By Aling


Kutarik nafas panjang-panjang, untuk menggeluarkan sesak dalam dada.

Aku duduk di kamar ini, berteman sepi.

Kubuka gorden, ku berharap tatapanku langsung menembus pemandangan di balik jendela.

Banyak sekali kendaraan lalu lalang, manusia dengan segala rutinitasnya.

Diantara manusia yang begitu ramai, knapa aku merasa sendiri?
Jiwaku terasa sunyi sekali.

Kata-kata yang diucapkan oleh Sony tergiang lagi, “kita putus, ini jalan terbaik!”

Kalimat yang pendek, namun mampu merubah segalanya.

“Apa salahku?”

“Apa yang telah aku perbuat?”

Kucoba menelpon ponselnya berkali-kali, ternyata no ini sudah tidak terpakai lagi.

“Kejamnya!” ujarku seraya menggepal tinju ke bantal yang tak bersalah.

iii… rasanya ingin kubanting semua barang-barang yang ada di kamarku. Tapi apapun yang kulakukan tidak akan merubah keadaan.

***

Sony adalah rekan kerjaku. Aku mengenalnya beberapa tahun lalu sejak bekerja di perusahaan ini.

Dari hari pertama aku masuk ke kantor ini, aku sudah mulai menyukainya. Namun aku tak brani menunjukan secara langsung.

Setelah menggenalnya beberapa bulan aku benar-benar jatuh hati padanya. Rupanya, rasa ini tak bertepuk sebelah tangan, kami jadian setelah hampir 2 tahun berkenalan.

Percitaan kami, bisa dikatakan tidak terlalu banyak kendala. Sekali-kali kami memang berbeda pandangan namun kami bisa menyelesaikannya dengan baik.

Meskipun demikian, tak sedikit godaan datang mengganggu kami.

Menguji cintaku dan kesetianku.

Tapi aku berjanji, hatiku tidak boleh goyah, aku berharap cinta pertama ini akan menjadi cinta terakhirku.

###

Selain dengan Sony, aku akrab juga dengan Mark. Mark adalah sahabat terbaik yang aku miliki.

Mark dan Sony sudah saling menggenal sejak sekolah dasar. Mereka sudah seperti saudara kandung.

Aku mengenal mereka sejak bekerja di perusahaan ini.

Orang tua mark adalah pemilik perusahaan makanan anak-anak, di mana aku dan Sony bekerja.

Kebersamaan dan waktu yang berjalan membuat kami bertiga begitu akrab.

Kehadiranku di antara mereka sempat membuat hubungan mereka agak regang. Sejak mereka menyadari, kalau mereka berlomba untuk merebut simpati dan cintaku. Sikap mereka ini membuatku serba salah dalam bertindak.

Tak bisa kupungkiri, Mark punya pesona yang luar biasa. Wajahnya yang setengah bule. Hasil perpaduan dua bangsa. Papanya yang keturunan chines Indonesia dan ibunya berasal dari Italy, mengwariskannya ketampanan yang hampir sempurna.

Selain tampan, Mark juga memiliki segalanya. Namun cinta adalah cinta. Dimana dia akan tumbuh kita tak bisa mengaturnya.

###

“Ya. Aku hanya bisa menjadikanmu sahabat terbaik!

Tidak lebih Mark.

Hari ini, besok atau lusa… rasa itu akan sama, tak akan berubah. Aku dan kamu adalah sahabat.” jelasku agak kesal kepada mark, saat kutahu Sony beberapa hari ini menjauhiku, karena cemburu dengan hal ini.

“Kamu memiliki segalanya. Kamu akan dapat yang lebih baik dari saya,” ujarku lalu diam sejenak.

“Mari kita nikmati persahabatan kita yang indah ini. Jangan sampai rusak.” ujarlu berharap dia menghentikan segala ulahnya.

Namun, Mark selalu bebal dan bermuka tebal. Omonganku tak diacuhkannya. Dia tetap saja berbuat sesuai keinginannya. Ini semua mungkin karena di rumahnya, apapun yang dia inginkan, semuanya pasti akan terkabul.

“Apakah kamu ngak mau memberi saya kesempatan?” tanyanya lagi.

Kadang aku merasa malas untuk menjawab dan menjelaskan semua ini. Lelah aku menanggapi ulah Mark. Apapun yang kujelaskan hasilnya tetap sama.

Memang kadang timbul rasa tidak tega dalam hatiku, namun kadang aku malah merasa membencinya. Ulahnya selalu menjadi alasan pertengkaran antara aku dan Sony.

“Aku harus tegas, demi kebaikannya, demi kebaikan kami semua.” gumanku dalam hati.

