OLEH KWEK LINA

Layar angan, hadirkan bayanganmu

Kau datang, dengan aroma bunga

Kemudian berlalu, menjauh, tak sanggup kugapai lagi

Rindu dan resah, semakin tumpah

Hujan darah, pun turun perlahan dari bola mataku.

(lagi…)


OLEH KWEK LI NA

Negeriku

Bangunlah dari lamunanmu !

Lihatlah!

Tunas-tunas bangsa

Tlah gugurkan semangat belajar

Demi perut, demi hidup, karena keadaan

(lagi…)

Pict dari koment di tagged

* Sepenggal Warna Lain, Diktat Kehidupanku*

Oleh KWEK LI NA

Senja menyambut musim gugur, udara terasa sejuk. Jauh berbeda dari beberapa hari yang lalu dengan suhu 39 derajat, yang seakan-akan mampu membuat otak mendidih.

Aku duduk di serambi, ditemanin laptop kesayanganku. Sambil menikmati rintik ritmis hujan seraya minum teh ginseng untuk menghangat tubuh. Kupandang sebatang pohon buah kelengkeng yang terletak pas di depan aku duduk saat ini.

(lagi…)

pict asli dari internet.


OLEH KWEK LI NA

KITA hanya sebutir debu
Yang disulap Tuhan dengan segala kelebihan menjadi manusia
Tentang surga dan neraka, kita sok tahu
Namun masih tetap hidup berlumur dosa

Kita lupa dunia ini fana
Lalu tergila-gila, mengejar harta dan nama
Ke-aku-an pun menjajah jiwa

(lagi…)


OLEH KWEK LI NA

Tanah retak, kegersangan melanda kini
Padi merunduk, kering dan mati
Bunga layu, tak lagi ayu
Daun berguguran, satu persatu

Hujan yang di tunggu tak berkenan jatuh lagi
Matahari semakin ganas, seakan ingin membakar bumi
Angin pun panas, bunyi desirannya seperti menjerit minta dikasihani
Bumi semakin hari semakin nampak tak berseri

(lagi…)


OLEH KWEK LI NA

Sepiring rindu tersaji
Di balik tudung saji
Tak mungkin aku santap
Ia hanya bisa aku tatap

Semakin siang, suara rindu semakin berisik menganggu
Apa yang harus aku lakukan?
Jarak menjadi penghalang kita ketemuan

(lagi…)


OLEH KWEK LI NA

Mangkuk dunia semakin penuh saja
Oleh iri dan kecemburuan yang meluap
Dan tanya-tanya yang tak terjawab
Lalu haruskah aku mengugurkannya satu persatu
Mengantikannya dengan tanya dan keinginan baru
Ataukah aku biarkan saja, mereka memenuhi tempurung kelapa tuaku ini
Hingga aku terkulai tak bertenaga lagi, dan mati

(lagi…)


OLEH KWEK LI NA

Ingin kuletupkan sesak ini
Pada dada puisi
Yang masih menyimpan setitik damai

Ingin kuhempaskan ketidakadilan
Di syairku yang diam tak sanggup mengalir ke muara
Karena terhalang oleh angkara dunia yang mengapung di permukaannya

(lagi…)


Kerinduan
—anak TKI

OLEH KWEK LI NA

Saat ku terjaga dalam tidur malam, kumenjerit memanggil namamu
“IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!”
Semoga di kejauhan kau dengar suara kerinduanku
Kurindu dekapanmu
Saat sepi membelenggu, saat gelisah hidup menganggu

Ingin kuterobos dinding angan
Agar bisa memandangmu dalam-dalam
Dan meminta mimpi malam menjadi titian
Kita bertemu melepaskan kerinduan di buritan malam

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Ratap duka
Tangis pilu
Jerit luka
Hias mata semesta yang sendu

Cukup sudah!
Bencana karena alam murka
Jangan ditambah perang saudara
Hingga emosi dan amarah meletup di manamana
(lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »