pic diambil dr Kathys Comment

By A ling


Leene adalah pacarku. Gadis hitam manis, berambut lurus, berdagu lancip, adalah gadis pujaanku. Sudah 3 tahun kami menjalin hubungan indah ini. Dapat kulihat dan kurasakan kebahagiaan terpancar di balik bola matanya yang sayu itu, saat ku berikan dia buku yang dicari-carinya selama ini.

“Aku sudah cari dimana-mana ngak dapet,kamu kok bisa dapet sih?” ujarnya dengan raut muka berseri-seri.

Aku senang bisa menatap raut mukanya seperti itu.

Leene, jika sudah menginginkan sesuatu, dia akan terus berusaha mencarinya. Hampir seluruh toko buku dik ota ini dimasukinya, tapi tetap tak membuahkan hasil.

“Sudah habis, mbak!” ujar pelayan toko buku yang dikunjunginya. Lalu dia berjalan lemas meninggalkan toko buku itu.

“Aku dapat buku ini di Khenting saat kantorku mengadakan tour kesana. Aku sengaja meluangkan waktu, untuk mencari buku ini di sana.” jelasku seraya menyalahkan rokok.

“umm.. terimakasih ya, sayang.” ungkapnya dengan manja seraya memberikanku sebuah kecupan mesra.

###

Seperti malam minggu biasanya, aku kerumahnya untuk mengajaknya keluar makan ataupun menonton film.

Namun malam ini, kulihat mamanya menatapku dengan tatapan yang sedikit aneh tak seperti biasa aku berkunjung. Aku tak paham apa arti tatapannya. Tapi mulai kurasa ada yang janggal dan kayaknya mamanya mulai tidak menyukaiku. Aku tidak tahu apa kesalahan yang telah kuperbuat.

“Ai, selamat sore! Leene ada di rumah tidak, ya? ” tanyaku ragu-ragu.

“Ada.” jawabnya ketus.

Kulihat Leene muncul dari balik pintu kamarnya.

“Ayo, kita pergi!” ujarnya seraya mengandeng tanganku.

“Ai. Aku ajak Leene keluar ya!” kataku meminta izin.

“O. Jangan pulang terlalu malam!” jawabnya dengan tatapan tak senang .

Aku dan Leene pergi kearah puncak Huasan. Di sini paling terkenal dengan cafe. Banyak makanan yang ditawarkan, yang bahan dasarnya adalah kopi. Kupesan 2 cangkir Latte dan beberapa tart. Kami sengaja memilih duduk di lantai dua, seakan-akan berada di alam terbuka.

“mmm…. Indah sekali pemandangan di sini.” ujarnya seraya berajak dari kursi dan merentakkan tangannya menghirup udara yang segar sambil menutup mata.

Dia sangat senang menikmati indahnya panorama karya sang pencipta di tepi kota begini. Dari sini akan terlihat lampu-lampu kota yang berkelap-kelip menawan.

Hawa gunung mulai terasa sedikit dingin. Kulepaskan jaketku, lalu kekukenakan pada Leene. Aku tidak ingin dia kedinginan karena aku tahu jika dingin sedikit, hidungnya akan beraksi karena alergi.

“Thanks! ” ucapnya seraya memperbaiki kerah jaket yang kukenakan padanya.

###

Beberapa bulan kemudian.

Saat aku lagi sibuk membuat data penjualan, ponselku berdering.

Lalu kutekan, gambar ganggan telepon berwarna hijau. kudengar isak tangis dari seberang sana.

“Leene kamu knapa?” tanyaku panik.

“Mamaku, telah menerima tawaran mak comblang supaya aku menikah dengan orang Hong Kong.” katanya putus-putus di balik isak tangis, di seberang sana.

Aku terkejut mendengar berita ini. Pantasan tatapan wajah mamanya beberapa hari yang lalu berbeda. Ada rencana yang telah dia susun rupanya.

“Leene. kamu bisa keluar sekarang? ” tanyaku lagi.

“Tidak mungkin. Mamaku sudah kasih ultimatum supaya aku tidak boleh menemuiku. Kalau aku menemuimu, aku akan semakin cepat di kirim ke Hong Kong.” jelasnya dengan suara agak kecil, seakan-aan takut mamanya tahu perbincangan kami ini.

