pic diambil dari tagged comment

By Aling


Mataku selalu memandang alorji yang melingkar di pergelangan tanganku.

Bukan karena alorji ini merk terkenal atau mempunyai keistimewaan tersendiri. Ternyata baru pukul 15.15 wib. Aku melanjutkan pekerjaan lagi. Tapi setiap lima menit sekali syaraf otakku seakan-akan memerintah mataku untuk melirik arloji. Aku tengadahkan kepala, untung ga ada rekan-rekan kerjaku yang memperhatikan tingkah edanku. Setelah semua kurapikan aku memandang alorji sekali lagi, sudah pukul 16.45 wiba. Wah aku harus segera siap-siap memandang keluar. Ngga tahu kenapa saya jadi seperti orang linglung.

Tik Tak tik tak jam terus berjalan, tapi yang kutunggu juga ngak lewat-lewat sampai hampir pukul 18.00 wiba. Aku kecewa sambil duduk tanpa melepaskan pandanganku ke jalan raya diseberang sana. “Gadis Senjaku, inilah nama yang kupakai karena aku tidak tahu siapa namanya, kemanakah kamu hari ini”, gumanku dalam hati. Dari pagi, siang dan sore tak sabaran menunggu jam 17.00 wiba, karena hampir setiap sore aku bisa melihat engkau. Hanya sekedar melihat engkau lewat, hatiku serasa berbunga-bunga. Hari berganti hari, Gadis Senja itu juga ngak pernah muncul lagi, bagai ditelah bumi. Aku tak tahu dia bekerja dimana? tinggal dimana? siapa namanya?
Aku amat menyesal, tidak bisa memanfaat situasi untuk mengenalmu saat engkau berteduh dari hujan, saat kamu berdiri didepan kantorku. Sambil menepis sisa hujan dipundakmu, dengan rambut setengah basah nan menggoda, membuatku terpelongo dari balik kaca, pesona itu begitu indah. Sampai aku tak sadar ketika kamu lari untuk mengejar bis yang selalu setia mengantarkanmu pulang. Itulah terakhir kali aku melihatmu minggu lalu.
Aku mulai lupa dengan Gadis Senja itu ketika suatu hari, saat kuselesaikan tugasku, sekilas mataku memandang keluar dan samar-samar wajah cantik itu lewat. Ingin rasanya keluar berteriak, memanggilnya dan menatapnya lama-lama.Tapi ngak ada keberanianku untuk bisa melakukan itu semua.

“OH Tuhan, tolong tunjukin caranya biar saya dapat mengenalnya”, rintihku dalam hati. Aku benar ga punya cara untuk memulai pembicaraan dengan pemilik wajah cantik itu.

“mmm aku benar-benar bego”, makiku pada diri sendiri.
Entah bagaimana cara untuk bisa mengenalnya. Akhirnya kuputuskan untuk mengikutinya dan naik bis yang sama.

“Tuhan berilah aku kekuatan”,karena aku merasa jantungku sudah mulai berdetak kencang.

Bagimana aku bisa memulai pembiacaran jika keadaan aku sudah mirip orang yang menggindap penyakit jantung. Dari depan aku lihat Gadis senja itu duduk dibangku paling belakang. Aku masih mesti bergantung karena jam pulang kerja begini, bis penuh dengan manusia-manusia. Aku mulai perlahan-lahan berjalan agak kebelakang. Tiba-tiba penumpang disebelahnya turun, aku cepat-cepat ambil tindakan mau duduk disebelahnya, seraya menganggukan kepala meminta izin untuk duduk disebelahnya.

“Silahkan “, katanya.

Inilah pertama kali aku mendengar suranya. Setelah mengucapkan terimakasih aku mulai duduk disebelahnya, sambil kupasang senyum yang paling manis yang kumiliki.
Tapi aku lihat seorang ibu mengendong anak, akhirnya aku mengalah untuk ibu ini. Padahal kesempatan terbaik sudah ada. Tapi aku tidak tega melihat ibu itu bergantung sambil mengendong anaknya yang kira umur 2 tahun.

“Bu, biar saya berdiri, ibu duduk ditempatku ini”, kataku seraya berdiri.

“Terima kasih banyak “, kata ibu itu terharu.

“Karena dijaman sekarang jarang ada orang yang mau mengalah untuk orang lain”,kata ibu itu setengah berguman.

Perbuatanku bukan untuk dilihat oleh Gadis Senja itu,tapi iklas dari dalam hatiku.

“Masih ada kesempatan dilain hari”, kataku dalam hati.
Hari sabtu,teman-temanku mengajaku ke sebuah mall. Daripada benggong dirumah, kuikuti ajakan mereka. Dari belakang tiba-tiba aku disapa seseorang. Aku menenggok kebelakang, serasa tidak percaya, bahwa Gadis Senja itu yang menyapaku.

