kuambil dari internet "pic kemiskinan"

“Semoga apa yang kita lakukan…baik hanya sepenggal doa…sebaris kalimat…sepotong suport…ataupun segenggam kepedulian…yang tulus, akan menjadi samudera yang membahagiakan dan gurun yang mampu menyejukan”.

Mengering sudah airmata wanita-wanita tua dan lusuh. Kebingungan mereka untuk melalui hari ini terasa begitu sulit. Kampung tengah mereka sudah unjuk rasa, anak-anak sudah menangis karena menahan rasa lapar yang lagi melanda.

Anak-anak ini tak pernah mengerti bagaimana kesulitan orang tua mereka. Bukan mereka tak tahu dan tak peduli keadaan orang tua mereka tapi terlalu kecil usia mereka untuk mengerti!

Rasa risau karena anak-anak mereka sudah kelaparan sudah menghapus rasa senggal mereka karena mesti terus dan terus berjalan atau berdiri terus menerus sepanjang hari untuk menunggu lampu merah menyala berharap ada yang mau mengulurkan tangan.

Satu persatu mobil mereka datangi untuk meminta sekeping rupiah yang tak berati buat siempunya mobil elite yang berhenti disalah satu persimpangan lampu merah.

Tapi tak satu pintu mobil terbuka…bahkan yang terbukapun cepat-cepat ditutup rapat-rapat, lalu pura-pura tak melihat.

Keberadaanku dan saudara-saudaraku yang senasib dipersimpangan lampu merah ini, memang merusak pemandangan dan keindahan kota metropolitan.

Hanya disini…kami bisa berharap ulur tangan saudara yang masih mau peduli dengan hidup kami. Rasa malu diraut wajah dan hati kami sudah hilang bersama angin kelaparan diraut bocah lincah milik kami.

Umpatan dan caci maki menjadi makanan sehari-hari kami . “Dasar orang malas!”

Pernahkah mereka tahu…kesempatan bekerja tak kami miliki. Apalagi dibalik lusuhnya pakaian dan raut muka kami, orang-orang sudah menaruh rasa curiga dan rasa tak percaya. Kesempatan tak mungkin mereka berikan buat kami.

Diperempatan jalan ini…aku mengemis untuk anakku.

Karena rasa cintaku pada mereka juga sebesar rasa cinta wanita -wanita lain. Perihnya hatiku mendengar tangis karena kelaparan dan kedinginan dari anak-anaku … tak mungkin pernah kalian mengerti!

***

Ini hanya salah satu contoh yang pernah kulihat dan kudengar 7 tahun silam dinegeriku, sebelum aku melangkah mengarungi negeri orang yang juga banyak tantangan.

Tapi mataku terbuka…masyarakat dan pemerintah disini (Taiwan) BISA saling membantu untuk mengurangi kebodohan dan kemiskinan.

“knapa dinegeri kita tak coba kita mulai (dari kita sendiri, lalu mengajak sobat , saudara dan seterusnya ) untuk melakukan aksi peduli buat mereka?”

Karena aku yakin nasib mereka tetap sama dengan 7 tahun silam…tak pernah berubah…bahkan akan terus bertambah banyak nasib orang yang sama seperti mereka dinegeri pertiwi ini, yang kita bangga-banggakan adanya sifat gotong-royong.

Mana buktinya?

Apakah slogan yang telah melekat sehingga tercetak dibuku-buku pelajaran sudah memudar?

Hanya kita yang bisa menjawab dan membuat slogan itu makin tercetak tebal.

****

DISINI. Aku ingin mengemis buat mereka, berupa setitik aksi dari kita. Orang-orang yang peduli sesama.

Kuharap MATA KITA BELUM BUTA akan cinta kasih buat mereka…karena mereka juga sama dengan kita…cuma nasib yang membedakannya dan hati kita BELUM MATI tertimbun oleh keserakahan dan rasa tak peduli.

Mari sama-sama kita pikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk memberi mereka kail kehidupan !!!