Oleh Kwek Li Na [ Cerpen Fiksi ]

Kubuka pelan-pelan tirai tipis yang menutupi pintu kamar. Kucoba mengintip apa yang sedang kamu lakukan dan berusaha tak mengusikmu.

Kamu masih larut dalam sedih yang memilukan. Kau sekarang malah seperti seonggok raga tak bernyawa.

Kematian Ling-Ling membawa separuh jiwamu terbang bersamanya. Anak semata wayang kita, meninggalkan kita setelah memberi kebahagian yang tiada tara saat ia hadir membawa banyak tawa di rumah ini.

Setelah penantian 13 tahun akhirnya Tuhan menjawab doa khusukmu yang kau panjatkan setiap malam. Ia benar-benar mengirim malaikat kecil untuk kita.

Ling-Ling membuat bibirmu selalu tersenyum merekah bagai bunga di pagi hari yang mendapat kiriman embun dari surga. Matamu memancarkan cahaya yang penuh kasih seperti sinar rembulan di malam purnama.

Aku sempat cemburu , setelah kehadiran buah hati kita, seluruh hidupmu kau curahkan padanya.
Kau benar-benar dikirim tambatan jiwa yang mengalahkan apa saja, termasuk aku.

Keceriaan yang dipantul oleh mata hatimu terlihat jelas di wajahmu. Kau tampak lebih cantik dan bersemangat dalam menjalani hidup.

Namun semua berubah total saat kecelakaan itu merenggut dan membawa pergi malaikat kecil kita. Dan yang paling parah kamu menumpahkan semua kesalahan padaku.

Kamu menyalahkanku membelikan Ling-Ling sepeda. Padahal itulah satu-satu barang diimpikannya. Suatu hari aku pernah mendengarnya menangis tersedu-sedu sepulang bermain. Saat kutanya kenapa dia menangis rupanya dia melihat anak tetangga sebelah naik sepeda dengan riang dan ia ingin sekali mencoba. Namun malah didorong oleh anak itu dengan kasar. Ceritanya itu membuat jiwaku perih.

Aku juga meyayanggi Ling-Ling, sama dengan yang kau rasa. Ingin ku belikan apapun yang ia inginkan asalkan aku mampu. Maka kusisih sedikit demi sedikit uang gajiku tanpa sepengetahuanmu. Aku rela tak makan siang atau berjalan kaki hanya untuk berhemat dan segera mampu membelikan sepeda yang diimpikan malaikat kita.

Sama sekali tak kusangka, sepeda itu adalah penyebab petaka.

Suatu hari saat kamu sibuk menyiapkan makan malam dan juga menghiasi tart untuk merayakan ulang tahun malaikat kita yang ke 6.

Ling-Ling yang lagi kecanduan naik sepeda mengendap-endap, pelan- pelan mendorong sepeda yang baru kubeli seminggu yang lalu keluar pagar. Lalu ia menaiki sepeda dengan riangnya dan saat hendak keluar dari gang , ia malah menoleh kebelakang saat kamu berteriak memanggil-manggil namanya. Sebuah truk dengan kecepatan tinggi menghatam tubuh munggilnya. Ling-Ling mati terkapar seketika dengan lumuran darah yang berceceran di lantai. Kamu pun lemas tak berdaya dan pingsan.

Saat kutahu berita itu, kaki sempat gemetaran, mulutku jadi kaku, aku seperti orang yang mati rasa dan tak tahu mesti berbuat apa-apa. Halilintar datang mencambuk pigura putih berlukis dewi, meretakkan duka yang beku. Aku tak pernah percaya akan kabar yang baru terdengar. Kabar terpahit dan yang paling menyakitkan dalam hidupku.

Betapa perihnya hatiku, ketika kita harus membiarkannya dijemput kreta kencana putih diiringi bayu beraroma dupa. Tak terlihat lagi indah bunga mei hua, semua kaku putih terintip dari mata yang sayup menahan nanar menghantar kepergiannya untuk menikmati bahagia yang abadi di sana.

Sejak saat itu kamu berubah total. Kamu sering diam-diam menangis sendiri di kamar. Kamu menjadi sangat pendiam dan tak pernah mau berbicara denganku. Kamu selalu marah jika kucoba untuk menyentuhmu.

Dari sorot matamu, bisa kurasakan. Kebencianmu padaku seperti kebencian pada sesuatu yang mencabik-cabik hatimu. Aku binggung entah bagaimana membantumu untuk keluar dari masalah ini.

Namun aku harus sabar. Mencoba memahami dan menghadapi segala tingkahmu. Kuharap waktu mampu membangunkanmu dari mimpi buruk ini.

