Karya indah ini ditulis seorang sahabat dan juga guru buatku, dalam menulis. Terimakasih Bang Yulius La Dossa, yang memperkenankan saya menyimpan, mengcopy dan membagikan tulisan indah dan penuh makna ini buatku dan buat semua sahabat baiku di blog ini.

Oleh Yulius La Dossa

(1) Kekasih hati, memasuki jutaan detik ke depan, semoga kebersamaan kita melulu cair; tak pernah beku dan kering. Sebab, dalam bangunan kasih, kebekuan adalah lubang hitam kecemasan, oase kekuatiran, dan kubang kehampaan. Aku tak mau berdiri sunyi menatapnya. Apalagi menikmati dan menyaksikan ledakannya.
I-ya, kekasih hati. Aku ingin segala sesuatunya menjadi cair. Sebab, gemercik air tak pernah menenteng tubir kematian jiwa dan kelemahan hati, melainkan penggerak turbin kehidupan. Jadi, mari duduk bersama mereguknya, dalam suka maupun duka.

Pengerak Turbin Kehidupan

Pengerak Turbin Kehidupan

(2) I-ya, iya, kekasih hati. Engkau dan aku adalah buku terbuka yang telah usai kita baca. Berlapis-lapis pintu hatiku telah kau masuki, dan berlaci-laci hatimu telah kubuka. Esok dan lusa adalah pekerjaan kita bersama. Kita tinggal merapatkan barisan, bersatu menyongsong badai dan menaklukkan gemuruh ombak kehidupan. Bukankah hidup bukan melulu petikan gitar keriangan?
I-ya, kekasih hati. Selagi sebiduk, nikmatilah kesiur angin senja dan kecipak hatiku yang membara. Bila hatimu juga membara, mari terbakar bersama. Tapi, sebelum jadi arang dan abu, jangan lupa meloncat keluar dari perut perahu, biar kita sama-sama basah dan terbahak dipermainkan air. Bukankah air adalah sahabat abadi kehidupan?

Bahtera Impian Abadi

Bahtera Impian Abadi

(3) A-ha (!), memang. Bahtera kasih kita kian melaju. Tengadahlah sejenak ke atas. Kerlip cahaya di langit bukanlah fatamorgana. Bukan bulan bukan pula matahari. Itu adalah bintang.
Iya, kekasih. Impianku tidak kugantungkan pada matahari. Itu terlalu akbar. Juga tidak kusembunyikan di bulan. Itu terlalu sentimental. Impianku justru kuapungkan di permukaan bintang Mira Ceti. Kecil memang, tapi berkilau indah.
O-iya, gantungkan pula obsesimu di antara bintang gemintang. Jangan pertaruhkan pada bintang Nova dan Supernova. Dua gugusan bintang ini laksana barang pecah belah. Mudah retak dan berdentum. Pilihlah bintang yang pijarnya tak pernah padam. Manakala bahtera bergerak, engkau tak akan kehilangan arah dan jejak.

Bintang Mira Ceti

Bintang Mira Ceti

(4) Ah, kekasih. Ayo, maju selangkah lebih ke depan. Petik dan kunyahlah buah “Monte Cristo”-nya Alaxandre Dumas. Engkau akan fasih memaknai arti kejujuran dan kelembutan, kesetiaan dan ketulusan, kecemburuan dan kedengkian, kemunafikan dan keserakahan, cinta abadi dan balas dendam. Sari buah “Monte Cristo” akan membawamu ke alam dunia lain. Engkau tidak akan takut menelan kegetiran hidup dan duri durian.

(5) Wahai, kekasih hati. Seperti engkau, aku pun pernah menghitung nestapa demi nestapa. Ujung pembagian, pengurangan, dan perkaliannya adalah: kembali ke titik nadir. Laksana main monopoli, kadang membayar, dibayar, atau kehabisan nafas. Tapi harapan selalu melintas di kepala tatkala Sang Dadu mengajak kembali ke titik start. Tidak seperti main ular tangga. Harapan memang ada, tapi acap tersungkur ditelan ular beludak.

Sang Dadu
Sang Dadu

Skak Mat
Skak Mat

(6) Iya, kekasih hati. Kini kita tengah main catur. Engkau pegang buah putih, aku memainkan buah hitam. Putih dan hitam memang berbeda. Itu hukum alam! Kita tidak dapat sama-sama memilih buah putih atau sama-sama hitam. Itu namanya bukan main catur. Boleh jadi main kelereng (?).
Oke, mari kita main. Terserah, engkau boleh pegang putih atau pilih hitam. Bagiku, putih atau hitam bukan soal. Siapa kalah siapa menang juga bukan problem. Siapa tahu berakhir remis (?). Justru, kenikmatannya, bagaimana engkau dan aku bermain cantik. Bukankah hidup sebuah permainan indah?
Memang, pada detik kesekian, bisa saja aku berada pada posisi skak mat atau sebaliknya. Tapi itu ‘kan biasa. Kita ‘kan masih punya tabung energi dan atmosfer untuk memainkan partai berikut.

Lonceng Waktu Surga

Lonceng  Waktu Surga

(7) I-ya, kekasih hati,… Kita tak lagi bersiap-siap main catur. Kita justru tengah memeras keringat dan otak di atas papan catur kehidupan.
A-ha (!): engkau melontarkan langkah. Aku juga. Jangan lengah, tengoklah jarum jam, siapa tahu engkau dan aku tumbang disapu lonceng waktu. Bukankah waktu adalah puncak misteri asa?

Note: Foto dan ilustrasi di-copy-paste dari laman google.com