Pic kuambil dari internet


Mulailah menulis. Melatih dan terus melatih diri. Ibarat batu, jika diasah terus lama-lama akan runcing juga.

Namanya juga pemula, kritik akan datang. Jika pedas dan asin, anggap saja penambah selera. Jika manis dan sejuk, itu batu loncatan buat kita untuk terus menulisdan menghasilkan karya-karya selanjutnya.

Namun di sinilah mental penulis pemula diuji. Kritikan selalu membuat mereka sulit bertahan. Knapa tak terus berjuang, untuk membuktikan pada mereka suatu hari aku juga bisa.

Kita mungkin seperti bayi, yang baru mengenal dunia menulis, butuh lantai di mana kita berlatih merangkak. Butuh dinding untuk membuat kita, pelan-pelan belajar berdiri.

Dukungan senior dan sahabat, bagai kedua tangan orang tua kita yang selalu diulurkan untuk memberi kita semangat dan menjaga supaya kita tak terjatuh.

Namun jatuh pun tak mengapa. Saat kita jatuh kita akan mengerti rasa sakit dan membuat ki ta tahu di mana kesalahan. Membuat kita mengerti di mana kekurangan. Sehingga suatu hari, langkah kita akan lebih mantap, melangkah setapak demi setapak dan akhirnya bisa berjalan tanpa bantuan dan dinding penyangga.

Sebuah tulisan, tak mungkin sempurna. Setiap orang akan memiliki opini yang berbeda. Itu sah-sah saja. Satu kritik dan kritik yang lain bisa kita jadikan pedoman dan patokan dalam berkarya. Di mana letak kekurangan dan di mana sesuatu yang mesti kita pertahankan.

Tak semua orang berjodoh dengan tulisan kita. Biarkan yang suka menikmatnya.

Sebagai pemula, kita mesti tahan banting dalam menerima kritikan dan tak takut karya kita di kuliti. Namun jangan lupa, kita punya style yang berbeda dengan orang lain, ini yang mesti dipertahankan.

Ini ungkapan dari lubuk hati saya, yang kecewa, karena banyak sahabat yang akhirnya mundur karena tulisanya di cela ataupun tak brani memulai karena merasa tak pantas.

Tulis dan teruslah menulis, biarkan sahabat yang menilai. “Berhenti” brati, kita tak akan pernah menjadi seorang Penulis.

“Kesuksesan akan diraih jika kita brani memulai dan terus berjalan, TIDAK ADA orang yang GAGAL di dunia ini… yang ada hanyalah mereka yang memilih BERHENTI dan mundur di tengah perjalanan.”

Percayalah, Tuhan memberi kita talenta yang berbeda dengan orang lain. Jangan sia-siakan talenta itu. Talenta itu butuh usaha dan keuletan kita untuk mengasahnya.

Ubah talenta menjadi karya yang bercaya.

Yang mampu menerangi banyak hati, berguna buat sesama dan menjadi prasasti buat kita sendiri.

Semoga semangat yang Ibu kartini miliki tak pernah pudar dan tak hanya menjadi slogan yang lewat begitu saja. Selamat Hari Kartini Buat semua!

Taiwan, 21 April 2009