pic diambil dr Kathys comment

By Aling

“Apa sih yang kamu pikirkan?”, tanyaku pada Elly, kulihat matanya menatap dengan tatapan kosong.

Kumainkan tanganku didepan mukanya.

“Ada apa sih gangguin orang aza!”, kata Elly senyum-senyum.

Elly adalah sahabat karibku. Kami sama penduduk Indonesia yang merantau Ke Taiwan. Banyak suka duka kami alami bersama. Kami bagai kakak beradik.

Elly cantik, periang, suka membantu, banyak hal-hal positif yang dimilikinya. Kadang aku mersa iri dengan kecantikan yang dimilikinya.

Rambutnya yang ikal, dagunya yang lancip, hidungnya yang mancung, matanya yang selalu berbinar membuat aku merasa Elly adalah sosok sempurna sebagai perempuan.

“Lagi mikirin apa non?”, tanyaku serius.

“Ah, ngak adalah cuma lagi merenung”, katanya sambil mengambil handuk dan pergi mandi.

“Uh, dasar ditanya malah lari”, kataku sedikit ngak puas dengan jawabannya.

Hari-hari berlalu, tak terasa sudah musim semi. Setengah tahun sudah berlalu. Akhir-akhir ini saya sering lihat Elly jarang pulang. Saya ngak tahu apa yang dilakukannya.

“Eh, akhir-akhir ini kantormu lagi banyak kerjaan ya? “, kataku memulai perbincangan, saat kulihat Elly lagi duduk di ruang tengah sambil nonton Super Idol.

“Pasti ada yang dirahasia”, kataku makin penasaran.

“Enggak ada, sure”, katanya meyakinkan.

“Ya sudah jika tidak ada apa-apa yang baiklah, jika ada apa-apa jangan lupa, saya sahabatmu”, kataku sambil merangkul pundaknya.

Elly hanya senyum-senyum lihat tingkahku.

Suatu hari saya pergi kepasar malam bersama beberapa sahabat orang Taiwan.

“Eh,eh”, kataku sambil mennjuk kearah 2 orang yang sedang main game. Ketiga sahabat saya ini langsung berlari kearah yang saya tunjuk.

“A..yo…ada pacar, diam-diam ya !, kata A Hua sambil menepuk bahu Elly.

Merah padam muka Elly.

“O..ini teman kerjaku!”,katanya malu-malu. Kami semua diperkenalkannya kepada rekan kerjanya itu. Akhirnya kami pergi makan bersama setelah itu kamu baru pulang kerumah kerumah masing-masing.

“Idiih ada pacar kok ngak kenalin sama aku sih”, kataku sambil mencubit tangan Elly.

“Aku lagi binggung”, katanya memulai pembicaraan.

“Ada apa?”, kataku mulai duduk serius.

“Aku mencintai Cia Wei “,kata Elly dengan serius.

“Tapi Cia Wei belum pernah mengunggkapan apa-apa walau kami sering keluar bersama” ,katanya seraya menarik nafas.

“Pelan-pelan lah,mungkin waktu yang belum tepat”, kataku.

“Aku juga ngak tahu apa dia juga mencintai aku”, kata Elly sambil merapikan cara duduknya.

“Ya kamu lihat aza dari cara dia memperlakukan kamu, dari perhatiannya”, kataku.

“Dia itu baik sama semua, perhatian sama semua teman walaupun lebih sering keluar denganku”, kata Elly lagi.

“Apalagi yang lain orang sini, aku orang indo”, katanya mulai patah semangat.

“Kamu cantik dari yang lain, kamu baik, bagiku kamu lebih sempurna dari orang-orang sini”, kataku memberi harapan.

“Aku takut orang tuanya ngak bisa terima karena aku bukan orang sini”, kata Elly seraya menarik nafas.

“Ah, biarlah semua berjalan apa adanya, singkirkan rasa takutmu itu, apapun yang terjadi pasti ada jalan keluar”, kataku menyakinkannya.

Suatu hari Cia Wei mengajak Elly ke rumahnya.

“untuk apa?” ,kata Elly tak percaya.

“Aku mau memperkenalkan kamu dengan orang tua dan keluarga saya”, kata Cia wei.

“Setelah saya pertimbangkan dan banyak hal yang kita lalui bersama,s aya merasa bersamamu aku merasa bahagia dan aku merindukamu bila sehari tidak melihatmu”, katanya sedikit malu-malu.

Elly senyum-senyum, ngak sanggup untuk mengucapkan apa-apa.

“Aku perkenalkaan kamu dengan orang tua dan keluargaku ya?”, kata Cia wei mengulang pertanyaannya.

“Tapi…”, kata Elly sambil mengginggit bibir.

“Jangan takut, … percaya diri saya yakin keluarga saya bisa menerima kamu”, kata Cia wei menyakinkan Elly.

“Oke, besok malam aku jemput kamu”, katanya dengan gembira.

###

Berdebar-debar hati Elly ngak karuan. Jantung berdegup kenjang. Rasanya malas mau pergi. Sebentar duduk sebentar berdiri. Saya melihat gelagatnya sambil tertawa.

“Wah,..wah tuan putri lagi grogi ya mau ketemu calon mertua”, kataku memecah keheningan.

“Orang grogi ditertawain lagi”, kata Elly dengan suara agak nyaring.

“Aku terkejut”, karena Elly jarang berkata begitu.

“Oke, oke aku ngak mau bercanda lagi” ,kataku mulai kasihan karena melihat Elly yang sedikit marah.

“Tenang azalah pasti baik-baik aza, mereka pasti senang dengan kamu”, kataku memberi dia semangat.

