Oleh Aling


Termenung aku di sini, di depan komputerku yang biasanya selalu mebuatku semangat untuk menulis ataupun sekedar berbicara dengan sahabat-sahabatku, lewat dunia maya.

Hari ini semangatku hilang entah kemana, aku begitu malas untuk memainkan jari-jariku di atas keyboard, dan mencoba bercumbu dengan lamunan sehingga banyak pertanyaan muncul dari lubuk hatiku yang terluka.

“Mengapa dunia begitu kejam?”

“Cinta begitu menyakitkan?”

“Knapa penghinaan dan kesedihan selalu kualami?”

“Apa salahku?”

“Inikah nasib dan takdir hidupku?”

Tak satu pertanyaan mampu kutemukan jawabannya. Sampai kapankah aku harus tegar, harus tabah dengan setiap penghinaan, dengan setiap ketidakadilan.

Perkataan mama Rio, tergiang lagi ditelingaku, percakapanmu dan ibumu keluar dari dalam kamarmu, saat aku menunggumu diruang tamu, “Apa?” sergah mamanya. Kudengar kalimat yang begitu nyaring seperti terkejut.

“Kamu mencintai perempuan itu. Dia bukan orang Chiness…bukan keturunan Tionghua…apa yang harus aku katakan pada keluarga dan rekan bisnis kita. Aku tak akan setuju …titik, sampai aku mati.”

Naif mungkin buat orang-orang, sampai saat ini, suku, tradisi dan status masih jadi alasan, penyebab cinta, alasan dua insan tak boleh bersatu.

Tapi kata-kata itu keluar dari mulut ibumu, yang kudengar langsung. Ingin rasanya, aku berlari keluar seolah-olah tak pernah mendengar semua percakapan itu.

Tiba-tiba, kudengar suara nyaring pintu kamarmu tertutup …plang…,dan kamu turun setengah berlari dari lantai dua, dengan muka marah tanpa bicara menghampiriku lalu meraih tanganku dengan kasar lalu menarikku keluar.

***

Toyota Vios kau larikan begitu kencang di jalan raya. Seluruh emosimu seperti tertumpah di sana. Aku hanya bisa diam, karena aku sendiri belum bisa menstabilkan diri.

Saat kita sampai di tepi pantai ini, kulihat engkau langsung berlari ke tepi pantai, dan kau tumpahkan kemarahanmu pada air laut yang tak mengerti ulah dan kemarahanmu. Kamu berteriak sekuat-kuatnya berharap samudera luas mendengarkanmu.

Sedangkan aku hanya mampu memandang tingkahmu dari tempatku duduk lemas tak bertenaga, di sebuah batang pohon kelapa yang telah mati. Hilang seluruh semangatku yang biasanya berkobar-kobar.

Kulepaskan pandanganku kelautan lepas…berharap kutemukan jawaban dari ombak-ombak yang berkejar-kejaran dari banyak pertanyaan yang terlintas di kepalaku.

“Apa yang harus aku perbuat?”

“Apa salahku?”

“Apakah,aku bisa memilih dimana aku dilahirkan?”

“Darah dan suku apa yang mengalir di setiap nadiku?”

“Orang tua dan lingkungan yang bagaimana?”

Bukankah, semua sudah diatur olehNya. Tapi, inilah nasibku. Inilah garis kehidupanku.

***

“Rio, aku tahu, engkau dalam kesulitan, memilih aku atau ibumu, tapi dengan kemarahan, lari dari kenyataan tak menyelesaikan masalah, malah aku akan dituduh penyebabmu begini, selemah itukah mentalmu,” ungkapku setelah kulihat kamu agak tenang.

Tak kusangka, laki-laki yang begitu aku banggakan di depan semua teman-temanku karena kehebatannya mengatasi semua masalah perusahaan, persoalan-persoalan kehidupan. Tapi saat ini, bisa begitu emosi, tak punya kendali dan tak punya daya untuk mengatasi kejadian ini.

Kejam…sangat kejam…dunia dan orang-orang itu, begitu kejam.

