Renungan



Oleh Kwek Li Na

Aku tercipta
Dari rasa cinta dua manusia
Menjadi seonggok darah

Kehadiranku
Ciptakan resahmu
Undang pertengkaran.
Amarah, warnai pertemuan

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Usia kian larut
Hati kalut
Dosa membalut
Tubuh terasa berlumut

Dikeheningan malam
Doa kujadikan titian
Tuk’ mendekatkan diri padaNya
Mohon ampun, segala khilaf dan dosa yang melilit raga

(lagi…)


OLEH KWEK LI NA

KITA hanya sebutir debu
Yang disulap Tuhan dengan segala kelebihan menjadi manusia
Tentang surga dan neraka, kita sok tahu
Namun masih tetap hidup berlumur dosa

Kita lupa dunia ini fana
Lalu tergila-gila, mengejar harta dan nama
Ke-aku-an pun menjajah jiwa

(lagi…)


OLEH KWEK LI NA

Tanah retak, kegersangan melanda kini
Padi merunduk, kering dan mati
Bunga layu, tak lagi ayu
Daun berguguran, satu persatu

Hujan yang di tunggu tak berkenan jatuh lagi
Matahari semakin ganas, seakan ingin membakar bumi
Angin pun panas, bunyi desirannya seperti menjerit minta dikasihani
Bumi semakin hari semakin nampak tak berseri

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Ratap duka
Tangis pilu
Jerit luka
Hias mata semesta yang sendu

Cukup sudah!
Bencana karena alam murka
Jangan ditambah perang saudara
Hingga emosi dan amarah meletup di manamana
(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Mentari pagi menyapaku, cahayanya yang terik menerobos celah-celah gorden di kamarku. Pelan-pelan kubuka mata…lalu tanganku berusaha mengapai-ngapai mencari selimut.

Lalu kuraih remote dan kunyalahkan televesi. Tak satu acara pun yang kuminati pagi ini.Bukan karena acaranya tidak bagus namun entahlah…rasa sepi yang cahaya matahari bawa pagi ini, begitu menggingit.

Baru ku sadari aku sendiri…dalam sunyi yang sungguh menyedihkan!

Sendiri dalam sebuah kamar sebesar ini. Tak seorang pun menemaniku. Bahkan seekor nyamuk pun tak ingin menjadi sahabatku.

(lagi…)


Bertiang ketulusan
Berlantai kesehajaan
Berdinding keiklasan
Beratap kasih sayang
Kudijadikan tempat persinggahan

Berpintu cinta
Menyambut hangat siapa saja
Yang berkenan singgah di sana
Tak pernah membedakan kasta,
Sang raja atau rakyat jelata
Apalagi memandang rupa
Sang rupawan ataukan siburuk rupa

(lagi…)

Pic kuambil dari internet


Mulailah menulis. Melatih dan terus melatih diri. Ibarat batu, jika diasah terus lama-lama akan runcing juga.

Namanya juga pemula, kritik akan datang. Jika pedas dan asin, anggap saja penambah selera. Jika manis dan sejuk, itu batu loncatan buat kita untuk terus menulisdan menghasilkan karya-karya selanjutnya.

Namun di sinilah mental penulis pemula diuji. Kritikan selalu membuat mereka sulit bertahan. Knapa tak terus berjuang, untuk membuktikan pada mereka suatu hari aku juga bisa.

(lagi…)

Pic kuambil dr internet indonesia

Aku binggung sendiri…
Memikirkan negeri ini
Namun aku juga tak punya jalan,
Apalagi punya cara untuk membantunya

Kalau semua ketua salah di mata rakyat
Kalau semua rakyat pesimis dengan mereka
Apa jadinya negeri ini?
Siapa yang brani memipin indonesia di kemudian hari?

Melihat gampang!
Mencibir mudah!
Berjanji apalagi!
“BERBUAT”, yang terbaik untuk negeri, itulah yang sulit!

(lagi…)


Saat duri menusuk kulit ariku
Aduh, sakit sekali!
Saat kau menyakitiku
Perihnya melukai hati

Aku harus tegak berdiri
Tak mesti larut dalam pedih ini
Melangkah meniti hari-hari,
Berpacu dengan lajunya sang waktu
Kubiarkan duri itu menjadi masa lalu
Kuambil hikmah, kujadikan guru yang mengajarkan sebuah pengalaman baru

(lagi…)


Apapun suara yang kau beri
Ku harap itu adalah yang terbaik
Walaupun tak akan merubah matahari menjadi pelangi
Setidaknya kewajiban untuk negeri sudah kita beri

Selanjutnya…biar bumi terus berputar
Matahari tetap bersinar
Hujan tetap menyejukan
Malam akan datang mengganti siang

(lagi…)


pic dari koment di tagged


Bumi sakit
Manusia menjerit
Duka tersirat
Luka tergerat

Berlutut pada bumi
Bumi telah murka
Bertobat pada nirwana
Nirwana enggan disapa

(lagi…)

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.