Oleh Aling (Cerpen Fiksi)


Aku menuju bagian akademik untuk mengurus kepindahanku ke kampus baru, yang lebih dekat dari kostku.

Tampangku yang kalem dan postur tubuhku yang mirip model menurut sahabat-sahabatku, mampu membuat aku menjadi sorotan mahasiswa di kampus baru, UNTAN ini.

Aktifitasku di kegiatan akademik, membuatku cepat mengenal mahasiswa dan mahasiswi di kampus baru ini.

Belakangan ini, banyak surat-surat cinta yang kuterima, atau ajakan secara langsung untuk menikmati akhir pekan atau sekedar jjs. Tapi aku tak berminat dengan semua ajakan tersebut. Ngak tahu knapa, tak satupun mahasiswa di kampus ini yang dapat membuat hatiku tersentuh karena perbuatan mereka kadang kurasa terlalu berlebihan dan agak konyol.

###

Pagi ini pelajaran komputer. Aku paling suka dengan dosen baru yang satu ini. Berkulit putih, berkaca mata…pokoknya cool banget. Dan yang paling menarik dia mengenakan pakaian apa saja enak dipandang.

Apapun yang dia terangkan selalu mudah otakku tanggkap, sehingga membuat aku paling semangat mengikuti mata kuliah satu ini.

Kupandang terus mukanya sambil mendengarkan dia memberi penjelasan atas pertanyaan salah satu mahasiwa. kadang-kadang indera keenamku memberiku sinyal kalau dosen ini juga lagi memandangku.

“Apa, dia tahu dan merasakan kalu aku lagi memandangnya ya?” tanyaku dalam hati bingung.

Semua rasa ini kusimpan dalam hati, karena aku tidak berani menceritakan hal ini pada siapapun, termasuk sahabat karibku Lisa.

“Aduh nona manis ngelamun apa sih? Dosen sudah keluar masih duduk dengan tatapan kayak gitu.” goda Lisa, sambil melambaikan 5 jari-jarinya di depan mataku.

Walah aku masih larut dalam lamunan yang menghatarkanku kedunia lain… kok bisa ya, otakku memikir dosen satu ini, sampai separah ini.

***

Pagi ini kayak biasa , saya tunggu bis mau pergi kuliah. Sudah hampir setengah jam, saya berdiri menunggu disini. Tapi bis selalu penuh dengan orang-orang. Maklum kalau pagi hari banyak orang mau ke sekolah, ke kampus, ke kantor.

Tiba-tiba aku dengar klakson dari mobil di depanku.

“Ayo naiklah, kita sama-sama ke kampus.” sapa Roy, sambil melambaikan tangan dari dalam mobilnya.

Roy adalah teman sefakultasku.Tanpa berpikir panjang saya naik ke mobilnya, apalagi a waktuku juga hampir telat. Bisa-bisa saya terlambat mengikuti mata kuliah dosen kiler hari ini.

“Kamu, kok lewat sini.” tanyaku heran.

“Rumahku di ujung jalan itu. Orang tuaku buka toko Emas Permata Bunda.”

“Lah, kamu juga tinggal didaerah sini ya?” Roy balik bertanya.

“Aku kost di gang Asean.” jelasku lagi.

“Ya sudah setiap hari saya jemput kamu, kita kan searah.” pintanya menawarkan diri.

“Ah… ngak usahlah. Thanks!” kutolak dengan halus, maksud baiknya.

Karena aku paling ngeri jadi gunjingan di kampus. Apalagi aku tahu, banyak mahasiswi yang menaruh perhatian pada Roy.

***

Sudah satu minggu tidak melihat dosen favoritku. Hari ini pelajaran komputer lagi. Aku sengaja berpakaian agak menarik. Sehelai demi sehelai baju-baju dilemariku kucoba, akhirnya aku pilih kemeja biru dan mengenakan rok jeans di atas lutut. Rambutku kusisir berulangkali, kupoles sedikit lip gloss, kulihat cermin berulang-ulang (untung cermin ngak bisa bicara….) apakah sudah oke penampilanku hari ini. Setiap pelajaran komputer, aku selalu saja merasa penampilanku kurang.
Setelah itu saya bersiap-siap menunggu bis di depan gangku.

“Ayo…sekalian sama-sama ke kampus!” ajak Roy, sembari mengulurkan kepalanya dari dalam mobil, yang beberapa saat tadi bunyi klaksonnya, sempat mengejutkanku.

Akhirnya aku naik juga. Sesampai di parkir kampus, pas mau turun kulihat dosen favoritku keluar dari dalam mobilnya. Dengan senyum ramah aku menyapanya, “Selamat pagi Pak!”

