pic dari www.alegoo.com

By Aling (FIKSI)


Rasa benciku pada Lio…tak bisa hilang dan mungkin juga tak akan pernah berakhir.

Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi alamat kantor yang tertera di kartu nama yag dia berikan Lio padaku beberapa waktu lalu.

Namun, aku juga tak bisa bertemu dan menemukannya. Satpam pun , diam tak mau memberitahukanku di mana Lio? Dan mengatakan padaku bahwa Lio tidak di tempat. Saat aku datang mencari Lio keperusahaan ini .

Aku yakin, satpam pun diperintahkan oleh Lio, untuk tidak melayani pertanyaan-pertanyaanku. Apalagi setelah kudengar perkataan dari satpam yang lebih menyakinkanku atas kecurigaanku ini.

“Sudahlah, Neng! Kita orang biasa, mana mungkin menang dari mereka! Pulanglah! Jangan mempersulit saya juga. Saya butuh pekerjaan ini. Bukannya tak mau membantu, tapi ….,” ujar satpam sambil menarik nafas dalam-dalam dengan nada getir.

Mungkin, bukan aku saja wanita yang mendatangi perusahaan ini, entah sudah berapa banyak wanita yang diperlakukan sama oleh Lio.

Di mana Lio sebenarnya, aku tidak tahu pasti. Apakah ada di dalam perusahaan atau tidak aku tak mungkin bisa menyelidikinya, karena perusahaan ini di jaga ketat dan tidak sembarangan orang bisa masuk kesana.

Akhirnya aku pulang dengan penuh kekesalan.

###

Ah…tiba-tiba aku terpikir olehku ada satu tempat lagi , yang bisa membuatku mengorek info tentang Lio. mmmm…. “Sofia!” ucapku kegirangan setidaknya ada sedikit harapan di sana.

Barusan kutahu dari dari Sofia, bahwa Lio adalah anak direktur Perusahaan Sun Ray. Perusahaan yang tertera di kartu nama itu. Lio juga sekaligus pewaris tunggal semua kekayaan orang tuanya. Karena Lio adalah anak satu-satunya. Tapi Sofia tidak membicarakan sedikit pun tentang keburukan laki-laki itu.

“Apakah Lio juga pernah melakukan hal yang sama pada sahabatku ini?”, tanyaku penasaran dalam hati, apalagi bisa kutangkap ada binar cemburu di mata Sofia.

Bagaimanapun, aku juga tak brani menceritakan apa yang aku alami. Aku berpesan kepadanya, hati-hati dengan Lio, karena aku tak igin dia mengalami hal yang sama sepertiku.

Yang disambut kening mengkerut dan mata mengecil Sofia. Mimik muka yang seakan-akan, meminta kejelasann dari ucapanku tadi. Tapi aku lebih memilih bungkam seribu bahasa tentang hal itu di depan Sofia dan pamit untuk pulang.

###

Dendamku semakin kuat. Semakin menggelora. Dan semakin mendorongku untuk membalas semua kejadian yang pernah aku alami. Tapi apa yang bisa aku lakukan, menyewa pengacara untuk mengajukan tuntutan.

Aku tak punya bukti yang akurat. Atau mengungkapkannya dengan langsung! Siapa yang berani dan mau percaya denganku! Yang hanya seorang mahasiswi biasa, yang orang tuanya hanya rakyat biasa.

Apalagi dengan situasi Lio yang demikian aku yakin, Lio lebih memiliki pengacara-pengacara yang jauh lebih profersional, yang bisa mengubah segala bukti. Akhirnya malah aku yang dibilang penggacau ataupun pembohong.

Orang akan mengira, jangan-janaganku ini semua dalilku karena ,emgingikan harta yang dimiliki keluarga Lio.

Jujur sebelumnya saya tak pernah mengira, Lio adalah anak pengusaha terkenal disini. Saya kira dia hanya, seorang pekerja di perusahaan itu.

Banyak sudah cara yang aku pikirkan untuk membalas semua rasa sakit ini, tapi tak ada satupun cara yang bisa membuatku membalas pedih ini. Apalagi, menyembuhkan luka ini!

