By Aling


Pagi-pagi sekali Ani sudah bangun. Tak seperti biasanya mesti di panggil berulang-ulang dia baru bangun.

Sejak tadi dia sudah selesai bersiap-siap. Dia merasa senang karena semalam mamanya mengatakan mau mengajaknya ke rumah neneknya yang berada di daerah tepi gunung.

Ani paling senang kerumah neneknya karena di sana banyak anak-anak desa yang akan menyambut kedatangannya dengan hangat. Mereka akan bermain dengan girang dekat pematang sawah.

Tidak seperti di kota besar seperti ini. Anak-anak hanya dikurung dalam rumah, di temani televisi atau bermain game, tanpa pernah mengenal tetangga ataupun bermain di alam terbuka.

“Wah, asyik sebentar lagi ketemu dengan Ari, Sally,Tio… ” Ani menyebutkan satu-satu anak-anak tetangga di dekat rumah neneknya, dengan muka beseri-seri.

“Pa..sudah siap blom?” tanya Ani tak sabar.

Ani adalah anak tunggal yang merasa kesepian. Hanya pembantu yang menemaninya saat papa dan mamanya sibuk bekerja.

Hari ini, papanya khusus libur untuk mengantar Ani dan mamanya ke rumah neneknya.

Terpancar kebahagian di muka Ani yang polos dan bermata bening itu.

“Oke! oke! tuan putri.” ujar papanya dengan gemasnya menatap muka anak semata wayangnya.

“Mainan yang mau kamu bawa dan oleh-oleh yang mau kamu berikan untuk sahabat-sahabatmu, sudah kamu bawa semua?” tanya mama Ani sambil mengemas barang ke dalam mobil.

“Beres, mam!” ujar Ani sambil menunjukkan jari jempol dan telunjuk nya membentuk angka o yang artinya oke.

“Wah…jika udah libur begini yang di mana-mana macet. Menyebalkan! ” guman papa Ani disela-sela percakapan mereka.

Padahal jika tidak macet 1 1/2 jam udah sampai. Jika macet begini bisa-bisa 3 jam baru sampai.

“Ngak apa-apalah, pa. Mereka juga mau pergi bermain dan jalan-jalan sama seperti kita.” ucap Ani seperti orang dewasa.

“Mmmm…” guman papa Ani seraya tersenyum melihat tingkah putrinya di balik kaca sambil besiul bahagia.

Di persimpangan lampu merah, saat lampu hijau papa Ani mengemudi dengan tenang, tiba-tiba sebuah truk yang melanggar lampu merah dengan kecepatan tinggi menuju kearah mereka .

GEDEBRAK!!!!!

Suara kedua kendaraan saling bertabrakan. Suaranya pergesekan dua kendaraan yang nyaring sekali.

Papa Ani, mau merem juga sudah tidak semapat karena truk itu tiba-tiba saja muncul di depan mereka.

Papa Ani meninggal setelah selang beberapa saat.

Mama Ani dan Ani dalam keadaan tak sadar di bawa kerumah sakit, oleh ambulans.

Kejadian yang membuat semua orang ikut merasa perih dan tak bisa berkata-kata.

Setelah di cek ternyata sopir truk dalam keadaan ngantuk. Sopir Truk dihukum selama 16 tahun.

Mama ani hanya luka-luka ringan setelah di rawat beberapa hari boleh keluar rumah sakit. Namun tidak dengan Ani. Ani kehilangan satu kakinya.

Kejadian itu meninggalkan trauma yang paling membekas di hati Ani. Yang mengubanya menjadi sebuah sosok penakut dan cepat grogi.

Ani jadi jarang sekali keluar rumah dan naik mobil. Dia menjadi anak yang pendiam dan selalu mengurung diri di kamar.

Dia selalu menyalahkan diri atas kematian papanya. Karena saat kejadian terjadi, dia lagi berbincang dengan papanya, sehingga konsentrasi papanya menjadi bercabang.

“Seandai di belakang saya duduk diam-diam pasti papa tak meninggal.” ujarnya seraya menangis.

