Pic kumabil di sini

Oleh Aling ( Cerpen Fiksi)


Habis mandi, badanku terasa cukup segar. Kurebabkan tubuhku di tempat tidur, sambil mendengarkan …dan sekali-kali ikut menyanyikan lirik lagu yang keluar dari ponselku.

Setelah rebahan beberapa saat, aku baru teringat mesti mengecek email yang dikirim perusaahan untukku hari ini. Kemudian kududuk di atas tempat tidur lalu mulai menghidupkan laptop kesayanganku. Kubuka dan kucek email satu persatu. Aku malah tak konsen dengan email-email itu…tapi pikiranku malah melayang ke kejadian, tadi sore.

“Andre!”, nama yang sempat kulupa.

Ya…hampir 10 tahun kami tak pernah bertemu. Hari ini kulihat dia lagi, di pintu keluar rumah sakit Santo Yosep.

Bagai melihat hantu di siang bolong, aku terkejut melihat sebuah sosok yang mirip sekali dengan Andre…kuusap mata tak percaya, dan tak sadar aku hampir saja menabrak tiang pagar pintu masuk rumah sakit.

Andre dengan tanggap menarik tanganku, saat aku hampir terjatuh sehingga tubuh kami saling berdekapan beberapa saat.

Bagai tersengat magnet …seluruh tubuhku terasa panas dalam dekapannnya, apalagi saat mata kami saling bertatapan, mengingatkanku akan sebuah rasa yang dulu pernah ada.

Kulekas-lekas berdiri, lalu mundur beberapa langkah dan secepatnya menundukkan kepala, mengucapkan terimakasih.

Kurasa aliran darah mengalir cepat, menyalar panas ke pipiku dan aku yakin pipiku sudah memerah menahan rasa malu.

Kami saling bercerita tentang keadaan kami selama 10 tahun perpisahan ini.

Rupanya dia tak pernah melupakanku, dan selalu membiarkan namaku terukir dalam tahta hatinya. Mengobati rindu yang meliuk-liuk di hatinya dengan bekerja keras, mengisi waktu dengan berbagai aktivitas. Sekali-kali pergi ke tempat-tempat favorit kami dulu.

Lain dengan aku. Aku sudah menikah 2 tahun lalu, dan memiliki seorang putri yang sangat kusayangi.

Kami merayakan perjumpaan ini, dengan makan tar dan minum kopi late di sebuah kafe di tepi Pantai Khenting. Setelah itu kami, berjalan-jalan di tepi pantai.

Senja yang indah. Laut yang tanpa batas dengan ombak yang bekejar-kejaran atau bergulung-gulung, selalu membuat hatiku terasa damai. Matahari mulai berwarna jingga, sebentar lagi akan pulang keperaduannya. Sekali-kali terlihat burung camar terbang kian kemari. Seakan-akan senang menyambut kedatangan kami.

Namun, kami lebih banyak diam,….hanyut dalam pikiran masing-masing dan sekali-kali tersenyum saat kedua mata kami tak sengaja saling beradu-pandang.

Masih sangat terasa, kehangatan dan ketenangan dari balik mata teduhnya, sama dengan 10 tahun yang lalu.

Saat dingin mulai menyapa, Andre melepaskan jaketnya, dan dikenakannya padaku.

Kuharap waktu bisa berhenti sejenak… agar bisa kunikmati lebih lama lagi…rasa ini dan damainya laut. Namun alorji tak mau mengerti, dia selalu berdetak tak mau kalah berpacu dengan waktu.

Waktu begitu cepat berlalu, dan kami harus meneruskan pekerjaan kami masing-masing untuk mengunjungi klinik dokter, yang menurut teman-temanku adalah ronda.

#####

Aku dan Andre sama-sama bekerja di salah satu perusahaan farmasi, tapi berbeda perusahaan dan kebetulan ditugaskan di kota yang sama.

Setelah kuceritakan Andre tahu kalau aku sendiri di kota kecil ini, sedangkan suami dan anakku berada di kota lain, karena suamiku bekerja di sana, sedangkan anakku diasuh oleh mertuaku.

Kesendiriankulah yang membuat aku butuh seorang sahabat seperti Andre.

kami sering bertemu, hanya sekedar menyantap makan malam ataupun sekedar berbagi informasi tentang farmasi. Andre kadang lupa, sekali-kali masih seperti dulu selalu memperlakukan aku dengan sangat baik. Sekali-kali dibelainya rambutku.

Ataupun saat tanganku hampir terjepit pintu ruangan rumah sakit, suatu siang, dia cepat-cepat mengambil tanganku, lalu mengelus-ngelus serta meniup-niupnya. Gerakan reflek itu, kadang membuat hatiku selalu teringat kemasa lalu.

Andre lelaki romantis dan sangat dewasa, berbeda sama sekali dengan sifat suamiku.

Tidak tahu apa juga yang menjadi alasan kami berpisah saat itu. Saat itu kami baru duduk dikelas 2 SMA. Setelah tamat, tak pernah kudengar kabarnya, Dia bagai hilang ditelan bumi.

