pic diambil dari kathys Coment

By Aling (CERPEN FIKSI)


Enam bulan sudah Ari, menemani hari-hariku, nan panjang, dengan serangkai cerita indah.

Bersamanya, aku meniti hari-hari yang penat dibalik segala aktivitasku. Kepedihan dan kehancuran hatiku dalam keluarga yang terbawa kesini, ditukarnya dengan banyolan dan cerita kocak, dia mampu menghidupkan susana dan membuat aku menjadi sosok yang benar-benar membutuhkannya.

Aku mulai lupa dengan kepedihan yang ditorehkan papa. Walaupun aku hidup sebatang kara di kota ini, tapi Ari mampu membuatku memiliki kekuatan.

Aku tak bisa menerima kenyataan, papa berselingkuh dengan perempuan lain.

Aku tak mampu melihat raut sedih dimata mama, walaupun dia selalu bilang dia tidak apa-apa

“Mama akan bahagia jika papamu bahagia….,” kata-kata itu selalu tergiang ditelingaku.

Aku benci karena perempuan sepertinya tak memiliki daya…tak bisa membrontak walaupun sudah diperlakukan seperti itu. Selemah dan setegar, itukah perempuan demi cinta dan keluarga?

“Perempuan selalu menjadi sosok yang direndahkan…padahal laki-laki membutuhkan mereka , atau sekali-kali menganggap perempuan seperti tisu… habis dipakai dibuang,……. emang mereka pikir….., mereka itu apa? ,” tukasku benar-benar naik darah, seakan-akan darah menjalar panas kemukaku, nyerocos tak hentinyanya, dan lupa kalau aku malah…. seolah-olah telah mneghakimi mama dan menumpahkan segala ketidakpuasanku didepan orang yang paling aku cintai ini.

“Itu namanya kodrat,” kata mama, dalam pembelaan dan terlihat kepasrahan disana.

“Ma…perempuan, harus kuat…jangan diam dalam ketidak adilan…terlalu banyak segi kehidupan perempuan dipermainkan, hati diobok-obok, apalagi ada UU poligami,yang memperkuat laki-laki bisa berbuat seenak perutnya.

Tubuh dibedah seperti kelinci percobaan untuk sebuah percobaan kesuksesan bayi tabung, bahkan kelamin pun diubah dengan alasan mencoba kemajuan ilmu kedokteran, walaupun perempuan-perempuan melakukan semua itu, tanpa paksaan dan dengan senang hati untuk menunjang kesuksesan sebuah penelitian ataupun demi nama dan uang yang dijanjikan”, ungkapku dengan kata-kata yang meluap-luap seperti air yang sulit dibendung, lupa dengan bagaimana perasaan yang dirasa mama.

“Apa yang bisa mama buat, Lin?” ujar mama dengan suara yang begitu pelan dan tiba-tiba kulihat aliran sungai disudut matanya tak terbendung lagi.

Terlalu kasar kata-kataku, ataukah terlalu perihkanh yang dia rasa….tanpa kusadari aku telah membuat hati mamaku seperti tertusuk belati, membuat aku merasa sangat bersalah.

“Ma, maafkan Linda…Linda tak bermaksud menyakitimu…hanya merasa ketidakadilan pada dunia perempuan, dan aku yakin ribuan perempuan merasakan hal yang sama seperti yang mama alami, dalam kasus yang berbeda tapi mereka tetap hanya bisa diam, menahan…tak punya kekuatan untuk melawan.

“Cinta…cinta…cinta…perempuan selalu jadi korban,” ungkapku dengan sangat marah.

Inilah alasan utamaku pergi ke kota ini. Aku ingin mencoba menata hati.
Aku pergi bukan, untuk merenggangkan hubungan antara aku dan papa, tapi aku tak tahan melihat pemandangan begini dihadapanku tanpa bisa berbuat apa-apa.

Enam bulan Ari membantuku merenovasi sebentuk hatiku yang hampir berantakan sebagai sahabat yang akhirnya menjadi kekasihku. Ari, adalah seorang yang kukenal di dunia maya kurang lebih setahun yang lalu. Dialah tempat aku mencurahkan dan menceritakan segala kepedihan yang tak mapu aku tampung.

Aku tertarik memilih daerah dimana Ari tinggal, karena selama ini, Ari benar-benar baik walaupun kami belum pernah bersua.

Dan darinya aku tahu, perusahaan tempat dia bekerja memerlukan seorang sebagai staf bagian keuangan. Dan kebetulan aku memang belajar di bidang itu. Lalu aku mengirim surat lamaran kerja berdasarkan alamat yang diberikannya, dan kebetulan sekali, aku diterima.

Kebersamaan kami selama ini, kesabaran dan perhatian yang ditunjukkannya, cinta dan kelutulusan yang diberikannya, mampu membantuku pelan-pelan menyusun kepinggan hatiku, yang retak porak-poranda menjadi sekeping hati yang utuh.

Ari yang mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan. Sosoknya yang sahaja dan dewasa, mampu membuat aku jatuh cinta untuk pertama kali dalam hidupku. Padanya aku menemukan sebuah kisah kasih yang berbeda.

