pic diambil dr Kathys Comment

Pic diambil dari Sini

Oleh Aling (Cerpen Fiksi)


Lonceng berbunyi. Tampak keceriaan di wajah anak SMEA Immanuel siang ini. Istirahat adalah saat-saat yang dinantikan oleh kami, setelah 2 jam menikmati celoteh guru-guru yang membosankan.

Suara lonceng, membuat timbul lagi semangatku. Pelajaran matematika dan rumus-rumusnya, menyita otak dan perhatianku yang membuat kepalaku jadi mumet.

Aku mencari Philia sahabat karibku di kelas sebelah. Kami beda kelas karena kami berbeda jurusan. Philia memilih jurusan akuntansi dan saya lebih memilih jurusan manajemen binis karena aku malas berhadapan dengan angka-angka (akutansi), yang selalu membuat otakku mirip benang kusut.

“Philia,” panggilku seraya menepuk bahunya. Saat kulihat dia lagi membereskan buku-buku kedalam tasnya.

“Oke, ayo kita kekantin! Perutku sudah unjuk rasa dari tadi nih,” ujarnya sambil mengadeng mesra bahuku.

Baru beberapa menit, kantin sudah dipenuhi oleh siswa-siswi. Saat ku mencari bangku kosong, mataku memberi sinyal untuk melihat suara ribut disudut kantin, Troy dan konco-konconya lagi bercengkrama gembira.

Setelah memesan makanan kami, aku sengaja memilih meja yang berhadapan dengan mereka. Ngak tahu knapa, tanpa mampu kukontrol,…. segala gaya, dan tindakan Troy, selalu mampu menarik simpatiku untuk ingin tahu.

Troy dengan konco-konconya terkenal dengan kebandelan dan yang sering ber-ulah di SMEA ku ini.

Anehnya, aku kok malah merasa tertarik dengan segala tingkahnya. Dia kelihatan begitu macho dimataku. Wajahnya yang culun, rambut cepaknya, dan cara jalannya mirip dengan pemeran drama korea yang akhir-akhir ini  sering aku saksikan.

Tanpa sadar, kuceritakan semuanya pada Philia.

“Apa?”

“Kamu suka manusia bandel itu, ngak salah dengar nih, non? “, tanya Lia tak percaya sambil tertawa terbahak-bahak.

“Sst…,” aku mengisyaratkan untuk diam, karena aku takut kedengaran yang lain.

“mmm ,” hanya itu kalimat yang keluar dari mulutku.

“Edan,” protesnya seraya menggerutkan keningnya.

Lonceng tanda masuk berbunyi. Aku segera bangkit, dengan setengah berlari. Aku tak sengaja menabrak Troy yang juga bangkit mau menuju kelas. Uh..bagai sengatan listrik, saat tubuh kami bersentuhan. Rasa itu menyalar keseluruh tubuhku.

“Maaf..maaf,” ujarku seraya berlari menuju kelas, aku tak berani menengadahkan wajahku karena malu.

Beberapa hari kemudian, aku temukan sebuah kertas dilaciku.

“Hi…aku Troy. .. Aku suka tabrakan tempo hari, aku tunggu kamu siang ini diperpustakaan!”

Jantungku berdegup kencang. Kutengadahkan mukaku, melihat ada tidak teman sekelasku memperhatikanku. Cepat-cepat kumasukan kertas itu kedalam saku baju seragamku. Hatiku berdegup makin kencang, saat menjelang istrirahat. Aku tidak tahu apakah aku punya keberanian ke perpustakaan?

“Kok, kamu tidak keperpustakaan kemarin, aku menunggu sampai bel tanda masuk, gimana caranya aku bisa bicara dengan kamu secara langsung?” isi kertas yang kutemukan pagi ini.

“Aduh…bagaimana ini,” ungkapku bingung.

Aku juga tak berani menceritakan kepada Philia karena takut ditertawainya atau disebarluaskannya pesan-pesan ini.

Selama 2 minggu ini, hampir setiap pagi kutemukan kertas pesan-pesan singkat dari Troy. Tak satu pun aku jawab karena aku tak tahu bagaimana caranya. Aku juga ngak mau ketahuan sama orang-orang sesekolah. Membuatku tak berani ke kantin, takut ketemu Troy disana.

Saat aku mau menghidupkan motorku di parkir sekolah, kulihat Troy berjalan menghampiriku.

