
Pic diambil dari sini
Cerpen Fiksi by Aling
Lima tahun sudah pernikahan kita…
Aku sangat menikmati kebersamaan dan hari-hari penuh cinta denganmu. Bisa dibilang sebuah pernikahan yang sangat membahagiakan dalam hidupku.
Kebahagian kita bertambah lengkap saat kita dikarunia sepasang anak kembar yang sangat lucu dan pintar. Sebagi seseorang wanita, lengkap sudah kebahagian yang kumiliki. Memiliki seorang suami yang baik dan sangat penyayang, anak-anak yang lucu, dan kehidupan ekonomi yang bisa dikatakan cukup.
***
Tapi kebahagian itu hilang dan pergi entah kemana, sejak usahamu bangkrut.
kamu berubah menjadi laki-laki yang kasar dan sering bermain tangan. Semua kutahan, bukan aku tak mampu dan tak ingin melawan, ataupun pergi meninggalkanmu, tapi yang kupikirkan bagaimana nasib anak-anak yang tak tahu apa-apa akan permasalahan hidup dan orang tua ? Terlalu dini buat jiwa dan hati mereka, untuk kujelaskan semua hal ini.
Dan aku pikir itu semua, hanya ledakan emosi sesaat karena pelampiasanmu atas ketidak relaanmu, akan usaha yang telah kamu rintis bertahun-tahun dan pernah meraih kesuksesan yang gemilang…. mesti gagal karena ulah sahabat karibmu yang sangat kamu percaya, ternyata menusuk kamu dari belakang.
Keputus-asa-an yang kamu alami, merubah total sosok dirimu.
Merubah dirimu, menjadi seseorang yang penuh rasa kwatir dan rasa takut kehilangan yang begitu kuat.
Tapi pernahkanh kamu tahu, perbuatanmu padaku benar-benar sudah melapaui batas…aku selalu menjadi sasaran empuk setiap kali, emosimu meluap.
Bertambah lagi sekarang terlalu banyak aturan yang kamu buat dan harus aku turuti. Aku tak boleh keluar. Ataupun hanya sekedar berbincang dengan orang di telepon. Tak boleh berpakaian atau berdandan menarik dan peraturan-peraturan lainnya.
Kecurigaanmu begitu besar. kalau aku tanya alasanmu, kamu bilang takut aku meninggalkanmu, atau kwatir aku membicarakan kegagalanmu dengan orang lain.
Yang bagiku itu semua hanya perasaan-persaan yang timbul dan kamu lebih-lebihakan dalam dirimu karena goncangan jiwa. Sekarang kamu benar-benar berubah. Berubah menjadi seorang laki-laki yang sangat pencemburu dan penuh kecurigaan.
***
Mukaku akan selalu menjadi sasaran tanganmu yang melayang. Saat kamu dihinggapi emosi karena hal-hal sepele, dan kamu akan berubah menjadi sebuah sosok orang lain yang berbeda atau bahkan seperti orang kerasukan dan akan memukulku sejadi-jadinya tanpa kendali.
Memar bahkan membiru, sudah menjadi hiasan di muka dan badanku. Aku menjadi malu untuk keluar rumah. Karena setiap orang yang melihatku, berbisik-bisik seakan-akan lagi membicarakan memar ataupun bekak diwajah dan tanganku.
Karena malu… dan ketakutanku akan emosimu yang entah kapan akan meluap, aku lebih memilih diam dirumah dan tidak bergaul dengan siapapun.
Aku menjadi orang yang tak punya teman sama sekali, untuk mencurahkan segala kepahitan hidupku ini ataupun meminta saran bagaimana jalan keluar. Sedangkan pikiranku sepertinya sudah buntu…tak bisa berpikir sama sekali untuk sekedar membuat pilihan.
Pergi meninggalkanmu tapi aku kwatir juga dengan keadaan dan keselamatan dirimu. Atau aku harus tetap tinggal dan menuruti semua aturan edanmu, yang hampir membuatku menjadi gila.
***
Saat kamu lagi tenang, aku pernah menganjurkan dan mengajakmu untuk terapi jiwa, kamu malah tersinggung dan sangat marah. Aku benar-benar kehabisan cara untuk membantumu, untuk keluar dari tekanan jiwa yang sedang mengoncangmu.
Ruang hatimu yang dulu pernah dipenuhi cinta yang bersemi seindah bunga-bunga yang bermekaran , kini berubah seperti bunga yang tinggal ranting, dimusim gugur …tak berdaun apalagi berbunga…dan cinta antara kita sudah seperti hembusan angin musim dingin yang mampu menusuk kulit ari dan mengilukan tulang-tulang.
