Oleh Aling (Cerpen Fiksi)


Dari balik tirai, aku lihat adik-adikku bermain begitu riangnya, berkejar-kejaran di bawah pohon yang rindang. Tak tampak kesedihan di wajah lugu mereka. Tak pernah terpikir dalam benak mereka, bagimana mereka kelak? Aku bernama Kasih. Umurku 13 tahun. Aku juga tidak tahu sudah berapa lama aku menetap di panti yang kusudah seperti rumahku ini? Dan mengganggap bu panti adalah ibuku.

Hatiku kadang terasa perih, saat salah satu dari mereka mesti dibawa oleh orang yang akan mengasuhnya. Aku kadang bisa menangis sedih di kamarku berhari-hari. Tapi aku juga tidak boleh egois, aku harus ikut memikirkan nasib mereka, berharap mereka bisa mendapatkan kasih sayang yang utuh dari papa dan mama barunya. Berharap mereka bisa hidup layak seperti anak-anak lainnya, karena hanya ini yang dapat aku bantu dalam tak keberdayaanku sebagai seorang bocah kecil yang juga haus kasih sayang dan kemanjaan dari orang-orang yang aku cintai.

Semakin kecil mereka pergi dari panti, akan lebih baik. Sehingga mereka tidak tahu bahwa mereka pernah berada di panti, dan tidak pernah tahu papa dan mama mereka sekarang bukanlah orangtua kandungnya.

“Kita tak mungkin menampung mereka seumur hidup,” ujar pengelola panti asuhan ini, saat aku memintanya untuk tidak membiarkan mereka satu persatu pergi meninggalkanku.

Kedekatan batin dan nasib yang sama antara kami, membuat kami bagi saudara kandung.

“Kami tidak pernah tahu siapa orang tua kami?”

” Darimana kami berasal?”

“Yang kami tahu, kami tak diinginkan terlahir di dunia ini oleh orang tua kami!”

“Dunia dan takdir ini terlalu kejam dan tidak adil buat kami?”

Kasih-sayang orang tua terlalu mahal bagai intan permata yang tak terbeli oleh kami.

Kami merasa iri jika melihat orang lain bermain bersama orang tua di taman sekolah. Melihat mereka didampingi setiap ada perlombaan yang diadakan sekolah. Sedangkan kemenangan kami hanya disambut sebuah senyum yang tersungging di bibir bu panti yang kadang baik dan kadang judes menghadapi ulah kami.

Saat kami berhasil memenangkan perlombaan, tersungging senyum di bibir Bu Panti. Ada kebanggaannya tersendiri dalam hatinya, “inilah hasil didikanku,” atau hanya untuk memperlihatkan kepada masyarakat bahwa kami layak untuk di punggut.

“Knapa aku dilahirkan kalau tidak menghendaki keberadaanku dan mecampakkanku di Panti Asuhan ini?” pertanyaan ini selalu muncul dalam benakku.

“Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah ada jawabannya. Dan aku tidak ingin tahu apa jawabannya, karena aku yakin apapun jawaban, akan sangat melukaiku.”

Hanya ada kebimbangan yang kurasa setiap kali pengunjung datang.

“Siapakah yang akan dipilih mereka?”
Dilihat-lihatnya postur kami, dicubit-cubitnya bibir kami, kami tak ubahnya sebuah produk diteliti-setelitinya layak atau tidak kami dipunggut mereka, sungguh pemandangan ini sangat menusuk hatiku.

###

Saat aku pulang sekolah, aku lihat sebuah kotak di depan panti asuhan. Aku bisa menebak apa isinya. Aku berlari menuju kotak itu. Seorang bayi munggil yangberkelulit putih bersih, menatapku. Lalu tersenyum. Bola matanya yang besar dan bulu matanya yang lentik membuat aku terpana. Mungkin seperti inikah dulu aku ada di sini?

Aku berteriak memanggil penggurus panti.

“Bu, ada bayi,” jelasku setengah berteriak, karena aku lihat bayi itu sudah hampir menangis mungkin karena lapar atau sedih karena ibunya tak menginginkannya.