“Pagi” jawabnya singkat sembari tersenyum.

Dari percakapan singkat kami, baru aku tahu bahwa dosen itu adalah saudara sepupu Roy.

Sejak melihat saya dengan Roy di parkir kampus itu, dosen ini menggangap saya dan Roy adalah sepasang kekasih.

“Jaga Roy baik-baik ya?” ujarnya suatu hari pas ketemu di ruang komputer pas yang lainnya lagi sibuk-sibuk membuat tugas komputer.

“Walah… saya dan Roy hanya teman saja, Pak!” jelasku, membela diri.

“Roy bilang, dia naksir kamu, loh!” ujarnya lagi.

“Saya hanya anggap Roy sebagai sahabat.” beberku lagi sambil menetralkan hatiku yang mulai berdeggup kencang.

“Ya Tuhan, yang aku taksir bukan Roy, tapi kamu.” pekikku dalam hati.

Tapi aneh justru orang yang aku suka, kok kayaknya cuek-cuek aza.

***
Akhirnya, kuputuskan untuk menceritakan semua yang kurasa ke Roy, bahwa yang aku suka adalah dosen komputer cute itu.

“Apa?” tanya Roy setengah terkejut, hampir tak percaya.

“Iya. Aku ngak bisa bohongin hatiku, dan aku juga ngak punya cara supaya dosenku itu tahu, ada sebuah rasa dihatiku melihat dosen itu. Bantu aku ya Roy!” pintaku seraya memohon.

Kulihat kekecewaan di mata Roy.

“Roy maafkalah aku, mungkin aku bukan yang tepat untukmu, aku yakin Tuhan telah sediakan yang terbaik buatmu”, ujarku karena kulihat rawut mukanya yang berbeda.

“Roy, kamu mau bantu aku ngak?” tanyaku lagi.

“Ya, akan aku usahakan dan bantu sebisaku.” ujarnya lemas.

***
setelah Roy ceritakan ke Heri (nama dosenku). Heri mulai menelponku, mulai mengajakku jalan-jalan, ke toko-toko buku atau perpustakaan. Ini adalah tempat favorit Heri. Aku mulai sibuk dengan kebersamaanku dengan Heri. Aku senang bersamanya walau tempat yang dia kunjungi ngak semuanya adalah tempat yang biasanya dikunjungi anak-anak muda. Aku mulai lupa dengan Roy.

Suatu sore aku dapat sebuah dari sms Roy.

“Laura,kamu sudah jadian belum dengan Heri, aku harap kamu bahagia, kamu memang pantas dengan Heri. Kudoakan kalian selalu bahagia. Jaga diri baik-baik! Karena aku…”

Aku heran kok ngak ada kelanjutannya. Aku balas smsnya.

“Karena apa Roy?” kutulis kalimat ini dan aku tekan kata “kirim”

Tapi ngak pernah ada balasan dari Roy.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan waktu berlalu. Roy hilang bagai ditelan bumi. Tak pernah aku lihat dia di kampus, atau lewat setiap pagi di depan gangku.

Aku kira dia sibuk dengan bisnis orang tuanya yang buka cabang di daerah lain. Dari pembicaraan salah satu mahasiwi samar kudengar pernah melihat Roy di rumah sakit ganti darah. Kudekati mahasisiwi itu. Kutanyakan apa yang kudengar tadi .

” Roy mengindap Leukimia?” tanyaku hampir tak percaya.

Mahasisiwi itu mengangguk kepala. Saa itu dia juga menggantar mamanya cuci darah karena leukimia.

“Ya Tuhan, Roy kok ngak pernah cerita kepadaku,” ujarku lirih dan terkejut seraya menempelkan kedua tanganku ke mulutku yang melonggo mendengar berita ini.

Kutelepon Roy, tapi dia tidak pernah mau mengakat telepon dari aku. Ngak banyak orang yang tahu atas penyakit Roy ini, Heri aja terkejut saat saya beritahukan. Aku ke rumah Roy.Tapi ngak kutemukan Roy disana.Ternyata Roy pindah ke kota sebelah dimana perawatan medis lebih lengkap.

Kusiapkan barang-barangku dan aku pergi mencarinya di kota itu. Setelah aku temukan alamat yang diberikan tetangganya aku memberanikin diri memencet bel rumah bercat biru ini.

“Cari siapa non?” tanya wanita separuh baya.

“Maaf tante apa ini rumah Roy.” tanyaku seraya menganguk kepala dan tersenyum.

“Iya, kamu siapa ya?” tanyanya lagi.

“Aku sahabat baik Roy, di kampus. Boleh aku menjenguknya, tante?” jelasku sambil meminta izin supaya aku diperbolehkan menemui Roy.

