Oleh Aling

Kuberjalan seorang diri di tepi Pantai Kenting ini. Pantai yang sering kukunjungi, untuk sekadar duduk di tepi pantai, sambil mengingat tentang semua kenangganku dengan Troy. Dan berharap suatu hari, angin laut membawa kabar dari Troy atau malah membawanya ke pantai ini.

Air laut, sekali-kali menyapa kakiku seakan-akan ingin mengajakku bercanda. Mencoba membantuku menghapus segala risau dalam dada. Namun sejuknya angin pantai pelan-pelan mulai menembus kulit ariku, kutarik resleting jaketku, lalu kuperbaiki shall di leherku, mungkin juga karena hampir memasuki musim dingin, jaket juga tak mampu menghangatkan tubuhku.

Kududuk di atas sebatang pohon kelapa yang telah tumbang karena usia. Di kejauhan kulihat beberapa anak nelayan bermain pasir…dan beberapa orang membungkukkan tubuhnya untuk mencari kerang. Sedangkan aku…hanya duduk sendiri tanpa siapapun di sampingku.

Kupandang laut lepas dan kunikmati sejuk angin laut yang sekali-kali menggodaku. Kududuk diam berharap bisa menyatu dengan laut, agar ….Kedamaian dapat kurasakan dan mampu menembus dinding hatiku yang galau. Pantai adalah satu-satunya tempat yang paling mengerti aku di saat rasa rindu dan galau mendera.

Kuteringat 3 tahun lalu, di pantai ini Troy pergi meninggalkanku. Perpisahan yang sampai hari tak mampu aku lupakan. Perpisahan yang sempat membuatku berpikir untuk mengakhiri hidupku.

Luka ini hampir tak sanggup kutahan. Ya mungkin juga buat Troy. Karena semua ini bukan yang diinginkan kami. Kejadian itu yang membuat aku, tak bisa menerima bagaimana perlakuan Papaku, membuatku membecinya dan membuat aku merasa ingin pergi jauh darinya.

“Pa,…….. kau egois,……… kau kejam, kau pisahkan dua hati yang saling mencintai ,” ungkapku kesal, setelah tahu kejadian sebenarnya dari Blog Troy didunia maya.

“Papa, berusaha melakukan yang terbaik buat kamu, Papa tidak bermaksud ingin menyakiti hatimu, kamu bisa mencari penggantinya, yang lebih segalanya dari anak gembel itu”, jelas Papa membela diri.

“Tapi hanya Troy yang aku cintai, Pa.”

“Knapa Papa tak pernah mau mengerti dan memahami aku?” tanyaku geram. Sambil berlalu, dan keluar untuk mencari kesenangan diluar.

Rumah, bagai neraka bagiku. Aku benci bertemu dengan Papa. Laki-laki yang dulunya sangat aku cintai tapi juga laki-laki yang paling menyakiti perasaanku. Aku lebih sering mencari hura-hura di diskotik, di balik hinggar- bingarnya lampu disko dan musik-musik pub, rokok menjadi sahabatku, kebut-kebutan di jalan raya menjadi hobbyku karena disitu aku bisa melampiaskan ketidakpuasanku, atas apa yang aku alami.

Sehingga namaku dikenal baik oleh om-om polisi karena sering kena razia di diskotik atau di jalan raya.

Papa sangat kecewa denga segala ulahaku. Malu dengan semua perbuatanku. Itu bisa kulihat dari setiap kali dia menjemputku dikantor polisi sebagai penanggung jawabku dan membayar uang jaminan.

Aku senang jika Papa tahu aku pergi ke tempat-
tempat telarang itu dan merasa puas bisa membuat Papa cemas. Semua itu kulakukan dengan sengaja untuk menyakiti dan brontak atas segala perbuatan papa terhadapku.

Papa tak mampu melarangku, karena aku tak pernah mau mengubris segala nasehatnya. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri.Walaupun aku tahu, Papa mulai menyesal atas segala tindakannya karena itu ada awal dari kehancuranku dan retaknya hubungan kami.

Suatu malam aku dengar Papa menyetel salah satu lagu lama, Pan Mei Chen, 我想有個家. Lagu itu sayup-sayup terdengar dari bilik kamarku.

