
16 Agustus 2009
OLEH KWEK LI NA
Negeriku
Bangunlah dari lamunanmu !
Lihatlah!
Tunas-tunas bangsa
Tlah gugurkan semangat belajar
Demi perut, demi hidup, karena keadaan
12 Agustus 2009
Pict dari koment di tagged

* Sepenggal Warna Lain, Diktat Kehidupanku*
Oleh KWEK LI NA
Senja menyambut musim gugur, udara terasa sejuk. Jauh berbeda dari beberapa hari yang lalu dengan suhu 39 derajat, yang seakan-akan mampu membuat otak mendidih.
Aku duduk di serambi, ditemanin laptop kesayanganku. Sambil menikmati rintik ritmis hujan seraya minum teh ginseng untuk menghangat tubuh. Kupandang sebatang pohon buah kelengkeng yang terletak pas di depan aku duduk saat ini.
9 Agustus 2009
OLEH KWEK LI NA
KITA hanya sebutir debu
Yang disulap Tuhan dengan segala kelebihan menjadi manusia
Tentang surga dan neraka, kita sok tahu
Namun masih tetap hidup berlumur dosa
Kita lupa dunia ini fana
Lalu tergila-gila, mengejar harta dan nama
Ke-aku-an pun menjajah jiwa
Yang disulap Tuhan dengan segala kelebihan menjadi manusia
Tentang surga dan neraka, kita sok tahu
Namun masih tetap hidup berlumur dosa
Lalu tergila-gila, mengejar harta dan nama
Ke-aku-an pun menjajah jiwa
4 Agustus 2009

OLEH KWEK LI NA
Tanah retak, kegersangan melanda kini
Padi merunduk, kering dan mati
Bunga layu, tak lagi ayu
Daun berguguran, satu persatu
Hujan yang di tunggu tak berkenan jatuh lagi
Matahari semakin ganas, seakan ingin membakar bumi
Angin pun panas, bunyi desirannya seperti menjerit minta dikasihani
Bumi semakin hari semakin nampak tak berseri
Padi merunduk, kering dan mati
Bunga layu, tak lagi ayu
Daun berguguran, satu persatu
Matahari semakin ganas, seakan ingin membakar bumi
Angin pun panas, bunyi desirannya seperti menjerit minta dikasihani
Bumi semakin hari semakin nampak tak berseri
1 Agustus 2009

OLEH KWEK LI NA
Sepiring rindu tersaji
Di balik tudung saji
Tak mungkin aku santap
Ia hanya bisa aku tatap
Semakin siang, suara rindu semakin berisik menganggu
Apa yang harus aku lakukan?
Jarak menjadi penghalang kita ketemuan
Di balik tudung saji
Tak mungkin aku santap
Ia hanya bisa aku tatap
Apa yang harus aku lakukan?
Jarak menjadi penghalang kita ketemuan
31 Juli 2009

OLEH KWEK LI NA
Mangkuk dunia semakin penuh saja
Oleh iri dan kecemburuan yang meluap
Dan tanya-tanya yang tak terjawab
Lalu haruskah aku mengugurkannya satu persatu
Mengantikannya dengan tanya dan keinginan baru
Ataukah aku biarkan saja, mereka memenuhi tempurung kelapa tuaku ini
Hingga aku terkulai tak bertenaga lagi, dan mati
Oleh iri dan kecemburuan yang meluap
Dan tanya-tanya yang tak terjawab
Lalu haruskah aku mengugurkannya satu persatu
Mengantikannya dengan tanya dan keinginan baru
Ataukah aku biarkan saja, mereka memenuhi tempurung kelapa tuaku ini
Hingga aku terkulai tak bertenaga lagi, dan mati
28 Juli 2009
Kerinduan
—anak TKI

OLEH KWEK LI NA
Saat ku terjaga dalam tidur malam, kumenjerit memanggil namamu
“IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!”
Semoga di kejauhan kau dengar suara kerinduanku
Kurindu dekapanmu
Saat sepi membelenggu, saat gelisah hidup menganggu
Ingin kuterobos dinding angan
Agar bisa memandangmu dalam-dalam
Dan meminta mimpi malam menjadi titian
Kita bertemu melepaskan kerinduan di buritan malam

“IBUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!”
Semoga di kejauhan kau dengar suara kerinduanku
Kurindu dekapanmu
Saat sepi membelenggu, saat gelisah hidup menganggu
Agar bisa memandangmu dalam-dalam
Dan meminta mimpi malam menjadi titian
Kita bertemu melepaskan kerinduan di buritan malam
22 Juli 2009
RATAP ZAMAN
Posted by kweklina under GORESAN, Kehidupan, Peduli Sesama, Renungan, puisi[17] Comments

Oleh Kwek Li Na
Ratap duka
Tangis pilu
Jerit luka
Hias mata semesta yang sendu
Cukup sudah!
Bencana karena alam murka
Jangan ditambah perang saudara
Hingga emosi dan amarah meletup di manamana
(lagi…)
Tangis pilu
Jerit luka
Hias mata semesta yang sendu
Bencana karena alam murka
Jangan ditambah perang saudara
Hingga emosi dan amarah meletup di manamana
(lagi…)






