“Terimakasih atas kebaikanmu. Saya tanya Roy Dulu, ya!” ujar perempuan separuh baya ini, berlalu meninggalkanku di ruang tamu.

“Jangan, tante…kalau diberitahu, aku yakin Roy tak ingin bertemu denganku!. Tante ketuk pintunya, biar saya pelan-pelan masuk ,memberinya suprise.” jelasku meminta pertimbangannya.

Dia mengngguk setuju.

Lalu mengetuk pintu. Lalu membiarkanku masuk ke kamar Roy, karena pintu kamranya tidak di kunci. Sedang mama Roy, menunggu aku di ruang tamu, kwatir Roy tak bisa terima kedatanganku yang tiba-tiba.

###

Kulihat Roy terbaring lemah, kurus di tempat tidurnya.
Aku hampir tak percaya dengan pemandangan di depanku. Roy begitu banyak berubah.

“Roy, kamu kok ngak pernah cerita dan menghilang begitu saja, kamu tak pernah menganggap aku sahabatmu ya?” tanyaku saat dia tiba-tiba membalikkan badannya mendengar suara kaki melangkah dari pintu.

“Laura!” seru Roy terkejut melihat aku di hadapannya.

“Kok kamu tahu alamatku di sini.” tanyanya penasaran.

“Ada… aza! ” ujarku seraya tersenyum.

“Laura, aku malu dengan keadanku ini. Lihat rambutku sudah hampir rontok semua. Aku makin jelek dan umurku hanya tinggal hitung waktu saja.” bebernya begitu lemah.

“Tak ada yang bisa menentuakan hidup dan mati seseorang sekalipun dia dokter terhebat, banyak berdoa…serahkan diri seutuhnya dalam namaNya.” ujarku hampir menangis melihat keadaan Roy sekarang.

“Biarkalah aku menemanimu dan aku siap berbagi cerita denganmu.” jelasku sambil tersenyum gentir.

“Ah, biarlah semua berjalan apa adanya, lakukan aktivitasmu seperti biasa, jangan pernah kamu mengistimewakanku karena penyakitku ini. Itu hanya membuat aku benar-benar seperti orang sakit.” ucapnya sinis… sambil menyalahkan remote televisi.

Di balik penyakit ganas itu, kulihat ketegaran di hati Roy. Dia sama sekali tak ingin merepotkan orang lain termasuk aku. Tapi aku tak mungkin membiarkannya melalu hari-hari pahit sendiri, aku akan menemaninya, akan kucari alasan supaya aku bisa sellau bersamannya.

Kami berbicara panjang lebar, sampai menjelang senja. Akhirnya, aku berpamitan dan berjanji akan sering-sering menjengguknya.

Rasa dalam hatiku brcampur aduk, ada rasa kasihan, ada merasa tak tega, tapi semua kutahan tak ingin aku perlihatkan di depan orang tua dan Roy.

Aku selalu berusaha meluangkan waktu untuk selalu mengunjunginya dan mengajaknya jalan-jalan di taman di sekitar dekat rumahnya, menikmati sinar matahari pagi, ataupun menyaksikan anak-anak bermain senang .

Untuk keluar rumah, Roy harus ada yang menemaninya, karena bisa saja dia tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri, kapan saja.

Kadang-kadang, rasa sakit itu bisa tiba-tiba merasuk di tubuhnya, dan mesti secepat mungkin di larikan ke rumah sakit.

Apalagi saat dilakukan terapi penyembuhan, kulihat dia menahan sakit yang luar biasa, dia menahan sampai merinding kedinginan. lalu tergulai lemas.

Kurebahkan kepalaku dibantal, kupeluk dan kudekap dia erat-erat .Kuharap tubuhnya dapat merasakan kehangatan dari aura tubuhku. Kugenggam tangannya untuk memberi suatu kekuatan padanya dan aku ingin dia tahu, aku bersamanya. Keadan ini yang selalu membuat aku tak tega tega lihat keadaannya, yan kadang membuat bulir-bulir air mata sulit kutahan.

***
“Roy, inzinkan aku menemaimu!” pintaku, saat matanya terbuka dari pingsan yang kesekian kali.

Setelah sadar beberapa saat dia menyuruh aku pulang untuk istirahat. Dia seakan-akan tak ingin membuat aku kwatir dan berharap aku tak melihat dia dengan segala penderitaan yang dialaminya.

Walaupun tinggal sedikit waktu yang kamu miliki, aku harap di hari-hari terakhirmu aku bisa selalu bersamamu.

