
Oleh Kwek Li Na
Aku tersengal membisu dengan tatapan tak ada arti
Duduk termenung menatap indahnya senja ini
Aku hanya debu tak berarti di keindahan yang dunia tampilkan
Sungguh Maha dasyatnya Sang Pemberi kehidupan untuk setiap penciptaan
Mesti kudaki gunung yang tinggi
Kan kulewati jurang yang terjal
Kuselami lautan luas
Hingga mampu kusibak pesona yang tersembunyi disana
Tak perlu kau risau
Setiap langkahku
Kan kuhentakkan secara ritmis
Tak perlu kau menanggis
Meskipun perjalananku melelahkan
Aku mampu bertahan
Berikan senyummu untukku
Kujadikan kekuatan tuk’ lewati semua liku perjalanan
Biarkan aku berkelana di dunia fana
Tuk temukan cahaya-cahaya keabadian
Sehingga kurasakan kedamaian yang kuimpikan
Terimakasih buat semua kekuatan
Yang selalu kau berikan
Di setiap kurasakan ketakutan
Terimakasih buat doa penguatan
Yang tak henti-hentinya kau panjatkan
Berharap takdir bisa lebih mudah kutahlukkan
Ingatlah seperti katamu,
“Aku adalah Air yang mesti terus mengalir.
Akulah air yang jatuh tak pernah merasakan sakit menimpah batu cadas”
Kukuat oleh percikan kasihmu
kutangguh karena doa-doamu
Percayalah!
Gunung, lembah dan rimba
Semua akan terkalahkan
Disetiap pertarungan
Aku akan jadi pemenangnya
Taiwan, 19 06 09
Duduk termenung menatap indahnya senja ini
Aku hanya debu tak berarti di keindahan yang dunia tampilkan
Sungguh Maha dasyatnya Sang Pemberi kehidupan untuk setiap penciptaan
Kan kulewati jurang yang terjal
Kuselami lautan luas
Hingga mampu kusibak pesona yang tersembunyi disana
Setiap langkahku
Kan kuhentakkan secara ritmis
Tak perlu kau menanggis
Meskipun perjalananku melelahkan
Aku mampu bertahan
Kujadikan kekuatan tuk’ lewati semua liku perjalanan
Biarkan aku berkelana di dunia fana
Tuk temukan cahaya-cahaya keabadian
Sehingga kurasakan kedamaian yang kuimpikan
Yang selalu kau berikan
Di setiap kurasakan ketakutan
Terimakasih buat doa penguatan
Yang tak henti-hentinya kau panjatkan
Berharap takdir bisa lebih mudah kutahlukkan
“Aku adalah Air yang mesti terus mengalir.
Akulah air yang jatuh tak pernah merasakan sakit menimpah batu cadas”
kutangguh karena doa-doamu
Percayalah!
Gunung, lembah dan rimba
Semua akan terkalahkan
Disetiap pertarungan
Aku akan jadi pemenangnya
22 Juni 2009 at p06 03.18
mengalir seperti air…
Aling :
Thanks…karena blog ini hanya setetes air…
salam persahabatan
22 Juni 2009 at p06 03.18
Membaca baris demi baris
…
ada kerinduan
datangnya pelita
penguat asa.
ketika temaram malam
berpeluk kesunyian
hari ke-hari.
Salam persahabatan.
Aling :
kerinduan akan keluarga yang jauh di mata, berterimakasih akan cahaya dan semangat dari mereka.
salam persahabatan
23 Juni 2009 at p06 03.18
cinta itu menguatkan…(seharusnya)
bukan jadi penghancur semangat
Aling :
ini cinta antara saudara (keluarga)…bukan kekasih hehehe…
23 Juni 2009 at p06 03.18
sekarang kayaknya lagi dramatis-romantis yah… sedang nyaman2nya mengungkapkan isi hati lewat puisi?
komentar saya sebagai penikmat puisi soal puisi di atas:
Aku tersengal membisu dengan tatapan tak ada arti…
kata2 seperti itu agak2 sulit dimiliki seseorang yang punya ketegaran seperti yang diungkapkan dalam baris2 lebih bawah, contohnya:
…Gunung, lembah dan rimba
Semua akan terkalahkan….
ps: jangan kapok nulis cuma karena satu dua kritik yang ga sejalan
Aling :
hehehe…belajar puisi untuk menambah perbendaharaan kosakata.
kita menjadi lemah dihadapanNYa… mesikupun bisa tegar di hadapan manusia…ini maksud yang ingin kusirat…
Terimakasih ya buat masukan yang berguna buatku dan semangat yang kirim untukku !
ngak akan kapok, aku akan seperti air hujan, dikehendaki atau tidak oleh bumi dan manusia hujan akan tetap mengirimkan rintiknya jika saatnya tiba
salam persahabatan selalu untukmu ^_^
23 Juni 2009 at p06 03.18
hmm.. sungguh hanya manusia yang mengerti diri sebenar benarnya diri.. merekalah yang hidup dalam pelukan CINTA dan kasih sayang
Salam Sayang
Aling :
semoga kita semua selalu dalam pelukan Cinta dan kasih sayangNya, sehingga kita rasakan rintik-rintik dama dan angin kebahagian dalam hati.
salam semangat!
23 Juni 2009 at p06 03.18
..Tetesan ..satu satu…
..dalam golakan hati sedang perih….
..sesungguhnya..tenangmu..,adalah DOA..
Kukuat oleh percikan kasihmu
kutangguh karena doa-doamu
Percayalah!
Gunung, lembah dan rimba
Semua akan terkalahkan
Disetiap pertarungan
Aku akan jadi pemenangnya
.. bahkan akan menjd lbh dr Pemenang
.. kalau selalu mengandalkan “DIA”.
SALAM.
Aling :
setuju…
DIA akan selalu menuntun dan mengirim cahaya disetiap langkah perjalanan hidup kita.
terimakasih buat koment indahnya…
salam persahabatan
23 Juni 2009 at p06 03.18
kau bagaikan air dalam angan-anganku
yang mampu menutupi kedahagaanku..
Aling :
Mari kita terus memberi kesejukan buat keluarga dan sahabat-sahabat di sekitar kita meskipun yang kita lakukan hanya seperti setetes air.
salam hangat persahabatan selalu untukmu sobat!
23 Juni 2009 at p06 03.18
Percikan kasih, ya….dengan bahasa kasih itulah, satu-satunya yang dapat menuntun orang buta, yang dapat berbicara dengan orang bisu,yang dapat didengar oleh orang tuli.
Salam Sejahtera bagimu & sekeluarga.
26 Juni 2009 at p06 03.18
Jangan pernah merasa sendiri
karena kasih Nya selalu ada
27 Juni 2009 at p06 03.18
mbak coba ikut kompetisi ini mungkin bisa menang loh…. atau minimal tamabh temen
http://ictwatch.com/internetsehat/blog-award/
13 Juli 2009 at p07 03.18
“Aku adalah Air yang mesti terus mengalir.
Akulah air yang jatuh tak pernah merasakan sakit menimpah batu cadas”
Hm.. aku suka tuh kata2 itu sahabatku, Aling..