“Mati aku,” ujarku gugup.

“Sophia, kamu kok ngak pernah jawab pesan-pesanku,” tanya memulai pembicaraan, saat jarang kami tak sampai setengah meter.

Aku binggung dan tak tahu mau jawab apa.

“Kok diam ?” tanyanya lagi.

“Kamu takut dilihat teman-teman ya, berbicara denganku ,” ujarnya ketika dia melihat aku seperti orang bingung. Bukan binggung lagi tapi malah mirip orang blo-on.

“mmm gimana kalau kamu tunggu aku di cafe A. yani. Aku segera menuju kesana, kamu tunggu aku disana!” ujar Ari sambil berjalan kearah motornya.

Tak tahu kenapa, aku bagai terhipnotis mendengar perintahnya.

Sesampai dikafe aku memilih bangku yang agak pojok. Aku takut ada anak-anak dari sekolahanku lewat melihat ku dan Troy di cafe ini.

“Thanks ya! Kamu mau menunggu aku di sini,” ujarnya gembira seraya meletakkan tas sekolahnya.

Aku hanya diam dan menyuguhkan sebuah senyum.

“Aku sudah sejak lama ingin sekali berbicara denganmu,” ujarnya memulai pembicaraan.”

“Kayaknya, kamu selalu menghindar dariku, kamu takut ya, teman-teman menertawaimu karena bersahabat dengan anak bandel seperti aku”, tanyanya seraya memilih menu yang tertulis di kertas menu.

Setelah berbicara panjang lebar, diiringi gelak tawa, baru kutahu rupanya Troy adalah sosok yang menyenangkan dan baik. Kenakalannya hanya untuk menarik perhatian orang-orang terhadapnya.Troy, adalah anak tunggal. Papa dan mamanya harus bekerja keras, karena desakan bisnis yang dijalankan orang tuanya. Hampir tak ada waktu yang orang tuanya luangkan padanya. Hanya pagi hari bisa melihat orang tuanya saat sarapan, itupun jika Troy bangun agak awal, jika Troy bangun agak lambat, papa dan mamanya sudah berangkat kerja. Malam hari saat Troy sudah tidur, papa dan mamanya baru sampai dirumah. Troy haus perhatian.

Sejak saat itu, kami sering bertemu di luar.Diluar jam sekolah kami sering jalan bareng. Dan akhirnya kami mulai pacaran.

Suatu hari saya ajak Troy main ke rumahku. Papaku menentang habis-habisan setelah tahu siapa orang tua Troy. Rupanya mereka adalah musuh dalam bisnis. Mereka bergerak dalam bidang yang sama.

“Kamu tidak boleh bersahabat dengannya,” perintah papa setelah Troy pamit pulang.

Itu adalah undang-undang yang pertama papa keluarkan dalam hidupku.

“Pa, itukan masalah orang tua, tak ada hubungannya dengan kami,” ucapku kesal.

“Tutup mulutmu,” bentak papa marah.

Begitu besarnya dendam mereka, yang sampai saat ini aku belum bisa mengerti. Sekarang aku sudah dipeguruan tinggi. Aku dan Troy satu kampus berbeda falkutas. Sampai saat ini papa masih menentang hubungan kami, walau aku dan Troy sudah pacaran hampir 3 tahun.

“Troy, kuharap kekuatan cinta kita, mampu menggoyahkan hati papaku,” ungkapku suatu hari saat kami menelusuri pantai.

Pantai adalah saksi bisu cinta kami. Laut biru selalu iri dengan kebersamaan kami. Ombak-ombak seakan-akan selalu memberi kami kekuatan untuk tetap teguh menjalin cinta ini. Pasir-pasir seakan-akan diam tak berani ber-argumen.
Sepasang burung camar yang berterbangan kesana kemari seakan-akan senang menyambut kedatangan kami dan selalu memberi kami semangat.

Kadang bisa kurasakan kekhawatiran di mata bening Troy. Akhir-akhir ini sering kulihat dia duduk sendiri melamun, tanpa aku tahu apa yang dia pikirkan.

“Troy, jangan putus asa, kesulitan  harus lebih menguatkan kita. Aku yakin suatu hari, papa bisa mengerti, bahwa kebersamaanku denganmu adalah sebuah kebenaran,” jelasku sambil menempelkan kepalaku di bahunya yang kokoh.

kugenggam erat tangannya, sambil terus berjalan menyusuri pantai putih ini. Seakan-akan kami tidak mau berhenti, terus dan terus berjalan dalam kebersamaan.