Kuharap, Mark akhirnya bisa mengertilah kalau kami tak mungkin bersama.

###

Kurang lebih setahun kejadiaan ini berlalu, akhirnya Mark menikah dengan seorang gadis pilihan ibunya.

Saat ibunya mau memperkenalnya dengan seorang gadis, Mark tak mau dan dia berjanji kepada ibunya, jika dalam setahun dia tak menemukan orang yang dia cintai, maka dia akan menerima calon yang ibunya berikan, tanpa syarat.

Setahun sudah janji itu. Mark kalah. Dia mesti menepati janjinya.

Sehari sebelum pernikahannya Mark menelponku.

“Lara, aku akan menikah. Namun…,” ujarnya diam sesaat.

“Dia bukan istri pilihanku!” suaranya terdengar lemah.

“Mencintai atau tidak! Saya harap kamu memperlakukannya sebagaimana -mestinya. Kamu akan menikahinya, kamu mesti mulai belajar mencintainya dan kamu harus melupakan aku. Jangan kau kecewakan orang yang tak berdosa!” tegasku.

“Saya harap ini terakhir kali kamu menelpon saya. Aku akan menunggu teleponmu sebagai seorang sahabat. Yang mengambarkan kamu bahagia bersamanya.”

“Berusahalah untuk mulai mencintainya.”

“Bagaimanapun… kamu dan dia adalah cinta yang tertakdir di kehidupan ini.” jelasku panjang lebar.

“Ingat! Aku akan menunggu telepon darimu sebagai seorang sahabat!Kuucapkan selamat menempuh hidup baru. Besok, kami pasti datang, untuk minum anggur pernikahamu, bersulang semoga kalian berbahagia selalu !” ucapku mengakhiri pembicaraan sore itu.

***

Sony dipindahkan keluar kota, untuk memimpin anak perusahaan.

Hanya melalui ponsel atau melalu internet kami melepaskan rindu.

Di jaman sekarang, jarak memang tak menjadi kendala, untuk menjalin hubungan.

Kadang aku di berinya kejutan, dia menelponku, saat kutanya dia lagi di mana, dia menjawab “Aku ada di depan rumahmu.”

Keisengan-keisengannya yang membuatku bahagia.

Banyak hal-hal yang dia lakukan yang membuatku semakin mencintainya. Dua tahun sudah berlalu. Kami dipisah oleh jarak dan waktu.

Sms dari Sony sudah mulai berkurang. Telepon juga sudah mulai tidak sesering dulu. Walaupun masih banyak kejutan-kejutan kecil yang dia buat dengan mengirim hadiah buatku.

Saya kira mungkin dia sibuk. Libur tiga hari kuberencana mencarinya.

Saya ingin memberinya suprise. Setelah semua barang selesai kumasukan dengan hati senang aku pergi membeli tiket pesawat dan terbang ke daerah di mana Sony bekerja.

***

Ku pencet bel….ting…tong…ting..tong…

Tak ada respon sama sekali. Tak ada juga orang yang keluar dari dalam rumah itu. Seharusnya liburan begini, Sony akan bangun agak siang. Sudah berjam-jam aku menunggu di teras ini. Lelah dan kesal bercampur aduk dalam hatiku.

“Tahu begini coba saya telepon dulu.” gumanku seraya berjalan mondar-mandir di depan teras, sekali-kali menjolorkan leher panjang-panjang berharap mataku bisa menangkap sosok Sony di sana.

Tiba-tiba ada tetanga di depan rumah keluar. Melihat-lihat kearah saya seperti penasaran.

“Mbak, boleh saya numpang tanya?” tanyaku seraya tersenyum.

“Oooo. Silahkan!” ujarnya ramah.

“Mbak! Penghuni rumah ini, kok ngak ada di rumah.” tanyaku hati-hati.

“Mbah siapanya, ya ?” kata orang itu balik bertanya.

“Saya adiknya.” jelasku berbohong supaya tidak ditanya macam-macam.

“Wah jika libur begini. Biasanya dia keluar dengan pacarnya.” ujar orang itu tenang sambil menyuapi anaknya.

Penjelasan orang itu, bagai halilintar yang menyambarku di siang bolong. Menghapus, semua rasa senang yang kubawa ke sini.

Namun saya mesti tetap tenang dan terus bertahan.

“O, gitu ya!

Oke. Ngak apa-apa, saya tunggu aja dia sampai pulang. Terima kasih ya, mbak!” ujarku sambil terus menenangkan hati dan membendung air mata yang hampir keluar.

Aku terduduk lemas di bangku ini. Air mata pelan-pelan menetes. Rasa sakit dalam hati pelan-pelan memenuhi ruang hatiku!

