pic diambil dari forum.detik.com

Seterik dan sehangat, sinar mentari disiang inilah, harapanku… harapan anak-anak miskin dipinggir kota metropolitan ini.

Impian… yang menurut kedua orangtuaku dianggap edan.

Knapa aku tak boleh memiliki impian seperti orang lain. Impian-impianku tidak menganggu dan membuat keributan. Dia ada dalam hati dan pikiranku. Itupun sudah tidak diperbolehkan. Keadilan sudah terlalu mahal buat kami. Inikah namanya manusia memiliki kebebasan…atau

“Apakah impian itu hanya milik mereka?”

“Milik anak-anak orang kaya?”

“Milik bocah-bocah yang tinggal digedung bertingkat ?

sedangkan aku hanya harus terus dan terus menerima takdir ini begitu saja”.

“Jangan banyak mimpi,Neng! Wong tuk makan aza sudah tak cukup”, itulah kata-kata orang tuaku dulu, setiap kali aku mengajukan berniat untuk sekolah.

Tanpa pendidikan…kami akan tetap begini…tak akan pernah berubah. Tetap ditepi kota metropolitan ini…tetap dibawah gubuk rewot yang tak layak dihuni manusia.

Aku tak pernah menyesalinya…aku cuma ingin bisa merubah sedikit kehidupan keluargaku. Aku bahagia memiliki orang tua yang sabar, tegar dan jujur. Adik-adik yang manis dan baik.

Aku anak paling besar dikeluarga ini..
Padakulah seharusnya orangtuaku menaruh harapan. Tapi aku sama sekali tak memiliki kekuatan untuk mewujudkannya. Yang kumiliki sama dengan orang-orang di Palestina…hanya ketakberdayaan. Sampai kapankah, kami mesti menunggu harapan dan bantuan ?

Karena doa-doa yang dikirim orang buat kami, hanya mampu menguatkan tapi tak mampu menyelesaikan permasalahan yang ada pada kami.

***

“Sehari lewat sehari…Tuhan akan selalu menyertai dan memberi jalan”, itulah kata-kata bapakku yang selalu tergiang.

Ketakberdayaan tersimpan, disusunan kalimat yang tersusun apik ini.

Walaupun aku tahu, jika Tuhan mau, Dia mampu mengubah segalanya….tapi tanpa usaha itu adalah yang mustahil buatku.

Aku bukan benci kemiskinan, aku hanya benci ketakberdayaan.

***

Huruf-huruf kukenal dan kupelajari dari buku bekas yang didapati bapak dari memungut barang bekas.

Aku akan menanyakan setiap huruf yang aku tak mengerti pada bapak. Bapakpun hanya bisa mengajarkan sebisanya dibalik kesibukannya dalam meraup dan mengikis rezeki di setiap barang yang sudah tak berguna bagi orang lain tapi akan kami jadikan rezeki dan kami jual untuk membeli beras dan lain-lain, untuk sekedar memenuhi unjuk rasa kampung tengah (perut) kami.

Aku tak ingin jadi orang buta huruf…walaupun aku lahir dan berada dikeluarga paling miskin dinegara ini. Aku yakin disetiap usaha kerasku…Tuhan akan memberi jalan dan petunjuk.

Keinginan dan keuletanku untuk bisa membaca dan menulis, diceritakan Bapak pada orang yang dikenalnya. Lalu ada seorang guru yang bersedia mengajarkanku dengan gratis disekolah ditempat dia mengajar.

Tapi aku tak sanggup menghadapi teman-teman sekelasku…yang selalu menutup hidung setiap kali aku lewat ataupun mendekati mereka. Bau ditubuhku…membuat jarak antara kami. Aku tidak malu…cuma aku takut aku hadir disana bagai satu gas yang tak dikehendaki dan bahkan bisa meracuni mereka. Akhirnya aku berhenti sekolah untuk mencegah semua hal ini terjadi.

***

Aku pernah menjadi pengamen, penjual asongan diperempatan lampu lalu lintas ataupun bekerja sebagai pembatu rumah tangga diberbagai tempat dengan upah yang sangat minim dan perlakukan yang lebih mirip perlakuan manusia terhadap bintang.

Aku selalu bersabar…dan berdoa…semoga hal ini membuat aku makin mengerti pembelajaran yang akan kujalani didunia fana ini.

Semakin hari kehidupan kami bukan makin baik…tapi makin sulit…apalagi dengan kebutuhan semakin hari makin melambung tinggi seperti impianku yang sulit kami gapai.

Kenaikan kebutuhan hidup seakan-akan mencekik leher kami ….makin erat…sehingga hampir membuat kami tak bisa bernafas.

***

Bukan kami tak mau berusaha. Hanya… tak pernah ada jalan yang mampu membuat kami bisa sebaik orang lain.

Sulit mencari setitik cahaya yang mampu menerangi kami. Ataukah kami mesti selalu menunggu cahaya matahari esok hari untuk menerangi hidup kami, karena cahaya lilin yang kami miliki sudah hampir redup dan tak bersisa .

Hidup kami, bagai ditengah malam kelam…disekitarnya bintang dan bulan bersinar dengan senang dan bahagia…tapi kami tak bisa meraih dan ikut serta menikmatinya.

Semoga hujan dan sinar matahari … masih tetap sama…tetap tak pernah pilih kasih…dicurahkanNya bagi semua manusia untuk dinikmati, tanpa memandang siapa kami!πŸ˜€

Taiwan, 17 Januari 2009