“Hai, masih ingat dengan aku”, katanya sambil memainkan anak rambutnya yang tertiup angin.

“Iya,kataku”,padahal aku sangat dan sangat mengenalnya.

Aku salut sama kamu,dijaman sekarang ini masih ada orang yang berhati baik seperti kamu”, katanya seraya mengingatkanku atas kejadian beberapa hari di bis itu.

Kami akhirnya pergi kesebuah kafe dimall itu sedangkan teman-temanku pergi bermain game. Kami duduk dibagian tepi cafe, sambil menikmati juice orange. Ternyata kami punya kesamaan dalam hal minuman. Akhirnya kami bertukaran no hp.Kami mulai sering kontak, dan akhir-akhir ini kami sering keluar bersama hanya untuk sekedar menghabiskan waktu libur.Aku merasa makin menyukainya, tapi aku belum berani untuk mengungkapanya.

“Sabtu depan kita nonton kamu ada waktu?”, tanyaku sedikit ragu.

“Boleh”, katanya seraya tersenyum.

“Oke”, kataku dengan senang.
Setelah kami nonton saya ajak dia kesebuah restoran kesukaanku. Disini tempatnya romantis, diiringan musik-musik yang lembut, sambil makan kita bisa memandang laut.

“Gimana, kamu cocok dengan makanan disini”, kataku.

“wah benar-benar tempat yang special dan makanannya sangat lezat”, katanya sambil memandangku.

Aku jadi grogi.

“Kok memandangku kayak gitu, hari ini ada yang aneh ya? dengan mukaku”, kataku seraya bercanda.

“Kamu orangnya baik sekali”, katanya memujiku.

“Jika aku orang nya baik, menurut kamu, apakah kamu mau jadi pacarku”, kataku membranikan diri.

Dia diam tanpa ada jawaban.

“Kok, diam. Ngak mau juga ngak apa-apa!”, kataku sambil meneguk minuman, seraya cemas akan jawabannya.

Kupandang arah depan, kulihat laut yang begitu tenang.Kami sama-sama diam.

“Emang aku pantas jadi pacarmu?”, katanya memecah keheningan.

“Knapa ngak pantas”, kataku sambil merapikn tempat duduk dan bertanya denagan serius.

Kamu belum terlalu mengenalku, aku berasal dari keluarga yang berantakan”, katanya seraya menarik nafas.

“Yang aku mau adalah dirimu, aku akan berusaha menerima kamu dengan segala kekurangan dan kebaikanmu”, kataku menyakinkannya.

Entah darimana kalimata-kalimat itu bisa keluar dari mulutku.

“Biarlah semuanya berjalan apa adanya”, katanya seraya memandang laut lepas.

“Iya”,kataku.
Kami mulai akrab. Hampir setiap hari saya menjemput dan mengantarkannya pulang kerja. Pergi makan bersama-sama. Cara pandangnya tentang hidup, kebiasannya membuat aku makin menyukainya. Aku ingin dia jadi pacar dan pendamping hidupku.

“Gimana, pertanyaanku yang dulu”, kataku seraya menghidupkan cd dimobilku.Kustel lagu Teresa Theng “Wo The Sin” .

“Pertanyaan yang mana?”, katanya sambil menolehku.

“Maukah kamu jadi pacarku?”, kataku tak segan. karena aku sudah tidak canggung lagi bercakap-cakap dengannya.

“Aku mau kamu jawab”, kataku sambil menghentikan mobil karena lampu merah.

Lama dia diam.

“Kalau orang tanya saya, saya ngak tahu mau bilang apa! Apakah kamu teman or pacarku?”, kataku lagi.

Tapi itu juga bukan soal, aku benar-benar ingin kejelasan dan berharap kamu mau jadi pacarku”, kataku sambil meliriknya.

Dia memandangku. Dia tersenyum. Ah..manis sekali.

“Oke aku jadi pacarmu”, katanya malu-malu.

Senja ini benar-benar senja yang paling indah yang pernah aku miliki. Aku memutar arah jalan. Aku mau bawa dia makan direstoran dimana pertama kali aku mengucapkan cinta padanya, hari ini dia menerimananya. Akan kunikmati senja ini bersamanya , direstoran tepi pantai itu , sambil melihat matahari terbenam dan ombak yang mulai bergulung-gulung.

“Gadis Senja, kamu telah jadi miliku”, kataku dalam hati seraya memandang dikejauhan dua ekor burung camar yang hendak pulang kesarang.

Taiwan, 2 September 2008