Kali ini aku mencoba mengangkat sebuah kisah nyata yang telah lama terpendam. Namun akhirnya meleleh juga gunung es itu. Kisah ini kubuat berdasarkan penuturannya dan atas izinnya. Sebagai penulis aku berharap kisah ini bisa meringankan segala penyesalannya dan bisa diambil hikmah oleh siapa saja yang membacanya. Aku mengucapkan terimakasih kepada LST telah memberi izin untuk menuangkan kisah ini dalam tulisan yang kurangkai tanpa menghilangkan makna perjalanan hidupnya. Dan sebagai kenangan yang abadi tentang mutiara hatinya.
2 Juli 2009
Oleh kwek Li Na
Dalam puisi itu
Kurapal mantra hatimu
Kujadikan setiap kata pantulan jiwa
Sehingga bayangmu terlihat di sana
Cermin zaman bisa retak
Namun puisi akan tetap beranakpinak
Kata akan selalu disetubuhi…disemai bibit keyakinan diri
Sehingga puisi akan terus dan terus bertunas lagi
Kurapal mantra hatimu
Kujadikan setiap kata pantulan jiwa
Sehingga bayangmu terlihat di sana
Namun puisi akan tetap beranakpinak
Kata akan selalu disetubuhi…disemai bibit keyakinan diri
Sehingga puisi akan terus dan terus bertunas lagi
1 Juli 2009
Balada Pengamen
Posted by kweklina under GORESAN, Karya Seni, Kehidupan, Peduli Sesama, puisi[3] Comments

Oleh Kwek Li Na
Lepas senja kemayu
Rembulan mengintip malu
Kubercinta dan bergelut kata
Memeluk gitar tua menuntun nada
Saat terang datang
Aku pun siapsiap berjuang
Diriuhnya simpang jalan
Disesaknya bus kota
Di mejameja rumah makan
Di setiap lorong kehidupan
Kutentengi gitar… kulantunkan lagu… kuhampiri mereka
Rasa malu sudah kutendang
Tuk’ dapati detingan recehan
(lagi…)
Rembulan mengintip malu
Kubercinta dan bergelut kata
Memeluk gitar tua menuntun nada
Aku pun siapsiap berjuang
Diriuhnya simpang jalan
Disesaknya bus kota
Di mejameja rumah makan
Di setiap lorong kehidupan
Kutentengi gitar… kulantunkan lagu… kuhampiri mereka
Rasa malu sudah kutendang
Tuk’ dapati detingan recehan
(lagi…)
29 Juni 2009
Malam Yang Sepi
Posted by kweklina under Curhat, Karya Seni, Kehidupan, Kisah2-ku, puisi[9] Comments

Oleh Kwek Li Na
Suatu malam di musim panas
Sepi merayap ke hati
Keringat bercucuran semakin deras
Aku merasa sendiri
Berteman gerah yang datang
Semua terasa hampa dan kosong
Sepi merayap ke hati
Keringat bercucuran semakin deras
Aku merasa sendiri
Berteman gerah yang datang
Semua terasa hampa dan kosong
26 Juni 2009

Oleh Kwek Li Na
Suatu hari
Siap atau tidak
Kita semua akan pergi
Meskipun hati berteriak
Memohon kiamat ini bisa ditunda lagi
Jika saatnya tiba
Dewa Kematian tetap saja akan mencabut nyawa ini
Mati adalah takdir
Namun sebelum semua berakhir
Izinkan aku ukir
Seribu senja yang indah
Tuk’ kubawa ke lubang kubur yang basah
Siap atau tidak
Kita semua akan pergi
Meskipun hati berteriak
Memohon kiamat ini bisa ditunda lagi
Jika saatnya tiba
Dewa Kematian tetap saja akan mencabut nyawa ini
Namun sebelum semua berakhir
Izinkan aku ukir
Seribu senja yang indah
Tuk’ kubawa ke lubang kubur yang basah
23 Juni 2009

Oleh Kwek Li Na
Kugores kata demi kata
Kugubah menjadi kalimat sederhana
Kurangkum sebuah cerita
Di tiap helai kertas
Pena menoreh mereka
Lalu kutitipkan jiwaku di sana
Terangkailah kisah
Tentang aku
Kugubah menjadi kalimat sederhana
Kurangkum sebuah cerita
Pena menoreh mereka
Lalu kutitipkan jiwaku di sana
Terangkailah kisah
Tentang aku
22 Juni 2009