我想有個家(吉他自彈自唱)
wo siang yo ke cia
saya pengen sebuah rumah

作詞:潘美辰 作曲:潘美辰

想要有個家 一個不需要華麗的地方
siang yau yo ke cia i ke pu shi yau hua li te tifang
ingin sebuah rumah sebuah yang ngak terlalu indah

在我疲倦的時候 我會想到它
cai wo pi cien te se ho wo hue siang tau tha
dimana saya capek saya merindukannya

我想要有個家 一個不需要多大的地方
wo siang yau yo ke cia i ke pu shi yau tuo tha te tifang
saya ingin sebuah rumah sebuah rumah yang ngak terlalu besar

在我受驚嚇的時候 我才不會害怕
cai wo so ching shia te se hou wo cai pu hue hai pha
disaat saya takut saya ngak merasa takut

誰不會想要家 可是就有人沒有它
se pu hue siang yau cia ke shi co yau ren me you tha
siapa yang ngak ingin rumah tapi ada orang yang ngak ada mereka

臉上流著眼淚只能自己輕輕擦
nien sang lie cek yen le ci nen ce ci cing cing cha
muka jika ada air mata hanya bisa pelan mengusap

我好羨慕他 受傷後可以回家
wo hau sien mu tha so sang ho ke i huei cia
saya cemburu dgn dia hancur bisa pulang kerumah

而我只能孤單的 孤單的尋找我的家
e wo che nen ku tan te ku tan te sin cau wo te cia
saya hanya bisa sendiri sendiri mencari rumah saya

雖然我不曾有溫暖的家
sue lan wo pu chen you un luan te cia
walaupun saya ngak ada rumah yang hangat

但是我一樣漸漸地長大
tan se wo i yang cen cen ti cang ta
tapi saya tetap tumbuh besar

只要心中充滿愛 就會被關懷
ce you sin chong cong man ai co hue pe kuan huai
selama hati ada cinta pasti ada orang yg peduli

無法埋怨誰 一切只能靠自己
wu fa may yen se i cie cek len kau cih ci
ngak bisa mau salahkan siapa semua itu hanya bisa percaya dengan sendiri

雖然你有家 什麼也不缺
suei lan ni you cia se mok ye pu chie
walaupun kamu ada rumah apapun ngak kurang

為何看不見你露出笑臉
wei he kan pu chien ni lu cu siau lien
knapa ngak pernah lihat kamu tersenyum

永遠都說沒有愛 整天不回家
young yen to so mei you ai ce thien pu huei cia
selamanya bilang ngak cinta setiap hari ngak pulang kerumah

相同的年紀 不同的心靈 讓我擁有一個家
siang tong te nien ci pu tong te sim ling lang wo yong yo i ke cia
sama masa ngak sama hati buat saya ada sebuah rumah

Rasa bersalah atas semua perbuatanku akhir-akhir ini, pelan-pelan menyelimuti hatiku. Papa sudah mulai tua. Apalagi ditambah dengan kerisauannya tentang aku yang berubah hampir seratus persen. Rawut mukanya tak seperti dulu, nampak cemas dan lelah, rambut sudah hampir putih semua padahal usianya baru 57 tahun.

“Saat ini aku tidak tahu di mana, bagaimana dengan Troy ?”

Cinta Troy tak mungkin kuraih dan mungkin hanya akan menjadi sisi masa laluku, tapi aku masih memiliki rasa peduli dan kasih sayang Papa, yang selama ini tak pernah kuberi ruang dan kutolak mentah-mentah, semua kebaikan dan cintanya.

Lagu itu mampu menyadarkan aku, dan satu-persatu kilasan tayang ulang kesalahanku…terputar kembali di otakku.

Aku baru sadar dan menyesali segalanya. Dan orang yang paling menjadi korban ulahku adalah papa.

“Tuhan apa yang mesti aku lakukan? ” rintihku dalam doa.

Tanpa pikir panjang lagi, akhirnya…kubelari kekamar papa, kupeluk laki-laki itu erat…kemenanggis sejadi-jadinya dipelukannya.

Papa mengelus-ngelus rambutku…dan pelan-pelan kurasa tetesan air mata papa mengenai rambut dan tanganku dan dia semakin mempererat dekapannya.

“Pa, maafkan Sophia, atas semua kesalahan yang Sophia lakukan”, ujarku di balik tangis.

