Kali ini aku mencoba mengangkat sebuah kisah nyata yang telah lama terpendam. Namun akhirnya meleleh juga gunung es itu. Kisah ini kubuat berdasarkan penuturannya dan atas izinnya. Sebagai penulis aku berharap kisah ini bisa meringankan segala penyesalannya dan bisa diambil hikmah oleh siapa saja yang membacanya. Aku mengucapkan terimakasih kepada LST telah memberi izin untuk menuangkan kisah ini dalam tulisan yang kurangkai tanpa menghilangkan makna perjalanan hidupnya. Dan sebagai kenangan yang abadi tentang mutiara hatinya.

MEI HUA Di GUNUNG SESAL

KWEK LI NA

Tak mudah menghapus sebuah kesalahan meskipun ditebus dengan apapun. Duka lara selalu menyelimuti wajahku yang seperti gunung Fujiyama yang tertutup salju . Orang menjulukinya “Dingin”.


***

Kujalani sepotong kehidupan dengan apa adanya. Kuhibahkan hidupku untuk menjalani putaran roda alam ini. Aku terus saja mencoba mencari ketenangan dari nada-nada sunyi dan sepi dari alam. Sangsai… dan kosong…

Andai mungkin, akan aku tukar nyawaku untuk mengantikannya. Tentu kejadiannya akan lain. Sungguh, peristiwa itu begitu tiba-tiba dan menghentakan jiwaku.

Pusaran waktu terus berlalu, terus berlari, tak pernah mau menungguku atau setidaknya, sekedar berhenti sejenak menantiku, yang hampir tak bertenaga. Rasa sesal yang ingin ku lepaskan, terus berpeluk erat. Bahkan telah mengikat erat dirinya menyatu dengan hatiku. Tak pernah pupus. Rasa bersalah dan penyesalan yang tak berujung ini akhirnya kubawa dalam pengembaraanku yang panjang.

***

Matahari baru saja bangun dari lelapnya. Burung-burung sudah berkhotbah tentang harmoni alam. Aku masih ingat, kehangatan keluarga yang begitu kental terlihat jelas di setiap wajah penghuni rumah. Senyum lepas dari gendewa. Melesat menembus hati seisi rumah. Semua berjalan normal, sibuk dengan aktifitas rutin masing-masing.

Seperti hari-hari sebelumnya, mama masih saja mondar-mandir dari dapur dan ruang makan. Membawa bakul nasi, piring, dan beberapa lauk-pauk. Dia sangat sibuk mengatur menu sarapan pagi. Kesibukan mama tak jauh beda dengan kebiasaan papa yang masih telanjang dada sibuk dengan mobilnya. Sesekali terlihat ia mengelap kaca. Yah, kerjaan rutin sebelum ke kantor jasa kontraktor. Aku pun ikut. Tak jauh darinya, kecintaanku sama motor kesayanganku membuatku tak bisa meninggalkan begitu saja. Entah mengapa, laki-laki terlihat macho jika berkutat dengan automotif. Aku mulai mestarternya motorku yang aku beli dari uang saku puls tambahan dari papa. Mesin mulai berputar dan memberi pemanasan secukupnya.

Kami tinggal berempat dalam rumah. Sebuah keluarga yang aku rasa cukup bahagia. Papa, mama, aku dan adik perempuanku. Kami empat bersaudara. Kakakku yang sulung, seorang dokter, sudah berkeluarga dan menetap di kota Jakarta. Kakakku kedua, Joan sedang menyelesaikan kuliahnya di Bandung . Sebentar lagi, aku juga akan menyusulnya untuk kuliah di sana setelah menyelesaikan SMAku yang hanya tinggal beberapa bulan.

Adi bungsuku Mey Ling yang biasa dipanggil Ling-ling atau sekali-kali kugoda dengan nama Mei Hua, datang dengan mengoda senyum khasnya. Ia berlari-lari kecil menghapiriku. Kalau sudah begini aku paham, pasti ada maunya.

“Ko!” sapanya manja.

“Mmm…,” jawabku sekenanya.

“Ko… antar aku ke sekolahan ya!”

Aku pura-pura sibuk memperhatikan motorku dan diam tak menanggapinya. Aku masih asyik membersihkan beberapa debu yang menempel di body motor.

“Ko…” renggeknya manja.

“Ling, Aku dah janji jemput Winda. Kamu pakai sepeda aja. Kan dekat sekolahanmu. Biasanya kamu juga naik sepeda,” kilahku sembari terus membersihan motor kesayanganku.