Aku benar-benar naik pitam. Kuberlari kearah parkir, kuhidupkan sepeda motor dan menuju rumah Leene. Aku disambut mamanya dengan muka yang tidak sedap.

“Ai. Kamu kok kejam sih sama anak sendiri?” tanyaku marah tanpa basa-basi”.

“Itu urusan saya. Dia anak saya. Saya berhak menentukan nasibnya.” jawabnya tak mau kalah.

“Apa yang bisa kamu berikan padanya? kamu tak punya apa-apa.” tanyanya begitu meremehkanku.

“Tapi…

Ai mesti tanya apa Leene mau atau tidak?” jelasku tak kalah sengit.

“Sudah…sudah… pulang sana. Jangan cari-cari Leene lagi.” katanya seraya mendorong tubuhku keluar dan masuk seraya menghempas pintu depan rumahnya.

###

Ingin rasanya kubunuh wanita ini. Aku benar-benar tidak bisa menerima vonisnya ini. Terlalu kejam buatku. Rasa cintaku pada Leene sudah merasuk dalam sendi-sendi tubuhku.Tak mungkin aku melepaskannya begitu saja.

Kuhubungi posel Leene. Nada tak aktif. Kucoba dan terus kucoba, hal yang sama terjadi. Mungkin ponsel juga sudah dikuasi mamanya. karena ini satu-satu cara saya menghubungi Leene.

Karena penasaran dan tak tahan menahan rindu ini, akhirnya kudatangain rumah Leene lagi. Tapi mereka sudah tidak disana. Hanya tertulis kalimat ini di sana.

“DIKONTRAKAN/DIJUAL”.

Entah dibawa kemana Leeneku?

Entah di mana Leeneku sekarang?

Kukepal tanganku, kupukul ketembok hingga darah mengucur dari jari-jariku.

Kularikan motor kearah pantai, kuteriak kuat-kuat di sana. Ingin kutumpahkan rasa kesalku pada laut yang tak bersalah, namun laut tetap hanya bisa diam membisu melihat ulahku.

###

Karena kejadian ini, aku memilih mengurung diri dalam kamar. Aku benci dengan diriku, knapa papaku meninggalkan kami, pada saat saya masih kecil, pergi bersama wanita lain?
Membuat mamaku harus berjuang keras untuk membesarkanku! Padahal papaku cukup terpandang dalam masyarakat. Ini juga yang menjadi alasan wanita brengsek itu.

“Papanya aza begitu, anaknya ngak akan jauh-jauh dari sifatnya.” itulah sindiran yang tak sengaja aku dengar untuk meracuni Leene.

Aku tidak bisa terima kenyataan ini. Terlalu kejam rasanya dunia ini.

Apa ini salahku?

###

“Dengan apa kamu bisa membahagiakan Leene?” tanyanya seakan-akan mencibirku. kata-kata itu terngiang lagi di telingaku.

“Wanita brengsek!” makiku sambil mengepal tinjuku.

Aku benar-benar membenci wanita itu, ingin kubunuh jika aku bertemu dengannya. Biar dia tahu, sakit yang kurasa. Hatiku teriris begitu dalam, luka-lukanya mengangga terlalu besar, sakitnya sudah keakar-akar.

“Seumur hidupku aku membenci wanita brengsek itu. Aku tak akan memaafkannya, tak akan…,” gumanku.

Aku baru sadar setelah mamaku menggedor pintuk amarku seraya memanggilku dengan sangat nyaring. Mamaku, bingung dengan apa yang aku ocehakan sendiri dari dalam kamar.

“Otaknya, sudah benar-benar diracuni oleh uang dan harta.
Ma…bukankah uang dan harta bisa dicari ? ” ujarku yang akhirnya menagis dalam pelukan mamaku. aku sudah tak sanggup menahan rasa sakit ini.

“Sabar!” ujar mamaku sambil menepuk pundakku, lalu dia mebelai kepalaku, memberi penguatan.

###

Sudah tiga tahun berlalu.

Aku juga ngak tahu bagaimana Leeneku. Namun rasa dendam pada mamanya telah mengakar kedalam dagingku.

