Api CintaΒ 

By aling


Kukepalkan tanganku erat-erat untuk menahan, sesak yang menyelimuti rogga dadaku.

Namun, aku tak mampu menahan, air bening yang perlahan-lahan mengalir deras di kedua belah pipiku.

Sakit!
Perih! Mungkin juga sudah berdarah ataupun menanah, hatiku ini.

Hanya menangislah yang bisa kulakukan dan satu-satunya caraku untuk melepaskan sedikit sesak di dada, disaat begini.

“Ma, benar katamu, laki-laki yang kupilih adalah laki-laki yang tak bisa membahagiakanku.” rintihku lirih sambil memejamkan mata, berharap mamaku di atas sana bisa tahu segala penyesalanku.

Andai mamaku masih ada, aku bisa berbagi cerita denganya, atau minta sarannya, atau aku bisa menangis di pangkuanya, mendengar kata-kata penguatannya, penghiburannya, tapi sejak tahun lalu semua kepedihan, hanya bisa kusimpan dalam hati, kuselesaikan sendiri, sehingga sampai saat ini hampir membludak, hampir meletus, sudah seperti gunung merapi yang sudah siap-siap mengeluarkan laharnya, tapi aku masih saja tak tahu bagimana menghadapi masalah ini.

Coba dulu aku dengar perkataan mamaku, aku tak akan sesakit ini.
Aku berusaha untuk menerima semua kekuranganmu, karena aku berharap kamu pelan-pelan bisa berubah.Tapi kamu bukan malah baik tapi malah semakin menyakitiku, baik dengan kata-kata kasar dan pedas yang selalu kamu lontarkan seenakmu, ataupun penghinaan-penghinaan yang tajam bagai ujung pisau ataupun perkataanmu yang membuat aku cemburu dan sakit hati, karena selalu membanding-bandingkan aku dengan wanita lain yang menurutmu jauh lebih muda dan jauh lebih cantik dariku.

Semua penderitaan, cacian, makian dan penghinaanmu kutahan, tanpa pernah aku jawab sepatahpun. Aku selalu berusaha mengelak dari pertengkaran yang selalu kamu inginkan.

Aku berusaha tegar menghadapi dirimu, demi setitik cintaku yang belum padam untukmu, karena aku masih berharap suatu hari kamu sadar. Dan demi anak kita Rian. Tapi sampai kapankah aku mampu bertahan?

Tanpa aku sadari, rasa sesak itu makin memenuhi rongga dadaku, kubawa duduk di lantai, lalu kulekukkan dan kurapatkan kakiku ketubuhku dengan kedua tangan melingkar erat-erat di kakiku, kutompangkan daguku dil ututku, kupejamkan mata, kuharap keadaanku bisa lebih baik, tapi saat aku berusaha membuka mata kulihat di sekelilingku pemandangan sudah gelap semua.

Aku baru terbangun, saat kudengar anaku memanggil-memangilku. Kubuka mata pelan-pelan, ternyata aku tak sadarkan diri entah berapa lama, di ruang dapur dekat pintu belakang rumahku.

“Rian!” seruku, memanggilnya dengan lemah.

Rian, adalah anak satu-satu yang kumiliki. Dialah cinta, semangat dan kekuatan hidupku. Aku harus kuat dan tegar demi dia.

“Ma. Mama knapa tidur disini?”tanya anakku yang baru berumur 7 tahun ini, sambil memegang tubuh dan tanganku, membantuku untuk duduk.

Kupeluk dan kudekap, Rian erat-erat.

Mama menangis lagi ya?

Mama ingat papa ya?

atau….kulihat dia tiba-tiba diam sambil menunduk… “Rian membuat mama sedih karena Rian nakal ?” tanyanya bertumbi-tumbi sambil mengusap sisa air mata yang hampir mengering di kedua pipiku.

Aku tak mampu untuk memberi jawaban dari pertanyaan-pertanyannya, aku hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepala. Lalu kuulurkan tanganku, kubawa dia ke dadaku, kudekap Rian lebih erat lagi, supaya aku lebih kuat, dan air mataku tak jatuh lagi di hadapnya.

Rian tidak boleh tahu kesedihanku. Aku juga tak pernah menceritakan keburukan laki-laki bangsat itu, di depan anak semata wayangku ini, karena aku tak ingin hatinya yang putih dan bersih di selubung kebencian. Aku juga tak ingin, sifat buruk papanya, membuatnya membenci laki-laki itu, karena bagaimanapun, darah laki-laki itu mengalir di tubuhnya. Laki-laki yang setengah tahun lalu memilih meninggalkan aku dan Rian bersama wanita lain.

Rian tidak tahu cerita sebenarnya, yang Rian tahu, papanya pergi kerja keluar negeri dan akan lama baru kembali. Kubungkus rapat-rapat, rahasia ini. Biarlah hanya aku sendiri yang tahu penderitaan ini, sampai Rian cukup dewasa untuk memahaminya baru akan aku ceritakan yang sebenarnya.