Melihat gagal membujukku, ia pamit agak tergesa-gesa setelah sarapan dengan memasang mimik wajah polosnya. Alisnya dilipat dan mulutnya sedikit manyun. Ia berlari mengambil tasnya dan langsung menerobos pintu utama rumah. Tak seberapa jauh, kulihat ia mundur teratur dan berlari ke arahku. Dengan senyum cegegesan khas gayanya, ia sengaja menggodaku dan mendaratkan ciumanya ke pipiku.

Aku sempat kaget dan hanya bisa mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya yang lucu. Namun cepat-cepat kupecet hidungnya. Ia pun menyerit melepaskan tanganku. Tingkah lakunya itulah yang membuat kami sekeluarga, sangat menyayanginya. Aku pun begitu.

“Hati-hati dijalan ya, Cenggeng! ” ujarku sambil tersenyum bahagia membalas lambaian tanganya, yang berlari tanpa menoleh ke arahku lagi.

***

Setelah merampungkan tradisi pagi, aku bergerak tancap gas menuju rumah Winda. Aku lihat ada sedikit kemacetan dari arah jalanku. Tak biasanya. “Wah…pagi-pagi sudah terjadi kecelakaan,” batinku. “Makanya kalo naik kendaraan hati-hati. Bikin macet aja!” keluhku sesal.

Malas sebenarnya melewati kerumunan orang banyak itu. Tapi gimana lagi, kalo aku tidak melewati jalan ini, aku harus ambil jalan mutar. Dan itu jauh sekali baru sampai ke sekolahanku. Yah, apa boleh buat. Aku terus saja mendekati keruman itu.

Sorot mataku terus menatap ke kerumunan. Makin lama-makin jelas kepanikan beberapa orang yang berusaha menolong. Aku terus melajukan motorku. Namun kepadatan orang membuat motorku tertahan. Aku mengurangi kecepatan sepeda motorku. Bahkan menghentikannya.

Aku terpaksa turun dari motor. Tiba-tiba ada rasa ingin sekali melihat sang korban. Aku sangat terkejut. Dan sungguh-sungguh terperangah..

Menurut cerita saksi mata, kecelakaan akibat kelalaian sopir truk. Ia berusaha menghindari bus yg berjalan dari arah berlawanan. Seketika, Sopir truk membuang kemudinya ke kiri. Ia tak melihat ada pengendara sepeda di sampingnya. Pengendara sepeda itu terjatuh. Kepalanya retak akibat benturan dengan pembatas jalan.

***

“Ling Ling…!”

Aku melompat mengibaskan kerumun orang dan berlari sekencang mungkin menyeruak kerumunan itu. Sepeda biru terlihat ringsek di trotor jalan. Kudekati tubuh munggil berseragam SD itu. Kupanggil-panggil namanya histeris. Kuberharap ia bangun dari tidurnya.

Aku tak melihat siapa-siapa. Aku tak tahu apa yang diucapkan orang-orang yang ada disekilingku. Aku tak mendengarnya. Aku tak peduli. Aku peluk Ling-Ling erat. Aku dekap tubuhnya. Aku ingin ia membuka mata.

“Ling-Ling! Ayo, koko yang antar. Bangun! Koko antar kamu ke sekolah! Ling-Ling!”

Aku terus berteriak-teriak. Namun aku tak melihat dia membuka matanya.

“Ling-ling… Buka matamu!” teriakku histeris. Namun tetap bergeming. Ia tak membuka matanya untuk menatapku walaupun semenit saja. Ku dekap tubuh mungil itu. Aku peluk erat. kulihat ada seseorang yang berusaha mengambilnya. Ingin merebut tubuh Ling-Ling dari dekapanku. Namun aku makin memeluknya kuat-kuat . Aku tak mau melepaskan.

“Diam! Aku yang akan mengantarnya ke sekolah. Jangan ambil Ling-Ling!” Teriakku.

Namun tenaga laki-laki berjubah putih itu begitu kuat. Pelukanku makin melemah. Makin melemah. Ling-Ling tak lagi ada dipelukanku.

“Maafkan aku Ling-ling! Maafkan aku !” desir keluar dari bibirku yang bergetar pucat.

Perlahan aku mulai memasuki titik gelap dan semakin gelap. Aku semakin jauh masuk ke dalam, suara panik di sekitarku perlahan semakin menjauh.

Mei Hua!! Mei Hua!!”

Dilukis oleh NUNG BONHAM

Bersambung

Taiwan, awal Juli 09