7 September 2010
Tuhan, jika hidup ini adalah pilihan
kenapa banyak arah jalan, mengantar jiwajiwa pada kepedihan?
Air mata TKI membatu. Doadoa apakah telah membeku
tatkala bertemu majikan dan agen berhati hantu?
Kenyataan berperang dengan tangis ibu, pekikan adik
kian bikin jiwa tak bergelitik
Mematikan harapan ataukah terus melangkah menggapai mimpi
berjalan di atas kenyataan berduri?
Di persimpangan simalakama
rasa TKI, berdiri di bawah dua tiang gantungan
dan dihadapakan pada dua hal yang samasama menyakitkan
Mati sendiri ataukah mati kelaparan semua (serumah)?
Taiwan, 6 Sepetember 2010
kian bikin jiwa tak bergelitik
Mematikan harapan ataukah terus melangkah menggapai mimpi
berjalan di atas kenyataan berduri?
rasa TKI, berdiri di bawah dua tiang gantungan
dan dihadapakan pada dua hal yang samasama menyakitkan
Mati sendiri ataukah mati kelaparan semua (serumah)?
18 Agustus 2010
cinta penyair,
apakah semudah dia memasang aksara
lalu meniupkan ruh cinta di atasnya?
cinta penyair,
apakah seindah puisi-puisi yang terlahir
ataukah serupa sunyi menemani nadi mengarungi takdir?
Cinta penyair ,
beralas rindu yang menelanjangi rasa
tatkala angan dan nyata, tak seindah kata yang terlahir dari mata pena
penyair juga manusia biasa
di hatinya bisa bermekaran cinta laksana bunga aksara
atau tercipta sajak luka dari ratapan jiwanya
Taiwan, 17 Agustus 2010
apakah seindah puisi-puisi yang terlahir
ataukah serupa sunyi menemani nadi mengarungi takdir?
beralas rindu yang menelanjangi rasa
tatkala angan dan nyata, tak seindah kata yang terlahir dari mata pena
di hatinya bisa bermekaran cinta laksana bunga aksara
atau tercipta sajak luka dari ratapan jiwanya
Taiwan, 17 Agustus 2010
15 Agustus 2010
Aku bukan Eng Tay,
yang demi cinta kepada Sam Pek rela meninggalkan keluarga
menerjang dogma
dan memilih mati bersama
Aku juga bukan Bai Su Zhen
dari siluman dengan kekuatan sihir memilih menjadi manusia biasa
untuk mencari seorang Xu Xian, lelaki dipandangan pertama membuatnya jatuh cinta
tatkala menyelamatkannya di Danau Barat di kehidupan sebelumnya
Kekasihku, aku tak sanggup seperti perempuan-perempuan dalam legenda itu
Aku mencintaimu dengan caraku
Melukis wajah, hati dan perhatianmu
Dengan tinta cintaku di atas sajak-sajak rindu
Taiwan, 15 Agustus 2010
dari siluman dengan kekuatan sihir memilih menjadi manusia biasa
untuk mencari seorang Xu Xian, lelaki dipandangan pertama membuatnya jatuh cinta
tatkala menyelamatkannya di Danau Barat di kehidupan sebelumnya
Aku mencintaimu dengan caraku
Melukis wajah, hati dan perhatianmu
Dengan tinta cintaku di atas sajak-sajak rindu
10 Agustus 2010
Bunga Rindu di Sandaran Bintang
(Kumpulan Puisi Kwek Li Na)
118 hal + x
Cetakan Pertama, Agustus 2010
Penerbit Kosa Kata Kita
Kata pengatar dari Editor (Kurniawan Junaedhi) :
Dalam blognya, ia menulis: “Saya bermarga Kwok (baca dalam bahasa Mandarin) atau Kwek (baca dalam bahasa Hokkien). Bernama Li Na. Dalam bahasa mandarin penulisannya 郭 莉 娜 . Yang berarti, sekuntum melati yang putih, indah, harum mewangi.” Kenapa bukan Mawar? Mengutip pepatah, ia mencoba menghibur diri bahwa, wanita tak perlu secantik mawar, cukuplah secantik melati yang tak berduri.
Dia lahir di Semitau, Kalimantan Barat, dengan nama panggilan, A Ling, nama kecil, sekaligus nama yang dikenal keluarga dan teman-teman dekatnya.
Dimanakah Semitau? Kalau kita menyimak literatur, maka daerah itu merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Bahasa aslinya, adalah bahasa Dayak. Orangtuanya sendiri berbahasa Khek dan di rumah ia lebih banyak berbahasa Dayak Kapuas Hulu. Dengan demikian, ketika ia menulis puisi dalam bahasa Indonesia, bisa dipastikan ia menulis puisi tidak menggunakan bahasa ibunya.
(lagi…)
9 Juli 2010
Engkau selalu membuatku kesal. Selalu dan selalu engkau sebut nama laki-laki yang ada di sekolah kita ini untuk menggodaku. Kupasang muka cemberut. Saat engkau mulai menyebut nama Indra, entah kalimat apa lagi yang akan engkau lontarkan. Indra, anak baru, kakak kelas kita, pindahan dari kota Chiayi yang akhir-akhir ini, lagi gencar-gencar mengejarku.