***

Setelah berbulan-bulan, tak ada penyelesaian dari persoalan ini, dan kulihat Rio, juga tak bisa memberiku kepastian, akhirnya kuputuskan untuk pergi, melangkah kesebuah negeri, yang aku sendiri tidak tahu apa yang bisa kudapat disana.

BRUNAI DARUSALAM…negeri di Asia yang terkaya. Negeri yang menurut teman-temanku, sangat menggiurkan untuk mendulang dollar Brunai di sana. Negeri yang menurut teman-temanku, banyak pekerja dari luar negeri yang berbondong-bondong merantau ke sana, dan negeri yang menurut teman-temanku, dengan mudah mencari pasangan di sana.

“Tapi aku sendiri tak kenal baik, ada apa dan bagaimana dengan negeri ini ?”

Tapi, aku juga tidak boleh tetap tinggal di sini. Aku harus pergi jauh-jauh supaya hatiku yang terluka dan berdarah bisa pelan-pelan sembuh. Kejadian-kejadian yang menyakitkan, bisa aku lupakan. Terutama melupakan, tatapan sinis dari wanita yang melahirkan dan sangat mencintaimu. Namun dia juga wanita yang tak mampu membuatmu berkutik.

“Aku juga tak ingin membuatmu, dalam pilihan sulit?”

“Ini bukan Pilihan buatku!”

Dapat kurasakan, bagaimanapun dan apapun yang kulakukan ?
Aku tak mungkin diberikan kesempatan. Aku juga tak mungkin mengemis mengharapkan kesempatan itu. Aku harus pergi! Aku harus melupakanmu. Cinta ini mesti berlalu.

***

“Lini, kamu benar-benar, mau meninggalkanku,” tanyamu cemas.

Di luar sana rintik hujan perlahan-lahan jatuh membasahi bumi, tapi sekarang bukan tubuhku yang basah, tapi hatiku.

Sedih melihat, cinta terpancar dari kedua bola matamu, tapi hatimu terjepit di antara cinta dan ibumu.

Aku tak ingin membuat mata beningmu, yang sangat aku kagumi selalu muram, tak ada sinar kecerian, dalam kembimbangan dan dalam ketidakberdayaan.

Aku pergi supaya kamu bisa pelan-pelan melupakanku, bersama waktu berlalu, pelan-pelan membuatmu mengerti, bahwa cinta tak meski memiliki.

“Iya…semua persyaratan sudah selesai, besok aku harus berangkat.” jelasku setegar mungkin.

“Lini, beri aku kesempatan…untuk menjelaskannya lagi pada ibuku.” katamu memelas berharap aku tinggal.

“Kesempatan!” ujarku tersenyun getir.

“Sudah berapa lama dan berapa banyak kesempatan itu …tapi nyatanya tak menghasilkan apa-apa, dan ibumu selalu punya cara untuk menyakitiku baik sepengetahuan ataupun tanpa sepengetahuanmu. Aku sudah tak sanggup bertahan apalagi tak punya daya untuk melawan ulahnya, Rio.” jelasku sambil menarik nafas dalam-dalam.

“Lini, maafkan aku…maafkan ibuku, aku juga tak mungkin menyakitinya…tapi aku benar-benar mencintaimu.” ucap Rio sambil menghidupkan api rokok dan menghembuskan asapnya keudara, seraya menarik nafas seakan-akan benci dengan keadaan ini.

“Rio, ini nasibku. Aku tak menyalahkan siapa-siapa. Cinta bukan hanya bersatunya dua hati namun 2 keluarga.” ujarku pelan.

“Aku harus tetap kuat, tetap berjalan menyonsong hari-hari akan datang. Biarkanlah aku pergi, supaya duri antara kamu dan ibumu, tak semakin dalam menusik dan menyakiti.

Rasa cintamu yang begitu dalam untukku, sudah membuat aku senang, dan kenangan-kenangan ini akan selalu terpatri di lubuk hatiku.

Lupakan aku,! Cari penggantiku! Cari orang yang ibumu setuju!” jelasku panjang lebar.

