Pic diambil dari sini

Cerpen Fiksi by Aling


Lima tahun sudah pernikahan kita…

Aku sangat menikmati kebersamaan dan hari-hari penuh cinta denganmu. Bisa dibilang sebuah pernikahan yang sangat membahagiakan dalam hidupku.

Kebahagian kita bertambah lengkap saat kita dikarunia sepasang anak kembar yang sangat lucu dan pintar. Sebagi seseorang wanita, lengkap sudah kebahagian yang kumiliki. Memiliki seorang suami yang baik dan sangat penyayang, anak-anak yang lucu, dan kehidupan ekonomi yang bisa dikatakan cukup.

***

Tapi kebahagian itu hilang dan pergi entah kemana, sejak usahamu bangkrut.

kamu berubah menjadi laki-laki yang kasar dan sering bermain tangan. Semua kutahan, bukan aku tak mampu dan tak ingin melawan, ataupun pergi meninggalkanmu, tapi yang kupikirkan bagaimana nasib anak-anak yang tak tahu apa-apa akan permasalahan hidup dan orang tua ? Terlalu dini buat jiwa dan hati mereka, untuk kujelaskan semua hal ini.

Dan aku pikir itu semua, hanya ledakan emosi sesaat karena pelampiasanmu atas ketidak relaanmu, akan usaha yang telah kamu rintis bertahun-tahun dan pernah meraih kesuksesan yang gemilang…. mesti gagal karena ulah sahabat karibmu yang sangat kamu percaya, ternyata menusuk kamu dari belakang.

Keputus-asa-an yang kamu alami, merubah total sosok dirimu.
Merubah dirimu, menjadi seseorang yang penuh rasa kwatir dan rasa takut kehilangan yang begitu kuat.

Tapi pernahkanh kamu tahu, perbuatanmu padaku benar-benar sudah melapaui batas…aku selalu menjadi sasaran empuk setiap kali, emosimu meluap.

Bertambah lagi sekarang terlalu banyak aturan yang kamu buat dan harus aku turuti. Aku tak boleh keluar. Ataupun hanya sekedar berbincang dengan orang di telepon. Tak boleh berpakaian atau berdandan menarik dan peraturan-peraturan lainnya.

Kecurigaanmu begitu besar. kalau aku tanya alasanmu, kamu bilang takut aku meninggalkanmu, atau kwatir aku membicarakan kegagalanmu dengan orang lain.

Yang bagiku itu semua hanya perasaan-persaan yang timbul dan kamu lebih-lebihakan dalam dirimu karena goncangan jiwa. Sekarang kamu benar-benar berubah. Berubah menjadi seorang laki-laki yang sangat pencemburu dan penuh kecurigaan.

***

Mukaku akan selalu menjadi sasaran tanganmu yang melayang. Saat kamu dihinggapi emosi karena hal-hal sepele, dan kamu akan berubah menjadi sebuah sosok orang lain yang berbeda atau bahkan seperti orang kerasukan dan akan memukulku sejadi-jadinya tanpa kendali.

Memar bahkan membiru, sudah menjadi hiasan di muka dan badanku. Aku menjadi malu untuk keluar rumah. Karena setiap orang yang melihatku, berbisik-bisik seakan-akan lagi membicarakan memar ataupun bekak diwajah dan tanganku.

Karena malu… dan ketakutanku akan emosimu yang entah kapan akan meluap, aku lebih memilih diam dirumah dan tidak bergaul dengan siapapun.

Aku menjadi orang yang tak punya teman sama sekali, untuk mencurahkan segala kepahitan hidupku ini ataupun meminta saran bagaimana jalan keluar. Sedangkan pikiranku sepertinya sudah buntu…tak bisa berpikir sama sekali untuk sekedar membuat pilihan.

Pergi meninggalkanmu tapi aku kwatir juga dengan keadaan dan keselamatan dirimu. Atau aku harus tetap tinggal dan menuruti semua aturan edanmu, yang hampir membuatku menjadi gila.