Anehnya. Setelah kamu memukulku…kamu selalu punya cara untuk membuatku menerima dan memaafkan setiap perbuatanmu. kamu selalu berlutut meminta maaf, menangis tersedu-sedu menyesali perbuatanmu. Lalu akan memperlakukan aku sangat dan sangat baik.
Rasa sakit yang aku rasa, … luruh dan hilang bersama uraian air matamu yang mengalir. Dan aku selalu kalah…dan kalah oleh kata-kata manismu. Dilubuk hati terdalam aku selalu berharap dan memberi kesempatan supaya kamu benar-benar sadar dan menyesali kekhilafanmu dan kembali kesosok yang dulu.
Tapi beberapa hari kemudian… atau beberapa minggu kemudian tanpa aku tahu apa penyebabnya, ataupun perbuatan yang mana menyinggung perasaanmu, atau karena hal-hal yang sangat sepele, kamu akan melakukan …dan melakukan kejadian yang sama.
Rupanya, kamu tahu kelemahanku…air mata dan sikap memelas yang kamu mainkan, lengkap dengan sandiwara sikap yang seakan-akan berubah dan menyesali serta memperlakukan aku dengan baik, kamu gunakan untuk membohongi dan meracuniku, untuk tetap tinggal.
***
Kamu pikir aku lemah. Aku memilih diam, apapun perlakuaanmu, karena aku berharap rumah tangga kita masih bisa dipertahankan.
Tapi dalam hati, aku bersumpah, sekali lagi kamu berani memukulku, aku tak akan hanyut dengan sandiwara yang kamu perankan begitu sempurna, karena aku akan melawanmu sampai titik penghabisan.
Saat kita pulang kerumah orang tuamu pun, kamu berani memukulku. Kamu benar-benar berubah menjadi sebuah sosok yang sangat kasar dan tak berperasaan. Soratan matamu, berbeda dan menjadi sangat mengerikan.
Aku tak tahan dengan semua ini, batas kesabaranku pun sudah habis.
Kutangkap tanganmu yang kamu arahkan kemukaku untuk kesekian kali. …dan karena aku melawan…Kamu menjadi bertambah marah dan menjadi sangat berang.
Kamu mendorongku kearah dinding, dan aku tersungkur dan pinggangku terbentur kursi.
Sakit. Sakit sekali. Sambil menahan sakit dan mengelus-ngelus pinggang yang terbentur kursi, aku dengan sekuat tenaga berusaha bangun dan membalas memukulmu.
Dan tanpa sengaja pukulan tanpa arahku, malah kena kaca matamu, yang minus berat. Kaca mata jatuh kelantai.
Saat kamu sibuk meraba-raba lantai untuk mencari kaca matamu, … kuambil kesempatan lari kekamar dan kutarik kedua tangan anak kita yang ketakutan dibalik pintu kamar, langsung lari keluar, lalu cepat-cepat naik angkot yang lewat, setelah separuh perjalanan, baru kusadari bahwa angkot yang kutumpangi, salah jurusan. Aku turun… dan naik angkot lain yang menuju kerumah orang tuaku.
***
Keesokan harinya, kamu datang kerumah orang tuaku, untuk merebut anak-anak kita.
Aku tak mungkin menyerahkan anak-anak ketangan orang seperti kamu. Bagaimana nasib mereka, mungkin tanpa kamu sadar, kamu akan melukai atau membunuh mereka. Setidaknya aku tak ingin merusak mental kedua anak tersayangku.
Dari dalam kamarku, terdengar suara Papa yang lantang dan galak mengacam kamu, “kalau kamu berani masuk, akan aku potong-potong kamu (melihat kedatanganmu papa, mengambil golok untuk menakutimu).
Sebentar lagi polisi akan kesini, coba kamu berani, dan tidak pergi, aku yakin kamu akan diringkus dan bisa menikmati nasi gratis dibalik terali,”
Terjadi pertengkaran kecil antara kamu dan papa. Kamu benar-benar berubah, karena dulunya kamu sangat sengan dan sangat menghormati papa. Sekarang kamu berani menjawab bahkan berkata lantang.
“Aku akan datang lagi! ” bentakmu tak puas.
Papa, mama serta saudara-saudaraku, menganjukan aku untuk pergi dari kota ini, dan akhirnya aku memutuskan untuk pindah kekota sebelah. Tapi dengan orang-orang setempat, keluargaku bilang aku pindah ke ibukota.