Ingin rasanya kucuci otakku, sebersih-sebersihnya dari memori ini. Kenanggan-kenangganku bersama Leene selalu aza muncul, baik kuinginkan atau tidak sengaja tiba-tiba terlintas di kepalaku. Kadang malah sampai terbawa kedalam mimpi tidurku.

kulihat Leene menderita seakan-akan tangannya ingin mengapai tanganku. Begitu jauh. Tangannya tak bisa kugapai.

“Leene ada apa denganmu?” tanyaku sambil mengusap mataku.

Rupanya aku bermimpi hal yang sama untuk kesekian kali.

“Knapa aku bermimpi hal yang sama?”

“Apakah Leeneku tidak bahagia?”

Aku tak pernah tahu jawabannya. Tak ada kabar dirinya sama sekali. Anginpun tak pernah mau memberitahuku, bagaimana keadaan leene. Dia benar-benar hilang bagai di telan bumi.

Keputus-asaanku atas sifat mamanya, sempat membuat aku down.

Untung suport mamaku dan seorang sahabat maya, mampu membangun aku, dari mimpi buruk.

“kamu dihina, jangan diam. Buktiin ke mereka, kamu bisa lebih baik!”

“Aku harus bangun. Aku harus mengubah nasibku!” sumpahku.

###

Kuambil beberapa kursus. Dengan semangat dan kutekunan diriku, dalam dua tahun aku sudah bisa berbahasa inggris dan mandarin, walaupun tidak terlalu fasih.

Pengetahuanku tentang komputer sudah lumayan. Kucoba memulai usaha. Kubuka toko yang menjual alat-alat eletronik. Dari usaha kecil-kecillan, terus dan terus berkembang. Nasib baik dan mujur bersama aku.

Toko pertama sukses. Aku buka toko kedua dan seterusnya. Aku sudah bisa mengendarai mobil mewah.Tinggal di rumah megah. Keluar negeri bukan masalah bagiku.

Tapi aku gagal dalam masalah cinta. Hatiku masih sulit untuk mempercayai cinta. kegagalanku di cinta pertama menjadi trauma yang mengerikan bagiku.

Mencari gadis cantik dan menarik bukan hal susah buat aku, dengan posisiku sebagi pengusaha sukses.

Namun, Cintaku sulit berlabuh.

Aku memang bodoh. Cintaku langsung kulabuhkan semua di cinta pertama yang dulunya kuharap juga akan menajdi cinta terakhirku.

Kegagalan cinta pertama, membekukan hatiku.

Satu persatu temanku menawarkan gadis-gadis cantik dan menawan padaku. Tak seorangpun membuat aku tertarik. Kenapa sulit benar untuk mempunyai rasa itu, atau jodohku belum sampai kah?

“Biarlah semua berjalan sesuai rencana yang di atas sana.” jelasku menanggapi desakan-desakan sahabat-sahabat karibku.

###

Lima tahun sudah saya tidak pernah tahu kabar Leene. Aku tak akan menunggunya lagi. Aku sudah lelah! Lelah! memikirkannya.

Kubakar semua surat-surat cinta dari Leene dan foto-foto bersama kami. Selembar…selembar… saya masukin kedalam api yang menyala. Bersama hangusnya kertas dan foto-foto ini, kuberharap cintaku padanya juga ikut terbakar, hangus dan jadi abu. Ikut musnah. Biarlah, dikehidupan akan datang cintaku yang tertunda akan bersambung kembali, kalau memang ada jodoh lagi.

“Cobalah membuka hati untuk orang lain!” perkataan yang sama dilontarkan mama dan teman-teman masa kecilku.

Aku tak berani memberi jawaban apapun untuk mereka. Aku belum siap. Aku selalu dibayangi ketakutan masa lalu.

###

Hari ini, perusahaan baruku diresmikan. Banyak undangan yang hadir. Ada satu undangan yang memiliki daya tarik sendiri buat kedua mataku. Ingin rasanya terus melihatnya. Sekilas gadis itu mirip sekali dengan gaya Leene.

Setelah saya tanya-tanya, ternyata dia adalah salah seorang karyawatiku di kantor pusat.

Rasa penasaran membuaiku terbangke kantor pusat.

Aku jarang ke kantor pusat karena di sana sudah aku tempatkan seorang sahabat karibku untuk menangani semua masalah kantor.

