By Aling


Aku duduk sendiri di branda ini sambil mneikmati lagu-lagu yang keluar dari MP3ku.

Di hari libur begini, kostku sunyi sepi, penghuninya rata-rata sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

Aku adalah anak kost yang merantau ke kota ini untuk mencari pekerjaan yang layak. Berharap suatu saat nanti, aku bisa sedikit meringankan beban kedua orang tuaku yang sudah mulai tua.

Kata-kata Ariel tergiang lagi di telingaku, “Lia, knapa kamu selalu menolak cintaku? jangan kamu jadikan keadaanmu sebagai alasan.”

Rasa cintaku pada Ariel, memang sulit kubendung lagi. Tapi aku juga ngak boleh egois, karena kondisiku tak mungkin untuk menjadi pendampingnya seutuhnya.

Karena tabrakan beberapa tahun lalu, aku dinyatakan tidak bisa mempunyai anak oleh Dr.Heru Gunawan, Spesialist kandungan terkenal di daerahku ini, mebuatku trauma berat dan tak brani untuk menerima cinta tulus Ariel.

Aku terus bepikir, langkah apa yang terbaik buat aku dan Ariel?

Makin dipikir, bukan jawaban yang kudapat tapi kepalaku malah makin pusing jadinya. Sehingga aku mesti rebahan dan akhirnya tertidur.

Setelah istirahat aku merasa kondisiku sudah cukup baik.

Rasa suntuk yang kurasa membuatku makin ingin bersama Ariel. Kuhubungi ponselnya untuk mengajaknya keluar.

“Haloo! Lagi rindu sama saya ya? Tumben mau telpon, nona manis!” tanya Ariel dengan nada genit dari seberang sana.

“Riel, kamu lagi sibuk ngak? Aku lagi suntuk nih, temanin aku jalan-jalan ya!” pintaku manja.

Oke, sipa non. Mumpung lagi baik nih! Mau kemana pun akan aku temanin.” ujar Ariel dengan kocak.

“Dasar..gombal!” gumanku.

“Tunggu aku, ya sayang!” ujarnya tambah genit.

*****

Kami berputar-putar dalam kota. Kemacetan lalu lintas yang hampir di seluruh penjuru pusat kota yang membuat kami engan untuk berkeliling dalam kota dan akhirnya memutuskan untuk ke tepi pantai.

Pantai selalu mampu membantuku menenangkan pikiran. Kupandangi tingkah anak-anak nelayan yang lagi bermain, mereka berlomba membuat gunung-gunungan dari pasir, lalu tiba-tiba timbunan pasir mereka di lenyapkan oleh air pantai. Kudengar teriakan histeris mereka dan kulihat binar senang terpancar dari bola mata bening mereka.

Sore ini, aku juga bisa menikmati saat -saat matahari bulat penuh, mulai menguning dan pelan-pelan beranjak keperaduaannya.

Angin musim semi yang sepoi-sepoi, mampu menyegarkan hatiku yang lagi gerah. Di kejauhan kulihat, burung camar beterbangan kian kemari, mengepak sayap dengan bebasnya.

Pemandangan ini adalah lukisan nyata alam yang sangat aku kagumi dan selalu membuatku ingin selalu menikmatinya.

“Apa yang kamu pikirkan Lia?” tanya Ariel tiba-tiba, membuat aku terkejut.

“Yang jelas ngak lagi mikir kamu!” ujarku bangkit dari tempat duduk, setengah berlari sambil menyulurkan lidah.

Kami bekejar-kejaran di tepi pantai. Menikmati semua yang di tawarkan alam sore ini. Sungguh kebahagian yang tiada tara.

Tiba-tiba, membuatku menghentikan langkah…berjalan pelan sambil merenung.

“Ah…andai kecelakaan itu tak pernah terjadi! Aku tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bersama Ariel. Aku juga tak mungkin ragu untuk menerima cintanya.” gumanku sedih.

“Apa?” tanya Ariel, karena dia tidak mendengar jelas perkataan apa yang barusan keluar dari mulutku.

“Kamu, hari ini aneh deh! Kok sering berguman sendiri. Dan aku tak mengerti apa yang kamu ucapin. Apa kamu ada masalah ?” tanya Ariel tiba-tiba berdiri di depanku, lalu mengucek-ngucek rambutku manja.

“Aku tidak ada masalah!” jelasku menggelengkan kepala lemas.

AKu tak mungkin menceritakan kerisauanku, tentang hubungan kami, karena aku yakin Ariel akan menertawakanku.