Ini semua kulakukan demi keamanan jiwa aku dan kedua anak-anaku.
***
Pekerjaan sulit aku dapat, walaupun aku sudah mencari dan terus mencari. Rupanya tanpa kenalan dan referensi perusahaan, dijaman sekarang pekerjaan sulit buat aku yang hanya lulusan SMEA.
Uang yang kubawa sudah habis untuk makan dan hidup sehari-hari. Pulang kedaerah asalku, tak mungkin kulakukan.
Ada seorang tetangga yang bekerja sebagai penghibur malam, menawariku, untuk bekerja ditempatnya.
“Ya, Tuhan…separahkan inikah jalan hidupku, sampai harus jatuh kelumpur nista dan dosa?” rintihku dimalam yang kelam.
Kata-kata yang manis dari tetanggaku, dan tangis lapar anak-anakku akhirnya membuatku jatuh kelumpur nista.
Aku tak menyalahkan siapapun, hanya ini jalan yang bisa sahabatku tawarkan untuk membantuku dan hanya dialah satu-satunya orang yang kukenal sesampainya aku ditempat ini.
Aku sendiri lah yang salah, aku yang tak mampu bertahan saat dihadapi kesulitan begini, dan membuat aku tak mampu berpikir banyak dan panjang. Aku sudah tak ambil pusing dengan, memikirkan dosa,… asal tangis anak-anakku menahan lapar, bisa reda.
Dan kesalahan terbesar yang aku lakukan kepada kedua buah hatiku adalah membesarkan mereka dengan uang nista.
***
Lima tahun sudah, aku berpropesi sebagai wanita penghibur, untuk memuaskan laki-laki hidung belang. Setiap malam, aku mesti meladeni siapa saja, laki-laki yang berbeda dan yang rela mengeluarkan beberapa puluh lembar uang rupiah .
Jujur,… sakit rasa hatiku, setiap kali aku mesti melakukan hal ini dengan orang yang tidakku cintai ataupun bahkan tidak kukenal sama sekali.
Ingin kusudahi, semua pekerjaan ini, dan mencari pekerjaan lain yang tak perlu menyiksa batin dan hati.
“Tapi kemanakah aku harus mencarinya ?”
***
Suatu hari, aku berkenalan dengan sesorang laki-laki yang umurnya kurang lebih seumur papaku, dan dia brani membayarku dan menjadikan aku wanita simpanan.
Tanpa pikir panjang, aku menerimanya. Aku berpikir, masih lebih baik jadi wanita simpanan dari pada wanita penghibur. Setidaknya aku tak mesti menghadapi sikap kasar ataupun perlakuan yang menjijikan dari berbagai macam laki-laki yang mesti aku layani.
Hidup memang membuat kita tak memiliki pilihan. Semua kulakukan demi anak-anakku, walaupun aku tahu, seandainya mereka besar nanti, mereka akan malu jika tahu kalau mamanya seorang wanita penghibur.
Tak ada cinta lagi dihatiku, sejak laki-laki yang pertama dalam hidupku, memporak-porandakan hatiku. Menyakiti aku secara fisik dan mental. Cintaku telah mati, sejak aku memilih untuk pergi dari sisinya.
Apalagi penderitaan hidup yang datang silih berganti dalam hidupku. Membuat aku tak berani untuk mengenal cinta apalagi larut didalamnya. Sekarang cinta yang ada dihatiku, hanya demi lembaran rupiah.
***
Sepuluh tahun sudah berlalu…
Sejak mereka masih SMP, aku memutuskan untuk menyekolahkan mereka didaerah lain dan akhirnya menitipkan mereka pada seorang tanteku yang berada di Ibukota. Aku tak ingin anak-anakku, mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku memang munafik…tapi sebongkah hatiku, selalu masih ada kasih sayang yang hangat dan utuh untuk mereka.
Aku tak ingin mereka tahu apa pekerjaanku, karena aku takut kehilangan mereka…aku takut mereka membenciku…aku tak ingin mereka menjauhiku karena hanya merekalah KEKUATANKU untuk melewati hari-hari yang penuh tantangan ini.
Sekarang mereka sudah selesai kuliah, dan dapat pekerjaan diibukota. Akhirnya atas desakan mereka aku pun akhirnya pindah bersama mereka. Aku memang sejak lama berharap bisa meninggalkan kota ini dan melupakan sisi kelam dalam hidupku.