“Entahlah, aku tidak pernah paham apa maksud dari semua itu. Padahal engkau sendiri tahu hanya engkau laki-laki yang kucinta.” ungkapku berharap engkau mengerti.
“Bercanda aza marah, non.” ucapmu dengan mimik tak berdosa.
“Mungkin, bagimu bercanda. Namun kadang aku tak habis pikir, aku berusaha menjaga, supaya tak membuatmu cemburu, dengan menghindar dari siapa saja yang akhirnya aku tahu menaruh hati padaku. Aku tahu cemburu itu sakit. Maka dengan caraku, menunjukkan begitu dalam cinta di hatiku untukmu dan tak membuka sedikit pun peluang bagi orang lain untuk masuk ke ruang hatiku. Namun kamu malah, memanas-manasiku…..” aku menghela nafas dan menghentikan ucapanku sejenak.
10 April 2010
Kutengadahkan muka
kedua telapak tangan berapi. Telentang
menahan langit tak runtuh
Hempasan angin rindu
Yang disertai hujan perkara
tak membuat ke dua kakiku mundur
Keadaan mungkin sanggup
Mengaduk rasa. Mengoyak raga
Cinta kita bermata keberanian
Taiwan, 9 April 2010
22 Januari 2010
Kwek Li Na:
kekasih
kekasih
malam kian memuram
kau dengarkah kelelewar sibuk mengepak sayap
mencari makan?
dan sebagian manusia telah terlelap
berselimut lelah
30 Desember 2009
Oleh Kwek Li Na { FIKSI }
Di ujung tahun…
Ingin rasanya menahan, lembar-lembar kalender sehingga tahun ini bisa ditunda untuk beberapa saat. Terlalu banyak kenangan kita yang tak ingin kubiarkan berlalu begitu saja…tak berharap lajunya waktu memudarkan semua cerita.
Perih rasanya, ingin melepas segala . Entah dari mana, aku mesti memulainya. Dan sejak kapan kita memulai segala kisah. Yang kutahu kita sudah begitu dekat, merasa sama-sama membutuhkan. Ada yang hilang jika tak saling bersapa.
Tanpa kita tahu apa alasan jelasnya….apakah karena kita sama-sama sebatang kara di negeri orang ini…sehingga butuh seseorang untuk bisa berbagi cerita di saat bahagia dan luka.
6 Desember 2009
Oleh Kwek Li Na
Ilalang menari
Mendengar burung bernyanyi
Alam menggelar permadani
Menghias gunung berpantai awan, Yi San
Dua jiwa yang kasmaran,
saling menerjemahkan tatapan
: Jiwa mengecup cinta
membekas di bibir rasa
selamanya
Taiwan, 5 Desember 2009
* Yi San = gunung tertinggi di Taiwan
Mendengar burung bernyanyi
Alam menggelar permadani
Dua jiwa yang kasmaran,
saling menerjemahkan tatapan
membekas di bibir rasa
selamanya
30 November 2009
~ HUJAN KEBOHONGAN~
Oleh Kwek Li Na
Utuh cintaku untukmu, tak ragu
Ternyata aku salah, putih tak selamanya putih
Manis rayumu, angin dusta yang menyeretku ke nirwana rasa
Perih hati
Namun, kutahan perasan luka tak meruah ke pinggiran mata
Langit menangis sedari pagi
Kubisikkan ke sisa gerimis, di luar jendela, “Tak ada cerita lagi antara kami.”
Malam ini, hatiku kuyub oleh hujan kebohongan.
Pelan namun pasti, pintu penantian kututup.
Di baliknya, aku akan mengobati luka ini.
Taiwan, 28 November 2009
Ternyata aku salah, putih tak selamanya putih
Manis rayumu, angin dusta yang menyeretku ke nirwana rasa
Namun, kutahan perasan luka tak meruah ke pinggiran mata
Kubisikkan ke sisa gerimis, di luar jendela, “Tak ada cerita lagi antara kami.”
Malam ini, hatiku kuyub oleh hujan kebohongan.
Di baliknya, aku akan mengobati luka ini.
25 November 2009
Oleh Kwek Li Na
Suara jangkrik membelah keheningan malam
Seakan ingin menghiburnya yang didera rindu
Angin berlalu bisu
Dia duduk bermenung
Menatap langit nan jauh, kini berubah mendung
Mencintaimu sampai di ujung harap
Bagai menanti bintang jatuh
Rela memenjara hatinya, dibebas jiwamu berkelana
Tak luruh, tak mengeluh. Teguh
Hingga rasanya tua dan lusuh
Seakan ingin menghiburnya yang didera rindu
Angin berlalu bisu
Dia duduk bermenung
Menatap langit nan jauh, kini berubah mendung
Bagai menanti bintang jatuh
Rela memenjara hatinya, dibebas jiwamu berkelana
Tak luruh, tak mengeluh. Teguh
Hingga rasanya tua dan lusuh