Tiba-tiba terdengar hp Elly berdering. Ternyata Cia Wei sudah menunggu dilantai bawah.

“Semoga sukses dan chia yo, nih jangan lupa oleh-oleh yang mau kamu bawa”, kataku sambil menyerahkan sekotak buah yang kami beli disupermaket tadi siang.

###

Akhirnya Elly kerumah orang tua Cia Wei. Mereka menyambut dia dengan senang. Semua menyukai Elly. Mereka bilang Elly orangnya cantik dan tata dan tutur bahasanya halus. Orang tua Elly menyetujui hubungan mereka. Orang tua Cia Wei meminta elly untu memperkenalkan mereka dengan orang tuanya di Indonesia dan akan berjanji memberi tiket untuk mengundang mereka datang kesini.I ni semua diluar dugaan Elly.

“Ngak semua orang memandang asal. Mereka bisa menerima aku apa adanya”, kata Elly sesampai dirumah.

Kulihat mukanya jauh beda dari kemarin. Mukanya tampak berseri-seri. Aku senang melihat kebahagian yang terpancar dari matanya.

##

Beberapa bulan kemudian orang tua Elly datang ke Taiwan. Mereka setuju dengan hubungan Elly dengan Cia Wei. Kemudian diadakanlah acara pertunangan, memperkenalkan Elly dan kedua orang tua dengan semua keluarga dan Family Cia Wei. Kemudian Elly dan Cia Wei menikah di Taiwan dan Indonesia. Pernikahan mereka begitu megah.

Sekarang Elly sudah menjadi ibu dari sepasang anak. Aku bisa lihat kebahagian yang terpancar dari mukanya. Walaupun sudah menikah, Elly sering mengajakku jalan-jalan atau sekedar mengunjungiku.

“Aku iri lihat kamu”, kataku suatu hari kami berjalan disebuah mall.

“Kamu punya suami keren, baik dan anak-anak yang lucu, punya mertua dan family yang menyayangimu”, kataku sambil meneguk minuman.

“Knapa iri katanya, kamu juga bisa seperti aku, tuh… Yo Lin lagi ngincar kamu”,katanya senyum-senyum.

Yah… kami lagi dalam masa pengenalan, belum ngomong ke masalah yang serius”,kataku membela diri.

“Ya mau tunggu sampai kapan,sampai jadi perawan tua”, katanya sambil bercanda.

“Dengan menikah, kalian bisa saling mengenal pribadi masing-masing. Dan aku lihat kalian cocok kata Elly. Yo lin itu baik dan sabar,cocok untuk orang kayak kamu”, katanya menggodaiku.

“Jujur saya tahu akan cinta Yo Lin padaku, atas kebaikannya dan atas perhatiannya, ya… cuma aku belum siap aza rasanya “,kataku sambil meneguk habis sisa minuman digelasku.

“Ya lagi mau puas-puas sendiri “, kataku sambil beranjak dari tempat duduk seraya mengajak dia pulang.

###

Sudah setengah tahun aku pacaran dengan Yo Lin. Ya baru aku sadari bahwa dia lebih dewasa dari umurnya. Dia bisa jadi abang, sahabat dan pacarku. Aku bahagia bersama dia.

Suatu hari dia mengajakku kesebuah pantai. Kami melihat matahari terbenam. Melihat ombak yang bekejar-kejaran.

“A..yo pulang kataku!”, seraya mengambil tas tangan disampingku.

“oke”,kata Yo Lin. Kami menyusuri pantai, sekali-kali air pantai mengenai kaki kami.

Sampai ditempat parkir “tunggu dulu, tutup matamu, sampai saya bilang oke”, kata YO Lin menghentikan langkahku.

“Ada apa sih?”, kataku dalam keadan terkejut.

“Tutup mata, baru aku bilang”, katanya setengah memaksa.

Yang kudengar dia membuka jok mobil paling belakang.

“oke, bukalah matamu!”, katanya.

Kulihat puluhan balon bertulis I Love You dari dalam mobil. Balon-balon itu satu-satu terbang keluar indah sekali.

“I LOVE YOU”, katanya sambil memberikanku serangkum bunga matahari.

“Wah,ngak sangka kamu bisa seromantis ini”, kataku seraya tak percaya.

Hanya sebuah senyum yang terukir diwajahnya.

“Aku akan segera melamarmu”, katanya sambil mengenggam tanganku.

Orang tuaku sudah setuju dengan hubungan kita. Bulan depan papa dan mamaku akan menemani aku untuk menjumpai orang tuamu di Indonesia.

Aku kaget dan terharu …sampai-samapai menetes air mataku. Aku hanya diam ngak bisa berkata-kata. Ngak kusangka YO Lin telah merencanakan semuanya dengan baik tanpa sepengetahuanku.

Kami berempat pergi ke Indonesia. Orang tua Yo Lin kerumahku untuk membicarakan tentang pernikah kami. Karena keterbatasan bahasa saya menjadi penerjemah. Setelah semua beres kami bertunangan di Indonesia. Kami mengundang keluarga dan sahabat. Beberapa hari setelah acara selesai Yo Lin dan orang tuanya pulang ke Taiwan. Kami berpisah di bandara Soekarno- Hatta.

Sebulan kemudian saya dan orang tua saya ke Taiwan. Pesta pernikahan kami dirayakan besar-besaran. Aku benar-benar bahagia. Kami menikah dibawah restu orangtua dan famili serta sahabat-sahabat kami.

“Aku harap kehidupan rumah tanggaku bisa selalu dalam keadaan bahagia.Terimakasih Tuhan atas semua ini”, kataku dalam sebuah doa malam.

Sekarang MATAHARI ADA DALAM HATIKU. Aku benar-benar bahagia!.