Kali ini aku mencoba mengangkat sebuah kisah nyata yang telah lama terpendam. Namun akhirnya meleleh juga gunung es itu. Kisah ini kubuat berdasarkan penuturannya dan atas izinnya. Sebagai penulis aku berharap kisah ini bisa meringankan segala penyesalannya dan bisa diambil hikmah oleh siapa saja yang membacanya. Aku mengucapkan terimakasih kepada LST telah memberi izin untuk menuangkan kisah ini dalam tulisan yang kurangkai tanpa menghilangkan makna perjalanan hidupnya. Dan sebagai kenangan yang abadi tentang mutiara hatinya.

MEI HUA Di GUNUNG SESAL

KWEK LI NA

Tak mudah menghapus sebuah kesalahan meskipun ditebus dengan apapun. Duka lara selalu menyelimuti wajahku yang seperti gunung Fujiyama yang tertutup salju . Orang menjulukinya “Dingin”.

(lagi…)


Oleh kwek Li Na

Dalam puisi itu
Kurapal mantra hatimu
Kujadikan setiap kata pantulan jiwa
Sehingga bayangmu terlihat di sana

Cermin zaman bisa retak
Namun puisi akan tetap beranakpinak
Kata akan selalu disetubuhi…disemai bibit keyakinan diri
Sehingga puisi akan terus dan terus bertunas lagi

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Lepas senja kemayu
Rembulan mengintip malu
Kubercinta dan bergelut kata
Memeluk gitar tua menuntun nada

Saat terang datang
Aku pun siapsiap berjuang
Diriuhnya simpang jalan
Disesaknya bus kota
Di mejameja rumah makan
Di setiap lorong kehidupan
Kutentengi gitar… kulantunkan lagu… kuhampiri mereka
Rasa malu sudah kutendang
Tuk’ dapati detingan recehan
(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Suatu malam di musim panas
Sepi merayap ke hati
Keringat bercucuran semakin deras
Aku merasa sendiri
Berteman gerah yang datang
Semua terasa hampa dan kosong

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Suatu hari
Siap atau tidak
Kita semua akan pergi
Meskipun hati berteriak
Memohon kiamat ini bisa ditunda lagi
Jika saatnya tiba
Dewa Kematian tetap saja akan mencabut nyawa ini

Mati adalah takdir
Namun sebelum semua berakhir
Izinkan aku ukir
Seribu senja yang indah
Tuk’ kubawa ke lubang kubur yang basah

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Kugores kata demi kata
Kugubah menjadi kalimat sederhana
Kurangkum sebuah cerita

Di tiap helai kertas
Pena menoreh mereka
Lalu kutitipkan jiwaku di sana
Terangkailah kisah
Tentang aku

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Aku tersengal membisu dengan tatapan tak ada arti
Duduk termenung menatap indahnya senja ini
Aku hanya debu tak berarti di keindahan yang dunia tampilkan
Sungguh Maha dasyatnya Sang Pemberi kehidupan untuk setiap penciptaan

Mesti kudaki gunung yang tinggi
Kan kulewati jurang yang terjal
Kuselami lautan luas
Hingga mampu kusibak pesona yang tersembunyi disana

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Baju kehidupanmu dipreteli
Sesuka hati oleh ia yang tak punya hati
Kecantikan tubuhmu membuatnya gila
Ia rebut keperawanan jiwamu sebuas singa
Pemberontakanmu membuatnya tambah jalang
Dihatamnya barang ketubuhmu dengan garang

Kau diperlakukannya seperti binatang
Berkawan nasib malang
Kau hanya diam pasrah menunggu petang
kenapa kau tak bisa berang ?
Mestikah kau gugur sebelum berperang ?

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Kegagalan dan kegagalan
Menyapa inzan tak pernah bosan
Menghadirkan ragu…takut…dan keputusasaan
Menguncang gunung ketegaran
Bahkan menghanyutkan semangat dan kekuatan

Kehancuran bagai anak panah yang menusuk hati
Merampas nyawa dari raga ini
Membelenggu hati dan melumpuhkan pikiran
Memasung dalam jeruji ketakberdayaan

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Embun bergelayutan di pucuk dedaunan
dan kidung pagi mulai mengalun
Kicau burung terdengar riang
Perlahan… mentari bertandang, siang pun datang
Elok senyum dikulum, menyapa bumi yang hampir ranum

Surya lelah
Menemaniku dalam langkah
Hingga senja menjelang
Jiwa teduh merapat di tepian petang

(lagi…)


Oleh Kwek Li Na

Mataku tertutup
Bibir terkatup
Kuingat dirimu
Kujelajahi hatimu
keselami kasihmu

Ku tak ingin,
Mataku menilai
Apa yang terlihat.
Bibirku ucap
Yang terlukis di rupa

(lagi…)


Oleh kwek Li Na

Cintaku
Terselip di kantong bajumu
Tat kala mata kita, tak segaja beradu
Saat api cinta membakar jiwa
Tradisi, membelenggunya

Di antara gulungan ombak
Rinduku terhempas dan retak
Saat tubuh dan janinku, kau nilai seperak

(lagi…)

Halaman Berikutnya »