***

Beberapa hari ini, laki-laki bangsat itu selalu datang menggangguku minta uang dan mengancamku akan mengambil Rian, satu-satunya harta berhargaku, matahariku dan kekuatanku.

Tapi aku juga tak mungkin setiap hari memberinya uang untuk minum-minum dan berjudi, karena aku hanya memiliki penghasilan, dari warung kecil klontong. Warung kecil itu pun hasil tabunganku sebagai pencuci baju keliling disekitar ini. Selain sebagai penyambung hidup, separuhnya lagi selalu kusisihkan sedikit demi sedikit untuk kutabung buat sekolah Rian kelak.

Pikiranku benar-benar sudah buntu, dan tidak tahu mesti bagaimana mengatasi masalahku ini?

Pergi meningalkan kota ini, kesuatu tempat yang baru, di mana laki-laki bangsat itu tak tahu keberadaan kami. Tapi aku tak pernah keluar dari kotaku ini, dan tak tahu bagaimana kehidupan di luar sana.

Pilihan ini sulit untuk aku lakukan atau… haruskah aku terus menerus diperasnya?

Akhirnya, aku berlutut, memejamkan mata, melakukan percakapan dengan Tuhan melalui doa. Air mataku…menetes dan terus menetes…mengalir begitu deras bagai hujan yang sering datang diakhir-akhir ini. Semua kepedihan sepertinya tertumpah dalam doaku malam ini.

Sedikit lega yang kurasakan…dan pelan-pelan, mulai kurasakan ketenangan yang di kirim Tuhan, memenuhi rongga-rongga dan mulai menyelimuti hatiku.

***

TOK….TOK….TOK…. pintu depan rumahku digedor dengan kasar. Aku berlari keluar, dalam hati, aku mengira pasti laki-laki bangsat itu.

Aku merasa kedua kakiku bergemetaran, hatiku berdegup kencang ketakutan, dan aku berjalan kian kemari kebingungan.

Walau beberapa hari yang lalu, aku sudah melapor kepada Pak RT untuk memberiku pengamanan, kalau-kalau melihat laki-laki bangsat itu menuju rumahku. Pak RT bisa menghubungi polisi lewat telepon rumahnya. Tapi rasa was-was tetap menghantuiku, karena aku takut Pak RT tidak melihat kedatangan laki-laki bangsat ini, apalagi dari celah balik pintu aku lihat sekilas dia dalam keadaan mabuk dan mulai kudengar suara ocehan yang tidak menentu .

Dari celah dinding rumahku yang hampir rusak, sekilas dari kejauhan tampak olehku, dua orang polisi bersama Pak RT berjalan menuju rumahku. Aku merasa sedikit lega, setidaknya degup jantungku tak secepat tadi, walaupun belum hilang semua ketakutanku, setidaknya jiwaku merasa sedikit aman, saat terjadi yang tidak diduga.

Saat Polisi datang, aku baru membukakan pintu. Kulihat polisi membawanya pergi…tapi laki-laki bangsat itu membrontak dan terus memberontak dengan kuatnya dan terus-menerus mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh yang di arahkannya padaku.

***

Akhirnya kuputuskan untuk pergi dari desa ini, setidaknya diluar sana, masih ada setitik harapan buat aku dan Rian. Dan tidak ada perasaaan takut setiap saat kalau-kalau laki bangsat ini mencari kami.

Kukemas barang-barang seadanya. Aku dan Rian akhir perlahan-lahan melangkah meninggalkan desa kelahiranku ini dan berjalan dan terus berjalan sampai aku temukan jalan raya. Akhirnya kami naik angkot, pergi kesebuah kota yang sekilas pernah ibuku ceritakan saat aku masih remaja, katanya disana masih ada saudaranya.Aku hanya berharap Tuhan memudahkan kami.

Sampai di kota Mekar, kami turun dan berjalan serta bertanya-tanya dengan orang yang lalu lalang apakah mengenal nama seseorang yang kusebut. Semua menggelengkan kepala,ataukah ingatanku tentang nama itu salah. Karena berjalan terlalu jauh, kami sangat lelah dan kulihat Rian sudah hampir tak kuat berjalan, akhirnya aku membeli makanan dan mengajaknya berteduh di depan sebuah gereja tua, yang tampak tak berpenghuni.

Tiba-tiba, dari dalam gereja keluar seorang pastor kira-kira berumur 60 tahun dengan jubah putih. Lalu menawarkan kami untuk beristiarhat di dalam.

Kuikuti langkahnya. Setelah agak tenang kuceritakan semua tentang kepahitan hidup yang kualami. Banyak nasehat yang diberikannya. Kata-kata yang diucapkan pastor ini, benar-benar mampu membuat hatiku damai. Dapat kurasakan, hatiku sudah jauh lebih baik.