Karena dari dulu Ariel selalu bilang, “Aku aza ngak mempersalahkannya. kok kamu malah merisaukan hal yang tidak-tidak? Banyak jalan yang bisa kita tempuh, salah satunya adalah mengadopsi anak. Banyak sekali anak-anak yang tanpa orang tua… tanpa kasih sayang yang butuh kita.” setiap kali kuutarakan kerisauanku.

Begitu luhur hati lelaki di depan aku ini.

Mau menerima kekurangan dan tak mempermasalahkannya namun justru membuatku tak tega.

Apakah ini yang dinamakan cinta sesungguhnya?

“Belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara-cara sempurna.” seperti kalimat yang pernah kubaca di sebuah renungan.

” Sekuat itukah cintanya padaku?”

Padahal dia bisa aza pergi dan memilih wanita yang sempurna, baik lahir dan bathin.

Tapi dia lebih memilih bersama aku dengan segala kekurangan yang aku miliki.

“Riel!” seruku.

“Ada apa sayang?” ujarnya seraya menatapku.

“Knapa kamu begitu baik terhadap aku. Aku tidak pantas menerima semua kebaikanmu.” ujarku lirih seraya memandang lurus kedepan.

“mmmm…mulai lagi…mulai lagi. Stop ungkit masalah itu lagi!

Sudah aku katakan, apapun keadaanmu tak akan mungkin merubah rasa cinta dalam hatiku untukmu, kalau tidak percaya belahlah dadaku ini.” ujarnya malah makin menggodakku.

“Tapi,…” ujarku lagi.

“ngak ada tapi-tapinya…oke!” jelas Ariel.

“Kita tidak boleh egois Riel. Kamu anak satu-satunya di keluargamu. Dapat kurasakan bagaimana perasaan orang tuamu jika tahu aku tidak bisa memberikan, seorang pun cucu buat mereka.” ungkapku seraya menarik nafas dalam-dalam.

“Orang tuaku memberi kebebasan sepenuhnya padaku untuk memilih pasangan hidup dan pilihanku adalah kamu. Dan aku yakin mereka bisa menerima.” jelasnya menyakinkanku.

Kadang aku bingung sendiri apa yang sebaiknya aku lakukan. Berhenti mencintainya. Belajar melupakannya dan lari kesuatu tempat dimana dia tidak tahu keberadaanku atau… persetan dengan segala kekwatiran yang ada dan menerimanya?

“Tuhan, knapa aku dihadapi dalam pilihan yang sulit ini?” ujarku dalam hati.

“Sudah! Biar semua berjalan apa adanya. Jangan pikirkan yang macam-macam, ntar cepat tua loh! Aku ogah sama yang tua.” ujarnya malah membuatku tertawa.

“Asal kamu tahu, Ariel mencitaimu dengan kelebihan dan kekuranganmu. Mencintaimu untuk selamanya.” janjinya sambil menggenggam tanganku erat.

***

Sudah seminggu, Ariel jatuh sakit. Aku merasa panik. Setelah perawatan di rumah sakit beberapa hari, Ariel mesti terus harus besistirahat di rumah.

Dia kelelahan. Ditambah tidak teraturnya jam makan dan tidur makin memperparah kondisinya.

Kesuksesannya dalam dunia bisnis sehingga mengepakkan sayap sampai keluar negeri, yang mengharuskannya mesti seminggu sekali melakukan perjalanan jauh.

Kekwatiranku akan kesehatannya dan atas desakan orang taunya, yang membuatku tak berpikir yang macam-macam, untuk menerima cinta Ariel .

“Ariel, butuh kamu Lia! Dia butuh orang mendampinginya, merawatnya dan menyayanginya,….dan orang itu adalah kamu.” ujar mamanya saat kumenelpon mereka memberi kabar bahwa Ariel sudah sehat.

“Segeralah menikah! Supaya kalian bisa saling manjaga.” pinta mamanya yang juga kwatir dengan kehidupan Ariel.

Kami menikah dengan restu orang tua kami, keluarga dan sahabat-sahabat kami.

Hidup bahagia, walau disisi lain aku tetap merasa bersalah karena aku tidak dapat memberikan Ariel seorang anak.

*****

Suatu sore, di saat aku asyik, memandang bunga mawar yang berwarna-warni yang aku tanam di belakang rumahku, tiba-tiba kudengar suara tangis bayi.