Ani selalu menyalahkan dirinya. Walaupun mamanya sudah menjeelaskan panjang lebar dan mengatakan bahwa itu semua dalah garis nasib yang papanya mesti lalui.

Tapi Ani larut dalam pikirannya sendiri. Mungkin jiwanya sedikit tergoncang dengan kejadian itu.

###

16 tahun berlalu. Ani telah tumbuh menjadi seorang gadis dewasa yang cantik. Gadis berkerudung yang pemurung dan pendiam.

Trauma itu selalu membekas dalam hatinya.

Dia sudah menginjak perguruan tinggi. Di kampus inilah, dia berkenal dengan banyak teman-teman yang tak tahu sama sekali masa lalunya yang tragis.

Tak banyak orang yang tahu kalau salah satu kakinya adalah palsu.
Ani bukan saja cantik namun dia selalu menjadi mahasiwa teladan dengan Ip paling tinggi di falkutasnya.

Dari banyak pemuda yang tertarik dan mengejar-ngejarnya. Hanya satu pemuda yang bisa agak dekat dengan Ani.

Namanya Christ. Di pemuda yang selalu perhatian dengan Ani. Dia banyak membantu Ani dalam menyelesaikan kegiatan kampus.

Lama-lama Ani mulai menyukai sikap Christ yang dewasa dan berwawasan luas.

Walaupun, akhirnya Christ tahu tentang keadaan kaki Ani namun sedikitpun merubah rasa cintanya pada Any. Christ berjanji dalam hati untuk selalu mencintai dan menyanyangi Ani untuk selamanya.

###

Suatu hari, Christ mengundang Ani untuk bertemu keluarganya. Dengan sedikit ragu Ani masuk ke sebuah rumah yang sederhana.

Di situ duduk seorang perempuan separuh baya.

“Ma, ini Ani. Ani, ini mama saya.” ujar Christ memperkenalkan keduanya.

Lalu mama Christ memanggil suaminya untuk diperkenalkannya kepada Ani.

Melihat kemunculan papa christ, Ani tiba-tiba pingsan.

ketiga orang ini heran dan merasa binggung.

Christ dengan segera membawa Ani kerumah sakit. Semalam suntuk Christ mendampingi Ani, dia tidak bergerak sedikitpun dari sisi Ani. Selalu menggenggam tangan Ani.

Keesokan harinya, mama Ani menyarankannya pulang untuk istirahat. Namun Christ tidak mau. Dia mau menemani sampai Ani sadar dan mau tahu apa penyebab semua ini.

Setelah sadar Ani menangis tersedu-sedu. Christ dan mama Any kebingungan.
“Keluar! Saya tidak mau melihat kamu lagi. ” hardik Ani dengan keras.

Christ binggung dengan sikap Ani.

Christ tak merasa sama sekali sudah berbuat sesuatu yang menyakiti Ani.

“Keluaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrr!” bentak Ani semakin marah.

Akhirnya mama Any menyuruh Christ keluar. Kemudian Christ menuruti perkataan mama Any. Christ keluar, namun dia tidak pulang. Dia duduk dil uar dengan perasaan binggung dan lemas. Christ benar-benar bingung dengan apa yang terjadi.

Pelan-pelan mama Any menanyakan apa yang terjadi sehingg dia begitu. Dengan menanggis tersedu-sedu Any memeluk mamanya.

“Ma, kamu tahu! Papa Chris adalah supir Truk itu.” ujar Ani menanggis makin histeris.

Bagai halilintar di siang bolong. Christ tersentak kaget, mendengar ucapan Ani barusan.

Christ tahu papanya ditahan karena menabrak sebuah keluarga dan menyebabkan kematian seseorang karena kelalaiannya. Namun tak pernah terbayang olehnya yang ditabrak papanya adalah keluarga Any.

Papa Chris juga tidak mengenali Ani karena Ani saat itu masih anak-anak.

Christ tidak tahu mesti berbuat apa?

Begitu juga dengan Any?

Kedua pikiran mereka kacau.