Sudah beberapa hari aku tak bertemu Troy. Akhirnya kudatangi rumahnya. Dari pembantu rumahnya, baru kutahu kalau Troy sudah beberapa hari, meninggalkan kota ini.

Troy selalu memberi kabar tentang keadaannya kepada orang tuanya, tapi tak sekalipun Troy mau memberitahu di mana dia berada sekarang.

“Troy, kamu jahat…jahat!”

“kamu tinggal-in aku, tanpa kutahu salahku,” kuteriak sekencang-kencangnya, saatku ke tepi pantai seorang diri.

####

Sudah beberapa tahun, aku tak tahu bagaimana kabar Troy. Pernah aku dengar kabar sekilas dari sahabatnya, kalau Troy ke Jepang bekerja di kapal nelayan.

“Teganya kamu Troy, aku sudah hampir tak sanggup menahan rindu ini”, rintihku menahan rasa rindu yang selalu menyesak didada.

Dari kejauhan, samar-samar kulihat sosok seseorang, mirip Troy, berjalan menghampiriku. Aku berlari menuju sosok itu. Aku hampir tak percaya. Benar-benar Troy.

Rambutnya sudah gondrong, mukanya kurus, dengan kumis yang tak terurus tapi aku tetap masih bisa mengenal dia. Dia memang Troy.

Kupeluk dia erat-erat. Kucurahkan seluruh rindu yang mendera di dada ku ini. Rindu yang sudah hampir tak mampu aku tampung.

“Troy, kemana kamu selama ini”, ujarku seraya menangis haru.

“Sophia, aku pergi mencari jati diri. Benar kata papamu, aku tak pantas untukmu”, jelasnya begitu tenang.

“Aku pulang, untuk berpamitan denganmu, dan meminta restu dari orang tuaku. Aku akan menikah dengan seorang gadis yang kukenal dinegeri seberang. Carilah penggantiku, aku memang tak pantas untukmu,dan kuharap penantianmu berakhir mulai hari ini,” bebernya begitu tenang, seraya menantap laut lepas.

Troy jauh berbeda dari 3 tahun silam. Dia begitu kokoh dan dewasa.

“Troy, apa salahku?” tanyaku tak bisa terima.

“Bukan kamu yang salah. Bukan juga aku. Keadaan yang salah Sophia. Kita dipermainkan oleh keadaan,” ujarnya begitu dewasa.

Akhirnya, Troy pelan-pelan melepaskan pelukanku, lalu berjalan dan berjalan semakin jauh dariku.

Bagai mimpi disiang bolong, Troy datang menyapaku, lalu pergi lagi, tak menoleh sama sekali kebelakang sekalipun, walaupun aku terduduk tak bertenaga di atas pasir putih ini. Aku akan kehilangan Troy untuk selamanya.

Beberapa tahun kemudian aku baru tahu, kepergian,Troy selama ini adalah karena ancaman papaku. Jika Troy tak meninggalkan aku, papa akan menghancurkan bisnis orangtuanya dan bahkan akan menghabisi nyawa kedua orang tuanya. Aku baru tahu, setelah tanpa sengaja aku membaca Blog Troy yang kutemukan tak sengaja di dunia maya. Di sana tertulis banyak kisah kehidupannya dalam cerpen, cintanya, kerinduannya, dan juga pilihan sulit yang harus dia pilih. Yang semuanya memang persis sekali dengan kisah yang kami jalani.

Dan pernikahan yang dia bilang dulu, ternyata hanya sebuah alasan supaya aku benar-benar bisa melupakannya.

“Papa, kamu begitu kejam!”

“Kau pisahkan kami, tanpa mau tahu kepedihan dihati kami. Kejam..kau sungguh kejam,” rintihku perih dan kecewa, saat kutahu semua alasan Troy meninggalkanku.

Dari balik tirai kulihat hujan mengucur deras, sekan-akan tahu kesedihan yang kurasa.

Saat aku bangun besok pagi, ngak tahu apa yang harus saya ucapkan dengan papa. Dia yang membuat aku hadir di dunia ini, tapi dia juga menghancurkan sekeping hatiku.

Untuk saat ini, aku sangat-sangat membencinya……..

Taiwan, 14 Sepetember 2008

bersambung ke Pantai Penantian