*Terinspirasi saat berkomentar di puisi seorang sahabat*


Hujan menyapa bumi…seakan-akan tak berarti…jatuh ketanah begitu saja

Tapi tetes itu selalu saja tersenyum menatapku

Tak ada kemarahan dan keegoisan di balik semua fisiknya

Dia terus menari-nari berusaha menggodaku…baik yang di atas genteng, atap mobil, di balik kaca dan di atas daun

Sementara aku begitu angkuh dan terlalu sibuk dengan segala aktivitas dunia…kuacuhkan kehadirannya…malah kuumpat karena membuat aktifitasku terhambat

Tapi hujan tak peduli…dia terus…dan terus menyapa dan mengusikku…dan berusaha mencoba menggoyahkan konsentrasiku

Dari jauh terlihat segerobol anak dengan senangnya

Bersorak, menyambutmu… di telapak tangan munggil mereka, sambil berkerjar-kejaran

Akhirnya, ada juga manusia yang mau bersahabat denganmu…anak kecil yang polos dan bermata bening itu…

Anak-anak pingiran …anak-anak penghias simpang lampu merah…anak-anak yang tak tahu dimana orang tuanya…anak-anak yang tak punya rumah…

Merekalah yang menyambutmu dengan gembira!

Membuatku tertunduk, “Malu”

Karena mereka jauh lebih menghargai karunia dan lawatan Tuhan, daripada Aku.

Taiwan, 24 maret 2009