***
Rupanya kebahagianku tak lama, saat aku dinyatakan mengidap AIDS oleh dokter, saat Sibungsu membutuhkan darahku, karena mengalami pendarahan yang sangat hebat karena kecelakaan.
Dunia terasa gelap. Kaki terasa ngemetar, tak sanggup mendengar kabar kalau sibungsu tak tertolong dan kutahu darahku tak boleh digunakan karena terdektesi virus AIDS.
Inilah semua buah, dari perbuatanku. Tak ada yang mesti aku sesali…mungkin inilah bayaran yang mesti aku lunasi atas semua perbuatanku selama ini.
***
Dua hal yang ingin aku lakukan sebelum ajal menjemputku. Yang pertama adalah menceritakan semua hal, semua cerita yang memalukan dalam kehidupanku, semua sisi kelam kehidupanku dan meminta maaf…. pada Sisulung. Yang kedua meminta ampun kepada Tuhan, atas segala dosa-dosaku. Walaupun aku tahu, aku terlalu kotor dan tak pantas untuk ini.
Banyak penyesalan-penyesalan yang baru kusadari disaat aku merenung nasibku. Apalagi, saat aku sungguh-sungguh terpanggil dan benar-benar ingin belajar dan mengenal firman Tuhan. Digereja banyak aku dengar renungan dan kotbah yang mampu menyadarkanku.
Rasa sesal, pelan-pelan menyelimuti hatiku. Penyesalan yang paling mendalam yang tak mungkin hilang sampai aku menutup mata , adalah menyadari, entah sudah berapa banyak orang yang kutular, entah sudah berapa banyak keluarga yang aku sakiti. Entah sudah berapa banyak, rumah tangga yang kuhancurkan dan aku buat laki-laki mereka menghianati istri, anak dan rumah.
Untuk kemudahanku dalam menjalani hidup,… untuk merengut kebahagian duniawi,… entah telah berapa banyak kebahagian orang lain kuambil.
Egois, ..aku sungguh egois.
Aids, adalah buah, cinta karena rupiah. Aids adalah buah keserakahanku,… buah keegoisanku.
Sekarang, Tak ada harapan dan tak kumiliki kekuatan, hidupku hanya untuk menunggu kematian.
Ps : Cerita fiksi ini, kuangkat dalam mendukung gerakan Anti AIDS
Taiwan, 7 Maret 2009
Merubah dirimu, menjadi seseorang yang penuh rasa kwatir dan rasa takut kehilangan yang begitu kuat.
8 Maret 2009 at p03 03.18
Semoga tidak banyak lagi yang terkena AIDS. Aku mendukungmu.
Aling :
Ya…semoga tulisanku ini terbaca ya oleh mereka yang hampir putus asa, apapun alasannya, jangan pernah melangkah kedunia kelam, karena terlalu berbahaya …dan semoga aza mereka-mereka, sadar.
8 Maret 2009 at p03 03.18
Lah tadi ketikanku kemana yah?
Aling :
Lah…setelah aku obok-obok , …kok, komentarnya masuk spam Hihihi…
8 Maret 2009 at p03 03.18
yahh,, itulah hidup bagi kesebagian orang yang merasa menyesal dalam hidupnya.. pdahal yang kayak gtu juga dah bnyak kan yang ngalamin,, mungkin seperti itu smua hanya cobaan untuk mengetahui seberapa besar cinta mereka kepada Allah..
tetep beryukur dengan apa yang kita dapat.. haha..
Aling :
wah, andai tokoh ketemu kita dan saling bercahtting ria, aku yakin dia tak melangkah kelembah dosa jiahaha…
semoga tulisanku, bisa menjadi renungan buat sekelompok manusia, sebelum terlambat
*apa mungkin, mereka nyasar kesini dan membaca ya ?…wkwkwk…*
8 Maret 2009 at p03 03.18
Itulah “Roda Kehidupan”….
tetapi ada ‘sekelompok orang’ mengatakan jika hal tersebut adalah ‘takdir’
menyakitkan??? Menyedihkan’kah???
Ahh, tidak kok….Itu hanya hal-hal biasa kok.
apakah menjadi ‘pelacur’ adalah sebuah takdir???
untuk tokoh di atas, sungguh sangat disayangkan sekali, andai saja bisa bertemu dengan ‘sekelompok orang’ ini jauh sebelum terjadi dalam hidupnya, dan belajarlah menjadi ‘pelacur elit’….
