Demi kehadiranku, kau mesti menderita yang tiada tara, berteriak, diiringi peluh, bertaruh nyawa.

Rasa sakit, terlupa semua, saat tanggis pertamaku kau dengar. Kau peluk dan beri aku kehangatan. kau dekap aku ke dadamu biar aku tahu rasa, hangat. Kau ajari untuk mengecup puting susumu yang belum berair, biar aku tahu, mulut untuk makan. Kau bisikan lembut di telingaku, “Anakku, inilah, yang di sebut dunia.” Karena kau kwatir dan berharap aku tak terkejut, bahwa yang tawarkan dunia padaku tak selamanya manis.

Kau ajari aku segala hal. Walaupun aku selalu nakal. Membuatmu jengkel. Namun rasa marahmu akan hilang bertukar senyuman, saat kau denggar kupanggil kamu, “Ibu!”

Saat aku sakit, kau tak brani menutup mata, meskipun hanya sedetik saja. Kau kuatkan diri untuk melalui malam dengan ribuan kegelisahan yang menyelubung di jiwa. Terus dan terus berdoa, berharap Sang Pencipta mengirim mujizat, saat matahari bersinar menyapa dunia, aku sudah pulih dan sehat seperti semula. Sehingga dapat kau lihat aku bermain dan tersenyum lagi!

Saat kita mesti berpisah, aku pergi untuk menuntut ilmu dan belajar mengenal dunia, kulihat kau diam tak bersuara, sisa tanggis semalam, masih terlihat jelas di pinggir matamu yang sembab.

Namun…kau biarkan aku pergi, sehingga aku bisa mengerti lika-liku dunia. Walaupun perpisahan ini bagai belati menyayat perih langsung mengena ulu hatimu.

Aku selalu yang utama di matamu. Walau ribuan kecewa yang pernah ku tusuk di jantungmu.

Perngobananmu adalah tetes keringat dan air mata. Yang tak pernah menuntut balas apalagi meminta jasa. Yang kadang malah kuanggap biasa saja.

Ibu di usia senjamu, aku pun tak bisa mendampingimu. Jarak memisahkan raga kita. Inikah yang dulu kau sebut takdir?

Petuahmu akan selalu kuingat, kemanapun kakiku melangkah.

Cintamu, akan selalu ada dalam hati.

Doamu, selalu kukantongi, pemberi semangat dan cahaya penuntun jalan hidupku.

Ibu, jangan kau risaukan tentang aku, karena yang seharusnya aku tahu, telah kau ajari padaku.

Kaulah guru yang mengajariku butir-butir kebijaksanaan. Kau lah guru yang memberitahuku rambu-rambu kehidupan ini dan nanti.

Walau kau bukan ahli agama, walau kau tak sehebat sarjana, namun semua yang kau beritahu itu benar adanya.

Ibu, terimakasih untukmu. Atas hidupku. Atas semua ilmu yang kau beri.

Satu kalimat yang jarang sekali aku katakan…”Aku mencintaimu, Ibu!”

Taiwan, 27 April 2009

Ps : terinspirasi dari pesan dinding sahabat FBku Sugito Waelah.