Setelah aku pikir-pikir lebih baik aku diam, berusaha untuk melupakan semua dendam yang ada.
###

Setahun sudah peritiwa itu terjadi. Peritiwa yang bagiku tak kalah pahitnya dari film peristiwa gerakan 30 september PKI yang pernah kulihat. Peristiwa yang selalu akan aku ingat sampai aku masuk keliang kuburku.

Tapi satu hal yang membuatku senang, akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku. Embel-embel SE, menempel di belakang namaku.

Syukurlah, masalah berat itu, yang hampir menggocang jiwaku dan hampir mengagalkan kuliahku di tengah jalan, dengan nafas yang tersenggal-sengal akhirnya mampu juga kulalui sehingga garis finish.
Amanah dan impian kedua orang tuaku, telah aku raih.

Papaku selalu mengingatkanku, “Tak ada harta yang bisa kami berikan kepadamu. Sekolah tinggi-tinggi! kami akan mengusahakan untuk membiayai sekolahmu. Tanpa pendidikan nasibmu tak mungkin berubah. Ilmu pengetahuan adalah modal utama dalam kehidupanmu.”

Setelah lulus, aku harus mencari pekerjaan, supaya suatu hari aku bisa menghidupi orang tuaku dengan kehidupan yang cukup baik.

###

Satu persatu surat lamaran kerja aku kirim. Entah sudah berapa ratus kali aku mengirimnya, surat lamaran ke berbagai jenis perusahaan baik yang di kota ini ataupun di kota lain yang kulihat di internet dan koran. Setiap kulihat ada perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja aku dengan segera mengajukan lamaran.

Terlalu sulit pekerjaan di negeri ini kudapat. Sehingga hampir membuat aku putus-asa dan berniat pulang ke kampung halamanku, sambil memikirkan langkah selanjutnya.

Namun suatu hari aku mendapat panggilan lalu sempat interview beberapa kali. Aku diterima dan bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Tour and Travel.

Kerja kurang lebih setahun, akhirnya aku dirumahkan karena krisis ekonomi negeri yang berkepanjangan. Perusahaan ini mengurangi jumlah pegawai namun akhirnya ku dengar dari rekan kerjaku dulum kalau perusahaan ini akhirnya tutup karena pendapatan tak mampu menutupi pengeluaran.

Lelah aku menjalani hidup ini. Jalan kehidupanku mengapa begitu berkelok. Ini kah yang namanya takdir?

###

Penat sudah kaki ini berjalan, sambil-sambil mencari lowongan dan tidak tahu lagi kemanakan sepasang kakiku ini, mesti melangkah ?

Akhirnya kuputuskan untuk pulang ke kost. Sampai depan gang, aku berhenti dan masuk ke warnet.

Siapa tahu ada sahabatku yang lagi online atau ada orang yang bisa kuajak ngobrol lewat YM untuk sedikit berbagi galau ini. Ataupun sekedar mencari apakah ada lowongan yang bisa kudapat dari internet.

Pas aku buka email aku melihat ada seseorang, yang minta di tambahkan jadi teman. Ku add…id Ymnya “mdewi61”

Setelah percakapan berlangsung baru kutahu, ternyata dia seorang wanita Indonesia, yang tinggal di Taiwan.

Kami membahas banyak hal. Menceritakan keadaan dan berita terkini yang lagi top Indonesia dan Taiwan. Tentang bagaimana dia bisa ke Taiwan. Tentang hoby, kesukaan dan lain-lain, sampai akhirnya kami bicara kemasalah pribadi. Pembicaraan berjam-jam, membuat kami makin akrab dan seperti sahabat lama yang tak pernah bertemu.

Kuceritakan keluh kesahkuyang mengalir begitu saja. Aku lupa, kalau kami baru saja berkenalan.

Pembicaraan yang santai membuatku sedikit merasa sedikit plong dan agak lega.

Kami sering kontak melalu YM. Ternyata dunia maya tak seburuk yang kudengar dari orang-orang. Dunia maya mampu mendekatkan bathin walaupun kami sama sekali tak pernah bertemu.

Aku sudah menganggapnya seperti kakaku sendiri. Tak ada satupun kisah hari-hariku yang tak kuceritakan padanya. Banyak kata-kata darinya , yang mampu menguatkanku . Dia adalah sahabat terbaik dari Tuhan buat menguatkanku dalam banyaknya kemelut kehidupanku.

Setahun perkenalan kami, akhirnya aku mengikuti sarannya untuk kerja di Taiwan.