Aling :
Hahaha…tambah kacau, deh …
Suatu hari, karma akan berlaku buat ‘sekelompok orang’ itu…
PERCAYALAH!
karena mereka sama sekali tak menyesali bahkan menikmati hikz…seram…
8 Maret 2009 at p03 03.18
Tidak ada kata terlambat untuk bertobat. Yang lalu tidak perlu di sesalkan. Yang paling di sesalkan adalah ketika ajal menjemput masih belum juga bertobat.
Aling :
Wah…benar juga ya…
setuju, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, ya kan ?
8 Maret 2009 at p03 03.18
HIDUP ADALAH SEBUAH PILIHAN
sebenarnya sikap lari dari kenyataan itu,bukanlah sikap seorang kristiani yg sejati.Kita harus mampu menghadapi berbagai tantangan.Tantangan seharusnya jangan dipandang sbg beban,tetapi justru sesuatu yg semakin menguatkan kita..Ingatlah Yesus mampu mencapai kemuliaan-Nya justru karena ia mengalami penderitaan yg luar biasa dan menyakitkan.Dalam situasi yg sulit bukan lari menghindar tetapi berusaha mengatasi semuanya.
Dalam kehidupan yg carut marut ini,kita juga mengalami hal yg serupa dng yesus.Kita tak pernah mampu menghadapi persoalan hidup jika tanpa ada Allah yg mengerti dan peduli..
Kepedulian Allah terbukti akan selalu memberikan kelegaan kpd semua orang yg letih lesu dan berbadan berat.Sungguh ,Allah selalu membantu kita tanpa gerutu..
MAKA,JANGANLAH ENGGAN DATANG KEPADANYA DALAM SETIAP PERSOALAN,KARENA DARI PADA-NYALAH KITA MEMPEROLEH KEKUATAN..
salam Yang-Kung.
Aling :
kadang banyak orang terlalu dini untuk menyimpulkan dan memutuskan serta mentukan pilihan akan suatu hal, yang akibatnya fatal dan menjadi penyesalan yang berkepanjangan.
Penderitaan dalam kehidupan, akan mengolah kita menjadi sebuah sosok yang tegar, kuat, bijaksana dan tahu persoalan.
Semoga, Kasih Tuhan akan selalu bekerja nyata, justru buat mereka yang letih dan berbeban berat.
Dan hal yang paling penting menurutku…suport dan semangat dari orang-orang disekitarnya (keluarga dan sahabat), adalah kekuatan dan penyelamatan.
Semoga kasih dan kebahagian selalu menyertai keluarga Yang-Kung.
8 Maret 2009 at p03 03.18
hidup banyak cobaan….
dan kita dihadapkan kepada banyak pilihan jalan…(meskipun kadang malah terihat seperti tidak ada pilihan)
mudah-mudahan kita semua bisa lebih bijak memilih jalan ya mbak aling..
Aling :
Ya betul aku setuju…
Ada seribu jalan yang menjadi pilihan, ambilah pilihan saat hati dan pikiran tenang, tergesa-gesa membuat pilihan kadang malah membuat kesalahan fatal.
8 Maret 2009 at p03 03.18
saya simpen dulu bacanya nanti kalo pas offline
salam aja dari malang mbak
Aling :
Oke…
8 Maret 2009 at p03 03.18
aku baca dari bawah ke atas tapi masih bisa dimengerti,hehehe.. keren ceritanya mba, jalan ceritanya menarik… berbakat bgt.. trus dikembangkan mba n coba dimasukin ke penerbit….
Aling :
thanks…
bacanya jungkir balik ya..kok dari bawah keatas hehehe…
semoga aja suatu hari ada penerbit yang berminat!
8 Maret 2009 at p03 03.18
Penyesalan selalu datang belakangan, orang sering nggak berpikir panjang untuk melakukan sesuatu yang krusial bagi diri sendiri, orang-orang terdekat dan sekitarnya. Meskipun tekanan mentalnya begitu hebat, seharusnya kita bisa bertahan untuk mengendalikan diri dengan mendekat kepada-Nya.
Ketika penyesalan datang, masa depan menjadi taruhan. Masa lalu yang seharusnya menjadi Guru, tak mampu lagi untuk membantu. Yang terjadi, adalah masa sekarang yang harus dibayar dengan sangat mahal akibat perbuatan kita di masa lalu.
Overall, cerpennya bagus, mbak… Banyak pesan moral yang terkandung di cerita ini. Btw, iya kenapa nggak coba nerbitin buku di Indonesia aja, mbak?
