Oleh Aling


Aku diam. Kuhisap rokok sebatang demi sebatang. Kusempulkan asapnya keudara. Hanya rokoklah sahabatku  yang paling setia saat aku begini. Kupandangi lautan lepas. Ingin kubagi sesak di dada pada ombak-ombak dan burung laut yang berterbangan kian kemari di udara.

Aku suka menyendiri di tepi Pantai Kendari ini. Pantai yang penuh kenangan manis persahabatan kami.

Duduk berlama-lama memandang langit biru, dan senja. Hari ini, laut tak mampu membuat jiwaku merasa damai, membuat hatiku tenang.

Kebersamaan kami di seketariat pers mahasiswa UNHALU, membuat hidupku selalu ceria. Kami adalah tiga sekawan yang seumpama lem dan perangko di kampus baru universitas Haluoleo (unhalu).

Banyak hal kami pelajari bersama, banyak suka duka kami nikmati bersama.

“Namun yang paling menyakitkan kenapa punya rasa yang sama pada sahabat baik kami Novi?”

“Kenapa kami sama-sama mencintainya?”

Cinta memang aneh, di mana dia mau berlabuh kita tidak tahu,cinta juga tidak bisa dipaksakan, karena akhirnya Novi lebih memilih mencintai Heru.

Hatiku teriris. Sulit aku menerima keputusan mereka, yang kudengar langsung dari mulut sahabat baikku ini melalui ponsel,

“Riski, aku dan Novi jadian!”

Kenapa hatiku tidak bisa menerima bahwa kalian adalah pasangan serasi, bahwa cinta adalah sebuah jodoh.

” Kamu beruntung Heru,” ujarku lemas saat mengakhiri percakapan kita sore itu dengan lemah.

###

Aku mulai menyingkir dari kalian, bukan karena aku tidak mau bersahabat dengan kalian. Bukan iri karena kamu bisa memiliki Novi, tapi hatiku merasa sakit bila Novi lebih memperhatikanmu. Melihat Novi bergelayut manja memegang tanganmu.

Ingin kucoba melupakan semua rasa cinta dalam hatiku, menggangap semua hanya sebuah mimpi, bersama dengan kalian seperti dulu, menjalin persahabatan ini sampai akhir jaman. Tapi aku tak sanggup. Kenyataan ini memang sulit buatku.

Biarlah aku berlalu sementara dari kalian. Untuk memperbaiki kepingan hatiku yang porak-poranda. Tapi aku tidak pernah membenci kalian. Bukan kalian yang salah. Hatiku yang salah. Novi mencintaimu Heru. Kamu lebih pantas mengisi rongga hati Novi. Jagalah dia. Sayangi dia dan bahagiakalah dia!

Bukankah cinta sejati adalah membiarkan orang yang kita cintai bahagia walaupun dengan orang lain?

Aku akan belajar untuk bisa menerima kenyataan ini. Ini adalah isi hatiku yang paling dalam.

Tiba-tiba ponselku berdering. Membuat aku terkejut. Ah ternyata aku melamun lagi, inilah penyakitku akhir-akhir ini. Kulihat nama Novi di layar ponselku.

“HaLLo,” suara manja nan renyah di seberang sana.

“Kamu dipantai ya…kok sinyalnya putus-putus, saya dari tadi mencoba menghubungimu,” suara nyaring Novi keluar dari loudspeker ponselku.

“Iya,”jawabku pendek.

“Tunggu aku ya! Aku akan segera ke pantai. Sebenarnya aku juga telah mengira, kamu pasti  disana,” ujarnya, lalu memutuskan percakapan, tanpa memberi aku kesempatan untuk memberi jawaban.

“Kamu kok menghilang sih?” tanya Novi memulai percakapan. Tanpa ada kata sapa basa basi.

Novi memang gadis yang periang dan pandai berbicara.

“Aku kangen sama kamu lho,” ujarnya seraya memandangku.

“Kamu kan sudah ada Heru,” kataku sambil menyalakan sebatang rokok lagi.

“Ih… kapan kamu mulai merokok? Setahuku, kamu kan tidak merokok!” tanya Novi sambil mengibas-ngibas asap rokok.

“Heru adalah pacar saya, kamu adalah sahabat terbaik kami,”

“Aku dan Heru tetap sahabat kamu. Ngak ada yang berubah sedikitpun,” jelas Novi.

lalu ia..mulai berdiri dan berlari-lari di tepi Pantai.

Novi paling suka berkejar-kejaran di tepi pantai. Mencari kerang, memandang wajah jingga sang mentari yang sedang menuju peraduannya, melihat kapal-kapal nelayan di kejauhan.

Novilah yang membuat aku menyukai pantai. Rambutnya yang terurai ditiup angin pantai menambah kecantikannya.

Ayo kesini, koq melamun terus… ntar cepat tua loh,” teriak Novi dari sisi tepi pantai.

Akhirnya kugulung ujung celana, aku melangkah perlahan ke arah Novi.

“Nih, lihat kerang-kerangku sudah banyak,” ujar novi memamerkan kerang-kerang yang dia ambil di tepi pantai.

Novi mulai memercikkan air laut ke wajahku. Yang membuatku tak tahan untuk tidak membalas percikan itu. Akhirnya kami tertawa lepas bersama.

Ya, seandainya dalam hatiku tidak ada rasa cinta, rasa cemburu, aku tidak bakalan sesakit ini. Aku masih tetap bisa bersama Novi dan Heru sahabat baikku.

“Riski,” tiba-tiba Novi memanggil namaku.

Ada hal yang ingin kusampaikan padamu, kuharap aku bisa menyampaikannya secara langsung.

“Aku dan Heru sudah mulai merencanakan acara pernikahan,” ujarnya dengan serius, seraya memandangku.

“Oh! ” hanya itu suara yang mampu keluar dari mulutku.

“Kami benar-benar mengharapkan kamu bisa hadir di acara pernikahan kami,” ujarnya lagi.

Ucapan yang menggores perlahan labirin dalam hatiku, merobek-robek asa dalam angan yang hampir pupus seperti awan tertiup angin pantai.

Sekilas kulihat tatapan keraguan di mata Novi, aku tak tau apa artinya, dan mungkin aku tak perlu tahu. Aku hanya perlu bertahan, agar genangan di sudut mataku tak membanjir keluar. Tak seharusnya airmata kesedihan menyambut kabar gembira dari seorang sahabat. Aku harus kuat dan aku harus mampu bertahan. Kupandangi laut luas, Tuhan berikanlah kekuatan padaku.

“Oke, aku pasti datang,” janjiku sesaat setelah berhasil menenangkan hati yang bergolak.

Kulihat Novi tersenyum, “Gitu dong. Ini baru Riski yang kukenal.”

Karena hari mulai malam…akhirnya kami beranjak pulang.

“Aku akan berusaha melupakan cintaku padamu dan menjadikan kamu sahabat terbaik yang pernah aku miliki,” janjikuku dalam hati, dan mencoba mengusir keraguan yang membias. Seperti ombak menghapus jejak kaki kami di pantai itu.
 

Waktu berlalu begitu cepat, hatiku sudah  mulai bisa menerima kenyataan bahwa kami hanya boleh sebagai sahabat. Aku juga bahagia dengan hubungan ini. Kami tetap bisa bersama seperti dulu. Ya, mudah-mudahan Tuhan masih menyisakan Novi yang lain. Walau kutahu, andai  aku mampu jatuh cinta lagi, barangkali tak akan sedalam ini perasaanku.