Aku harap mampu untuk melupakan semua dendamku, dan mulai membuka hatiku dengan dunia baru.

Dan benar katanya, “Walau dunia hanya selebar daun kelor…masih banyak harapan dan impian yang bisa aku wujudkan. Asal brani memilih, sebuah pilihan dan brani untuk memulai menjalankannya.”

###

Setahun sudah aku di Taiwan. Hidupku tak sepahit dulu, karena aku menemukan satu keluarga baru, kakak dunia maya dan keluarganya, yang sangat memperhatikanku. Banyak kutemukan kebahagian dan kehangatan bersama mereka. keluarganya yang hangat, mampu memberiku suatu kenyamanan dan kedamaian jiwa.

Di sini aku bekerja di sebuah Pabrik mie instant, atas rekomendasi keluarga kakak mayaku. Aku bisa bergaul dengan baik, dengan semua karyawan disini.

Walau awal kesini tak satupun bahasa sini yang aku pahami, dan kugunakan bahasa isyaratu ntuk berkomunikasi dengan anggota orang sibi.

Niatku yang kuat untuk belajar bahasa mandarin, dan tak malu untuk berbicara dan bertanya , membuahkan hasil. Dalam setahun, bahasa mandarinku sudah mulai fasih.

Selama ini, pemilik pabrik ini yang selalu baik denganku rupanya menaruh hati denganku. Dia seorang duda yang kesepian. Anak-anaknya kerja dan kuliah di Amerika.

Awalnya, saya mengira semua kebaikannya adalah lumrah karena aku adalah karyawannya, dan keluarga kakak mayaku mengenalnya.

Tapi, aku tak mungkin membalas cintanya karena umurnya yang hampir seumur papaku. Ditambah dendamku pada laki-laki laknat itu (Lio) masih terus bernanah, sulit membuatku jatuh hati. Trauma itu selalu membekas.

Benar kata orang-orang kalau , “Menyakiti gampang, yang sulit adalah menyembuhkan luka.”

###

Suatu hari pikiran terjadi pergolakan bathin.

“Inilah kesempatan…dia sudah tua. Hidup tidak lama, setelah dia mati,harta adalah milikmu. Kamu baru bisa membalas dendam pada Lio.” suara itu seakan-akan hendak membiusku.

Tapi aku tak mencintai laki-laki itu. Dia lebih pantas jadi papaku.” balasku tak mau kalah.

“Kamu tak ingin membalas dendam ?
Persetan dengan cinta. Sampai kapanpun hatimu tak mungkin mencintai laki-laki lagi.” tukas suara itu marah.

“Aku kesini ingin hidup tenang, melupakan masa laluku, melupakan sayatan itu.” ungkapku dengan tegas.

“Coba kamu pikirkan lagi! Kamu pikir baik-baik! Tak ada kesempatan untuk kedua kali.” suara itu semakin menggema keras ke seluruh ruangan.

Aku tersentak, “Ya, Tuhan!”

Rupanya aku duduk di depan kaca hanyut dalam pergolakan batin. Sambil mengingat-ngingat percakapan yang hadir dalam ketidaksadaranku.

Apa yang harus aku lakukan?

###

Setelah mendengar nasehat keluarga kakak mayaku, dan kutahu serta kulihat sendiri bagaimana sifat dan peranggai Tuan Lim. Dia adalah orangnya sangat baik, disenangi masyarakat dan orang-orang di sekitarnya.

Akhirnya kuputuskan untuk, menerima cintanya.

Dia laki-laki kesepian yang butuh seseorang yang mau bersamanya. Laki-laki yang butuh dan akan memberiku cinta tulusnya.

Lamarannya, kuterima setelah berembuk dengan keluarga kakak mayaku dan berembuk dengan keluarga di Indonesia via telepon.

Entahlah….aku tak tahu pasti apa alasanku. Apakah karena rasa balas budiku buat keluarga kakak dunia mayaku? Atau karena kebaikan-kebaikan Tuan Lim itu sendiri.

Ah…apapun alasan-alasan itu, saat ini tidak penting lagi. Yang paling penting sekarang adalah aku mesti mempersiapkan hati dan belajar untuk mencintainya, karena aku sudah mengangguk setuju dan menyetujui untuk menikah dengannya.