Ditunggu lho karyanya.. :p
Aling :
Benar Gie, apa yangkamu bilang…
semoga tulisan sederhana ini, bisa menjadi sebuah renungan untuk siapa saja,
…hati-hati membuat keputusan dan pilihan…karena apapun yang terpilih…pasti ada resiko yang dipertanggungjawabkan.
walah…nerbit buku? Belum ada kebranian nih
Semoga sutau hari tulisanku, bisa tercetak menjadi buku, doain ya…
sekarang di wp ini, tempat aku melatih diri dulu
8 Maret 2009 at p03 03.18
Kirain judul lagu dangdut mbak… Sekalinya isinya ngejazz… salut.
Aling :
hahahaha…
8 Maret 2009 at p03 03.18
coba ditulis ulang jadi skenario trus dikirim ke multivision
kayanya mereka bakalan suka
Aling :
wah…masak sih ?
aku ngak ada pengalaman untuk buat skenario, dan bagaimana layaknya sebuah skenario…
Thanks sarannya!
8 Maret 2009 at p03 03.18
gak cocok ke multivision, soale kalau ke multivision ceritanya harus mbulet2i biar banyak episode,hehe.. mending dibikin FTV aja
Aling :
hahaha…
mudah-mudahan suatu hari harapan kali, bukan sekedar mimpi buat aku…
ups, andai aku bisa…buat kayak film korea, ringkas dan tak bertele-tele, itu sudah cukup.
Sadar…sadar…aku masih terus berlatih hahahaha…
8 Maret 2009 at p03 03.18
Hebat … tokoh si aku. Hingga anaknya dapat menyelesaikan kuliah, pengorbanan seorang ibu untuk kebahagiaan anak-anaknya, meskipun jalan penderitaan yang dilaluinya.
Banyak perempuan yang mengalami hal seperti itu, hanya jalan penderitaannya saja yang berbeda, yang terkadang tidak ada lagi hitam ataupun putih, berjuang untuk survive dalam melawan kehidupan yang tidak berpihak pada perempuan.
Aling :
sering terlihat…sosok perempuan yang lemah, hati yang keras akan mencair dan rapuh karena tangis anak-anak dan selalu saja bisa jadi ancaman buat dirinya sendiri…dalam menentukan pilihan.
tapi banyak juga perempuan yang bisa bertahan…justru karena anak-anak yang menjadi kekuatan bagi dirinya.
Semua berbalik kepribadi masing-masing.
8 Maret 2009 at p03 03.18
walah aling ceritanya sangat menyentuh perasaanku, untung aja cerita fiktif.dan aku harap nih cerita bukan cerita tentang kamu.hehehe
Aling :
Hahaha…
janganlah sampai nasibku seperti ini…
dan ingat setiap aku ada masalah, banyak sahabat disampingku yang akan selalu menjadi kekuatan dan menyiapkan perahu supaya aku tak tenggelam digelombang kehidupan.
aku memang suka menulis, kira-kira suatu cerita yang mungkin terjadi didunia nyata. Ingat yang aku tulis, mungkin aza ada dan mirip-mirip…tapi menurut imajinasiku.
9 Maret 2009 at p03 03.18
mmm…cerita KDRTnya mirip banget dengan seseorang yg deket sama aku, tetapi yang aku salut dari perempuan yang ku kenal dia tetep keukeuh untuk bekerja halal…semoga apa yang diperjuangkan untuk anaknnya dan anak yang ada di dalam kandungannya di mudahkan.
seandainya tokoh utamanya seperti perempuan yang ku kenal itu, pasti dia tak akan terkena AIDS…miris banget ya mbak
Aling :
semoga dimudahkan dan selalu diberi jalan buat seseorang yang dekat denganmu.
Semoga penyakit AIDS yang mengerikan…bisa hilang dari muka bumi
9 Maret 2009 at p03 03.18
Titip banner untuk Taman Baca dong mbak… Makasih.
Aling :
Minta linknya dong…aku ngak bisa buat hehehe…PASTI saya pasang!
9 Maret 2009 at p03 03.18
keren banget, tapi kenapa kok ibu baik itu harus jadi korban, meski banyak kejadian yang mirip namun masih ingin berontak saja kenapa perempuan selalu menjadi korban ya… gemes sekali saya…
Aling :
sosok perempuan seakan-akan, selalu lemah dan kalah dengan keaadaan…memang membuat siapapun gemes…
9 Maret 2009 at p03 03.18
Mengapa si tokoh nggak mikir…lebih baik aku mati kelaparan bersama anak-anakku dari pada memberi makan mereka dengan uang melacur….hidup memang pilihan. Dan kita berhak untuk memilih. Salut to mbak Aling…
Aling :
hahahaha…
tega seorang ibu melakukan hal ini…mati kelaparan bersama anak-anaknya?
kalau saya mungkin, memberi anakku keorang lain…ini sudah pilihan yang paling buntu..dan benar-benar tak ada jalan …tapi tak mungkin membuat anak-anaku mati kelaparan
setiap orang memiliki cara pandang yang bermacam-macam, dan kadang memang sulit kita menegerti.