“Lupakanlah! Papa tak pernah menyimpannya dalam hati. Apapun kesalahanmu, sudah terbang bersama angin dan papa tak pernah mengingatnya,” jelasnnya begitu bijaksana, sambil mengusap air mata yang mengalir deras disisi mataku.

“Dan satu yang mesti kamu tahu, sekarang papa lagi mencari kabar tentang Troy, dan papa akan merestui hubungan kalian. Kamu Benar…, Papa terlalu egois untuk memutuskan kebahagianmu dan mencampuraduknya dengan masalah bisnis. Papa menyesal atas semua ini. Semoga papa bisa segera menemukan Troy dan kalian bisa bersatu, ” beber papa panjang lembar.

“Sudahlah, Pa! … Yang berlalu biarlah berlalu, mungkin Troy bukan ditakdirkan untuk menjadi milikku. Kami dipertemukan tapi bukan untuk dipersatukan. Aku akan berusaha melupakannya..dan berusaha untuk memcoba membuka hati untuk laki-laki lain”, ujarku tak ingin membuat papa kwatir.

###

Sore ini, aku kembali lagi ke pantai ini. Walau di lubuk hatiku yang terdalam, nama Troy tak mungkin terganti, tapi aku tak ingin membenci papa, dan membuatnya cemas lagi diusianya yang sudah tidak muda.

Setiap ada waktu luang, aku akan ke sini, berharap mampu untuk menjadikan Troy sebagai masalalu. Dan berharap disini juga akan kutemukan, laki-laki yang akan menemaniku dalam kehidupan.

Kunamai pantai ini, “Pantai Penantian”

Sejak saat ini aku bersumpah untuk memperbaiki diri dan hati. Kebiasaan buruk harus kuhilangkan. Aku harus belajar menjadi sosok yang lebih baik.

Aku juga berharap andai suatu hari aku dan Troy dipertemukan, dia tidak menemukan aku dalam sosok yang lemah, yang rapuh dan hampir tenggelam dibawa arus kehidupan, tetapi akan dia temukan sebuah sosok yang mengagumkan.

Aku harus mengembalikan imageku yang dulu, Sophia yang ceria, yang selalu tersenyum, penuh semangat dan Sophia yang membuat siapapun ingin bersahabat dengannya.

Aku juga mulai belajar tentang bisnis supaya bisa membantu papa dan suatu hari mampu mengantikannya. Papa mulai mengajakku dalam pertemuan-pertemuan bisnis. Semua ilmu yang papa tahu, diwarisi dan diajarkan padaku. Sehingga beberapa tahun berlalu, namaku sudah terkenal dikalangan dunia binis.

Suatu hari, Perusahaanku mengadakan kerjasama dengan perusahaan Jepang, dan aku dikirim perusahaan untuk mempelajari dan memutuskan apakah kerjasama ini layak atau tidak.

Dengan bekal ilmu yang papa ajarkan, kubranikan diri berangkat ke negara Sakura yang mengagumkan. Dalam surat yang dikirim perusahaan, sampai dibandara aku akan dijemput oleh orang perusahaan yang bisa berbahasa Indonesia yang sekaligus akan menjadi penerjemah serta pedampingku disetiap urusan bisnis di Jepang. Ini juga yang membuatku tidak kwatir, karena aku sama sekali tak bisa berbahasa jepang.

Aku terkejut bukan kepalang…yang ditunjuk perusahaan untuk menjemputku dan menemaniku adalah Troy. Hal yang sama sekali tak pernah aku pikirkan.

Cinta memang aneh, saat kita ingin bersatu, malah dipisah. saat, kita ingin melupakan, malah ditemukan.

Rupanya ini semua adalah ide papa. Semua papa atur untuk memberiku sebuah suprise dan kebahagian.

Akhirnya aku dan Troy, bertemu lagi. Beberapa bulan kemudian kami menikah di Indonesia. Pernikahan yang paling membahagiakan karena akhirnya mendapat restu kedua orang tua kami serta hadai taulan.

“Pa, terimakasih untuk semua ini,” bisikku bergelut manja di lengan papa, saat di bandara.

Aku dan troy akan menikmati bulan madu keliling dunia, yang tiketnya adalah hadiah dari papa.

sambungan dari Kita Dipermainkan, Keadaan!

“Apapun yang terjadi dalam hidup kita, aku yakin akan indah pada waktunya.”