Semilir angin musim gugur, membelai lembut kulitku. Wajah ayumu, itu kian mengusik lamunanku, menari-nari di ruang pikiran. Menghias mimpi malamku. Mengikuti kemana kaki kuayunkan. Bahkan menyerupai bayang yang mengikuti ragaku.

“Oh!”

Kucoba pejamkan mata. Ternyata sama saja. Kugeleng-gelengkan kepala, berusaha mengeluar sedikit isi batok kepalaku yang semua berisi tentangmu. Tak juga ada gunanya.

“Apakah aku telah jatuh cinta?”

“Ah…tidak mungkin!”

“Hanya dari selembar foto, tidak mungkin aku jatuh cinta. Tidak mungkin.” aku masih berusaha menyangkal perasaanku sendiri.

(lagi…)


Tuhan, jika hidup ini adalah pilihan
kenapa banyak arah jalan, mengantar jiwajiwa pada kepedihan?
Air mata TKI membatu. Doadoa apakah telah membeku
tatkala bertemu majikan dan agen berhati hantu?

Kenyataan berperang dengan tangis ibu, pekikan adik
kian bikin jiwa tak bergelitik
Mematikan harapan ataukah terus melangkah menggapai mimpi
berjalan di atas kenyataan berduri?

Di persimpangan simalakama
rasa TKI, berdiri di bawah dua tiang gantungan
dan dihadapakan pada dua hal yang samasama menyakitkan
Mati sendiri ataukah mati kelaparan semua (serumah)?

Taiwan, 6 Sepetember 2010


cinta penyair,
apakah semudah dia memasang aksara
lalu meniupkan ruh cinta di atasnya?

cinta penyair,
apakah seindah puisi-puisi yang terlahir
ataukah serupa sunyi menemani nadi mengarungi takdir?

Cinta penyair ,
beralas rindu yang menelanjangi rasa
tatkala angan dan nyata, tak seindah kata yang terlahir dari mata pena

penyair juga manusia biasa
di hatinya bisa bermekaran cinta laksana bunga aksara
atau tercipta sajak luka dari ratapan jiwanya

Taiwan, 17 Agustus 2010


Aku bukan Eng Tay,
yang demi cinta kepada Sam Pek rela meninggalkan keluarga
menerjang dogma
dan memilih mati bersama

Aku juga bukan Bai Su Zhen
dari siluman dengan kekuatan sihir memilih menjadi manusia biasa
untuk mencari seorang Xu Xian, lelaki dipandangan pertama membuatnya jatuh cinta
tatkala menyelamatkannya di Danau Barat di kehidupan sebelumnya

Kekasihku, aku tak sanggup seperti perempuan-perempuan dalam legenda itu
Aku mencintaimu dengan caraku
Melukis wajah, hati dan perhatianmu
Dengan tinta cintaku di atas sajak-sajak rindu

Taiwan, 15 Agustus 2010

Bunga Rindu di Sandaran Bintang
(Kumpulan Puisi Kwek Li Na)
118 hal + x
Cetakan Pertama, Agustus 2010
Penerbit Kosa Kata Kita

Kata pengatar dari Editor (Kurniawan Junaedhi) :

Dalam blognya, ia menulis: “Saya bermarga Kwok (baca dalam bahasa Mandarin) atau Kwek (baca dalam bahasa Hokkien). Bernama Li Na. Dalam bahasa mandarin penulisannya 郭 莉 娜 . Yang berarti, sekuntum melati yang putih, indah, harum mewangi.” Kenapa bukan Mawar? Mengutip pepatah, ia mencoba menghibur diri bahwa, wanita tak perlu secantik mawar, cukuplah secantik melati yang tak berduri.

Dia lahir di Semitau, Kalimantan Barat, dengan nama panggilan, A Ling, nama kecil, sekaligus nama yang dikenal keluarga dan teman-teman dekatnya.