###

“Lin…besok kakakku akan pulang kesini,” kata Ari dengan senang.

“Dia adalah wanita hebat, setelah kepergian papaku, dia merantau dan berjuang sebagai tulang punggung keluarga. Dialah yang membiayaiku sampai aku menyelesaikan kuliahku.

” Ngak tahu bagaimana aku membalas kebaikannya kelak? ”

“Besok aku akan memperkenalkan kalian berdua,…. dua wanita terpenting dalam hidupku !,” papar Ari dengan binar kegembiraan yang meluap-luap.

“Oke… tapi aku tak pede, Ri ” ujarku minder.

“Ah…kamu cantik…baik… dan yang jelas aku sayang kamu,” ungkap Ari, sambil mengucak-ngucak rambutku dengan ngemas lalu memainkan jari telunjuknya dihidungku.

Begitulah gaya Ari, memperlakukanku saat aku takut atau ragu.
###

Dari pagi, aku sudah mempersiapkan diri….berdandan semanis-manisnya. Satu-persatu baju kukeluarkan dan kucoba…sampai hampir semua baju dalam lemari pindah keatas tempat tidurku. Entah knapa tak ada sehelaipun baju yang membuat aku bisa lebih berkesan menarik. Akhirnya kumemilih dan mengenakan gaun unggu pemberian mamaku. Sambil menunggu kedatangan Ari, aku duduk sambil membaca majalah remaja kesukaanku.

Perjumpaan dengan kakaknya membuat aku deg…degkan.

klakson mobil Ari berbunyi, aku langsung mengunci pintu dan setengah berlari menuju arah Ari.

“Wow…cantik banget kamu hari ini,” ujar Ari tersenyum sambil bersiul-siul.

“Ngeledek,” ucapku pura-pura tak suka.

“Benar…biasanya saya kan lihat kamu mengenakan kaos oblong atau kemeja dipadu jeans. Hari ini benar-benar beda. Aku suka. Warna dan model cocok sekali denganmu ,” beber Ari, sampai buih-buih dimulutnya nyemprot kemukaku.

“iiii…jorok, ” ujarku pura-pura tak mendengar pujiannya sambil membersihakan air hujan yang keluar dari mulut Ari.

“Sudah jalan…ntar telat lagi!,” kataku seperti perintah, seraya memasang sabuk pengaman dengan baik, takut dia terus-terus memuji sehingga aku bisa keringat dingin yang bisa melunturkan makeupku tipisku hari ini.

###

Kami sampai di bandara lebih cepat 15 menit dari waktu kedatangan pesawat. Kami berjalan-jalan di sekitar bandara melihat-lihat barang-barang yang terpajang disana. Dari pengeras suara akhirnya diberitahu, kalau pesawat Eva Air No… sudah mendarat. Pesawat yang ditumpangi kakaknya, Ari. Hatiku makin berdegup kencang.

“Ri, apa kakakmu bisa menerimaku dan menyetujui hubungan kita,” bisikku, kedekat telinganya, karena takut kedengaran orang-orang yang duduk disekitar kami.

“Tenang aja,… kak Sil, baik banget,” jelas Ari seraya menepuk-nepuk tanganku lalu mengenggam tanganku dengan erat, memberi kekuatan.

Tiba-tiba, Ari berdiri…karena katanya kakaknya sudah kelihatan. Ari melambai-lambaikan tangan kearah kakaknya. Dan kakaknya berjalan semakin mendekat kearah kami.

Tapi lututku tiba-tiba…bergetar….ya, Tuhan ujian apa ini ? ” tanyaku hampir terduduk.

Dialah perempuan yang merebut hati papa,… dari mama dan aku.

Apa yang harus aku katakan pada Ari? Walaupun aku tak tahu pasti, apakah perempuan ini tahu siapa aku atau tidak? Tapi sekilas terlihat keterkejutan diwajahnya, apakah karena wajahku ada sedikit mewarisi wajah papa ?

Bisa kutangkap, ada sedikit kepanikan dan curiga dibalik senyuman dan sinar matanya…tapi dia seakan-akan berusaha menepis semua itu…seolah-olah tak ada apa-apa. Dia tetap mengajakku bersalaman, berpelukan seolah-olah tak ada sesuatu yang terjadi. Ya…mungkin saja dia tidak ingin Ari tahu siapa dia sebenarnya!

Aku malah merasa seperti robot…..yang tak berdaya…terserah mau diapain.

Sehingga membuat Ari sedikit merasa heran, karena aku yang biasanya banyak bicara dan banyak topik, kok jadi pendiam.

Tapi pantaskan aku ceritakan padanya…bahwa kakaknyalah, penyebab luka yang tak pernah mengering dihatiku. Kakaknyalah yang membuat keluargaku berantakan. Dialah yang merampas semua kebahagianku dan mama. Dialah yang membuat mata mama selalu sembab.

Ari terlalu baik…bukan dia yang bersalah, aku mencintainya…dan dialah yang membuat hidupku akhir-akhir ini hangat…tapi sanggupkah aku mendiamkan semua masalah?