***

Saat kamu lagi tenang, aku pernah menganjurkan dan mengajakmu untuk terapi jiwa, kamu malah tersinggung dan sangat marah. Aku benar-benar kehabisan cara untuk membantumu, untuk keluar dari tekanan jiwa yang sedang mengoncangmu.

Ruang hatimu yang dulu pernah dipenuhi cinta yang bersemi seindah bunga-bunga yang bermekaran , kini berubah seperti bunga yang tinggal ranting, dimusim gugur …tak berdaun apalagi berbunga…dan cinta antara kita sudah seperti hembusan angin musim dingin yang mampu menusuk kulit ari dan mengilukan tulang-tulang.

Anehnya. Setelah kamu memukulku…kamu selalu punya cara untuk membuatku menerima dan memaafkan setiap perbuatanmu. kamu selalu berlutut meminta maaf, menangis tersedu-sedu menyesali perbuatanmu. Lalu akan memperlakukan aku sangat dan sangat baik.

Rasa sakit yang aku rasa, … luruh dan hilang bersama uraian air matamu yang mengalir. Dan aku selalu kalah…dan kalah oleh kata-kata manismu. Dilubuk hati terdalam aku selalu berharap dan memberi kesempatan supaya kamu benar-benar sadar dan menyesali kekhilafanmu dan kembali kesosok yang dulu.

Tapi beberapa hari kemudian… atau beberapa minggu kemudian tanpa aku tahu apa penyebabnya, ataupun perbuatan yang mana menyinggung perasaanmu, atau karena hal-hal yang sangat sepele, kamu akan melakukan …dan melakukan kejadian yang sama.

Rupanya, kamu tahu kelemahanku…air mata dan sikap memelas yang kamu mainkan, lengkap dengan sandiwara sikap yang seakan-akan berubah dan menyesali serta memperlakukan aku dengan baik, kamu gunakan untuk membohongi dan meracuniku, untuk tetap tinggal.

***

Kamu pikir aku lemah. Aku memilih diam, apapun perlakuaanmu, karena aku berharap rumah tangga kita masih bisa dipertahankan.

Tapi dalam hati, aku bersumpah, sekali lagi kamu berani memukulku, aku tak akan hanyut dengan sandiwara yang kamu perankan begitu sempurna, karena aku akan melawanmu sampai titik penghabisan.

Saat kita pulang kerumah orang tuamu pun, kamu berani memukulku. Kamu benar-benar berubah menjadi sebuah sosok yang sangat kasar dan tak berperasaan. Soratan matamu, berbeda dan menjadi sangat mengerikan.

Aku tak tahan dengan semua ini, batas kesabaranku pun sudah habis.

Kutangkap tanganmu yang kamu arahkan kemukaku untuk kesekian kali. …dan karena aku melawan…Kamu menjadi bertambah marah dan menjadi sangat berang.

Kamu mendorongku kearah dinding, dan aku tersungkur dan pinggangku terbentur kursi.

Sakit. Sakit sekali. Sambil menahan sakit dan mengelus-ngelus pinggang yang terbentur kursi, aku dengan sekuat tenaga berusaha bangun dan membalas memukulmu.

Dan tanpa sengaja pukulan tanpa arahku, malah kena kaca matamu, yang minus berat. Kaca mata jatuh kelantai.

Saat kamu sibuk meraba-raba lantai untuk mencari kaca matamu, … kuambil kesempatan lari kekamar dan kutarik kedua tangan anak kita yang ketakutan dibalik pintu kamar, langsung lari keluar, lalu cepat-cepat naik angkot yang lewat, setelah separuh perjalanan, baru kusadari bahwa angkot yang kutumpangi, salah jurusan. Aku turun… dan naik angkot lain yang menuju kerumah orang tuaku.

***

Keesokan harinya, kamu datang kerumah orang tuaku, untuk merebut anak-anak kita.