9 Maret 2009 at p03 03.18
dalam rumah tangga memang harus ada sikap keterbukaan antara keduanya…
semoga saja Aids dapat diminimalisir… butuh kesadaran tinggi untuk menuju kepada sebuah perubahan… nice post mba aling
Aling :
Dunia, sudah hampir edan…banyak manusia juga berpikiran edan…Aids juga mulai edan…hahaha…
memang sulit untuk mengatakan siapa yang salah dan siapa yang benar, karena semua yang terjadi ada sebab dan akibat, ada keterkaitan satu sama lain.
semoga kita-kita tak ikut edan…hihihi…tetap waras dan berpikir jernih…tetap ngeblok dan bersahabat selamanya
10 Maret 2009 at p03 03.18
Bagus banget…..keren
Yep
Aling :
Thanks…Yep.
10 Maret 2009 at p03 03.18
wah cerita nya keren dan ada sisi nasihat yang di sampaikan saya cukup salut pengemasan bahasa dan kalimatnya memukau mudah mudahan ada cerita yang berikutnya
Aling :
terimakasih berkenan membaca..goresanku…
akan kutulis cerita-cerita berikutnya..buat semua sobat yang berkenan
10 Maret 2009 at p03 03.18
bersama komen ini saya saranka..
LEBIH BAIK CC BIKIN NOVEL..
karena Cc sangat berbakat, hahahahaa…
setiap cerita yg dibuat pasti menyentuh banget de..(kok bisa see…???)
Aling :
Pingin sih buat novel…bingung gimana buatnya…
mudah-mudahan ada sahabat yang berkenan mengajariku
10 Maret 2009 at p03 03.18
Walah walah … begitu membaca di FB … langsung tergugah, kirin kejadi benaran (maaf). Wow … fiksi hebat. Kembangkan jadi novel ya mBak. Salam menulis.
Aling :
hahaha…
mungkin FB bisa sebagai media sposor ya hahaha?
Thanks…Bang Ersis berkenan membaca…mudah-mudahan juga berkenan untuk mengajari …menulis yang lebih menarik, gurih…dan enak dilahap…
hanya bisa berfiksi ria…hahaha…
10 Maret 2009 at p03 03.18
Hi kak .. pa kabarnya ?, terima kasih ya atas doa dan dukungan dari teman2 … hingga sekarang aku bisa berkunjung dan sehat kembali. Aku akan aktif kembali mengunjungi blog kakak ini.
Tulisan yang sarat dengan pesan moral … dan sungguh sangat menggugah, sukses ya Kak,
Salam
Aling :
syukur…dan Puji Tuhan… kamu sudah sehat…ditunggu loh karya2mu…
Thanks
10 Maret 2009 at p03 03.18
wah..aq terharu bacanya
hik..hik..hik
Aling :
10 Maret 2009 at p03 03.18
Hidup itu keras. Kadang Perlu perjuangan untuk mencapai sebuah kebahagiaan tapi kadang diperlukan penyerahan kepada Tuhan dan menerima semua yg telah terjadi.
Aling :
ya…
Tuhan akan memberi…tapi kita mesti berusaha untuk meraihnya.
10 Maret 2009 at p03 03.18
gue baca ntar dulu yah ling,,copas k notepad dulu,,
Aling :
Oke…thanks ya!
10 Maret 2009 at p03 03.18
apapun kondisinya sadar pada sang pencipta dan mohon ditunjukkan jalan yang terang ,dan hindari berjalan di kegelapan.sukses atas ceritanya yang luar biasa.
Aling :
ya…tegar dan kuatlah dalam prinsip hidup…karena kegelapan justru akan menghampiri kita saat kita dalam pilihan tersulit.
10 Maret 2009 at p03 03.18
Yup.. sebuah proses hidup kadang emang keras, banyak banget hal yg terjadi di luar kemampuan kita. Tapi aku percaya kok kalo kita sebenernya nggak ditakdirkan untuk gagal, menang dan kalah adalah sebuah pilihan – dan kita harus menggandeng-Nya untuk melihat dengan jelas pilihan itu..