Bathinku terus bergejolak.

“Lin…kok diam aja sih”, tanya Ari memecahkan keheningan.

“Ari…aku merasa kurang sehat…antar aku pulang dulu ya…”, jelasku memberi alasan.

“Kan…kita mau makan bersama-sama, menyambut kedatangan kak Sil!”, ujar Ari bingung dengan sikapku yang berubah.

“Ta…ta..tapi…kepalaku pusing banget,” kataku seraya menekan-nekan kepalaku dengan kedua tangaku.

“Ya sudah, antar temanmu dulu pulang Ri, tapi lain kali janji ya…kak Sil, tunggu,” ujar kakaknya yang kurasa pura-pura pengertian, ingin menunjukkan peran yang terbaik didepan adik semata wayangnya.

Tiba-tiba hpnya berbunyi, dan diangkatnya. Ya…Tuhan suara papa keluar dari loudspeaker yang tiba-tiba di offnya…suara laki-laki yang dulu sangat mencintai dan aku cintai.

“Kebencianku pada perempuan Itu makin bertambah…dan aku benar-benar cemburu,…. papa terlalu mengistimewakannya, setengah tahun aku disini, hanya beberapa kali dia menghubungiku.”, degusku dalam hati sambil kesal.

Kulihat Ari dari balik kaca…melihat tingkahku yang berubah seratus persen…benar-benar membuatnya bingung.

Tapi aku pura-pura tidak tahu….dan terus memandang kearah tepi jalan melihat pemandangan, yang sudah sama sekali tak menarik perhatianku.

“Lin, kamu sudah agak baikkan belum?….. atau saya antar kedokter dulu,” tanya Ari seakan-akan kwatir dengan keadaanku.

“Ngak apa-apa…aku kurang istirahat aza…nanti juga baik sendiri kok,” kataku sekali-kali melirik perempuan itu yang lagi asyik-asyiknya berbicara dengan papaku melalui ponsel.

Sesampai dirumah kontrakkanku…aku cepat turun, melambaikan tangan seadanya…dan berlari kedalam, tanpa menawarkan kedua orang itu masuk, karena kulihat perempuan itu masih tetap berbincang dengan papaku. Aku sudah tak tahan membendung air mata yang hampir mengenang.

“Lin..Lin..kamu knapa?” kata Ari penasaran.

“Ngak apa-apa…aku hanya harus cepat-cepat rebahan,” kataku memberi alasan.

“O…,” kata Ari bingung, sambil mengaruk-garuk kulit kepalanya .

###

Sampai di tempat tidur…aku menangis sekeras-kerasnya…sakit…sakit sekali…tapi benar kata mama…apa yang bisa aku lakukan…membiarkan adegan itu berlalu didepan mataku, karena nyata-nyata perempuan itu sudah didepanku, berbicara dengan papa dengan manis didepanku, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa…tanpa bisa memberi pelawanan…tanpa bisa membalas kepedihan yang dirasakan mama.

Knapa aku tak mengambil reaksi memarahinya atau setidaknya menamparnya untuk membalas rasa sakit yang dirasakan mama?

Knapa ilmu Tae kwon Do yang kupelajari bertahun-tahun tak bisa kupraktekkan disini?

“Ternyata , AKU juga perempuan lemah”, kataku berteriak sekencang-kencangnya sambil mengepalkan kedua tanganku ke bantal yang menjadi sasaran empukku.

Knapa perempuan itu adalah kakak Ari , kakak laki-laki yang kucintai?

knapa….

knapa….

kataku meremas-remas boneka panda yang akhirnya menjadi sasaranku siang ini, setelah bantal yang bisu tadi.

Dunia, begitu kecil…knapa aku dipertemukan dengan perempuan Itu disini?

Apa yang harus aku ceritakan pada Ari, jika kami bertemu?

Haruskah aku pergi meninggalkan Ari karena luka terlalu dalam, yang dilakukan kakaknya pada keluargaku,…..tapi…. tak egoiskah aku jika Ari mesti menanggung perbuatan kakaknya?

Ataukah aku memaafkan perbuatan kakaknya sebagai balas budiku atas cinta Ari dan pergi untuk selama-lamanya dari Ari,…. dari kota ini dan beruasaha melupakan cinta ari dan kebencianku pada perempuan Itu ?

Ataukah menelpon mama, menceritakan segala yang terjadi dan meminta sarannya apa yang harus aku lakukan?

Ah…aku benar-benar bingung!

Inikah cara Tuhan untuk mendewasakan aku, untuk berpikir dan bertindak dari persoalan yang ada ?

Terlalu ruwet, masalah ini buatku, apalagi tanpa Ari yang biasa mampu memberiku banyak saran dan masukkan.

Ah…akhirnya kepalaku benar-benar pusing…dan kuteguk dua biji obat penenang yang dulunya selalu menemani hari-hariku.

Aku berharap melupakan segalanya untuk sementara , setelah obat penenang bereaksi ditubuhku. Tubuhku terasa lemah dan mataku terasa tak bisa terbuka, dan akhirnya aku pun tertidur pulas.

Taiwan,27 Desember 2008