Aku tak mungkin menyerahkan anak-anak ketangan orang seperti kamu. Bagaimana nasib mereka, mungkin tanpa kamu sadar, kamu akan melukai atau membunuh mereka. Setidaknya aku tak ingin merusak mental kedua anak tersayangku.

Dari dalam kamarku, terdengar suara Papa yang lantang dan galak mengacam kamu, “kalau kamu berani masuk, akan aku potong-potong kamu (melihat kedatanganmu papa, mengambil golok untuk menakutimu).

Sebentar lagi polisi akan kesini, coba kamu berani, dan tidak pergi, aku yakin kamu akan diringkus dan bisa menikmati nasi gratis dibalik terali,”

Terjadi pertengkaran kecil antara kamu dan papa. Kamu benar-benar berubah, karena dulunya kamu sangat sengan dan sangat menghormati papa. Sekarang kamu berani menjawab bahkan berkata lantang.

“Aku akan datang lagi! ” bentakmu tak puas.

Papa, mama serta saudara-saudaraku, menganjukan aku untuk pergi dari kota ini, dan akhirnya aku memutuskan untuk pindah kekota sebelah. Tapi dengan orang-orang setempat, keluargaku bilang aku pindah ke ibukota.

Ini semua kulakukan demi keamanan jiwa aku dan kedua anak-anaku.

***

Pekerjaan sulit aku dapat, walaupun aku sudah mencari dan terus mencari. Rupanya tanpa kenalan dan referensi perusahaan, dijaman sekarang pekerjaan sulit buat aku yang hanya lulusan SMEA.

Uang yang kubawa sudah habis untuk makan dan hidup sehari-hari. Pulang kedaerah asalku, tak mungkin kulakukan.

Ada seorang tetangga yang bekerja sebagai penghibur malam, menawariku, untuk bekerja ditempatnya.

“Ya, Tuhan…separahkan inikah jalan hidupku, sampai harus jatuh kelumpur nista dan dosa?” rintihku dimalam yang kelam.

Kata-kata yang manis dari tetanggaku, dan tangis lapar anak-anakku akhirnya membuatku jatuh kelumpur nista.

Aku tak menyalahkan siapapun, hanya ini jalan yang bisa sahabatku tawarkan untuk membantuku dan hanya dialah satu-satunya orang yang kukenal sesampainya aku ditempat ini.

Aku sendiri lah yang salah, aku yang tak mampu bertahan saat dihadapi kesulitan begini, dan membuat aku tak mampu berpikir banyak dan panjang. Aku sudah tak ambil pusing dengan, memikirkan dosa,… asal tangis anak-anakku menahan lapar, bisa reda.

Dan kesalahan terbesar yang aku lakukan kepada kedua buah hatiku adalah membesarkan mereka dengan uang nista.

***

Lima tahun sudah, aku berpropesi sebagai wanita penghibur, untuk memuaskan laki-laki hidung belang. Setiap malam, aku mesti meladeni siapa saja, laki-laki yang berbeda dan yang rela mengeluarkan beberapa puluh lembar uang rupiah .

Jujur,… sakit rasa hatiku, setiap kali aku mesti melakukan hal ini dengan orang yang tidakku cintai ataupun bahkan tidak kukenal sama sekali.

Ingin kusudahi, semua pekerjaan ini, dan mencari pekerjaan lain yang tak perlu menyiksa batin dan hati.

“Tapi kemanakah aku harus mencarinya ?”

***

Suatu hari, aku berkenalan dengan sesorang laki-laki yang umurnya kurang lebih seumur papaku, dan dia brani membayarku dan menjadikan aku wanita simpanan.

Tanpa pikir panjang, aku menerimanya. Aku berpikir, masih lebih baik jadi wanita simpanan dari pada wanita penghibur. Setidaknya aku tak mesti menghadapi sikap kasar ataupun perlakuan yang menjijikan dari berbagai macam laki-laki yang mesti aku layani.