Setelah mendapat persetujuan dari anak-anaknya, kami menikah dan aku resmi menjadi isteri dari Tuan Lim Bun chong. Seorang duda pemilik pabrik mie instan terkenal di kota ini.

Dia selalu memperlakukan aku dengan sangat baik. Bersama waktu berlalu, ditambah kebaikan, dan perhatiannya, mampu merubah pandangan tentang dia dan meluruhkan kebekuan hatiku. Aku benar-benar telah jatuh cintapadanya. Walaupun kami terpaut dalam usia yang tidak sedikit, rupanya tak menjadi soal.

Kami hidup sangat bahagia.

Dia mengajakku keliling Taiwan, dan beberapa negara yang dulunya pernah sangat aku impikan. Negara-negara itu telah kami kunjungi semua.

Dan dia selalu berkata, “Sebelum terlambat, kita nikmati semua bersama apa yang ingin kita nikmati dan apa yang ingin kita kunjungi. Kapan Tuhan memanggilku, tidak ada yang tahu. karena usiaku tidak muda lagi. Saat aku sudah tiada, kuharap aku sudah mengajakmu ketempat-ketempat yang ingin kamu kunjungi, supaya aku bisa mati dengan tenang nantinya.”

Kuletakkan jari telunjukku di bibirnya, seraya berbisik manja “Aku tak ingin kamu bicara tentang mati di hadapkan. Hidup dan mati biarlah tetap menjadi rahasiaNya, karena aku ingin kita selalu bersama.”

“Oke! oke!” ujarnya seraya merangkulku dengan mesra.

Dia begitu menyayangiku. Kebahagian yang aku rasakan mampu membuatku pelan-pelan melupakan masa lalu yang begitu pahit. Luka itu pelan-pelan mengering.

###

Namun semua kebahagianku hancur, saat suatu malam suamiku terkena serangan jantung di kamar mandi. Cepat-cepat aku telepon ambulans dan membawanya kerumah sakit.

Tapi…ajal telah menyemputnya. Dan membawa rohnya pergi dari raganya dan membawa sebagian hati dan kebahagianku besertanya.

Runtuh sudah pertahananku…

Peristiwa menyakitkan terukir lagi dalam sejarah kehidupanku.

Setelah acara pemakaman selesai dilakukan. Saat semua anggota keluarga berkumpul, notaris datang untuk membaca wasiat yang ditinggalkan suamiku.

Separuh harta adalah milik anak-anaknya. Dan mereka mesti membagi rata. Separuhnya lagi adalah milikku. Semua tertulis jelas di sana, yang mana menjadi bagian dan milikku. Dan semua itu sah menurut UU pembagian warisan yang ditetapkan oleh negara Taiwan.

Walaupun ada anggota keluarga yang tidak terlalu senang menerima wasiat itu. Tapi surat wasiat, tak mungkin diubah oleh siapapun. Semua harus menerima baik senang ataupun tidak.

###

Suatu hari saat aku mencari pakaian aku menemukan surat dalam lemari pakaianku…yang isinya begini dalam tulisan mandarin :

Untuk : orang yang paling kusayangi…

Saat kamu temukan dan baca surat ini, mungkin aku sudah tiada.

Aku mengira kamu, memiliki masalah berat di masa lalumu, tapi aku tak brani untuk menanyakan langsung padamu.

Aku tak tahu dendam apa yang tersimpan di hatimu?

Tapi, ingatlah masa lalu adalah masa lalu. Apapun masalahmu di masa lalu, tak membuatku berubah pandangan tentangmu.

Bagiku, kamu tetap yang paling berharga. Aku bahagia memperisterikanmu. Aku bahagia bersamamu.

Kalau bisa, lupakan semua itu!

Bukalah pelan-pelan hatimu yang di balut dendam. Aku yakin pelan-pelan akan terbuka, kering dan hilang.

Aku tak ingin kamu selalu di bayangi trauma masa lalu. Karena aku ingin kamu bisa menikmati kebahagian yang sesungguhnya.

Dan yang paling aku takutkan, saat aku sudah tiada, anak-anakku akan mempersoalkan tentang warisan dan malah merepotkanmu, maka kubuat wasiat dan kuharap kamu menerima hakmu sesuai surat warisan yang aku tinggalkan. Itu adalah hak yang patut kamu dapatkan.

