By Aling


Krisis ekonomi yang berkepanjangan, membuat bisnis yang dijalankan oleh Rinto semakin hari semakin terpuruk. Keuntungan yang didapati, tak mampu untuk menutupi pengeluaran dan anggaran perusahaan.

Rinto juga hampir tidak tahan menghadapi, penagih-penagih utang yang hampir setiap hari, datang silih berganti keperusahaannya.

Belum lagi tatapan sinis, kerabat, teman dan mertuanya. Kerisauan hati yang hampir membludak membuatnya despresi berat. Hidup ini terlalu berat buatnya.

Dia terus dan terus berjalan dan akhirnya duduk di atas jembatan, sambil mengoceh tak karuan ditemani jangkrik-jakrik yang bernyanyi riang tak mengindahkan galau yang Rinto rasa. Cium mesra nyamuk-nyamuk nakal, membuatnya tak henti mengibas-ngibaskan tangan. Sekali-kali ada juga nyamuk yang tak sempat lari dan mati penasaran oleh satu tepukan sadisnya.

Ditariknya nafas dalam, dihembuskannya asap rokok kuat-kuat.

Akhir-akhir ini, hanya tempat ini yang sering dia kunjungi. Setidaknya hanya di sinilah dia bisa lari dari penagih-penagih utang dan tatapan sini orang kepadanya. Atau tak perlu dia mendengar kalimat-kalimat pedas dari orang-orang yang sudah tak mampu telinganya tampung.

“Ya,Tuhan…..apa yang harus aku lakukan?” ujarnya seraya meremas keningnya

Tiba-tiba terlihat cahaya dari kejauhan. Sebuah mobil BMW berwarna hitam, pelan-pelan mendekati jembatan di mana dia duduk.

Entah setan apa yang meracuninya, sehingga perbuatan ini sudah terlintas dalam pikiranya beberapa hari yang lalu namun saat itu dia tak membawa apapun.

Dia segera mengenakan sarung tangan yang telah dia persiapkan lalu merentangkan kedua tangannya, berdiri di tengah jalan jembatan itu, meminta pengemudi itu berhenti. Akhirnya mobil itu berjalan perlahan-lahan.

Mobil itu berhenti, lalu supir membuka kaca mobil seraya berkata,”Ada apa , Bung?”.

Rinto yang dalam kebingungan tiba-tiba menarik baju pengemudi, sambil menyulurkan pisau yang sudah disiapkannya dan mengancam supir itu untuk turun.

“Nyawa atau harta?” tanya Rinto memberi pertanyaan seperti di film-film yang ditontonnya.

“Jangan bunuh saya, Pak!” ujar pengemudi itu kelabakan.

“Cepat, serahkan tasmu itu, kalau tidak pisau ini akan mengantarkanmu ke neraka.” perintah Rinto seraya menarik kerah baju pengemudi itu. Setan benar-benar sudah menyatu dengannya.

“Tapi…”

“Tidak ada tapi…tapi.” Rinto tambah emosi.

Dengan terpaksa diserahkannya uang majikannya yang seharusnya dia serahkan kepada seseorang.

Setelah uang diserahkan, Rinto bukan melepaskan orang itu, namun menusukkan pisau ke tubuh orang itu.

Darah keluaran bercucuran. Ada yang muncret ke wajah dan juga ada langsung menempel di pakaian Rinto.

Selang beberapa waktu, supir mati dengan mata melotot.

Karena kebinggungan dan takut dilihat orang yang mungkin saja lewat, walaupun semalam ini agak jarang orang yang lewat di tempat ini, cepat-cepat dimasukannya supir itu kedalam mobil, di dudukinya sopir itu.

Kemudian dihidupkannya mobil, dan digasnya. Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi seolah-olah terjadi kecelakaan. Supir dan mobil masuk kedalam sungai yang di bawahnya nampak batu-batu, karena sekarang lagi musim kemarau.

Dilihatnya kiri kanan. Tak ada saksi mata dan tak ada kendaraan yang lewat. Dibawanya uang dalam koper yang dirampasnya tadi.

Cepat-cepat dia berlari kebawah sungai, dicucinya darah supir yang terciprat di tangan dan bajunya. Sialnya, darah di bajunya tak semuanya hilang. Makin di cuci makin melebar warna merah darah itu.

Lalau dia pulang kerumah. Sampai di rumah dia berjalan mengendap-endap, takut istrinya atau anaknya terjaga.

Suasana rumah sudah sepi, mungkin semua sudah tidur dibuai mimpi.

Dia mandi dan memasukan baju tadi ke dalam kantong. Lalu masuk ke kamar, berganti pakaian dan tidur.

Ke esokan harinya saat istrinya telah berangkat bekerja dan anak-anaknya berangkat sekolah, dia mengubur baju itu di belakang rumahnya.

###

Kematian supir itu menggemparkan warga dan menjadi berita yang sangat menghebobkan pagi ini.

Tapi tak seorangpun dicurigai sebagai tersangka. Karena mereka mengira supir mengantuk dan mobil kecebur kesungai. Setelah di selidik beberapa bulan tetap tak menemukan hasil yang merujuk siapa tersangka.