Dimanakah Semitau? Kalau kita menyimak literatur, maka daerah itu merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Bahasa aslinya, adalah bahasa Dayak. Orangtuanya sendiri berbahasa Khek dan di rumah ia lebih banyak berbahasa Dayak Kapuas Hulu. Dengan demikian, ketika ia menulis puisi dalam bahasa Indonesia, bisa dipastikan ia menulis puisi tidak menggunakan bahasa ibunya.
(lagi…)

Engkau selalu membuatku kesal. Selalu dan selalu engkau sebut nama laki-laki yang ada di sekolah kita ini untuk menggodaku. Kupasang muka cemberut. Saat engkau mulai menyebut nama Indra, entah kalimat apa lagi yang akan engkau lontarkan. Indra, anak baru, kakak kelas kita, pindahan dari kota Chiayi yang akhir-akhir ini, lagi gencar-gencar mengejarku.

“Entahlah, aku tidak pernah paham apa maksud dari semua itu. Padahal engkau sendiri tahu hanya engkau laki-laki yang kucinta.” ungkapku berharap engkau mengerti.

“Bercanda aza marah, non.” ucapmu dengan mimik tak berdosa.

“Mungkin, bagimu bercanda. Namun kadang aku tak habis pikir, aku berusaha menjaga, supaya tak membuatmu cemburu, dengan menghindar dari siapa saja yang akhirnya aku tahu menaruh hati padaku. Aku tahu cemburu itu sakit. Maka dengan caraku, menunjukkan begitu dalam cinta di hatiku untukmu dan tak membuka sedikit pun peluang bagi orang lain untuk masuk ke ruang hatiku. Namun kamu malah, memanas-manasiku…..” aku menghela nafas dan menghentikan ucapanku sejenak.

(lagi…)

Kutengadahkan muka
kedua telapak tangan berapi. Telentang
menahan langit tak runtuh

Hempasan angin rindu
Yang disertai hujan perkara
tak membuat ke dua kakiku mundur

Keadaan mungkin sanggup
Mengaduk rasa. Mengoyak raga
Cinta kita bermata keberanian

Taiwan, 9 April 2010

Kwek Li Na:

kekasih

kekasih

malam kian memuram

kau dengarkah kelelewar sibuk mengepak sayap

mencari makan?

dan sebagian manusia telah terlelap

berselimut lelah

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na { FIKSI }

Di ujung tahun…

Ingin rasanya menahan, lembar-lembar kalender sehingga tahun ini bisa ditunda untuk beberapa saat. Terlalu banyak kenangan kita yang tak ingin kubiarkan berlalu begitu saja…tak berharap lajunya waktu memudarkan semua cerita.

Perih rasanya, ingin melepas segala . Entah dari mana, aku mesti memulainya. Dan sejak kapan kita memulai segala kisah. Yang kutahu kita sudah begitu dekat, merasa sama-sama membutuhkan. Ada yang hilang jika tak saling bersapa.

Tanpa kita tahu apa alasan jelasnya….apakah karena kita sama-sama sebatang kara di negeri orang ini…sehingga butuh seseorang untuk bisa berbagi cerita di saat bahagia dan luka.

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Ilalang menari
Mendengar burung bernyanyi
Alam menggelar permadani

Menghias gunung berpantai awan, Yi San
Dua jiwa yang kasmaran,
saling menerjemahkan tatapan

: Jiwa mengecup cinta
membekas di bibir rasa
selamanya

Taiwan, 5 Desember 2009

* Yi San = gunung tertinggi di Taiwan

~ HUJAN KEBOHONGAN~

Oleh Kwek Li Na

Utuh cintaku untukmu, tak ragu
Ternyata aku salah, putih tak selamanya putih
Manis rayumu, angin dusta yang menyeretku ke nirwana rasa

Perih hati
Namun, kutahan perasan luka tak meruah ke pinggiran mata

Langit menangis sedari pagi
Kubisikkan ke sisa gerimis, di luar jendela, “Tak ada cerita lagi antara kami.”
Malam ini, hatiku kuyub oleh hujan kebohongan.

Pelan namun pasti, pintu penantian kututup.
Di baliknya, aku akan mengobati luka ini.

Taiwan, 28 November 2009

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Suara jangkrik membelah keheningan malam
Seakan ingin menghiburnya yang didera rindu
Angin berlalu bisu
Dia duduk bermenung
Menatap langit nan jauh, kini berubah mendung

Mencintaimu sampai di ujung harap
Bagai menanti bintang jatuh
Rela memenjara hatinya, dibebas jiwamu berkelana
Tak luruh, tak mengeluh. Teguh
Hingga rasanya tua dan lusuh

(lagi…)

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.