“Thanks, Laura. Kehadiranmu memang mampu membuat aku kuat, tapi aku ngak mau gara-gara aku kamu jadi melalaikan tugas-tugasmu. Aku harap, kamu seperti biasa dan jangan perlakukan aku seperti orang sakit.” pintanya setengah memohon.

Kebersamaanku dengan Roy, bukan saja menumbuhkan rasa simpatikku padanya akan ketegarannya dalam menjalani segala derita akibat penyakitnya ini tapi pelan-pelan telah mampu menggeser rasa cintaku pada Heri.

“Aku juga tak yakin apakah ini di namakan cinta dan semudah itukah cinta berpaling? ”

Tapi, yang aku tahu Roy lebih butuh aku. Akan kutemani Roy menikmati hari-hari yang tersisa, yang aku sendiri tidak tahu tinggal berapa lama.

Aku akan selalu mencoba memberi dia kekuatan dan kuharap pelukan dan cintaku mampu menghangatkan hatinya.

“Roy, walau sedikit waktu yang kita miliki, aku ingin… ini adalah saat-saat termanis yang pernah kita alami.” bisikku suatu hari seraya mendorong kursi rodanya di taman rumah sakit.

Penyakit Roy sudah makin parah dan mengharuskannya rawat inap di rumah sakit.

“Thanks Laura! Maafkan aku telah banyak merepotkanmu.” ujarnya agak lemah.

Kutempelkan telunjuku ke mulutnya.

“Jangan pernah mengatakan lagi, kamu merepotkanku. Semua ini kulakukan dengan senang hati. Aku sayang kamu.” bisikku seraya mendekatkan mulutku ke telinganyA.

“Nikmati hari-hari bersamaku, jangan pernah berpikir yang macam-macam, oke!” ujarku seraya tersenyum seraya memperbaiki shall di lehernya.

“Roy. Biarkan cinta di hatiku tumbuh dan bersemi!” ujarku sambil berjongkok menggengam tangannya.

Kulihat butiran jatuh dari sudut matanya.

“Laura, aku tak pantas membuat kamu begini. Aku juga tak pantas menerima cintamu. Aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu, menyita waktumu. Cukup…ini semua sudah cukup bagiku.” ungkapmu begitu bijkasana, seraya memandangku.

Kuhapus air mata yang mulai mengalir itu.

“Kamu tahu, kebersamaan kita selama ini membuat aku lebih mengenalmu. Tahu banyak sisi, dalam hatimu yang begitu baik.” ujarku lagi.

“Izinkalah, aku menemanimu Roy! Sampai akhir hidupmu.” pintaku setengah memohon.

“Laura aku ngak tahu mesti bagaimana?”

“Terimakasih atas semua ini.” ujarmu pelan.

“Janji ya! kita bersama.” kataku sambil menempelkan kelinking kami.

###

Heri akhirnya pacaran denga Lisa sahabat baikku. Dia merelakan aku dengan keputusanku, karena dia menganggap Roy memang lebih butuh aku.

Walau pertama kali saat dia tahu keputusanku, dia tidak bisa terima sama sekali, tapi terus dan terus ku beri penjelasan dan pengertian.

Apalagi saat kukatkan kalau aku akan menikah dengan Roy, aku malah dibilangnya, orang gila. Kupersetan dengan semua ocehannya. Yang menganggap segala tindakanku hanya karena rasa kasihan akan keadaan Roy.

Kubuktikan pada semua orang termasuk Roy, kalau aku benar-benar mencintainya dengan seluruh jiwa dan tindakanku.

***

Tanah itu sudah mengering. Kubawa serangkai bunga matahari kesukaan kami. Kuletakan di pusaranya. Roy berpulang dalam dekapanku, 5 tahun silam.

Tapi memori indah bersamamu di hatiku tak akan pernah mati…

“Laura kamu harus janji, cari penggantiku! Kalau tidak, aku tak akan bisa tenang di alam sana,” itulah kata-kata yang paling terakhir kudengar, sebelum engkau menutup mata dan tak pernah membukanya lagi, walaupun aku menangis sekeras-kerasnya di sampingmu.

“Roy, namamu akan selalu kusimpan dalam hatiku, selamanya.”

“Tapi aku ingin kamu tahu, aku tidak pernah menyesal dengan keputusanku. Keputusanku bersamamu sudah benar, walaupun sedikit dan sebentar waktu yang kita miliki. Aku merasa sangat bahagia. Cinta kita seperti pelangi walau muncul hanya sebentar tapi keindahannya selalu di kenang dan di dambahkan semua jiwa. Kuharap kamu bisa tenang disana”, gumanku seraya memandang angkasa. Aku tahu kamu selalu melihatku dan menjagaku dari atas sana.

Taiwan, 9 september 2008