Perkara ini, akhirnya berhenti begitu saja, karena tak ditemukan apa-apa yang dapat menunjukan si pelaku.

***

Setahun sudah berlalu. Perkara itu benar-benar dilupakan banyak orang.

Namun tidak dengan keluarga supir itu yang masih merasa ada kejanggalan di peristiwa ini. Rasa tidak puas keluarga korban hanya di jawab penyelidik dengan kalimat ” Apapun penyebab peristiwa ini, lagi kami usahakan mencari bukti!”

Mereka kecewa dengan cara kerja polisi, karena sudah setahun, masih belum ditemukan pelaku dan perkara seolah-olah berhenti begitu saja.

Dan bertambah kecewa dengan perusahaan, membiarkan hal ini sepenuhnya di tangani polisi tanpa ada usaha sendiri untuk menyingkap hal ini.

###

“Aku dingin………..aku dingin……….” tangan sopir melambai-lambai minta dseakan-akan minta di tarik Rinto dari dalam sungai.

“Aku dingin…aku dingin …terlihat supir itu mengigil kedinginan.” Suara itu sangat memilukan, terdengar jelas di telinga Rinto.

Rinto terperanjat, dalam ketakutan, dan mengusap-ngusap matanya, tak percaya. Sekujur tubuhnya berkeringat, rupanya dia bermimpi.

Rinto hampir tak berani memejamkan mata, karena setiap kali dia tidur, dia selalu bermimpi hal yang sama.

Dia sering bicara sendiri atau tiba-tiba berteriak seakan-akan hantu sopir itu terlihat jelas olehnya.

Orang di sekelilingnya tidak menegrti, apa yang di ocehkannya.

Rinto tak sanggup menahan semua ini, sehingga akhirnya dia kekantor polisi. Melaporkan dan menceritakan hal pembunuhan itu.

“Apa?” tanya polisi ini, tak percaya.

“Mungkin kepala bapak ada masalah, sebaikanya bapak periksa kedokt.” kujar polisi itu seraya mengeleng-gelengkan kepala dikiranya Rinto sudah gila.

“Pak polisi, tolong! Aku seorang pembunuh. Aku pembunuh! Aku pembunuh.” teriak Rinto tak henti-hentinya.

“Siapa yang bapak bunuh?” tanya polisi lagi.

“Aku pembunuh..aku pembunuh.” oceh Rinto tak henti-henti.

Pak polisi, binggung dengan apa yang di katakan rinto. Lain yang di tanya, lain pula yang di jawabnya.

Akhirnya polisi menelpon keluarga Rinto untuk menjemputnya, dan menyarankan keluarganya untuk membawanya kerumah sakit jiwa.

###

Rinto dianggap gila dan stress oleh polisi dan orang-orang disekitar. Mereka kira, Rinto stress karena usaha yang dijalankannya bangkrut.

Tapi mimpi-mimpi itu selalu menghatuinya. bahkan dia merasa sopir itu berada di mana-mana. Membuat Rinto sangat sengsara. Lebih sengsara dari mati.

Suatu malam, sopir ini, sepulang kerja, merasa aneh, kok mobilnya di kemudikan ke jalan ini. Lalu tiba-tiba berhenti, dan tak bisa di hidupkan lagi, pas di jembatan ini.

Tiba-tiba bulu kudunya berdiri. Ada suara dari dalam sungai.

“Tolong…tolong aku!”

“Aku Dingin…aku dingin….”

Polisi itu lari ketakutan.

###

Sopir datang, dan membawa polisi itu ke jembatan itu. Ada sedikit kilas balik ditunjukannya, gimana pembunuhan itu terjadi. Polisi itu tersentak, dan terbangun dari mimpi. Dia merasa heran karena apa yang dikatakan Rinto ada kemiripan dengan apa yang dilihatnya dalam mimpi

Penyelidikan di mulai lagi. Penyelidikan beberapa kali …ternyata menjuruskan kalau pelaku pembunuhan itu adalah Rinto.

Akhirnya Rinto harus mendekam dalam penjara selama 22 tahun.

Dalam penjara dia bertemu dengan seorang vegetarian yang selalu memberi dia pencerahan.

Vegetarian ini masuk penjara, karena di fitnah oleh sahabat baiknya, dan mesti menangung semua yang seharusnya tak di lakukannya.

Rasa stress yang dialamin Rinto, pelan-pelan bisa dikontrolnya. Sopir itu juga tak mpernah menganggunya lagi.

Dalam penjara, Rinto selalu berusaha berbuat baik. Dan suatu hal yang tak pernah di pikirkannya sebelumnya, sekarang Rinto menjadi vegetarian.

Dia berjanji bila dia keluar nanti, dia akan jadi orang baik-baik, mencari pekerjaan dan akan membantu menaggung biaya anak-anak supir itu.

“Namun Jika Rinto keluar dari penjara kelak adakah orang yang mau percaya dengan dia?”

Adakah orang yang mau memberinya kesempatan. Karena tanpa kepercayaan dan kesempatan, niat baiknya mungkin hanya sebuah angan!

Taiwa, 15 Oktober 2008