Oleh Kwek Li Na
Aku tersengal membisu dengan tatapan tak ada arti
Duduk termenung menatap indahnya senja ini
Aku hanya debu tak berarti di keindahan yang dunia tampilkan
Sungguh Maha dasyatnya Sang Pemberi kehidupan untuk setiap penciptaan
Mesti kudaki gunung yang tinggi
Kan kulewati jurang yang terjal
Kuselami lautan luas
Hingga mampu kusibak pesona yang tersembunyi disana
Duduk termenung menatap indahnya senja ini
Aku hanya debu tak berarti di keindahan yang dunia tampilkan
Sungguh Maha dasyatnya Sang Pemberi kehidupan untuk setiap penciptaan
Kan kulewati jurang yang terjal
Kuselami lautan luas
Hingga mampu kusibak pesona yang tersembunyi disana
20 Juni 2009

Oleh Kwek Li Na
Baju kehidupanmu dipreteli
Sesuka hati oleh ia yang tak punya hati
Kecantikan tubuhmu membuatnya gila
Ia rebut keperawanan jiwamu sebuas singa
Pemberontakanmu membuatnya tambah jalang
Dihatamnya barang ketubuhmu dengan garang
Kau diperlakukannya seperti binatang
Berkawan nasib malang
Kau hanya diam pasrah menunggu petang
kenapa kau tak bisa berang ?
Mestikah kau gugur sebelum berperang ?
Sesuka hati oleh ia yang tak punya hati
Kecantikan tubuhmu membuatnya gila
Ia rebut keperawanan jiwamu sebuas singa
Pemberontakanmu membuatnya tambah jalang
Dihatamnya barang ketubuhmu dengan garang
Berkawan nasib malang
Kau hanya diam pasrah menunggu petang
kenapa kau tak bisa berang ?
Mestikah kau gugur sebelum berperang ?
15 Juni 2009

Oleh Kwek Li Na
Kegagalan dan kegagalan
Menyapa inzan tak pernah bosan
Menghadirkan ragu…takut…dan keputusasaan
Menguncang gunung ketegaran
Bahkan menghanyutkan semangat dan kekuatan
Kehancuran bagai anak panah yang menusuk hati
Merampas nyawa dari raga ini
Membelenggu hati dan melumpuhkan pikiran
Memasung dalam jeruji ketakberdayaan
Menyapa inzan tak pernah bosan
Menghadirkan ragu…takut…dan keputusasaan
Menguncang gunung ketegaran
Bahkan menghanyutkan semangat dan kekuatan
Merampas nyawa dari raga ini
Membelenggu hati dan melumpuhkan pikiran
Memasung dalam jeruji ketakberdayaan
13 Juni 2009

Oleh Kwek Li Na
Embun bergelayutan di pucuk dedaunan
dan kidung pagi mulai mengalun
Kicau burung terdengar riang
Perlahan… mentari bertandang, siang pun datang
Elok senyum dikulum, menyapa bumi yang hampir ranum
Surya lelah
Menemaniku dalam langkah
Hingga senja menjelang
Jiwa teduh merapat di tepian petang
dan kidung pagi mulai mengalun
Kicau burung terdengar riang
Perlahan… mentari bertandang, siang pun datang
Elok senyum dikulum, menyapa bumi yang hampir ranum
Menemaniku dalam langkah
Hingga senja menjelang
Jiwa teduh merapat di tepian petang
12 Juni 2009

Oleh Kwek Li Na
Mataku tertutup
Bibir terkatup
Kuingat dirimu
Kujelajahi hatimu
keselami kasihmu
Ku tak ingin,
Mataku menilai
Apa yang terlihat.
Bibirku ucap
Yang terlukis di rupa
Bibir terkatup
Kuingat dirimu
Kujelajahi hatimu
keselami kasihmu
Mataku menilai
Apa yang terlihat.
Bibirku ucap
Yang terlukis di rupa
9 Juni 2009
Oleh kwek Li Na
Cintaku
Terselip di kantong bajumu
Tat kala mata kita, tak segaja beradu
Saat api cinta membakar jiwa
Tradisi, membelenggunya
Di antara gulungan ombak
Rinduku terhempas dan retak
Saat tubuh dan janinku, kau nilai seperak
Terselip di kantong bajumu
Tat kala mata kita, tak segaja beradu
Saat api cinta membakar jiwa
Tradisi, membelenggunya
Rinduku terhempas dan retak
Saat tubuh dan janinku, kau nilai seperak




