Setelah Sony tak kunjung datang juga, akhirnya kucoba menghubungi ponselnya.

“Hallo!” suara bariton terdengar dari balik ponselku.

“Kamu dimana?” tanya saya sambil menenangkan diri.

“Saya dirumah. Lagi nonton televisi.” ujarnya begitu tenang.

“YAKIN!” ujarku menyakinkannya.

“Loh, kok ngak percaya sih!” ujarnya berusaha menyakinkanku.

“Sekarang saya di rumahmu.” kata mendengus kesal.

Terdengar suara tertawa terbahak-bahak di seberang sana.

“Mana mungkin? Kamu ini, bercanda ya?” tanyanya tak percaya.

“Saya sudah menunggumu di teras 3 jam. Tahu! ” ujarku tambah kesal, mendengar tawanya dan merasa dibohongin mentah-mentah.

***

Namun, aku tak berniat menunggunya lagi.

Kuambil tas tangan dan koperku, aku tak ingin nertemu dengan penghianat ini lagi. Aku kembali ke kotaku. Membawa rasa sakit dan sesak ini. Cintaku yang tulus telah dikhianati.

***

Sesampainya di kamarku, ponselku berdering.

“Kamu ngerjain aku ya? Dari tadi kutelepon-telepon kok ngak di angkat-angkat.” ujarnya agak kesal dari seberang sana.

“Saya sudah balik lagi ke Taepei.” jawabku ketus.

“Saya sudah tahu semuanya! ”

“Tahu apa ?” tanyanya seperti penasaran.

“Jangan seperti kura-kura, pura-pura tidak tahu. Kamu sudah punya pacar baru, masih bisa bersikap lugu.”

Bangsat kamu, sudah kamu obok-obok cinta dan hatiku, namun masih tertawa bahagia !” airmataku mulai mengucur deras, akhirnya roboh juga ketegaranku.

“Aku benar-benar ngak percaya….ngak percayaaaaaaaaaaaaaaaaa”, pekikku di balik isak tangis.

“Oke kamu tenang dulu, jika kamu agak tenang saya telepon kamu lagi, untuk menjelaskan semua ini” ujarnya sedikit binggung setelah dia menyadari kalau belang ketahuan.

***

Beberapa hari kemudian Sony meneleponku. Aku merasa engan sekali menjawab semua telepon darinya. Malas rasanya mendengar penjelasannya. Dan kusadari apapun penjelasannya, hatiku telah sakit.

Entah telpon yang ke berapa puluh kali, akhirnya ku tekan juga tanda menerima panggilan.

“Kamu sudah agak tenang?” tanya memulai perbincangan.

Saya diam. Tak menjawab sama sekali.

Lalu dia meneruskan perbincangannya.

“Maafkan aku! Aku bersalah padamu. Awalnya aku hanya iseng. Tak berniat menyakitimu. Rasa sepi dan rindu akanmu, membuatku butuh teman di sini.

Namun….

Aku juga tak mungkin meninggalkannya lagi. Karena dalam rahimnya ada janinku.” jelasmu yang membuat mulutku makin terbungkam.

“Tidak apa-apa. Ternyata inilah, buah cinta dan kepercayaanku selama ini.” ujarku datar.

Walau di sudut hatiku aku menanggis. Aku kecewa, sangat kecewa. Dengan semua ini, namun aku mesti tenang.

Aku pernah berjanji, “Hubungan yang kita mulai baik-baik, seandai berakhir, mesti berakhir dengan baik-baik pula.”

“Kurelakan kamu bersama dia. Aku akan berusaha melupakanmu! Melupakan kisah kasih yang pernah ada antara kita. Aku akan mengganggap semua itu hanya mimpi saat aku tertidur, sekarang aku telah terbangun.

Kudoakan kalian bahagia!” ujarku. Entah kekuatan apa yang membuatku mampu mengucapkan kata-kata ini.

“mm….sekali lagi maafkan saya! Putus adalah jalan terbaik bagi kita. Maafkanlah aku telah menyakitimu. Kuharap kamu akan mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik dariku.” ujarmu menunjukan rasa bersalahmu.

Lalu kudenggar bunyi tut..tut…dari ponsel tanda percakapan ini sudah terputus.

“Cintamu sudah benar-benar pergi dariku. Hatimu sudah menjadi milik orang lain.” ujarku lemas.

Kota itu bukan saja mengubah dirimu namun mampu mengubah keping hatimu.

Kejam, sungguh kejam!

O, Tuhan…. Inikah balasan dari kesetian dan cintaku selama ini?
Cinta dan kepercayaan membawa kepedihan.

Branikah aku untuk jatuh cinta lagi?

Hanya waktu yang mampu menjawabnya.