Jadikan uang itu lebih berarti untuk membuat hatimu lepas dari penderitaan yang selalu terselubung dibalik senyummu .

Pergilah kemana kamu hendak pergi!

Atau, andai menurutmu hanya pembalasan yang mampu membuka hatimu, membuatmu senang, LAKUKANLAH…. dengan strategi yang benar. Kuharap tjangan pernah kotori tangan dan hatimu dengan kejahatan.

Dari atas sana, aku akan selalu membantumu.

Dari:

Laki-laki yang sangat mencintaimu.

Air mataku menentes tak henti-hentinya, membasahi surat ini. Ternyata dia tahu ada dendam di hatiku, walaupun dia tidak tahu bagaiamana sebenarnya masalahku, dan dia juga tak pernah sekalipun berusaha menanyakan padaku.

Cukup peka dia menangkap rahasia itu dari balik mimik wajahku, walaupun aku selalu menyelubungnya baik-baik dengan senyuman.

“Bukan aku tak ingin menceritakan masalahku, padamu. Aku tak sanggup untuk memulai. Aku tak sanggup membuka cerita terpahit itu. Aku tak ingin membuat luka itu menganga kembali, walau sesungguhnya aku ingin sekali jujur padamu.
Apalagi setelah aku tahu, sesungguhnya aku telah benar-benar jatuh cinta padamu.
Aku ingin mengubur dalam-dalam LUKAKU….dan hidup bahagia bersamamu.” ungkapku sambil memegang fotomu yang selalu menemaniku akhir-akhir ini.

Dialah, Laki-laki yang membuat aku mengerti cinta sesungguhnya. Laki-laki yang mampu merubah pikiranku, bahwa tak semua laki-laki jahat,tak semua laki-laki bejat.

Dia, jugalah yang mengajarkanku banyak hal tentang bisnis, tentang adat-istiadat, bagaimana berbuat dan bertidak dalam kehidupan sekarang untuk bekal kehidupan di alam sana menurut agama yang mereka percaya.

Dia adalah orang yang sangat bijaksana dalam menilai, memecahkan dan menyelesaikan setiap peristiwa dalam kehidupan ini. MUNGKIN karena usianya yang cukup matang, dan sudah banyak makan asam garam, sehingga sudah mengalami banyak pengalaman kehidupan.

……semua telah dia rencanakan sebaik-baiknya tanpa setahuku, ataukah…dia tahu umurnya sudah dekat?

Jawaban ini hanya dia yang tahu!

###

Dengan modal yang ada, akhirnya aku memutuskan untuk berbisnis di Indonesia. Setelah aku melakukan riset tentang sebuah perusahan yang sebenarnya memiliki prospek yang cukup baik tapi karena krisis membuat mereka tak mampu untuk menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran.

Hari ini, dalam lelang kubeli perusahaan itu. Sekarang aku memiliki sebuah perusahaan, tapi aku benar-benar harus menguras pikiran dan tenaga untuk memulihkan kesehatan perusahaan ini karena hampir dinyatakan bangkrut.

Dengan kemampuanku dan kerja sama yang baik dari semua karyawan, 5 tahun, aku bisa membuat perusahaan ini tetap berdiri, dan dinyatakan perusahaan yang sehat.

Karyawan-karyawan yang dulunya, hampir putus harapan karena takut tak memiliki pekerjaan sudah bisa tersenyum lega.

Karena ketangguhanku dan keuletanku dalam berbisnis, pelan-pelan aku mulai dikenal dalam catur dunia bisnis, walau aku tak menggunakan indetitasku yang lama, aku mengunakan identitasku yang baru, nama dalam bahasa mandarin.

Satu lagi perusahaan yang selalu aku incar. Perusahaan Sun Ray. Aku selalu memantau perkembangan perusahaan ini. dan dari info yang aku dapat, mereka terjerat hutang. Ini semua disebabkan karena barang-barang mereka yang mereka beli, menggunakan kurs dollar yang akhir-akhir ini melambung tinggi. Perusahaan kebanggan keluarga Lio, yang sudah menjadi incaranku 2 tahun lalu, hari ini jatuh ketanganku melalui lelang.

Dengan indentitas baru, Lio tak akan menyangka, akulah pemilik perusahaan tempat dia bekerja sekarang.