Aku berlari kedepan. Tak percaya! Sungguh aku tak percaya! Seorang bayi munggil dalam box, tergeletak di depan rumahku. Kulihat sekeliling, tak ada orang sama sekali, karena bayi itu terus mennagis aku berlari membawanya kedalam rumah.

Langsung kutelepon Ariel yang lagi bekerja.

“Ariel,kamu pulang sekarang! Ada orang meletakkan seorang bayi di depan rumah kita.” ujarku panik bercampur senang.

“Jangan bercanda kamu, mana mungkin ah !” ujar Ariel heran dan tak percaya.

“Sungguh, aku tidak berbohong.” kataku girang serasa mau meloncat.

Kurang lebih setengah jam Ariel sampai di rumah.

“Ya Tuhan, anak siapa ini?” tanya Ariel, binggung dan kaget saat melihat bayi itu.

“Kita mesti melapor kepada pak Rt atau pihak berwajib.” katanya dengan serius.

“Ngak boleh!” ujarku cemas.

“Ariel. Aku mendambakan seorang bayi. Sangat mendambakannya.
Akan kugunakan kesempatan ini. kita mesti menjadi orangtua yang terbaik buat bayi ini.” jelasku lagi.

Karena sikapku yang keras, mau tidak mau, Ariel menyetujui usulku. Kami membesarkan bayi ini dengan penuh kasih sayang, seperti anak kamu sendiri, dan menamai bayi itu Cinta.

Kami tidak pernah menceritakan siapa orang tua Cinta sebenarnya. Semua kami rahasiakan darinya, karena aku takut kehilangannya.

*****

Cinta, hampir lulus dari perguruan tinggi. Dia mengambil jurusan Kedokteran. Tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, pintar dan sangat baik hati.

Dia punya niat yang luhur, ingin membantu anak-anak yang mengindap penyakit jantung dengan keahlian yang di milikinya.

Senja ini, Cinta keluar menghadiri ulang tahun Reza sahabat karibnya.

Tiba-tiba bel berbunyi. Kubuka pintu, di depanku seorang wanita separuh baya menganggukkan kepala.

“Mau cari siapa ya mbak?” tanyaku dengan ramah.

“Sa..sa..ya…adalah mama yang meletakan bayi di depan rumah ini , 28 tahun yang lalu.” ujarnya gugup.

“Ha…kamu wanita yang melahirkan Cinta, anak kami?” tanyaku tak percaya dan terkejut.

“Izinkanlah aku bertemu dengannya. Kumohon. Aku ingin bertemu dengannya. Minta maaf dengannya.” jelasnya dengan rawut muka yang menyesal.

Wanita ini bercerita…kalau rahimnya telah diangkat karena ada kristal ganas yang tumbuh di sana, sehingga untuk selamanya dia tak mungkin melahirkan anak lagi.

“Ya..mungkin ini adalah karma atas perbuatanku dulu. Saat ada aku malah membuangnya, saat aku menginginkannya aku malah tak mungkin memilikinya.” ujarnya sedih.

“Ya Tuhan…cobaan apalagi ini?” ujarku berguman lemas.

“Sekarang Cinta, tidak dirumah mbak!
Begini saja, beberapa hari lagi mbak kesini. Sebelumnya, beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya ini dulu kepada Cinta. Siapa dirinya? Karena selama ini aku sama sekali tak pernah mengungkit masalah ini.” ujarku sambil menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul.

“Oke!” ujar wanita itu sambil menganggukan kepala.

*****

Jantungku berdengup kencang, tanganku terasa dingin, menunggu kepulangan Cinta.

Tidak tahu bagaimana, sebaiknya aku memulai pembicaraan untuk menceritakan siapa dirinya sebenarnya.

“Ma, ngelamun apa sih?” suara Cinta, mengagetkanku yang sedang melamun.

“Cinta, duduk disini! Mama mau menceritakan sesuatu kepadamu.” ujarku serius.

Dia duduk di sampingku, sambil bergelenyut manja merebahkan kepalanya di pundakku, lalu memelukku. Walaupun cinta sekarang sudah menjadi seorang gadis dewasa, dia tetap begitu manja denganku.

Pelan-pelaan kuceritakan semua padanya. Saya juga memberinya kebebasan untuk memilih, apakah pulang bersama mamanya, karena aku tahu, siapapun pasti ingin tahu dan bersama mama kandungnya ataukah tetap bersamaku.

Tak ada jawaban dari Cinta. Kutahu hatinya pasti lagi berkecamuk hebat. Karena dia sama sekali tak mengira kalau aku bukan mama kandungnya.