###

Sudah sebulan Ani tidak mau bertemu Christ. Walaupun mamanya dengan sabar memberi penjelasan dan nasehat kepada Any.

Kalau Papa christ telah mendapatkan hukuman yang seganjar dengan perbuatannya. Dia telah dipenjara. Ini semua adalah takdir.

“Mungkin papamu mengirim Christ untuk membantu kamu. Christ bisa menerima kamu apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan kamu. Dan yang jelas kamu mencintainya.” beber mamanya panjang lebar.

Dia tahu christ sangat mencintai Ani. Christ adalah laki-laki yang baik yang bisa dia harapkan untuk menjaga Ani.

Christ tidak putus asa. Dia selalu mencari Ani baik di kampus, di rumah yang ditolak Any dengan kasar.

Walaupun dipermalukan Ani dengan sikapyang sangat ketus dan diperlakukan dengan sangat kasar Christ tidak pernah mengeluh. Dia memahami kebencian di hati Ani.

Dia seperti dulu dengan cinta dan perhatian yang sama.

###

Any merasa melihat papanya, mereka berdua duduk di tepi sungai di dekat pematang sawah di kampung neneknya.

“Ani, anakku! Coba kamu lihat air begitu tenang. Hati siapapun akan merasa sejuk akan aura yang air pancarkan. Kita mesti bisa jadi orang yang berlapang dada. Mau memaafkan. Sabar dan mengalah. Dengan kebaikan hati yang murni akan memancarkan cahaya kebahagian kehidupan, seperti air.

Aku berharap Christ bisa mendampingimu. Papa mau engkau belajar memaafkan orang lain. Siapa orang yang tak pernah berbuat kesalahan.

Mau menyadari kesalahan dan berusaha berubah adalah orang yang luar biasa.

Papa Christ tidak sengaja karena order perusahaan yang begitu banyak dia mesti bekerja di luar jam kerja sehingga mengantuk. Dia telah menebus semuanya dalam penjara.

Berikanlah kesempatan buat mereka. Papa yakin kamu bisa!” kalimat itu tergiang jelas di telinganya.

Namun knapa papanya akhir berdiri dan berjalan meninggalkanku lalu menghilang. Ani berteriak-teriak memanggil-manggil papanya.

Any baru sadar setelah mamanya menggedor pintu kamarnya dengan sangat keras. Rupanya Any bermimpi.

Tapi Ani yakin papanya benar-benar datang untuk membuka hatinya.

Sebenarnya Ani juga sangat mencintai christ. Namun kejadian itu benar-benar membekas di hatinya. Sulit rasanya memaafkan papa Christ.

Namun setelah Ani renungkan lagi ucapan papa dan mamanya, dia merasa hatinya agak terbuka. Kebencian Ani pelan-pelan luntur.

Ani bisa menerima cinta Christ lagi. Setelah mereka lulus kuliah dan Christ mendapatkan pekerjaan yang mapan, Ani dan Christ menikah.

Mereka hidup bahagia! Di karunia sepasang buah hati lucu dan manis.

“Pa! Terimakasih. Papa telah kirimkan seorang pria terbaik untuk mendampingku. Aku yakin papa selalu mendampinggiku dan selalu bersamaku. Papa selalu ada dalam hatiku.” ujar Ani saat berziarah ke pusara papanya menjelang lebaran.

Lalu mereka ke tepi sungai tak jauh dari pematang sawah.

“Pa, Aku mencintai Christ!” ujar Ani menatap udara lalu tersenyum bahagia sambil melirik ke arah Christ yang menggengam erat jemarinya.

Yang ditanggapi Christ dengan senyum-senyum kecil.

Kemudian mereka pulang, sambil bergenggaman tangan seperti sepasang muda mudi yang baru jatuh cinta, menuju rumah mendiang neneknya.

Sekali-kali Ani dan christ, ke sini, untuk mengingat masa kecil dengan papa dan sahabat-sahabatnya, di desa.

Walaupun sudah puluhan tahun berlalu..tempat ini selalu membuatnya rindu untuk kembali.

Taiwan, 23 Agustus 2008