Kukirim surah pemberhetian kontrak kerja denganya. Kuberhentikan dia tanpa alasan.

Pintu ruangan kerjaku di gedor dengan keras. Aku yakin laki-laki bangsat itu akan mencariku, dan akan menanyakan apa alasanku memecatnya tanpa sebab.

Sekretarisku membuka pintu, dan saya menyuruh sekretarisku keluar, karena aku mengatakan kepadanya bahwa aku akan menyelesaikan masalah ini dengan caraku. Aku tak ingin masalah pribadiku, diketahui orang kantor.

“Apa butuh penjagaan di depan ruangan?” tanya sekretarisku cemas dengan keamananku.

“Ngak usah, aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Tolong handel semua telpon dan janji hari ini!” perintahku dengan tegas sehingga membuat mata sekretarisku membelalak mirip mata kodok.

“Tapi….,ta…..ta…ta…pi….ada pertemuan penting sore ini dengan perusahaan di Singapore.” ujarnya tergagap-gagap… benar-benar ragu, dengan apa yang keluar dari mulutku, karena biasanya aku adalah orang yang selalu menepati janji dan waktu.

“TUNDA! Kasih alasan yang masuk akal dan beritahu mereka pertemuan di undur sampai besok pagi!” ucapku dengan tegas.

Akhirnya sekretarisku membuka pintu seraya mengeleng-geleng kepala bingung, dan mempersilahkan tamu itu masuk.

“Apa alasanmu memberhentikanku? ” tanya laki-laki itu dengan marah.

Aku duduk menghadap dinding dan dia tidak tahu siapa aku. Aku diam mendengar ocehannya. Ternyata dia sekarang memang benar-benar butuh pekerjaan ini, karena papanya butuh biaya untuk biaya rumah sakit. Papanya kena stroke sejak tahun lalu dan mamanya hampir gila karena memikirkan perusahaannya yang hampir bangkrut.

“Ternyata dia telah menerima ganjaran dari apa yang telah dia perbuat.”, gumanku.

Lemah terdengar suaranya, memohon supaya aku tak memberhentikannya. Tapi aku tak mungkin lemah. Aku tak mungkin lupa dengan goresan yang pernah dia torehkan di hati dan tubuhku. Biar dia juga tahu apa itu rasa sakit, meskipun dalam hal yang berbeda.

“Tak ada alasan. Aku tidak suka cara kerjamu.” jelasku sambil memutar kursiku dan membalikan muka.

Kulihat keterkejutan di mukannya. Mau lari atau tetap tinggal adalah 2 keputusan tersulitnya.

LARI…..tapi orang tuanya butuh biaya…atau…

TETAP TINGGAL…tapi mampukah dia melihat mukaku…yang memperlihatkan tayangan ulang semua perbuatannya.

Dia minta maaf, kepadaku dan memohon aku supaya tak memberhentikannya.

“Itulah pembayaran yang harus kamu terima atas perbuatanmu padaku!” tukasku marah.

“Rasa sakit yang aku rasa, jauh lebih pedih dari pada apa yang kamu rasa hari ini. Tapi Tuhan sayang sama orang bodoh seperti aku.” jelasku seraya menatap tajam laki-laki laknat itu.

“Aku bisa saja, membunuhmu dengan mudah. Dengan uang yang kumiliki, aku memang bisa melakukan apapun, tapi aku tak ingin mengotori diri. dan yang jelas, aku tidak sebangsat kamu! aku diam sejenak untuk mengatur nafas.

“Atau….menelpon semua perusahaan untuk tidak menerima kamu.” ungkapku dengan emosi yang meluap-luap.

Dia berlutut meminta ampun. Tapi hatiku tak semudah itu untuk luruh.

“Pergilah kamu dari pandanganku! Pergi juga dari perusahaan ini. Dan jangan pernah, kamu perlihatkan batang hidungmu di depanku lagi.” jelasku lagi.

Keluar semua uneg-unegku selama ini. Puas! Aku puas!

Namun Lio, tak juga mau beranjak,dari ruanganku. Akhirnya kutelpon satpam untuk menjeretnya keluar. Dia keluar dengan paksa , tanpa bisa berkata apa-apa. Mirip sekali seperti penjahat yang diseret polisi, dalam berita-berita ditelevisi.

Taiwan,18 Desember 2008