Kucoba sibukan diri di pekerjaan berharap bisa melupakan masalah dan mencoba mengobati luka yang masih berdarah ini. Aku pun jadi orang yang gila kerja. Kugunakan hampir seluruh waktuku dan kutuangkan semua pikiranku untuk kemajuan perusahaan. Jerih payahku tak sia-sia, melihat keuletan dan hasil kerjaku yang mampu mempengaruhi kemajuan perusahaan, aku naik pangkat. Pelan-pelan kehidupanku mulai membaik.

Selain bekerja aku lebih senang menenangkan diri di tepi pantai. Memandang ombak yang bergulung-gulung atau hanya sekedar menikmati semilir angin pantai di musim semi.

Aku tak ingin kehadiranku membuatmu tersiksa. Inilah cara-caraku yang kuanggap terbaik yang bisa kulakukan. Yang juga semakin menjauhkan kita.

Sore ini, semua pekerjaan sudah beres. Semua rekan sekantorku sudah pulang. Di luar hujan deras. Sudah seminggu hujan selalu datang. Aku binggung entah mau kemana.

Kucoba bertahan di ruangan kerjaku ini. Lalu kubuka lagi komputer yang tadi sempat kumatikan. Aku mengarungi internet, masuk sana-masuk sini. Sekedar mencari solusi bagaimana menanggani masalah seperti yang kamu alami. Namun tak kutemukan solusi apapun.

Lalu aku coba bergabung dengan sebuah situs jaringan yang lagi di gemari oleh banyak kalangan masayarakat. Kugunakan nama samaran, Tio Kusuma. Setelah kucoba dan kupelajari, aku bisa. Mulailah ku add satu persatu sahabat. Bahkan aku ketemu dengan beberapa sahabat sekolahku dulu.

Aku juga mulai mencoba menuangkan segala risau dan perih hatiku di notes dalam bentuk puisi atau cerpen.

Wah rupanya luar biasa, sahabat-sahabat dunia mayaku datang berkomentar. Ada yang bertanya apakah ini fiksi atau nyata? Ada juga yang mengguatkan dan berharap aku tetap semangat. Setiap pribadi dengan berbagai macam argument. Aku tambah semangat menulis.

Aku mulai larut dalam suatu wadah tak bertuan ini. Jiwaku mulai terbelenggu. Walaupun ia tak bernyawa namun mampu membuatku terpana.

Sahabat mulai banyak kudapat. Kadang aku malah curhat dengan sahabat yang kuanggap sudah dekat.

Pernah beberapa kali aku kopdar dengan orang yang berbeda. Ketemu, saling sapa dan kemudian menjadi sahabat bahkan seperti saudara. Namun ada juga yang akhirnya tak tahu kabarnya lagi.

Sampai saat ini hanya satu pertemuan yang masih berlanjut. Pertemuanku dengan seorang single parent yang bernama Agreni.

Pertemuan dan pertemuan terjadi. Kelembutan dan kata-kata bijaknya mampu membuatku merasa damai dan teduh.

Aku bagai menemukan sebatang pohon yang rindang dan bisa berteduh di bawahnya, saat sinar matahari bersinar dengan garangnya.

Tanpa kusadari…apa yang kuinginkan ada didirinya. Kesepian ditukarnya dengan banyolan-banyolan lucu sehingga membuat aku lupa akan luka-luka di hati. Dia bukan saja cantik namun sangat menarik. Ia mampu memberikanku sesuatu yang selama ini kubutuhkan.

Mungkin kepahitan hidup membuatnya banyak tahu rasa asam manis kehidupan. Ia juga seorang sosok yang tegar dan sangat romantis. Berbeda sekali dengan sifat-sifat istriku.

Aku Jatuh cinta padanya.

Bagaimana aku mesti menutup rahasia ini dari perempuan yang dulu pernah mengisi hari-hariku namun sekarang sangat membenciku ?

Atau haruskah kuteruskan hubungan ini…namun bagaimana aku mesti memperlakukan wanita baru ini, sedangkan dalam agama yang kuanut aku tak mungkin berpoligami dan yang lebih parah Agreni tak pernah tahu aku telah beristri.

Haruskah semua ini tetap menjadi rahasia. Galau dan cintaku, hanya mampu kulukis di langit saja ?

Ah…malam ini aku malah dibingungkan dengan rasa bersalah dan bagaimana bertindak!

~tamat~

Taiwan, 29 Mei 2009

Ps : Pic aku ambil di koment di tagged
mei hua = plum flower