itu.

Rumah megah berdiri angkuh dibilangan perumahan elit. Kupencet bel dengan ragu-ragu. “Tapi aku harus hadapi semuanya,” batinku. Dengan mantap, akhirnya aku pencet bel yang ada di pagar rumah.

Dari dalam rumah keluar seorang lelaki-laki paruh baya bersama Satpam yang tadi menerimaku.

“”Ini pak!” ucap Satpam.

Laki-laki itu hanya mengangguk. Tak lama Satpam itu pergi meninggalkan kami berdua di halam depan.

“Duduk!” ucapnya.

“Terima kasih pak,” jawabku.

Setelah aku memperkenalkan diri aku lantas menyampaikan niatku untuk datang ke rumah ini. Pak Roni hanya mengangguk . Itulah nama lelaki paruh baya ini. Ia melihatku dalam-dalam. Sepertinya ia mengamati keseluruhan tubuh dan tindak-tandukku.

“Kamu bisa nyetir? Punya sim kan?

“Punya Pak,” jawabku sembari menganggukkan kepala.

Setelah ngobrol soal keluarga dan kegiatanku, Pak Roni mengajakku ke garasi.

“Nih, kuncinya. Kita coba jalan keluar,” ucapnya.

Aku bergegas menyambutnya. Dengan sigap aku membuka pintu mobil dan remote kontrol. Aku bukakan pintu buat Pak Roni. Ia hanya tersenyum. Aku lantas berjalan memutar menuju pintu sopir.

“Saya belum begitu mengenal daerah sini, Pak,” ucapku.

Pak Roni hanya diam. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Ia terus saja melihat ke depan dan mengamati mobil yang lalu lalang.

”Gimana kuliahmu?”

“Saya lebih butuh biaya untuk hidup, Pak.”

“Selesaikan kuliahmu dulu,” ucapnya datar.

“Suatu saat aja pak jika saya sudah punya uang untuk biaya. Saya ambil cuti satu semester.”

“Kenapa cuti? Lanjutkan aja.”

“Trus..”

“Sembari jaga rumah, kamu kan bisa lanjutkan kuliah.”

“Jadi bapak memperbolehkan saya…”

“Ya,” ucapnya memotong kalimatku.

Aku tak menyangka bakal begini jadinya. Perasaan haru bercampur senang menyatu dalam pikiranku.

“Trimakasih Pak,” ucapku.

***

Pak Roni sekeluarga sejak sebulan yang lalu telah berencana menghabiskan akhir pekan, di akhir bulan ini untuk menikmati liburannya di Bungalownya yang sudah setahun tak pernah dikunjungi mereka.

Karena aku sedang menjalankan ujian semester aku tidak bisa mengantarkan mereka. Dan aku ditugasnya untuk menjaga rumah mewah miliknya.

Hening…. Malam terasa sangat sepi. Suara jangkrik-jangkrik pun tak terdengar. AKu buka sedikit gorden melihat keadaan di luar. Langit mendung, tak sebuah bintang pun tampak di angkasa. Satpam penjaga rumah kelihatan mondar mandir sekali-kali duduk hampir ketiduran di pos jaganya.

Sekonde jam setinggi hampir 1,5 meter disudut ruangan mulai bergeser hampir ketengah. Dan kuputuskan menikmati kesendirianku di kamarku, berkutat dengan buku-bukuku atau pun melakukan semedhi.

Saat aku hendak beranjak ke lantai dua menuju kamarku, tiba-tiba langkah ku hentikan. Aku melirik piano yang hanya menjadi panjangan di runag tengah rumah ini.

Terpetik keinginanku untuk menghampirinya. Ku elus-elus tubuhnya. Lalu tanganku mulai menari-nari di atas tust-tustnya.

Dawai piano tersentuh bergetar melahirkan irama mengatar hayalku kembali ke rumah. Masa-masa yang sangat menyenangkan dalam kehidupanku.

Hayalku mengembara jauh menelusuri masa silam, dimana moment yang sangat mengembirakan adalah suasana sore kami sekeluarga bisa berkumpul. Aku semakin larut terbawa nostalgia masa lalu.

Aku selalu memainkan piano diiringi nyanyian Ling-ling dan Mama. Biasanya papa duduk di kursi malasnya sambil sekali-sekali menimpali dengan suaranya yang sumbang. Bahkan sekali-kali bertepuk tangan dengan senyum merekah di bibirnya, sebelum tenggelam kembali pada buku bacaannya.

Hayal itu, memaksa bulir air mataku tanpa sengaja jatuh. Kenangan itu sungguh indah namun juga seperti sebuah jarum menusuk-nusuk hatiku. Mencabik-cabik perasaanku. Perih!

Ah…andai kesalahan tak kulakukan, kejadian tragis menimpa Ling Ling tak terjadi. Mama pun tak secepat ini pergi. Dan aku masih tetap dalam lingkaran keluarga yang penuh cinta.

Dilarut malam yang hening..aku masih tetap tengelam mengetuk tust-tust piano. Tanpa sadar tuts yang keluar adalah lagu kesayangan mama, Mei Hua. Lagu yang mengilhami Papa dalam pemberian nama pada adik keempatku Mey Ling.

“Mei Hua adalah bunga yang cantik dan melambangkan kesetiaan yang abadi.” jelas mama, ketika kutanyakan apa itu Mei Hua.

Mei Hua selalu hadir dan tepat janji sebagai tanda menyambut musim semi di bumi dan konon di surga juga begitu. Me Hua tumbuh di gunung . Semakin gunung menjulang, cuaca semakin dingin dan Me Hua akan semakin merekah. Dia akan memberikan kesejukan buat siapapun yang memandangnya dan menyebarkan wanginya ke setiap penjuru.

Bersambung

Dilukis oleh NUNG BONHAM

Dapat dibaca juga di : FACEBOOK

ps : Maaf saya tak melayani komentar yang menanyakan siapakah LST. Membuka puing masalalu ini sama dengan membedah kenangan luka itu lagi. Aku tak berharap ada yang berdarah. Sehingga cerita ini bisa saya teruskan.

Cerita ini saya tulis berharap bisa diambil hikmah buat kita semua. Sebagai seorang penulis pemula, tulisanku masih jauh dibilang baik. Semoga semua sahabat bisa memaklumi, kekurangan yang ada dan posisiku sebagai perantara antara pemilik kisah dan pembaca.

Terimakasih buat semua sahabat yang masih setia membaca tulisan ini.

Taiwan, awal Juli 09