pic kuambil dari coment di tagged

Oleh Kwek Li Na (Cerpen Fiksi)


Kuterobos hujan dengan hati kesal. Tak ingin aku menunggu lagi. Hampir 2 jam aku berdiri menunggu Rio di sini.

“Phia, besok aku jemput ya! Tunggu aku!” ujarmu sebelum mengakhiri penbicaraan kami di ponsel tadi malam.

Entah sudah berapa puluh kali aku diperlakukanmu begini.

“Benar-benar keterlaluan,” umpatku kesal.

Hujan deras membasahi sekujur tubuhku. Kuterus berjalan, sambil sekali-kali menendang kerikil-kerikil kecil di jalanan.

“Aku benci kamu!” makiku tak bisa terima.

Gara-gara hujan semalam, aku jadi flu, sekujur tubuhku panas.

Jauh dari orang tua begini, yang paling aku takutkan adalah sakit.

Bel apartemenku berbunyi.

“Siapa?” tanyaku lemah.

“Aku. …Rio.” jawab suara Rio di balik pintu.

Setengah kesal akhirnya kuseret kakiku untuk membuka pintu.

Serangkum bunga mawar merah hati diulurkan Rio saat pintu aptermenku terbuka.

“Ada kesalahan baru begini,” tukasku ketus.

Rio sebenarnya adalah cowok yang romantis dan pandai sekali berkata manis. Itulah yang selalu membuat aku cepat melupakan emosi-emosiku akan semua kejengkelanku atas ulah-ulahnya.

“Maaf, tuan putri!” ujarnya dengan mimik muka menyesal.

“Mama… Kemarin, tiba-tiba minta supaya aku mengantarkannya kerumah tante Ria (adik mama) yang lagi sakit.” jelasnya berharap rasa kesalku reda .

“Ini jaman purba apa?, Ngak ada dan ngak bisa telepon ya? ” ujarku jengkel.

Di tempelkannya tanganya ke keningku saat dia lihat mukaku sedikit memerah, tanpa memperdulikan celotehku.

“Aduh, panasnya tinggi sekali,” ujarnya kaget.

“Aku mesti bawa kamu ke rumah sakit.” katanya nampak panik.

Aku menolak karena sudah terlanjur kesal dengan perlakuaannya tadi malam.

“Aku sudah makan obat yang saya beli di toko obat seberang jalan itu”, jelasku menolak sarannya.

“Aku mau istirahat, kamu pulanglah!” ujarku dalam kesal.

“Kamu benar-benar marah ya sama aku? ” tanyanya dengan mimik muka sedih.

“Ngak!” jelasku tanpa mengalihkan pandangan dari acara televisi yang lagi aku saksikan.

“Untuk apa marah,…itu hak kamu, kamu pantas kok mengantarkan mamamu. kamu ngak salah, hanya aku yang salah”, ujarku dengan ketus.

“Phia, maafkanlah aku, sekali ini saja, aku tak akan mengulanginya, jika lainkali aku tak bisa menjemputmu, aku akan menelpon kamu! oke,” pintanya seraya menggenggam erat tanganku.

“Sekarang saya bawa kamu ke dokter, karena panasmu tinggi sekali,” bujuknya seraya membantu aku berdiri.

Setelah diperiksa, disuntik dan dikasih obat lalu aku diperbolehkan pulang.

“Phia, izinkanlah aku menemanimu,” ujar Rio sambil mengompres keningku, karena panas tubuhku belum reda.

“Aku ngak apa-apa, setelah makan obat aku akan sembuh, jika ada apa-apa aku baru menelpon kamu,” jelasku menolak tawarannya.

Akhirnya Rio pulang, kulihat kekwatiran di mimik mukanya.

“Ada apa-apa segera telepon aku ya!” ujarnya seraya menutup pintu pelan-pelan.

Rasa kesalku pada Rio belum reda. Entah berapa kali aku diperbuatnya demikian. Alasanya mengantarkan mamanya, menghadiri rapat dan lain lain. Aku bukan tidak ingin dia berbakti pada orang tuanya, hanya aku heran knapa dia tidak mengabariku atau menelponku, kalau
dia memang tak bisa menjemput. Itu saja.

“Pia, demammu sudah agak baik belum?”

“Kamu masih marah ngak dengan saya?” itu bunyi smsnya.

  • *

Aku enggan untuk membalas smsnya.

Atas keuletannya dalam perusahaan, rapat pemegang saham memutuskan Rio menjadi seorang manager perusahaan di perusahaan baru.

Perusahaan baru diserahakan sepenuhnya untuk dikelola
Rio. Ini yang membuat Rio bertambah sibuk akhir-akhir
ini. Banyak rapat dan pertemuan dengan rekan bisnis yang harus dihadirinya. Membuat kami makin jarang bertemu. Hanya lewat sms atau telepon, Rio hampir setiap hari menyapaku.

Aku tahu, Rio adalah cowok baik. Kesibukannya dan rasa baktinya pada orang tua yang selalu jadi kendala pertemuan kami yang sedikit.