Kulihat dia begitu lemas, lalu pamit masuk ke kamarnya.

*****

Bel berbunyi, berkali-kali.

Aku bisa menebak itu pasti mamanya Cinta. Kubuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Mamanya beserta suami barunya datang menjeguk Cinta.

“Cinta…keluarlah! Mamamu datang.” ujarku seraya mengetuk pintu kamarnya.

Kudengar pintu di buka. Mamanya berlari memeluknya. Namun Cinta, merasa janggal dengan pelukan mama kandungnya, jelas kutangkap dari mimik mukanya. Dia hanya diam.

Cinta mempersilahkan mamanya duduk, tanpa ada sebutan “ma” dari mulutnya.

“Mama, mau mengajakmu tinggal bersama mama, dan mama minta maaf karena dulu meninggalkanmu, di saat kamu membutuhkanku, itu terpaksa mama lakukan karena papamu tidak mau bertanggung jawab.” jelasnya seraya menangis.

“Mama saat itu begitu panik, karena di usir oleh kakekmu, karena dianggap merusak nama baik keluarga, sedangkan mama saat itu masih terlalu muda, tidak tahu mesti melakukan apa-apa, semua terpaksa mama lakukan.” bebernya seraya menghapus air mata yang masih terus mengalir.

Cinta hanya duduk diam, sambil sekali-kali menarik nafas dalam-dalam tanpa aku mengerti apa yang dipikirkannya.

“Mau kan kamu pulang bersama mama?” tanya wanita itu seraya memandang Cinta.

“Aku tak mungkin meninggalkan mama Wei Ing, kasih sayangnya yang begitu besar padaku.” kata-kata yang keluar dari mulut Cinta, mengejutkanku.

“Disaat aku membutuhkanmu, aku tak tahu kamu di mana. Disaat aku merindukannmu engkau tak disampingku.” ujar Cinta dengan tegas.

“Aku tak membencimu. Tapi aku juga sulit untuk memaafkanmu. Kamu mencampakan aku begitu saja, tanpa pernah merisaukan keadaanku, dan tak sekalipun kamu pernah datang menjenggukku.” jelas cinta tegas dan sedikit kesal.

Tak kulihat butiran airmata keluar dari kedua matanya.

“Maafkan aku, tak bisa menuruti keinginannmu untuk bersamamu. Kamu memang melahirkannku, tapi kamu tak pernah mengurusku sama sekali. Yang mengurusku, mengajari dan bersamaku adalah adalah mama Wei Ing, ” ujarnya seraya diam sejenak.

“Dia menyanyangiku seperti anak kandungnya sendiri.” ujarnya lagi.

Kulihat suami wanita ini tersenyum kecut, sambil mengelengkan kepala seakan -akan memberi isyarat menyuruh istrinya jangan memaksa kehendak pada Cinta.

“Oke, tapi izinkalah mama lain kali menjenggukmu lagi! ” pinta wanita ini dengan sedih.

Kulihat Cinta menggangukan kepala. Kemudian wanita dan suaminya berpamitan.

*****

Cinta memelukku erat-erat.

“Ma!” panggilnya lemas. Ambruk sudah tembok ketegarannya, dia menagis terisak-isak dalam pelukanku.

Kubelai rambutnya, “terima kasih Cinta” ujarku seraya memeluknya erat-erat. karena aku juga tidak mau dan tak akan sanggup berpisah dengannya. Separuh hatiku ada dalam dirinya.

Kami menghabiskan malam ini, dengan saling bercerita, seakan-akan tak ingin tidur takut saat kami bangun keesokan harinya kami tak mungkin bersama lagi.

“Tuhan terima kasih Cinta tetap memilih bersama saya, walaupun dia tahu saya bukan mama kandungnya.” rintihku dalam hati.

Aku juga sudah lelah dengan rahasia ini, 28 tahun aku menyimpannya dan 28 tahun aku selalu kwatir Cinta akan meninggalkan aku saat dia tahu siapa mama kandungnya.

Kekwatiran itu sudah hilang, bersama kejadian sore ini.

“Cinta,… kamulah cintaku. Belahan hatiku. Dan anak yang sangat kusayangi.” ucapku seraya memperat pelukanku.

“Terima kasih Tuhan, dalam ketidak sempurnaanku, Kau kirim mujizat terindah dalam hidupku.” ujarku dalam doa.

Taiwan, 29 September 2008