Melihat kedatanganku tiba-tiba di kantor pusat tanpa pemberitahuan dia merasa heran. Tanpa malu-malu, kuceritakan masalahku, karena dia sudah seperti saudara buatku.

Dia malah tertawa mendengar kisahku.

“Manusia aneh kamu!”

Baru lihat sekali,mampu membawamu terbang kesini?”, godanya senyum-senyum sendiri sambil geleng-geleng kepala.

Aku minta bantuan sahabatku ini untuk menyusun pertemuan kami.

Darinya aku tahu bahwa Merry masih sendiri. Aku senang. aku diperkenalkannya dengan Merry. Dari raut muka dan sinar matanya, aku dapat merasa Merry juga menaruh rasa yang sama.

Karena sudah siang saya ajak mereka keluar makan. Dari sini banyak perbincangan terjadi. Aku memberinya kartu namaku dan meminta no ponselnya . Dia tidak keberatan dan menyebutkan no ponselnya yang langsung kurekam di ponselku.

###

kuberanikan menelpon Merry. Sering kukirim mesage-mesage menayakan kabarnya. Lalu aku membranikan mengajaknya keluar.
Saya ajak dia makan ketempat yang romantis, kesebuah restouran di pantai Khenting. Sambil menikmati hidangan malam, terdengar aluanan musik penyanyi dari negei seberang “Siti Nurhalizah”. Sekali-kali, kulirik dia seraya menghirup juice lemon kesukaanku.

“mmm…dia…memang cantik. Sangat cantik.” gumanku dalam hati.

Dia juga memiliki inner beauty. Cara berpikirnya yang dewasa dan wawasannya yang luas banyak membantuku dalam menghadapi masalah kehidupan dan bisnis.

Aku sering berbagi dan sering menceritakan semua kejadian yang kualami sekedar mengeluarkan uneg-unegku berharap mendapat saran darinya. Bahkan tanpa sadar aku pernah menceritakan sekilas masalaluku kepadanya. Aku sangat mempercayainya.

Aku pernah menyatakan cintaku padanya. Dia menolak karena merasa tidak pantas bersamaku, karena perbedaan status.

“Ah,….Kita bagai langit dan bumi, Rian.” jelasnya tersenyum ngentir.

kamu tahu sudah tahu kan tentang masa laluku. Cintaku kandas karena masalah uang dan harta. Tapi aku tidak akan mempermasalahkan 2 hal ini. Uang dan harta serta satus sudah kumiliki.

Yang aku butuh adalah orang yang aku cintai dan mencintaiku, mau menemaniku, menyayangiku dan tidak meninggalkan aku, apapun yang terjadi di dunia ini kecuali kematian.” jelasku serius.

##

Setahun sudah aku jadian dengan Merry. Kuberanikan diri untuk melamarnya. Pesta perkawinan kami rayakan besar-besaran. Banyak media masa meliputi acara pernikahan kami.

Aku dengan bangga membeberkan cinta terakhirku pada semua orang. Memperlihatkan kepada dunia kemolekan dan kepintaran yang dimiliki oleh isriku. Semoga wanita brengsek itu, juga tahu berita ini.

Kuharap wanita brengsek itu, menyesal telah menghinaku. Aku yakin, Leene juga akan membaca beritaku ini. Aku ingin Leene tahu kesetianku padanya sudah berlalu. 5 tahun aku dalam penantian yang sia-sia.

Tapi dalam hatiku, aku tetap berharap Leene juga berada dalam sebuah keluarga yang bahagia, suami yang mencintainya, anak-anak yang manja dan manis-manis menemaninya. Hidup berkecukupan seperti harapan mamanya. Aku tak pernah sanggup untuk membencinya.

Memaafkan memang belum mampu aku lakukan, tapi saya sudah bisa mulai melupakan Leene, karena aku tak ingin dikehidupan rumah tanggaku yang baru, di kehidupan cintaku yang baru, ada serpihan hati yang luka, ada nama orang lain di sana.

Aku sekarang telah menemukan ratu hati yang pantas kucintai dan menerima cinta dengan tulusku. Cintanya mampu membuat dawai hatiku bergema. Aku damai dan nyaman di sampingnya.

Aku akan memberikan seutuhnya cintaku pada Merry, menyayanginya, memberikan dia kebahagian utuh. Itulah,”JANJIKU”.

Taiwan, 9 September 2008