Oleh Kwek Li Na

Mentari pagi menyapaku, cahayanya yang terik menerobos celah-celah gorden di kamarku. Pelan-pelan kubuka mata…lalu tanganku berusaha mengapai-ngapai mencari selimut.

Lalu kuraih remote dan kunyalahkan televesi. Tak satu acara pun yang kuminati pagi ini.Bukan karena acaranya tidak bagus namun entahlah…rasa sepi yang cahaya matahari bawa pagi ini, begitu menggingit.

Baru ku sadari aku sendiri…dalam sunyi yang sungguh menyedihkan!

Sendiri dalam sebuah kamar sebesar ini. Tak seorang pun menemaniku. Bahkan seekor nyamuk pun tak ingin menjadi sahabatku.

Walau semalam, beberapa bidadari mendampinggi bak seorang raja di club termegah di ibukota ini.

Wine adalah sahabatku untuk melepaskan semua kegalauan yang ada. Bersamanya aku akan lebih percaya diri dan kadang mampu melupakan semua masalah untuk sejenak.

Rupanya semalam aku meneguk wine tak sedikit sehingga sempat membuatku lupa bagaimana aku sampai di apartemenku ini.

Di saat-saat aku merasa sangat merindukannmu, aku berusaha melupakanmu bersama wine dan hinggar-binggar lampu diskotik dan bidadari-bidadari di sampingku .

Saat usahaku sukses apapun bisa ku beli. Bahkan cinta seorang wanita dengan mudah kuraih.

Aku berkelana mencari cinta yang lain.

Dari satu kesatu bidadari, cintaku kutautkan. Aku berkelana mencari cinta yang pernah ku titip di hatimu. Namun tak ada yang bertahan lama, semua terasa hambar dan membosankan. Dan ini hanya pelampiasanku untuk membuktikan pada mu, pada orang dan pada dunia, aku tak serendah yang mereka katakan.

Namun…apakah aku puas?

Tidak.

Aku makin larut dalam banyak kesalahan, memberi harapan pada wanita-wanita cantik, lalu pergi semauku, hanya untuk memuaskan keangkuhanku.

###

keegoisan yang menjadi menu santapan baik sarapan pagi, makan siang ataupun makan malam , membuat alat pengecapku merasa hambar apapun hidangan yang masuk ke saluran pencernaanku.

Perbedaan bagai langit dan bumi, membuat kita sering berbeda prinsip dan cara pandang. Yang tak jarang membuat sebuah diskusi yang manis berubah menjadi sebuah pertengkaran hebat.

Syaraf pendengaranku sudah lelah mendenggar gunjinggan orang-orang tentang kita.

O’ Tuhan…mungkin lebih baik kau ciptakan aku tuli sehingga aku tak lelah mendenggar semua suara yang keluar dari mulut-mulut yang tak berperasaan.

Atau kau butakan saja mataku, supaya aku tak perlu menghindar dari tatapan-tatapan itu.

Aku lelah. Sungguh lelah. Mencintaimu dan berada di sampingmu dengan sekat-sekat yang membuat jarak kita makin menjauh.

Saat kuceritakan semua keluh kesahku, kau malah menertawakan aku. Kau bilang, “knapa aku mesti memperdulikan gunjingan itu.”

Aku tak bisa terima melihat perlakuanmu. Kamu tak mungkin mengerti karena bukan kamu mengalami.

” Kita CERAI! ” bentakku dengan sanggat marah.

Akhirnya kita malah larut dalam pertengkaran hebat yang saling menunding dan saling menyalahkan. Dalam emosi yang meluap-luap, kamu pun menyetujui berpisah denganku. Kau mungkin juga sudah tak tahan menghadapi emosiku yang bisa saja tiba-tiba datang. Semua kekesalanku akan ketakberdayaan dan keadaanku, selalu kumuntahkan padamu.

Untuk menjaga harga diri dan menunjukan ego kita masing-masing, kita benar-benar mengurusi masalah perceraian ini.

Ya, kita benar-benar pisah. Hal yang sebelumnya tak pernah aku pikirkan.

###

Cinta yang dulu merekatkan dua jiwa, entah sudah terbang kemana.

Terlalu mudah kita jatuh cinta. Terlalu mudah kamu mengganggukan kepala saat kulamar. Semua jalan yang kita Lalui untuk membangun sebuah mahligai terlalu mulus.

Kita terlena dan dibuai oleh cinta. Sungguh aku menikmati semua cerita dan kebersamaan ini.

Namun knapa terlalu mudah juga kita mengakhiri semua ini ?

Materi dan harga diri.

Dua hal pemicu kehancuran ini.

###

Dalam sepiku, selalu kurindu belaiamu, aroma tubuhmu dan kata-kata mesra yang keluar di bibirmu. Di saat -saat pertama kita baru berkenalan dan saling jatuh cinta.

Andai waktu bisa kembali….

Taiwan, 240509

Ps :pic kumabil dr koment di tagged