Pastor itu, juga menawarkanku untuk menjadi orang yang membersihkan, merawat gereja dan memberikan kami sebuah kamar untuk tinggal disana. Tanpa malu-malu aku anggukan kepala, karena di daerah ini aku juga tak kenal siapapun. Mungkin inilah jalan yang Tuhan tunjukan padaku.

“Tuhan, dalam tak keberdayaanku engkau kirim bantuan, terimakasih Tuhan. Terus bantu aku, tunjukan jalan yang terbaik menurutmu.” ucapku sambil berlutut di depan altar dalam gereja.

***

Setahun sudah aku menetap disini. Banyak firman Tuhan yang aku dapatkan. Setiap hari aku selalu meluangkan waktu untuk berdoa dan bernyanyi di dalam gereja. Pelan-pelan kecerian dan kebahagian menyelubung hatiku, dan terlihat di wajahku. Tanpa kusadari kecerian dan kebahgian membuat aku nampak lebih muda dan cantik daripada saat aku selalu hanyut dalam tangis kepedihan.

Selama ini ada seorang laki-laki umat gereja yang setiap hari selalu meluangkan waktunya, sehabis bekerja, singgah kegereja ini untuk berdoa, selalu memperhatikanku.

Tapi aku ngak pernah menyadarinya. Walaupun setiap hari kami bertemu, tapi kami tak pernah bicara, hanya saling menganggukan kepala dan saling menebarkan senyum. Hari ini, entah angin apa yang membuatnya menyapaku. Kami saling berkenalan dan cerita mengalir bagai air keluar dari mulut kami. Kami bercerita tentang kehidupan kami masing-masing. Kami bagai dua sahabat lama yang sudah lama tak bertemu.

Dari kebersamaan kami selama ini , aku mneilai , dia laki-laki dewasa, bersahaja dan penuh perhatian.

Dan menurut cerita darinya, baru aku tahu dia sekarang adalah seorang duda, istrinya meninggal karena kecelakaan beberapa tahun lalu, dan satu lagi yang di ceritalannya, mereka adalah pasangan yang tak pernah saling mencinta, karena perkawinan mereka adalah perjodohan dan kehendak orang tua mereka, sesuai adat yang berlaku di kampungnya. Dia tak memiliki seorang anak, sehingga dia sangat menyayanggi Rian, seperti anak kandungnya sendiri.

kami sama-sama orang yang pernah terluka, pernah kecewa dalam kehidupan, hanya dalam situasi yang berbeda, namun dia nampak jauh lebih dewasa dan tegar dibandingkan aku.

Pertemuan kami ini, menurut yang kurasakan adalah perjodohan dari Tuhan, supaya kami saling menguatkan.

kami isi hari-hari dengan Kebersaman yang pelan-pelan menumbuhkan rasa saling membutuhkan, saling peduli sehingga tanpa kami sadari rasa cinta mulai tumbuh di ladang hati kami.

Rasa cinta yang berbeda dari rasa cintaku sebelumnya. Tak bergejolak penuh ambisi seperti dulu, tapi bagai sinar mentari di pagi hari , pelan-pelan muncul, tapi mampu menghangatkan jiwaku yang sudah hampir beku.

Akhirnya dia melamarku di depan Pastor Rudolf, dan kami menikah dan mengikat janji sehidup semati di gereja tua ini. Dia memboyong aku dan Rian kerumahnya di tengah kota.

Setelah menikah, kami pun selalu mengunjungi gereja tua ini, sekedar menjeguk pastor Rudolf yang baik hati, bercakap-cakap dengan Tuhan melalui doa, membersihkan gereja dan membawa beberapa rangkum bunga anggrek untuk di pajang di altar Tuhan.

Tuhan mempertemukan kami dirumahNya. Dalam penderitaan hidupku, yang begitu menyakitkan. Tuhan selalu besertaku, memberikanku kekuatan, meneguhkan hatiku melalui firman-firmanNya dari kotbah-kothab yang dikirimnya melalui Pastor Rudolf.

Sekarang cara aku memandang segala kejadian dan kehidupan sudah jauh berbeda dari dulu. Kedamaian dan kebahagian selalu bergema, berkumandang dalam hati dan jiwaku .Aku lebih bisa menerima segalanya dengan segala rasa syukur dan selalu kuat dan tegar dalam menghadapi segala cobaan.

Aku merasa hidupku sangat bahagia, karena dapat membantu memberikan pelayanan di rumaNya. Hidupku berguna bagi sesama.

Kebahagianku bertambah saat aku di anugerahkan oleh Tuhan seorang putri yang cantik, Rini. Sekarang aku memiliki, sepasang buah hati yang sangat aku sayangi.

Di tambah satu lagi, Mujizat terindahNya untukku. Cinta yang dikirimNya melalui Prasetyo, suamiku sekarang.

Taiwan, 29 November 2008