Perasaaan aku tentang hubungan kami mulai hambar, rasa jengkel yang menumpuk, menghapus pesona kebaikan Rio. Aku juga ngak tahu knapa aku begini?

Karena aku terbiasa sendiri, ada pacar dan tidak, ngak ada beda kalau hubungan kami tetap begini.

  • *

Sepulang kerja, bosku menawarkan aku untuk mengantarkanku pulang, saat dia melihatku di halte bis dekat kantor.

“Pia, saya antar kamu! Saya mau ke umah teman yang searah dengan rumahmu,” jelas
nya.

Akhirnya, aku naik mobil bosku.

Dia lelaki muda, yang berotak cerdas yang dipilih perusahaan untuk memimpin perusahaan di mana aku bekerja. Umurnya masih muda, tapi dia punya wawasan yang sangat luas. Dia dikagumi oleh pemilik perusahaan ini. Ketampanan dan kebaikkannya banyak membuat karyawanti berusaha menarik perhatianya.

“mmm…kok diam,” tanyanya sambil menyalakan cd player.

“oh…,” jawabku gugup ditanya tiba-tiba begini sambil tersenyum yang seakan-akan dipaksakan untuk menutupi rasa malu.

Panggil aku,Tio aza. Kalau di luar perusahaan kita adalah sahabat. ” pintanya.

“O…,” ujarku sambil melihat-lihat ponselku mengecek ada tidak sms dari Rio.

Tiba-tiba angin kangenku akan Rio bertiup sepoi-sepoi di tepi hatiku. Sudah beberapa hari ini aku tidak menerima sms darinya. Entah apa yang disibukannya?

Sesampai di depan apartemenku, aku turun. Kuucapkan terimakasih pada Tio atas tumpangan yang dia berikan padaku.

Alangkah terkejutnya aku.

Rio berdiri di depanku.

“O…ini yang membuatmu tak pernah menghubungiku, atau tak mau membalas smsku?” tanyanya marah penuh selidik sambil berjalan meningalkanku yang lagi begong.

“Rio, tunggu dulu penjelasanku!” kataku berusaha menjelaskan sambil menarik lengannya, yang berjalan tergesa-gesa ke arah mobilnya.

“Aku kebetulan naik mobilnya, karena kebetulan dia hari ini mau kerumah sahabatnya yang searah jalan denganku,” beberku dengan suara nyaring, sementara Rio terus berjalan acuh terbakar emosi dan tak mau mendengar penjelasanku.

“Tidak ada yang perlu dijelaskan, aku lebih percaya dengan mata kepalaku sendiri!” tukasnya sinis.

“Rio…Rio…” kupanggil-panggil namanya berulang-ulang.

Dia tak mengacuh panggilanku sama sekali dan semakin mempercepat langkah, menuju mobilnya. Drai jauh, kulihat dia menyetir dengan kecepatan tinggi. Aku berdiri lemas, seakan-akan tak mempunyai tenaga.

“Ya…Tuhan jangan terjadi apa-apa dengan RioKu !” hanya itu yang sanggup aku ucapkan.

Tiba-tiba terdengar bunyi benturan yang sangat kuat dari seberang jalan. GEDUBRAK!!!

Suara itu begitu nyaring terdengar. Kuberlari secepat mungkin, ke arah suara itu.

Banyak orang mengerumuni tempat kejadian, dan aku berusaha menyelusup di antara mereka untuk melihat siapa yang menjadi korban.

Antara percaya dan tidak…”Rio” ujarku.

Rio terkapar bersimbah darah, dan dari suara-suara orang yang mengeliling tempat kejadian terdengar samar kalau sikorban sudah tak bernyawa.

kuterebos, kerumunan orang-orang itu. Kudekati sosok yang sudah terkulai lemas di sana.

“Rio andai kamu dengar penjelasanku.” ujarku lemas di balik isak tangis.

Kupererat pelukan. Lalu tiba-tiba kulihat disekiraku menjadi gelap.

Saat aku sadar aku sudah dirumah sakit. Kain kafan telah menutup muka Rio.

Bumi seakan runtuh. Lemah seluruh kakiku. Akhirnya adik perempauan Rio, menopang aku untuk duduk dan mengantarkanku pulang.

“Rio,…..teganya kau tinggalkan aku! Bagaimana dengaku?” ujaku sangat kehilangan di balik isak tangis, tak bisa menerima kenyataan ini.

Walaupun kamu telah tiada. Namun kamu selalu menjadi kenangan yang hidup dalam hatiku.

“Rio! Mudah-mudahan kamu bisa mendengar semua penjelasanku. Aku dan Tio tidak ada apa-apa. Aku tak ingin kamu salah paham.

Knapa rasa cemburu membuatmu, seemosi itu? Perlu kamu tahu, aku…hatiku…selamanya adalah milikmu.” beberku panjang lebar di pusaramu.

Aku harap di kehidupan akan datang, kita akan dipertemukan lagi untuk melanjutkan kisah kasih ini.

Taiwan, 13 September 2008