Aling :
Banyak hal dalam kehidupan terjadi secara tidak sengaja.
Tapi Ini semua bukan soal perkara, namun pilihan. Pilihan buat kita untuk tetap tinggal, melangkah ataupun diam sejenak untuk memikirkan langkah selanjutnya.
10 Maret 2009 at p03 03.18
koppas dulu ach…
bacanya nanti sambil minum teh hangat…
thanx
Aling :
thanks!
11 Maret 2009 at p03 03.18
Bagus, ceritanya bagus banget mbak Kweklina. Gimana kalau karya-karya mbak kweklina dibukukan dalam satu buku, misalnya Kumpulan cerpen karya kweklina, pasti sip banget lho mbak (atau jangan2 sudah dilakukan, hanya saya yang belum tahu yach mbak ?).
Ok, mbak Kweklina sukses buat karya2nya
Best regard,
Bintang
Aling :
hahaha…sudah pantas kah ?
mudah-mudahan aja suatu hari…ada orang yang mau menerbitkannya ya ?
Thanks
11 Maret 2009 at p03 03.18
Hai mbak….., aku datang lagi….., mudah-mudahan msh terbuka pintu tp link sy kok blm muncul di best blog ya……. He….he….he…..,
Aling :
Langsung aku tautkan…sorry lupa …
12 Maret 2009 at p03 03.18
terharu saya membacanya mbak
semoga tidak ada lagi suami2 yang ringan tangan
semoga tidak ada lagi anak2 yang kehilangan orangtua
semoga tidak ada lagi wanita2 mencari jalan hidup yg lain
Aling :
ya benar…
dan yang biasanya …jadi korban dalam hal-hal begini…justru anak dan wanita
12 Maret 2009 at p03 03.18
yoi, emg bgs ceritanya, kl aku tk komersilkan deh he2.
mengenai isi ana paling tidak bisa mukul cewek
semuanya, kunungi blogku dong.
http://www.dedisugiharto77.wordpress.com
dapatkan yg kau mau.
Aling :
langsung berkunjung nih
12 Maret 2009 at p03 03.18
yoi,apik ceritane. sukses buat Aling..
hidup aling..hidup aling.
(kok jadi kampanye. he2)
dedisugiharto77.wordpress.com
12 Maret 2009 at p03 03.18
Laki-laki psikopat. Setelah berbuat kasar, akan memohon dan menyembah untuk diampuni. Kisah ini fiksi memang, tapi di alam nyata ada banyak pria yang bersifat seperti itu. Untuk wanita bijak, kenali pria psikopat. Jauhi dan jangan jadikan suami.
Sukses buat Ce Aling
Salam
Aling :
Mudah2an ada laki2 psikot yang baca hahaha…
thanks!
Sukses dan bahagia juga buat sobatku Nainggolan sekeluarga
13 Maret 2009 at p03 03.18
wah cerita fiksinya bagus mbak
Aling :
Thanks!
13 Maret 2009 at p03 03.18
tokoh wanita disini seperti keluar dari mulut macan dan masuk ke mulut buaya…cerpennya menarik ce, aku tunggu cerpen berikutnya ya…..selamat berkarya…GBU
Aling :
16 Maret 2009 at p03 03.18
Hampir mirip loh dengan kehidupan seseorang yang w kenal di dunia maya.. Kurang lebih awall kehidupannya mirip yang cc ceritakan.. pernikahannya mulai hancur saat usaha suaminya bangkrut gara2 teman bisnisnya an walaupun ia sndri punya bisnis toko bunga, suaminya mulai aneh.. kurang respek an sering marah2 an cemburu buta.. ga blh lagi pake rok pendek.. An suaminya mulai main tangan..
Dan ia mencoba bertahan demi anak2nya.. Mudah2an aj ia sanggup bertahan an suaminya kembali respek ama dia.
15 April 2009 at p04 03.18
salam.
aku terkesan akan cerpenmu.
namun cobalah menceritakan detail. misalnya kalau kamu lagi duduk. apa yang kamu lakukan saat duduk itu. boleh saja mikir. tapi terkadang tangan kita menepuk nyamuk yang gigit kulit kita. atau menghirup udara dalam-dalam, legakan kesesakan dada. atau apalah.
selain itu, percakapan juga diikuti penyampaian pesan akan karakter tokoh. dan sebagainya. banyak sekali teknik dasar menulis cerpen.
paling tidak itu yang saya pelajari, selagi belajar menulis itu, kini.