Aku selalu membantu bu panti mengurus adik-adik di sini karena akulah yang paling besar diantara mereka. Termasuk membantu mengurus, adik baru ini yang kemudian diberi nama Karunia. Kami berharap suatu saat dia punya kehidupan yang penuh karunia. Dia tidak cenggeng, tidak cerewet dan suka tersenyum, sehingga di senangi anak-anak panti.

“Aku bersumpah dalam hati, andai suatu saat aku di pungut orang kaya, aku akan membantu anak-anak panti atau andai aku dapat pekerjaan yang baik, sebagian gajiku adalah milik anak panti.”

Suatu hari, sepasang suami istri yang sudah menikah puluhan tahun tak memiliki anak datang untuk memilih seseorang di antara kami. Ternyata pilihan mereka ya jatuh pada Karunia.

Hatiku bagai teriris-iris, pedih rasanya. Kuberlari di tepi mobil mereka yang sedang berjalan kuikuti mereka sambil berlari sekencang-kencangnya sambil menangis seakan-akan tak ingin perpisahan ini. Sulit aku menerima tapi aku juga tak bisa berbuat apa-apa.

Datang sepucuk surat dari orang tua yang membawa Kurnia pergi. Bu Panti memberikannya kepadaku, saat aku berkunjung ke Panti sore ini. Sekarang aku tinggal bersama sepasang kakek nenek yang kesepian. Anak-anaknya lebih memilih sekolah, bekerja dan menetap di Amerika. Mereka memungutku supaya menemani mereka dan untuk mengusir rasa kesepian yang selalu menyelimuti hati mereka. Aku disekolahkan, di sekolah yang paling baik di kota ini.

Sampai aku meraih gelar sarjana, kemudian aku diberi kepercayaan untuk memimpin sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang tour and travel milik orang tua angkatku ini.

Aku sekarang sudah bisa hidup mandiri. Aku juga memiliki orang tua yang sangat menyayangiku. Kebahagian ini lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini dan rasa terimakasihku pada mereka hanya dapat aku nyatakan dalam tindakkan dalam menjaga perusahaan dan menjaga mereka di sisa hari-hari kehidupan mereka. Rasa terima kasih pada mereka akan selalu kusimpan dalam hati kecilku.

Lekas kubuka surat yang diberikan bu panti tersebut. Kurnia sudah mulai masuk SMP. Dia anak yang pintar dan disayang keluarganya. Ini terpancar dari raut mata dan senyumannya yang terlihat dari beberapa foto yang terselip di dalam aplop itu. Kurnia tumbuh jadi seorang remaja yang cantik dan menawan. Rambut ikalnya menambah keanggunan yang dimilikinya. Keluarganya tak ingin membawa Kurnia ke panti asuhan supaya Kurnia tidak tahu dengan masalalunya.

Setiap aku berkunjung ke panti, aku selalu ke kamarku yang dulu. Dari balik tirai kulihat anak-anak panti, ada yang bermain boneka pemberian pengunjung, ada yang bermain petak umpat, dan ada yang hanya sekedar duduk di bawah pohon menyaksikan yang lainnya bermain.

“mmm, tak ada bedanya dengan 15 tahun lalu, hanya anak-anak panti yang berbeda dan raut muka ibu panti yang mulai tua”,ujar dalam hati.

Kututup tirai, aku menuju ketempat mereka bermain, melupakan semua kekwatiran yang ada tentang mereka?

Kedatangganku di panti selalu disambut hangat oleh mereka. Aku kadang lupa hari sudah sore dan mengharuskan aku pulang, karena ada dua orang yang juga membutuhkan kasih sayang dan perawatanku. Kupeluk mereka satu-satu, kuingin mereka tahu, aku, “Kasih”, sangat menyayangi mereka seperti saudaraku sendiri. Kulambaikan tangan perpisahan, dan aku berjanji akan sering-sering mengunjungi mereka.

Taiwan, 15 Sepetember 2008