Hidup memang membuat kita tak memiliki pilihan. Semua kulakukan demi anak-anakku, walaupun aku tahu, seandainya mereka besar nanti, mereka akan malu jika tahu kalau mamanya seorang wanita penghibur.

Tak ada cinta lagi dihatiku, sejak laki-laki yang pertama dalam hidupku, memporak-porandakan hatiku. Menyakiti aku secara fisik dan mental. Cintaku telah mati, sejak aku memilih untuk pergi dari sisinya.

Apalagi penderitaan hidup yang datang silih berganti dalam hidupku. Membuat aku tak berani untuk mengenal cinta apalagi larut didalamnya. Sekarang cinta yang ada dihatiku, hanya demi lembaran rupiah.

***

Sepuluh tahun sudah berlalu…

Sejak mereka masih SMP, aku memutuskan untuk menyekolahkan mereka didaerah lain dan akhirnya menitipkan mereka pada seorang tanteku yang berada di Ibukota. Aku tak ingin anak-anakku, mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku memang munafik…tapi sebongkah hatiku, selalu masih ada kasih sayang yang hangat dan utuh untuk mereka.

Aku tak ingin mereka tahu apa pekerjaanku, karena aku takut kehilangan mereka…aku takut mereka membenciku…aku tak ingin mereka menjauhiku karena hanya merekalah KEKUATANKU untuk melewati hari-hari yang penuh tantangan ini.

Sekarang mereka sudah selesai kuliah, dan dapat pekerjaan diibukota. Akhirnya atas desakan mereka aku pun akhirnya pindah bersama mereka. Aku memang sejak lama berharap bisa meninggalkan kota ini dan melupakan sisi kelam dalam hidupku.

***

Rupanya kebahagianku tak lama, saat aku dinyatakan mengidap AIDS oleh dokter, saat Sibungsu membutuhkan darahku, karena mengalami pendarahan yang sangat hebat karena kecelakaan.

Dunia terasa gelap. Kaki terasa ngemetar, tak sanggup mendengar kabar kalau sibungsu tak tertolong dan kutahu darahku tak boleh digunakan karena terdektesi virus AIDS.

Inilah semua buah, dari perbuatanku. Tak ada yang mesti aku sesali…mungkin inilah bayaran yang mesti aku lunasi atas semua perbuatanku selama ini.

***

Dua hal yang ingin aku lakukan sebelum ajal menjemputku. Yang pertama adalah menceritakan semua hal, semua cerita yang memalukan dalam kehidupanku, semua sisi kelam kehidupanku dan meminta maaf…. pada Sisulung. Yang kedua meminta ampun kepada Tuhan, atas segala dosa-dosaku. Walaupun aku tahu, aku terlalu kotor dan tak pantas untuk ini.

Banyak penyesalan-penyesalan yang baru kusadari disaat aku merenung nasibku. Apalagi, saat aku sungguh-sungguh terpanggil dan benar-benar ingin belajar dan mengenal firman Tuhan. Digereja banyak aku dengar renungan dan kotbah yang mampu menyadarkanku.

Rasa sesal, pelan-pelan menyelimuti hatiku. Penyesalan yang paling mendalam yang tak mungkin hilang sampai aku menutup mata , adalah menyadari, entah sudah berapa banyak orang yang kutular, entah sudah berapa banyak keluarga yang aku sakiti. Entah sudah berapa banyak, rumah tangga yang kuhancurkan dan aku buat laki-laki mereka menghianati istri, anak dan rumah.

Untuk kemudahanku dalam menjalani hidup,… untuk merengut kebahagian duniawi,… entah telah berapa banyak kebahagian orang lain kuambil.

Egois, ..aku sungguh egois.

Aids, adalah buah, cinta karena rupiah. Aids adalah buah keserakahanku,… buah keegoisanku.

Sekarang, Tak ada harapan dan tak kumiliki kekuatan, hidupku hanya untuk menunggu kematian.

Ps : Cerita fiksi ini, kuangkat dalam mendukung gerakan Anti AIDS

Taiwan, 7 Maret 2009