###

3 tahun lalu aku bertemu suamiku. Kami satu kampus tapi beda falkutas. Setahun masa pacaran kami, akhirnya kami memutuskan menikah karena kesalahan telah kami lakukan sehingga di perutku sudah ada jabang bayi.

Demi menjaga nama baikku itulah alasannya kami menikah.

Aku tahu, karena dia anak semata wayang dalam keluarganya, dia memiliki sifat-sifat kekanak-kanakan, egois dan keras kepala. Tapi aku kira, bersama cintaku, anak yang lahir dan waktu yang berlalu akan mampu merubah sifatnya menjadi sosok yang lebih dewasa.

Tapi setelah 2 tahun kami hidup bersama, mengarungi mahligai rumah tangga. Dia tak pernah berubah sedikit pun. Kebiasaan kumpul-kumpul dengan teman-temannya, menghabiskan waktu saat pulang kerja ataupun saat hari libur tak pernah dia kurangngi.

Jarang sekali dia mau mengajak saya dan anakku jalan-jalan seperti keluarga orang lain.

Semua kutahan, walau rasa kesal selalu hinggap di hatiku. Inilah sisinya yang paling membuatku jengkel. Tapi, akukucoba ubtuk bersabar dan terus menegurnya, memberinya waktu untuk berubah dan berharap dia mau mengerti dan bisa sedikit berubah. Tapi seberapa banyak kesempatan yang aku berikan sebanyak itu juga, dia menyia-nyiakannya.

Pertengkaran sering terjadi antara kami, karena masalah kecil ataupun hal–hal sepele . Dan satu lagi hal yang paling aku tidak bisa terima, seandainya dia yang salah, dia pun tak pernah mau mengakuinya apalagi meminta maaf. Aku yang selalu, mesti mengalah dan memulai pembicaraan, dia baru senang.

###

Yang kusedihkan adalah anakku. Sebelia itu, dia tidak merasakan kebahagian seperti anak-anak lain. Orang tuanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sibuk dengan pertengkaran mereka.

Malah ..pernah timbul ide dikepalaku, “BERCERAI!”

Tapi jika aku teringat mimik anakku , “SUNGGUH!”, aku tidak tega, aku juga tidak ingin dia dibesarkan dalam keuarga yang timpang. Aku juga takut seandainya bercerai, mertuaku akan menjauhkannya dari sisiku. Ketakutan-ketakutan yang selalu menghatuiku.

#####

krisis yang melanda membuat aku juga harus ambil bagian bekerja untuk mencukupi kebutuhan rumah tanggaku. Sampailah akhirnya aku ditugaskan perusahaan 3 bulan, ke kota kecil ini. Tak ada pilihan, aku harus berpisah dengan anakku.

Satu minggu sekali aku pulang untuk menjeguknya, mengajaknya jalan-jalan, dan bersamanya.

Dialah cahaya dan penghangatan bagiku.

Ingin rasanya memboyongnya kesini, tapi aku juga takut dia malah terlantar bersamaku. karena untuk mengaji pengasuh untuk menjaganya , untuk saat ini, aku belum mampu.

Tanpa sengaja, sekali-kali kekesalanku kuceritakan pada Andre. Saat ini, Andrelah…. sahabat terbaik yang mau mendengar keluh kesah rumah tangga dan pekerjaanku dan memberiku banyak solusi untuk mengatasinya.

Walau kutahu Andre masih menyimpan rasa yang sama seperti 10 tahun yang lalu. Tapi rasa yang kurasa ke dia hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Aku sering menjelaskan hal ini ke Andre, karena aku tak ingin memberinya harapan yang tak mungkin.

Tak adil memang buat Andre, tapi hanya ini yang bisa kulakukan, karena aku tak mungkin menghianati suamiku dan keluargaku. Untuk saat ini, aku juga tak ingin kehilangan sahabat sebaik Andre.

“Pilihan apakah yang harus aku pilih?”

“Seandainya aku bercerai…bagaimana aku menghadapi orang-orang di sekitarku?”

“Bagaimana aku menatap mata kedua orang tuaku?” karena sebenarnya, pernikahanku ini, dulunya juga dilarang mereka.

“Bagaimana dengan nasib anakku?”

“Ataukah aku terus memberi kesempatan pada suamiku, karena ini adalah resiko dari segala pilihanku?”

Semua pertanyaan yang tak terjawab semakin memenuhi kepalaku. Mengobok-obok pikiranku. Suara gongongan ajing di luar sana, membuatku terkejut dan membuyarkan lamunanku.

Kututup laptop. Dan aku mesti berusaha melupakan semua masalah dan berusaha memejamkan mata, berharap setelah bangun, akan kudapati jawaban seperti matahari yang selalu memberiku semangat, memberiku harapan melalui sapaannya, di sela-sela gorden kamarku, setiap pagi.

pic saya ambil dari (sini)
Taiwan,10 Desember 2008