Saat kata-kata itu terucap dari mulutku, hatiku sesungguhnya menangis. Tapi aku harus kuat untuk menahan supaya bulir-bulir itu tak menetes. Aku harus membendungnya dan menyembunyikan semua kepedihan di sini, dalam hatiku.

“Rio, selamanya kita adalah sahabat.”

“kita ditemukan tetap untuk saling peduli tapi tak untuk bersatu.” gumanku tersenyum getir.

Kamu hanya diam. Aku tak tahu apa yang ada dalam hatimu? Apa yang kamu pikirkan? Sampai akhirnya kamu berpamintan pulang.

“Lini, besok aku antar kamu kebandara ya?” pintamu pelan.

“Rio, aku naik taksi aza!” tolakku halus.

Karena aku takut lambaianmu akan memberatkan langkahku dan mungkin, mampu menggoyahkan niatku.

Kulihat anggukan yang begitu lemas darimu.

Aku hampir tak kuat melihatnya. Ingin rasanya kuberlari kerahamu. Kupeluk kamu erat-erat, kurasakan kehangatan dari tubuhmu dan kunikmati hawa nafas serta kudengarkan detak jantungmu.

Tapi… kuhentikan langkahku.

Aku tak boleh egois, aku tak boleh larut dalam suasana, karena aku tak ingin menjadikanmu, anak durhaka.

“Rio,…sudah pulanglah!

Aku tak apa-apa. Jaga dirimu baik-baik, dan kuharap suatu hari saat aku kembali, tak kulihat lagi mendung di matamu, dan kuharap kamu segera mendapatkan pendamping, yang ibumu restui.oke!” ujarku sambil menggepalkan tinju ke dadamu, memberimu semangat.

Tak ada jawaban darimu. kamu lebih banyak diam. Tak sepatah kata pun suara keluar dari mulutmu.

Aku tahu apa yang kamu rasa. Hatimu pedih, sama dengan hatiku. Namun kita juga tak punya jalan lain, inilah satu-satunya jalan walaupun kutahu bukan penyelesaian terbaik buat kita.

“Telepon aku, setelah kamu sampai di rumah ya!” pintaku, karena aku ingin yakin, kamu baik-baik sampai rumah.

Sosokmu pelan-pelan menghilang. Jauh…semakin jauh…hampir tak terlihat…tapi aku masih tetap berdiri di depan rumahku…sampai bayanganmu tak kelihatan sama sekali.

***

Sesampai di kamar, tak kuat aku menahan semua rasa. Semua kutumpahkan dalam isak tanggisanku malam ini. Tadi semua kutahan, karena aku tak ingin kamu tahu …aku juga tak menghendaki perpisahan ini. karena aku juga benar-benar mencintaimu.

Ketegaranku, kekuatanku kuperlihatkan, supaya kamu juga tegar dan kuat. Aku berharap kamu juga bisa pelan-pelan melupakanku, walaupun aku tak akan mudah untuk melupakanmu. Kebahagiaanmu selalu kuharapkan, walaupun kamu tak bersama denganku.

Kusetel lagu Teresa Teng ” Goodbye My Love ” menemani malam ini. Kupeluk erat-erat, boneka Snoopy pemberianmu. Pelan-pelan kuhapus air mata yang mengalir dari tadi.

“Aku harus kuat, aku tak boleh diremehkan orang lagi. Siapapun dia ? Aku harus sukses!” janjiku dalam hati.

Kucek barang-barang yang ingin kubawa, setelah semuanya beres, aku siap-siap untuk tidur.

Tak lupa aku berdoa kepada yang Maha Kuasa untuk selalu dimudah dan dikuatkan. Semoga Negeri Brunai mampu mengubahku menjadi sosok yang berbeda.Orang yang lebih kuat dan tegar dalam menghadapi kehidupan.

Kepergianku, memang membawa kepedihan, namun di sana aku akan berusaha untuk menata hati, sikap dan mencari pengalaman.

Semoga benar seperti salah satu lagu mandarin, hari esok akan lebih baik lagi.