Oleh Kwek Li Na

Suara jangkrik membelah keheningan malam
Seakan ingin menghiburnya yang didera rindu
Angin berlalu bisu
Dia duduk bermenung
Menatap langit nan jauh, kini berubah mendung

Mencintaimu sampai di ujung harap
Bagai menanti bintang jatuh
Rela memenjara hatinya, dibebas jiwamu berkelana
Tak luruh, tak mengeluh. Teguh
Hingga rasanya tua dan lusuh

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Kau mengenggam jemariku
Mengajaku ke padang
Sust! telunjukmu kau tempelkan ke bibirku.

Kita mendengar, dua ekor burung pipit di dahan berbicara, ” Batang padi, telah menguning, sebentar lagi layu dan membusuk.”

Kita berpandangan. Saling mengangkat bahu, tak tahu apa maknanya.

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Perempuan sederhana berkalung ketulusan. Akankah menjadi bunga, menjadi cahaya atau bahkan belukar?

Semua peranmu tetap memiliki makna bagi semesta.

Dunia hanya tak ingin, kau menganggap dirimu seperti sendok. Mesti mencebur ke air hangat dan dingin tergantung dari orang yang memegang sedok itu.

Bebas…namun ingat tugas.

Terikat…namun kamu tidak diikat.

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Musim dingin begitu cepat menyapa
Salju membungkus ranting hatiku yang tak berdaun
Tak sanggup kaki berlari menghindari cuaca
Sehingga sum-sum tak bersahabat nyilu keadaan

Kau adalah jarum kehidupan
Yang dirindukan benang takdirku
Hatimu eksotis
Memayungkanku dari segala rapuh

(lagi…)

Oleh Kwek Li Na

Setiap menulis aku hanya berpikir, aku seperti seorang petualang yang siap menjelajahi hutan abjad dan sigap menghadapi segala tantangan dalam perjalanan.

Selalu melangkah maju, bersama cahaya alam hati sebagai penuntun kelana imajinasi.

(lagi…)

pic dari internet


Oleh Kwek Li Na

Kutelusuri jalan berhalimun
Tertatih melewati lorong rasa
Rinduku ranum, jatuh dari pohon
Bersama waktu yang meronda

Ingin ku mencincang hati dengan belati logika
Hingga perih ini mati rasa
Atau kulakukan permandulan rindu ini
Hingga tak beranak- pinak, dan lahirkan perih yang selalu mengrogoti hati
(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Menyendiri…
Anganku melayang ke awan
Kupungut aksara
Muntahan, sumpah serapah manusia ke langit

Aksara patah-patah
Retak dan rapuh
Berselimut airmata dan darah
Berserakan, penuhi muka langit yang sendu lara

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Sebuah kelapa rahasia
Tergeletak di tanah jiwa
Hadirkan rasa salah
Dan buaian angin pantai, undang resah

Kelapa kejujuran
Kubelah sudah
Dagingnya kuparut
Perasan kelapa, butiran putih kental
Namun kenapa rasanya perih dan aromanya kecut ?

(lagi…)


pic dari koment di tagged


Oleh Kwek Li Na

Kenapa hujan tiba-tiba turun ke bumi
Menyuburkan tunas rasa di hati ?
Kenapa ada pertemuan
Jika akhirnya aku menuai kesedihan

Kenapa kau tiba-tiba hadir
Dengan sekuntum senyum
Beserta sekuncup semangat
Disaat kurasakan gersangnya kehidupan

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Kau sebuah bayang
Melintas di alam angan
Menghiasi mimpi malam
Mengusik hatiku dengan nada rindu

Dalam tiada, kau serasa ada
Dan sebaliknya saat kurasa kau ada, kau tak ada
Jauh namun terasa dekat
Pun sebaliknya, dekat terasa jauh

(lagi…)


~ Setahun mengenal dunia maya dan menulis ~

Tak terasa…waktu berjalan begitu cepat. Setahun sudah rumah mayaku berdiri. Setahun sudah aku mengenal dunia maya. Setahun sudah aku mulai memunggut kata-kata, lalu kurangkai menjadi puisi, cerita atau goresan biasa.

Aku belajar dari nol…dengan keterbatasan kosakata. Namun berkat dukungan semua sahabat, aku selalu semangat untuk menulis … menulis dan menulis.

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Aku tercipta
Dari rasa cinta dua manusia
Menjadi seonggok darah

Kehadiranku
Ciptakan resahmu
Undang pertengkaran.
Amarah, warnai pertemuan

(lagi…)

Halaman Berikutnya »