
Oleh Kwek Li Na
Baju kehidupanmu dipreteli
Sesuka hati oleh ia yang tak punya hati
Kecantikan tubuhmu membuatnya gila
Ia rebut keperawanan jiwamu sebuas singa
Pemberontakanmu membuatnya tambah jalang
Dihatamnya barang ketubuhmu dengan garang
Kau diperlakukannya seperti binatang
Berkawan nasib malang
Kau hanya diam pasrah menunggu petang
kenapa kau tak bisa berang ?
Mestikah kau gugur sebelum berperang ?
Jejak memar yang membekas di tubuhmu
Kenapa semua kau bungkus dengan bungkam ?
Di balik isak tanggis kau menahan luka
Air mata pun sudah menjadi darah
Kau pun kebal terhadap penderitaan bathin
Kenapa kau begitu lemah dalam kodrat
Martabatmu dinjak-injaknya di lantai
Kau dianggap sampah busuk olehnya
Semua pahitnya lalap kehidupan kau telan
Bukti pun kau kunyah mentah-mentah
“Ah…nasib!” katamu
Perempuan …
Kau sulit kumengerti!
Tak bisa kupaham!
Haruskah di setiap peradaban jaman
Kau jadi sosok tak berdaya
Apakah bumi sudah tak punya keadilan lagi untukmu ?
Atau kau menunggu lehermu digantung di tiang kematian?
Baru kau menyadari ini sebuah penganiayan
Bangkitlah!
Hapuslah air matamu
Teriaklah!
Jadilah dewa untuk dirimu
Tunjukan ke dunia kau perkasa
Biar bumi tahu KAU ADA
Taiwan, 17 Juni 2009
Ps : pic dari koment di tagged
Sesuka hati oleh ia yang tak punya hati
Kecantikan tubuhmu membuatnya gila
Ia rebut keperawanan jiwamu sebuas singa
Pemberontakanmu membuatnya tambah jalang
Dihatamnya barang ketubuhmu dengan garang
Berkawan nasib malang
Kau hanya diam pasrah menunggu petang
kenapa kau tak bisa berang ?
Mestikah kau gugur sebelum berperang ?
Kenapa semua kau bungkus dengan bungkam ?
Di balik isak tanggis kau menahan luka
Air mata pun sudah menjadi darah
Kau pun kebal terhadap penderitaan bathin
Martabatmu dinjak-injaknya di lantai
Kau dianggap sampah busuk olehnya
Semua pahitnya lalap kehidupan kau telan
Bukti pun kau kunyah mentah-mentah
“Ah…nasib!” katamu
Kau sulit kumengerti!
Tak bisa kupaham!
Haruskah di setiap peradaban jaman
Kau jadi sosok tak berdaya
Apakah bumi sudah tak punya keadilan lagi untukmu ?
Atau kau menunggu lehermu digantung di tiang kematian?
Baru kau menyadari ini sebuah penganiayan
Hapuslah air matamu
Teriaklah!
Jadilah dewa untuk dirimu
Tunjukan ke dunia kau perkasa
Biar bumi tahu KAU ADA
Ps : pic dari koment di tagged
20 Juni 2009 at p06 03.18
perempuan alias wanita,yang selalu berani ditata.Tubuhmu banyak keindahan dan wajah nan rupawan.
yang penting hormatilah selalu-teringat ibumu.
salam kasih selalu.
20 Juni 2009 at p06 03.18
hmmm….
20 Juni 2009 at p06 03.18
hanya lelaki yang tak punya hati dan tak mengenal cintalah yang kan tega memperlakukan perempuan seperti itu sobat..
21 Juni 2009 at p06 03.18
Jadi ingat Manohara….
Apa kabar mbak Aling…..lamaaaaaa tak mampir.
22 Juni 2009 at p06 03.18
Perempuan semestinya berdaya, Perempuan mestinya berjaya… sudah zamannya Emansipasi Wanita… Lelaki mesti memahaminya.
22 Juni 2009 at p06 03.18
Saya malah ingat pembantu yang disiksa majikan di Malaysia sana. Saya berkunjung setelah vakum hampir dua bulan. Good luck…
22 Juni 2009 at p06 03.18
Hemmm absen saja deh….
22 Juni 2009 at p06 03.18
kasian cici paramida…hemmm..
13 Juli 2009 at p07 03.18
Kemarahan kadang memang bisa tak terbendung
Tak selalu diam membawa kebaikan
Tapi sesungguhnya ketenangan selalu akan baik
Memberi ruang berpikir dan mengambil langkah
Memberi dorongan bergerak dengan elegan
Menghantam tanpa harus memukul
Berteriak tanpa harus membuka mulut
Memberi dampak besar dengan tindakan terbatas..